
~ Happy Reading ~
•
•
Lucas datang ke rumah neneknya yang berada di Surabaya sendirian.
Ketika dia sudah sampai di rumah sang nenek, dia menjumpai sang Ayah sedang duduk di sofa di ruang keluarga.
Arnold tampak maskulin dan matang, dengan garis wajah yang tampak tajam dan mata biru yang melihat kearahnya dengan pandangan acuh tak acuh.
Lucas hanya mengernyit tidak puas, dan mengabaikan kehadiran Arnold saat dia melewatinya.
"Setelah lama tidak bertemu, Kamu semakin berani bertindak kurang ajar pada Papamu Lucas."
Lucas berhenti ditengah tangga, dia tidak berbalik dan membalas dengan sama dinginnya. "Tuan, anda salah. Yang saya ingat, Papa saya sudah lama mati." dan Lucas kembali berjalan menaiki tangga, pergi ke kamarnya di lantai atas.
Bagi Lucas sosok Ayah yang dia kenal, sudah lama mati.
"Anak tidak tahu diuntung. Beraninya kamu mengatakan Papamu sendiri sudah mati!" Arnold berteriak marah, suaranya menggelegar di rumah megah yang kosong dan luas itu.
Lucas membanting pintu kamarnya dengan suara debaman yang keras. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk.
Matanya terpejam, dadanya berdegup kencang karena perasaan marah yang membuncah.
Bagaimana bisa pria itu ada disini? Di rumah Ibunya. Dia tidak habis pikir kali ini, Lucas mengira Arnold tidak akan pernah datang lagi ke rumah ini setelah pertengkaran hebatnya di rumah lama mereka.
Untuk apa dia kesini?
Pintu Lucas diketuk dari luar. Dan suara seorang pelayan terdengar kemudian. "Tuan muda, Nyonya menyuruh anda datang ke kamarnya sekarang juga."
Lucas segera bangun, mengetahui bahwa Arnold ada di rumah, rencananya untuk menginap di rumah ini untuk beberapa hari ke depan, tidak jadi dia lakukan.
Bagaimana Lucas bisa tahan dengan pria itu yang berada dekat dengannya.
Lucas meraih pintu, membukanya, dia berjalan memutar di lorong sebelah kanan kamarnya. Lukisan-lukisan antik menghiasi keseluruhan dinding saat dia berjalan ke tempat sang nenek berada.
Lantai marmer yang mengkilap memantulkan wajah Lucas yang tampak sangat dingin. Ekspresinya tanpa emosi, dan saat dia sampai di ruangan besar di depannya, dia melembutkan sedikit wajahnya, meredakan amarahnya.
__ADS_1
Seorang perawat wanita yang tidak asing lagi membukakan dia pintu.
"Nyonya besar sudah menunggu tuan muda. Mari saya antar." Wanita itu membungkuk ke arah Lucas dan membawa Lucas ke tempat Samantha.
Nenek Samantha sedang duduk di ruang terbuka dengan cangkir ditangan tuanya.
"Nenek." panggil Lucas dan memeluk nenek Samantha dari belakang. Tidak ketinggalan kecupan dia berikan pada nenek Samantha yang dibalas cubitan keras di hidung mancungnya.
"Duduklah Lucas."
Samantha sudah berumur 61 tahun. Wanita itu terlihat anggun meski keriput menenggelamkan kecantikannya.
Dengan kacamata berwarna emas dikedua matanya, Samantha menatap lurus cucunya yang sedang duduk dihadapannya.
Sudah hampir setengah tahun Lucas tidak datang menemui Samantha. Mereka hanya saling menanyakan kabar lewat telepon selama ini.
Lucas hanya berasalan bahwa dia sedang sibuk di sekolah dan Samantha dibuat percaya pada apa yang Lucas katakan.
Kenyataannya, tanpa Lucas berbohong seperti itu pada Samantha. Jika dia mau, dia bisa menyuruh orang-orangnya untuk mengikuti Lucas.
Namun karena cucunya ini pernah mengamuk dan sampai mendiamkan Samantha dulu, dia menyerah memata-matai kegiatan Lucas lagi.
Seperti sekarang, Lucas memakai kontak lens untuk menutupi warna asli matanya yang berwarna biru, persis Arnold.
"Nenek sudah memeperingatimu Lucas, jika kamu terus-terusan memakai benda sialan itu, matamu akan rusak."
Selama ini Lucas menyembunyikan warna matanya yang biru dengan lensa kontak berwarna cokelat natural.
Meskipun dia seringkali mendapati matanya sering sakit tiba-tiba, Lucas mengabaikannya.
Dia sangat membenci mata yang sangat mirip dengan laki-laki itu. Karena dia akan diingatkan, bahwa dalam tubuhnya mengalir darah yang sama dengan seorang ******** yang pernah Lucas panggil Papa dulu.
Dan Lucas tidak mau itu.
"Dokter Bryan yang menangani masalah kesehatanku selama ini nenek. Nenek tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Kedatanganku kali ini untuk memberitahu nenek keputusan yang sudah Lucas ambil. Aku tetap ingin melanjutkan sekolah disini."
Renata tidak berhasil membujuk Ibunya. Jadi Lucas datang kali ini untuk membahas itu.
__ADS_1
"Kita sudah membicarakan ini Lucas. Nenek tidak mau mendengar lagi apa yang kamu coba katakan."
"Bahkan jika nenek berhasil menyeret Lucas pergi ke Inggris, percaya atau tidak, aku akan menghancurkan hidupku sendiri sampai disana." sela Lucas tidak menyerah.
"Kamu.... Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu pada nenekmu ini." Samantha berkata dengan nada kesal. Dia menyeruput teh yang mulai dingin untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Berdebat dengan Lucas tidak pernah membuatnya menang. Itu tidak pernah berubah sampaic Lucas sebesar sekarang.
"Kalau begitu aku tidak bisa memaksamu lagi. Lakukan apapun yang menurutmu baik."
Lucas tersenyum mendengar keputusan itu. Jika Lucas tahu begitu mudah membujuk neneknya ini, maka dia tidak perlu repot menyuruh sang Mama.
"Arnold ada disini. Apa kamu sudah bertemu dengannya?" Samantha melirik, dia mengamati wajah Lucas dan tidak merasa terkejut melihat kilat penuh benci dimatanya.
"Aku tidak mau mendengar nama laki-laki itu lagi. Lucas akan pergi kalau begitu."
Samantha terkejut.
"Kamu tidak akan menginap?"
"Aku akan tinggal di apartemen saja malam ini. Lusa Lucas akan kembali ke Jember."
"Kenapa terburu-buru sekali. Nenek masih merindukanmu. Sudah lama cucu nenek ini tidak menemani wanita tua kesepian ini."
Lucas terkekeh mendengar keluhan Samantha dengan wajah bersungut-sungut.
"Ada Daniel disini, bagaimana bisa nenek berkata begitu. Kalau Daniel mendengar apa yang baru saja nenek katakan, dia akan merengek sedih dan menyalahkan Lucas nantinya. Apa nenek mau melihat kedua cucu tampan nenek bertengkar seperti itu."
Ketika Lucas melihat raut bersalah pada wajah Samantha. Dia melembutkan suaranya dengan sedikit membujuk neneknya yang terlihat sedikit sedih.
"Baiklah.... Baiklah Lucas hanya bercanda tadi."
••••••
Thank You For Reading >.<
Jangan Lupa Voment
Kritik dan saran dipersilahkan
__ADS_1
Angela_AT_Gardenia