
~ Happy Reading ~
•
•
Pengajian di rumah Andre baru saja selesai. Itu sudah jam 8 malam saat Selena akhirnya bisa bersantai di sofa, dia sangat lelah.
"Jangan dilepas. Selena, kamu terlihat anggun dengan penampilan ini." Kata Maya menarik kembali tangan Selena yang tadi dilihatnya ingin melepas hijab yang beberapa jam Selena pakai.
Maya yang mendandani Selena tadi.
Tadinya Selena sangat malu dengan pakaian yang dia pakai. Baju yang terbuat dari kain yang sangat halus dan lembut mengalir di tubuhnya dari leher sampai kaki.
Hijab pink muda di kepalanya di pasang oleh Maya dengan bros berbentuk bunga menempel cantik di bahu kirinya.
Saat Selena melihat penampilan baru itu di cermin, dia hampir menangis karena bahagia.
Dia merasa apa yang dia lihat di cermin bukanlah dirinya. Sosok itu seperti orang lain yang dia tidak kenal. Bagaimana mungkin wajah cantik dan anggun itu adalah pantulan diri Selena yang kumuh dan kusam.
"Kamu terlihat sangat cantik Selena." Kata Maya sore itu di belakangnya.
Maya ikut duduk di sofa ruang tamu, menemani Selena.
"Sudah malam ternyata. Menginaplah disini malam ini Selena, temani Tante ya." bujuk Maya dengan nada mendayu-dayu. Selena hampir tertawa dengan tingkah Maya.
"Lain kali saja Tante. Selena pulang saja."
"Tunggu sebentar." Tiba-tiba Maya berdiri, tidak lama kemudian dia membawa rantang yang tadi Selena bawa, dan di belakangnya Andre mengikuti.
"Bawa ini pada Ibumu. Taruh saja rantang itu disana, besok biar Tante yang mengambil." Maya menyerahkan rantang yang lumayan berat itu pada Selena.
"Andre, antarkan Selena pulang."
"Tidak usah Tan... Selena bisa pulang sendiri. Rumah Selena kan di ujung jalan." tolak Selena sopan.
"Jangan menolak Selena, ini sudah malam, Tante hanya khawatir. Pergilah."
Selena tidak membantah kali ini.
"Selena pulan Tan. Terima kasih banyak, Selena senang." Kata Selena jujur.
"Cium Tante jika Selena memang sangat berterima kasih." Maya mendekatkan wajahnya, dan dia tersenyum puas saat Selena mendaratkan kecupan di pipi kanannya.
Dina yang melihat keakraban Maya dan Selena, tampak jengkel. Gadis belia itu melengos saat Selena melihat ke arahnya.
Sikap adik Andre yang begitu membencinya, Selena tidak ambil pusing.
__ADS_1
Selena berpamitan pada Maya, lalu berjalan keluar dengan rantang di tangan kanannya.
Ketika dia sampai pelataran, Selena melihat Andre yang bersandar di gerbang.
Dengan tampilan kasual, kaos hitam polos, serta celana selutut berbahan kain dan bermotif kotak yang Andre kenakan. Sosoknya yang biasa terlihat kejam tampak santai dan mudah di dekati.
Andre hanya melirik sekilas ke arah Selena.
Karena rumah Selena dekat, mereka berjalan kaki. Tadinya Maya menyarankan untuk membawa sepeda motor, yang langsung Selena tolak.
Setiap kali Selena datang ke rumah Andre dan pulang di malam hari. Andre yang akan mengantarnya. Itu sudah dimulai semenjak Selena dekat dengan Andre pada usia 8 tahun.
Mereka tidak berbicara sama sekali dan hanya berjalan dengan Andre di depan memimpin jalan, dan Selena mengikuti langkah Andre di belakang.
Selena tidak bisa tidak mengingat bagaimana hubungan mereka dulu.
Pada saat itu Selena sangat takut dan benci pada Andre yang selalu membuat dia menangis.
Karena kejadian masa lalu pada saat Selena berusia 4 tahun, dia menjadi bahan ejekan oleh Andre jika pria itu berbuat nakal padanya.
**Malam hari di rumah bertingkat, sosok Maya yang sangat muda menepuk punggung Selena kecil yang gembul.
Bocah itu menangis sesenggukan setelah dikerjai Andre, putera sulungnya tadi.
