Selena Tsabina Series

Selena Tsabina Series
I See You


__ADS_3

~ Happy Reading ~





Lucas baru saja selesai mandi, saat ponselnya bergetar dan sebuah pesan baru masuk.


Aku tidak yakin apakah itu gadis yang kamu sukai atau bukan?


Menyusul kemudian pesan kedua masuk dari Daniel. Sebuah MMS dan ketika Lucas membukanya adalah foto gadis yang tidak asing baginya sedang berlutut di bawah pohon dengan kepala menunduk.


Alis Lucas yang tebal melengkung penuh tanda tanya dan bibirnya yang menawan sedikit mengerucut.


Dia dipenuhi perasaan tertekan yang tidak bisa Lucas jelaskan.


Handuk yang Lucas pegang untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah, kemudian dilemparnya di atas ranjang.


Lucas sudah ingin tidur dan di saat bersamaan menerima pesan itu dari sepupunya.


Dengan piyama biru gelap yang membalut tubuh remajanya, dan rambut yang masih setengah basah, membuat Lucas terlihat lembut dan sangat tampan.


Matanya sedikit berkabut karena air hangat, dan pupil biru azure-nya tampak berkilau jernih.


Raut dingin, angkuh dan sombong yang biasa dia pasang, sepenuhnya menghilang. Hanya ada kelembutan dan sedikit kerinduan di wajah tampannya yang halus, saat mata Azure itu menatap lekat pada gambar seseorang di ponselnya.


Selena!


Gadis yang mematahkan tangannya pada pertemuan pertama mereka.


Biasanya Lucas tidak akan memiliki kesan apapun pada gadis yang dia temui, karena betapa jijiknya mereka dalam menarik perhatiannya, tapi Selena berbeda.


Seolah-olah ada benang yang tak terlihat diantara keduanya, yang membuat Lucas selalu ingin memperhatikan Selena, dan ingin tahu apa saja yang gadis itu lakukan dalam kesehariannya.

__ADS_1


Lucas melepas piyama, dan menarik baju serta celana di dalam lemari dan menggantinya dengan itu.


Tidak lupa hoodie berwarna gelap sebagai luaran.


Malam sangat dingin di pedesaan, jika dia nekat keluar malam-malam hanya dengan kaos pendek, bisa dipastikan dia akan pilek keesokannya.


"Dimana kamu?" Tanya Lucas dengan ponsel hitam menempel di telinganya.


"Malam begini. Kalau Paman sampai tahu kamu belum pulang, apa dia tidak akan memukulmu." Lucas sedikit memarahi orang di telepon, dan suara gerutuan yang terdengar manja, membuat Lucas hampir-hampir ingin melempar ponselnya saat itu juga.


"Pakai suara menjijikkan itu lagi, aku akan menampar mulutmu Niel!" Geram Lucas lalu mematikan sambungan dengan kulit merinding di lehernya akibat suara Daniel yang dibuat-buat.


Sialan Daniel!


Lucas turun melewati tangga dan meraih kunci motor yang tergantung di belakang pintu.


Setelah satu jam lebih dalam perjalanan, Lucas tiba di komplek perumahan sederhana yang sudah Daniel kasih tahu di telepon.


Melihat Lucas sampai, Daniel keluar dari salah satu rumah dan melambaikan tangannya ke arah Lucas. "Disini."


Daniel sedikit mencibir dengan kelakuan Lucas yang tidak sabaran.


"Satu blok dari sini. Kamu lihat tikungan itu." Daniel menunjuk tikungan temaram di sebelah kanan mereka berdiri.


Sebuah pertigaan dengan pondok kayu di tengah-tengahnya. Ada tiga orang pria paruh baya sedang duduk di sana.


"Dari pertigaan itu kamu belok ke kanan, jalan lurus, kira-kira 4 rumah dari sana adalah rumah gadis itu. Rumah bercat putih dengan pohon mangga di depannya, aku melihat gadis itu disana."


"Kapan itu?" tanya Lucas lagi.


Maksud Lucas adalah kapan Daniel melihat Selena.


"Tiga jam yang lalu. Aku baru saja pulang bermain futsal di lapangan dekat sekolah bersama Delon, aku melewati rumahnya dan melihat gadis itu sedang berlutut di sana. Dia tampak sangat menyedihkan, jika dilihat bagimana tubuhnya sedikit gemetar, mungkin gadis itu sudah di luar dari tadi. Aku juga tidak yakin."


Lucas menunggu Daniel menyelesaikan kata-katanya, sampai dia merasa Daniel tidak lagi ada yang perlu dikatakan, Lucas meninggalkan motornya di depan rumah teman Daniel itu dan berjalan ke arah yang di tunjuk Daniel barusan.

__ADS_1


Daniel mengikuti Lucas di belakangnya. Dan Lucas membiarkan Daniel ikut.


Mereka tidak mengatakan apapun di sepanjang mereka menuju ke rumah Selena, seakan Daniel tahu bahwa Lucas sedang tidak ingin diajak bertukar kata, Daniel memilih diam dan tidak mau membuat Lucas mengomelinya lagi.


*****


Selena yang mulai lapar, menyentuh perutnya yang tipis dan mengelusnya.


Dari sore hari dia di hukum berlutut oleh Ibunya karena Selena dituduh mencuri uang Lyana yang sudah Ibunya kumpulkan untuk membawa sang nenek ke puskesmas.


Nenek Selena yang juga Ibu kandung Lyana, sebulan ini mengalami batuk parah dan kadang-kadang ada darah juga yang keluar.


Lyana ingin membawa Ibunya itu untuk diperiksa, tapi karena dia tidak memiliki uang, Lyana menunggu sampai upahnya cair dan sedikit menabung uang dari penghasilan Rehan. Dia sisihkan setiap hari dari uang belanja, dan memotong uang jajan Selena habis selama sebulanan itu.


Tadi siang sehabis pulang bekerja, ketika Lyana membuka lemari dan mengambil dompet, dan melihat isinya, uang itu sudah tidak ada.


Karena di rumah hanya ada Selena, Lyana langsung memberondongi banyak tuduhan yang tentu saja Selena tidak mengakuinya.


Jangankan mencuri uang Ibunya, mengambil makan yang Lyana masak pun Selena harus menunggu sang Ibu menyuruhnya.


Selena sangat pemalu dan takut pada Lyana. Tapi Lyana seakan lupa sifat putrinya itu dan menuduhnya sebagai pencuri.


.


.


Jangan lupa Voment


Kritik dan saran dipersilahkan >.<


Thank You For Reading ^^


Angela Ann


__ADS_1


__ADS_2