Selena Tsabina Series

Selena Tsabina Series
Pertemuan Pertama


__ADS_3


~ Happy Reading ~





Tahun 2010 Bulan Maret.


Di sebuah desa Glantangan di daerah Jember. Terdapat sekolah menengah pertama satu-satunya di desa itu. Sekolah Negeri sederhana dan biasa-biasa saja.


Lingkungannya asri dengan beberapa pohon trimbesi atau dikenal juga pohon hujan tumbuh mengelilingi sekitar area sekolah. Beberapa diantaranya bahkan dijadikan tempat berteduh bagi siswa-siswi ketika tiba jam pulang.


Plakat bertuliskan SMP Negeri Cempaka 01 dengan tulisan usang tertempel di depan pintu masuk sekolah.


Bangunan dengan luas tanah 5000m2 itu memiliki beberapa fasilitas lengkap.


Mushola kecil terletak di sebelah kiri dekat tempat parkir dan gedung yang bertuliskan ruang Kedisiplinan adalah satu-satunya bangunan yang bersebelahan dengan mushola.


Di samping di depan gedung Kedisiplinan tersebut merupakan kantor guru dan ruang kepala sekolah.


Memiliki bangunan berbentuk kotak dan bertingkat, sayap kiri bangunan dari depan pintu masuk di lantai bawah adalah ruangan kelas 9-1 sampai kelas 9-4, paling ujung dekat tangga sebelah kanan terdapat toilet khusus untuk guru. Dan sayap kanan bangunan terdapat kelas 9-5, Koperasi sekolah, ruang laboratorium IPA, ruang Komputer, Koperasi, ruang OSIS, dan UKS.


Bangunan atas dimulai dari depan tempat kelas 8-1 sampai kelas 8-5 berada. Menyusul dibelakang adalah kelas 7-1 sampai kelas 7-5. Dan toilet siswa berada tepat di belakangnya.


Di tengah-tengah bangunan sekolah, ada lapangan upacara.

__ADS_1


Hari ini adalah saat dimana siswa baru sedang menjalankan Masa Orientasi Siswa terakhir.


Bisa dilihat wajah-wajah lugu siswa baru tersebut yang menggunakan beragam hiasan dari topi yang terbuat dari bola plastik, kalung dari permen, tidak ketinggalan kuncir dua kiri dan kanan bagi siswa putri, dan coreng di kedua pipi mereka dengan warna merah putih melambangkan bendera kebangsaan Indonesia.


Siswa-siswi tersebut sedang melakukan baris-berbaris dengan berkelompok yang sesuai dengan kelas masing-masing. Di depannya beberapa senior OSIS melakukan instruksi dan hal-hal menyebalkan lainnya.


Selena Tsabina Magnoli, usia 13 tahun. Termasuk siswa baru yang berdiri di bawah terik matahari yang menyengat di kelompok kelas 7-5. Dia berbaris di urutan ketiga.


Tubuh kurus, dengan kulit kuning langsat, mata gelap pekat yang jernih, dan rambut hitam lurus sebahu. Wajahnya terlihat manis dengan pandangan sekilas, komentar Dewi teman barunya. Pujian cantik menurut Anggun saat wanita berjerawat itu menatap lama wajah oval Selena saat pertemuan pertama mereka.


Karena sifat pemalu Selena, dia terus menundukkan kepalanya setiap waktu. Dia tidak suka berbicara dan juga sulit bergaul. Bahkan saat jam istirahat sekalipun dia tetap berada di dalam kelas.


Selena memang seperti itu. Sedari kecil dia memang tidak pandai berbicara, dan terkesan takut pada orang-orang asing yang baru dia kenal.


Tapi jika kamu sudah sangat mengenal dia, perbedaan sifatnya terlihat sangat jelas. Siapa yang akan percaya bahwa tampang baik-baik dan polos itu terdapat sifat jahil dan nakal yang menjengkelkan orang-orang terdekat. Termasuk bagi Cristine sahabatnya.


Sayang sekali, sejak Selena mulai memasuki SMP, dia dan Cristine mulai beda kelas. Sahabatnya itu berada di kelas 7-4 tahun ini. Meskipun kelasnya bersebelahan, tidak membantu meredakan kegugupan yang Selena rasakan. Karena sedari dia sekolah dasar, Cristine lah teman sebangkunya selama ini.


"Selena ada ulat di rambutmu."


Selena mengabaikan suara berisik dibelakangnya. Dia tetap berdiri dengan punggung lurus ditempat, acuh tak acuh.


Tidak lama kemudian suara itu terdengar lagi.


"Selena rokmu bolong, celana dalammu kelihatan. Wow, berwarna merah, gambar jerapah pula." Dan suara cekikikan pun terdengar di belakang, terus diabaikannya suara menyebalkan itu.


Celanaku bermotif polos dan berwarna abu-abu sialan! Apa kamu bisa tutup mulut cerewetmu itu. Selena merutuk dalam hatinya. Namun wajahnya tetap tampak acuh dan dingin.


"Selena apa kamu tahu teori Darwin, kamu tahu itu?"

__ADS_1


"Tadinya aku tidak percaya, tapi saat aku melihatmu aku mempercayai teori tersebut. Wajahmu terlihat sama dengan monyet."


Selena tidak tahan lagi, mendengar olokan Bintang di belakangnya itu semakin membuat dia gerah dan ingin berbalik untuk meninju mulut bawelnya, serius dia tidak tahan.


Awas saja!


Tiba-tiba pundak kanannya ditekan, Selena yang sudah emosi berbalik ke belakang dan menendang orang tersebut.


Pekikan nyaring dan sumpah serapah menusuk telinganya. Selena tertegun, wajah datarnya terkejut, dan jantungnya berdegup panik.


Sialan!


"Apa yang kamu lakukan. Damn it!" pekik suara tersebut kesakitan. Pria itu memegangi kakinya yang kena tendangan, suaranya merintih sakit.


Selena melihat seorang pria tampan yang tinggi menjulang di depannya, pria itu dengan kain biru di bahu kanan menekuk punggungnya sambil memegangi kaki kirinya yang sudah dia tendang. Suaranya bergetar saat Selena berkata lirih, "Maaf Kak, aku kira tadi...."


Seorang wanita berjalan tergesa menghampiri, raut wajahnya terlihat cemas, "Lucas, kamu baik-baik saja?"



.



.


Thank You For Reading ^^


Kritik dan saram dipersilahkan.

__ADS_1


Jangan lupa vote, komen, dan follow cerita ini ya >,< ...


__ADS_2