Malam ini tiba-tiba rumah sedang mati lampu. Karena kebiasaan Maya yang menelanjangi Selena kecil pada saat tidur, jadi malam itu Selena kecil dengan hanya celana dalam berwarna kuning bergambar pikachu sedang tertidur di kamar Maya.
Pada saat lampu mati, Maya sedang berbaring di sebelah Selena. Karena lilin berada di bawah, jadi dia keluar dari kamar untuk turun ke dapur mengambil lilin.
Maya hampir saja pingsan di tempat, saat melihat bocah kecil dengan kain putih menutup tubuh mungil itu berdiri di dalam kamarnya.
Bocah kecil yang tidak lain adalah Andre, berbalik ke arah Maya dan menyeringai dengan wajah ditutupi bedak bayi.
Kemudian lampu menyala.
Dan ruangan yang tadinya gelap berubah terang seketika.
Di lantai Selena kecil yang hanya memakai celana dalam dengan posisi tengkurap sedang menangis.
Maya mendengar suara terisak Selena yang menyedihkan.
"Takut... Mama takut... Hiks... Hiks..."
Andre terus saja cekikikan dengan tawa meniru kuntilanak.
Maya memarahinya, dan Andre pun langsung terdiam.
Maya menggendong Selena kecil dan menepuk punggung telanjangnya dengan lembut.
__ADS_1
"Ssstttt sudah sayang. Tante disini."
Mulai saat mereka masuk sekolah dasar, Andre selalu mengejek Selena dengan kejadian itu. Namun jika dia di ganggu oleh anak lain, kalau Cristine tidak ada, Andre lah yang kadang akan menolongnya.
Selena tidak ingat, kapan tepatnya hubungan mereka sedikit renggang dan canggung.
Itu adalah Selena yang menjauh secara perlahan dari Andre, ketika dia mendengar Andre berkata-kata kejam tentang dia pada teman-temannya waktu itu, mungkin orang yang akan dia sukai adalah Andre.
Dengan kebaikan dan setiap keberadaan Andre selama ini dalam hidup Selena, tidak mungkin dia tidak tersentuh sama sekali.
Dia sudah memiliki sedikit perasaan itu untuknya, tapi Selena tidak menyangka Andre akan berkata bahwa dia hanya beban dan setiap kebaikannya selama ini itu hanya palsu.
Tiba-tiba yang Selena rasakan saat itu, hatinya yang lembut untuk Andre, menjadi dingin dan keras. Untuk pertama kalinya dia merasakan jatuh cinta dan juga sakit hati disaat bersamaan.
Dia tidak lagi memiliki harapan untuk sambutan perasaanya, jadi Selena menguburnya dalam diam, menelan sakit hati untuk pertama kalinya dari orang yang dia sukai itu sendirian. Tidak seorang pun meyadari, bahwa Selena pernah tersakiti perasaannya.
Dan Andre pun tidak pernah tahu, karena kecerobohan dan sikap arogannya di masa lalu, membuat dia sudah kehilangan cinta yang dia berusaha raih saat ini.
*****
"Apa kamu mau mampir?" Selena bertanya basa-basi saat mereka sudah di depan rumah yang tampak sederhana.
"Ibumu di dalam?" Tanya Andre.
"Ya... sepertinya. Mau masuk?" tawar Selena lagi.
"Kalau Ibumu tidak di rumah aku akan mampir." gumam Andre.
"Huh..." Selena tidak mendengar apa yang baru saja Andre katakan.
Andre menggeleng "Bukan apa-apa. Aku pergi." Kata Andre dan langsung pergi dari sana.
Selena tidak langsung masuk ke dalam. Dia berdiri di depan pintu rumah sebentar, dan saat dia sudah tidak melihat Andre, Selena masuk.
Namun sebelum Selena membuka pintu, tangannya ditangkap.
"Apa kamu merindukanku?"
Suara serak yang dalam mengalun di telinga Selena dan menyebar dalam hatinya, membuat jantung itu berdegup kencang.
.
.
.
Gimana komentar kalian sama cerita ini ? koment yes ^^ review juga kalau misal memiliki opini yang cocok sama kata-kata di cerita ini.
__ADS_1
Thank you for reading >,<
Jangan lupa vote dan follow ya ^^