Selena Tsabina Series

Selena Tsabina Series
Bullshing


__ADS_3

~ Happy Reading ~


Cristine datang ke rumah Selena pagi itu, sudah menjadi rutinitas keduanya berangkat ke sekolah bersama-sama.


"Assalammualaikum. Paman Bibi, apa Selena ada." suara Cristine yang ceria memenuhi rumah sederhana yang terlihat sangat sunyi.


Pintu kayu itu sudah di buka, dan saat Cristine mengintip ke dalam rumah, tidak ada seorang pun di dalam.


"Selena... " Panggil Cristine lagi. Dan suara sahutan dari dalam membuat Cristine tersenyum senang. Tidak bertahan lama. Karena dilihatnya Selena berjalan pelan-pelan dengan tangan berpegangan pada dinding rumahnya.


"Kamu kenapa?" tanya Cristine panik sambil melangkah tergesa membantu Selena. Cristine memeluk pinggang ramping Selena dan dengan hati-hati berjalan bersama.


Selena tersenyum kecil dengan tidak berdaya karena kekhawatiran sahabatnya itu saat ini.


"Tadi pagi saat aku mandi, tidak sengaja terpeleset."


Cristine tahu Selena berbohong, tapi dia tidak mencercanya banyak pertanyaan, dan hanya mengangguk mengerti dengan alasan yang Selena katakan.


"Apa kamu terluka?"


Selena menunjuk lututnya yang tebungkus rok biru panjang. Kedua lututnya memang memar karena berlutut tadi malam, ada beberapa kerikil yang menusuk kulitnya dan meninggalkan memar kemerahan diatasnya.


Selena yang tadi malam terbangun pada saat tidur akibat rasa nyeri pada kedua kakinya, dia tidak bisa meluruskan kaki itu, dan hanya bisa menekuknya sepanjang malam.


Barulah pada subuhan tadi pagi, kakinya bisa dia luruskan.


Rehan, sang Ayah membantu Selena merendam kakinya yang sangat pegal dengan air hangat. Membuat Selena sedikit rileks dan nyaman.


Masalahnya, jika dia berjalan, kadang-kadang membuat kakinya sedikit gemetar.


"Apa lebih baik kamu tidak usah sekolah hari ini." Cristine merasa tidak yakin Selena akan mampu berjalan yang selambat siput itu dan dengan kondisi kaki seperi ini sampai ke sekolah tepat waktu.


Apalagi butuh setengah jam untuk sampai ke sekolah, itupun jika kedua kaki mereka sehat.


Tapi kini, melihat pada cidera di lutut Selena yang memerah serta kakinya yang gemetar membuat Cristine skeptis.


"Aku ada ujian 2 mata pelajaran hari ini. Kalau aku tidak hadir sekolah sekarang, bagaimana dengan nilaiku."


"Kamu bisa menyusul nanti. Ada pengulangan ujian kan, kamu tinggal datang ke kantor guru." Kata Cristine memberi saran.


"Dan diawasi dengan penuh perhatian oleh Buk Andini dan Pak Japung. Aku tidak mau."

__ADS_1


"Ummm... Aku tidak tahu kalau hari ini kamu ujian TIK dan matematika. Yah... lebih baik kamu hadir sih." Cristine jadi bingung bagaimana meyakinkan Selena kali ini. Kedua guru itu sangat galak dan kejam pada siswanya, dalam artian mereka tidak tanggung-tanggung memberi pekerjaan rumah dan soal dalam ujian. Bahkan jika poin yang diterima dibawah rata-rata, bersiap saja menerima hukuman.


"Lebih cepat kita berangkat lebih baik jadinya kan. Kalau kita terus berdebat disini, yang ada sungguhan telat jadinya."


"Aku akan menyusahkanmu kali ini untuk membantu menopang tubuhku." Imbuh Selena sambil tersenyum.


Cristine menjentikkan jarinya pada hidung Selena. "Apa yang kamu katakan. Sudah seharusnya aku membantu."


Keduanya pun tersenyum cantik.


