Selena Tsabina Series

Selena Tsabina Series
Chapter 17 { I Just Believe You }


__ADS_3

~ **Happy Reading** ~




"Aku berencana ikut Bahar ke Kota Lya."


Di siang hari yang tidak terlalu panas, Rehan dan Lyana sedang duduk di teras depan rumah.


Hari ini mereka sedang libur bekerja, Rehan sudah menganggur selama sebulan. Dan dia kadang-kadang menjadi kuli di rumah tetangganya jika diperlukan.


Meskipun upah yang diterima Rehan sangat sedikit, uang ith masih cukup untuk makan keluarga mereka dua hari ke depan.


Sedangkan Lyana yang masih setengah bulan lagi mendapatkan gaji, harus berhemat bulan ini.


Karena kemiskinan yang sudah mereka rasakan selama ini, Lyana terkadang berpikir untuk bercerai saja dari Rehan.


Lyana merasa dia masih sangat muda, dan mungkin jika dia pergi ke kota, perekonomian dirinya akan menjadi lebih baik.


Kemudian pikiran buruk itu dia tepis saat dia mengingat Selena yang sudah besar.


"Aku akan ikut denganmu."


Rehat terkejut. "Tidak. Kamu harus di rumah. Biar aku saja yang pergi."


"Lagipula sebentar lagi anak kita akan lulus. Kamu harus di sibukkan dengan pendaftaran sekolahnya nanti."


Tiba-tiba Lyana berkata dengan dingin. "Selena tidak akan melanjutkan sekolahnya."


"Apa maksudmu. Selena harus melanjutkan pendidikannya. Jika dia tidak sekolah, apa yang akan dia lakukan Lya." Rehan menjawab dengan suara yang terdengar marah. Dia tidak mau anak-anak mereka menjadi seperti kedua orang tuanya yang tidak berpendidikan.


"Sadarlah. Kita tidak memiliki uang untuk menyekolahkannya." Lyana mendesis marah.

__ADS_1


"Aku akan berusaha lebih keras lagi Lya. Kasihan anak kita." Rehan mulai melembutkan suaranya saat dia melihat Lyana yang sudah mulai emosi.


"Berusaha... berusaha terus. Apa hasilnya Rehan. Sudah bertahun-tahun kamu katakan itu. Tapi lihat kehidupan kita."


Rehan terhenyak dengan suara keras Lyana. Dia merasa bersalah dalam hati atas ketidakberdayaannya. Ketika dia melihat Lyana dengan mata berkaca-kaca, Rehan berpaling dan tidak melanjutkan percakapan mereka.


Dia selalu tidak bisa tahan dengan tangisan Lyana. Hatinya seperti di siram air mata Lyana dengan menyakitkan. Itu karena dia, sebagai seorang suami dan Ayah, Rehan merasa bahwa dia sudah gagal.


Kedua orang tuanya sudah meninggal saat Rehan remaja. Dia tidak lulus sekolah karena orang tuanya yang miskin.


Sedari dia berumur 13 tahun, Rehan sudah bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri.


Saat dia menikahi Lyana yang masih berusia 15 tahun, Rehan hanya memiliki rumah sederhana ini untuk membawa Lyana.


Rehan tidak menuntut apapun tentang pernikahan mendadak yang diajukan pamannya waktu itu.


Sebagai seorang anak yang tidak memiliki orang tua, perkataan pamannya saat itu adalah mutlak yang tidak bisa dia bantah. Jadi dia menuruti apapun yang dikatakan pamannya.


Bahkan jika gadis yang akan dinikahkannya waktu itu membenci dirinya hampir setahun lamanya, Rehan tetap bertahan.


Mereka sudah menjalani pernikahan 14 tahun lamanya bersama-sama, meski banyak sekali cobaan dan rintangan, Lyana tetap patuh pada pernikahan yang tidak dia inginkan.


Rehan sudah sangat bersyukur untuk kebesaran hati Lyana. Jadi sebisa mungkin Rehan menuruti apapun yang diinginkan Lyana.


Bahkan jika tindakannya terlihat bodoh dan tidak masuk akal bagi orang-orang, Rehan tidak akan perduli.


Cinta Rehan pada Lyana sudah membuatnya buta.


"Lalu apa yang mau kamu lakukan pada Selena setelah dia lulus."


"Apa kamu masih ingat temanku Herni. Tahun lalu dia datang ke rumah. Apa kamu ingat." Lyana tiba-tiba berbicara dengan semangat.


Rehan mengerutkan kening dan mencoba mengingat seorang yang bernama Herni ini.

__ADS_1


"Aku ingat. Waktu itu dia pulang dari Jakarta kan."


"Tepat sekali. Dia ada di rumah sekarang. Aku kemarin pergi ke rumah Herni. Dan kami mengobrol banyak hal."


"Aku berencana membuat Selena ikut dengan Herni ke kota dan bekerja bersamanya."


"Apa yang kamu katakan. Lya, Selena masih terlalu kecil untuk bekerja. Aku tidak setuju." tolak Rehan dengan tegas.


"Kalau begitu apa saranmu Rehan. Atau kalau kamu memang tidak setuju aku akan menikahkannya saja setelah dia lulus, apa itu yang kamu mau."


"Menikah. Kamu sudah gila. Itu adalah hal terakhir yang akan aku lakukan. Jangan samakan Selena dengan anak di desa sebelah Lya."


"Aturan konyol keluargamu itu, jangan kamu bawa pada anak kita." Lanjut Rehan dengan nada penuh peringatan.


Bagi orang-orang di desa mereka, seorang gadis yang sudah berusia 15 tahun harus segera dinikahkan.


Pikiran kolot penatua di desa ini masih terbawa sampai masa ini. Dengan ketakutan membawa malu pada keluarga mereka, gadis-gadis di desa ini sudah banyak di nikahkan di usia belia.


Contohnya Lyana, karena pemikiran orang tuanya yang takut akan anak gadisnya menjadi perawan tua, mereka dengan paksa menikahkan Lyana yang baru saja lulus sekolah.


Dan Lyana akan melakukan itu pada Selena, bagaimana bisa Rehan hanya diam saja.


Ditambah dengan keputusan bulat Lyana yang tidak akan melanjutkan pendidikan Selena, Rehan hanya bisa menghela nafas dengan persaan menyesal dan rasa bersalah.


"Aku sudah memutuskannya. Selena akan ikut Herni ke Jakarta, kalau dia tidak mau maka aku akan menikahkannya saja. Lagipula Maya sudah mewanti-wanti Selena untuk dinikahkan dengan Andre." setelah berkata begitu Lyana masuk ke dalam rumah dengan raut dingin."


.


.


.


Menemuka typo atau EYD yang tidak sesuai, tolong kasih tau ^^.... Penulis amatir ini masih dalam tahap belajar.

__ADS_1


Thank you for reading >,<


__ADS_2