Cristine dan Selena sudah keluar dari komplek perumahan, ketika dua motorΒ  berhenti di depan mereka.



Lucas melepas helm yang dia pakai dan menoleh pada Selena dan Cristine yang memandangnya terkejut.


"Senior Lucas." panggil mereka serempak.


"Aku akan memberi kalian tumpangan gratis. Naiklah." tanpa basa basi Lucas mengatakannya. Tidak melihat raut wajah penuh tanda tanya kedua gadis didepannya itu.


Dia memang sengaja datang ke komplek perumahan ini lagi dan menunggu Selena muncul.


Tidak lama dia menunggu di atas motornya di pinggir jalan gang rumah Selena, saat dia melihat kedua gadis dengan seragam sekolah yang sama berjalan saling bahu membahu.


Tangan Cristine masih di pinggang Selena, mereka berjalan dengan posisi saling merangkul sejak tadi.


Meskipun orang-orang sekitar melihat mereka dengan pandangan bertanya-tanya, Selena dan Cristine tidak merasa malu sama sekali, mereka dengan kompak mengabaikan semuanya.


Cristine bertemu pandang dengan Selena, tadinya Selena menggeleng dan tidak mau ikut seniornya tersebut.


Karena Cristine membujuk Selena dengan kata-kata yang sangat meyakinkan, dia akhirnya setuju.


"Daniel, bawa Cristine bersamamu." perintah Lucas pada Daniel di depannya. Daniel mengangguk setuju tanpa protes kali ini.


"Aku akan membantumu lebih dulu." Kata Cristine. Lalu Selena berpegangan pada Cristine dan naik ke atas sepeda motor berwarna putih milik Lucas, dia duduk di belakang dengan tubuh kaku dan sedikit gugup.


Selena mengerutkan hidungnya karena wangi Lucas yang sangat segar. Tubuh Lucas sangat harum sampai-sampai Selena ingin terus menciumnya.


Selena mengintip malu-malu pada punggung Lucas yang lebar dan ramping, dia ingin menyentuh punggung itu, ingin memastikan apakah punggung itu terasa kokoh dan kuat seperti yang baru saja dia pikirkan.


Selena sedikit linglung karena pikiran konyolnya barusan.

__ADS_1


"Pegangan Selena. Aku tidak ingin kamu jatuh." Lucas meraih tangan Selena dan meletakkannya di pinggangnya.


Seperti arus listrik yang menyengat, tangan yang di sentuh Lucas membuat Selena tersentak. Dia menunduk malu dan wajahnya memerah. Namun tangannya tetap berpegangan disana.


Pada saat mereksa sampai, kurang 15 menit jam belajar di mulai.



"Tunggu aku di perpustakaan Selena, aku akan mengantarmu pulang."


"... Aku memaksa." Tambah Lucas lagi.


Selena yang tadinya ingin menolak, hanya bisa menutup mulut dan menelan kembali kata-kata yang baru saja dia ingin katakan.


"Masih sakit?"


"Huhh..."


Lucas menunjuk kaki Selena dengan dagunya.


"Sudah mendingan."


"Mau aku gendong sampai ke kelas." Goda Lucas dengan seringai di bibirnya. Tawaran itu, dia tidak bercanda sama sekali. Kalau saja Selena tidak menatapnya dengan mata melotot dan wajah semerah tomat. Pasti, Selena sudah dia gendong.


"Masuklah."


Selena menggigit bibirnya dengan kepala menunduk. Di berkata dengan sangat pelan "Terima kasih tumpangannya Senior." Lalu dia pun terburu-buru datang ke tempat Cristine, yang tidak jauh dari tempat Lucas memarkirkan motornya.


"Kenapa wajahmu memerah?"


Selena sedikit terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Cristine dan tanpa sadar Selena menyentuh pipinya yang terasa terbakar.


Selena menggeleng. Dan keduanya pun pergi ke kelas masing-masing bersama-sama.


.


.


Thank You For Reading 😍😘


Jangan lupa dukung cerita ini dan follow akun penulis juga πŸ˜„πŸ˜

__ADS_1


__ADS_2