Selena Tsabina Series

Selena Tsabina Series
Chapter 19 { I Just Believe You }


__ADS_3

~ Happy Reading ~





Kelas baru saja selesai. Ruangan yang tadinya hening mulai ramai.


Di dalam kelas, Cristine yang sedang berbincang dengan Restu, tiba-tiba dikagetkan dengan suara Robin.


Ketika Cristine melihat ke depan, dia melihat Andre yang sedang mencarinya dengan wajah marah.


Robin mencoba menghentikan Andre, Robin tahu betapa benci Cristine pada pria yang sedang meraih kerah seragamnya saat ini.


Robin tidak takut, dia dengan pongah menatap tajam kembali mata marah Andre.


"Apa yang kalian berdua lakukan. Andre lepaskan tanganmu." Cristine datang menghampiri mereka dengan kesal.


Andre mendorong dengan kasar Robin menjauh. Lalu dia berpaling pada Cristine, dengan menggertakkan gigi Andre berkata. "Aku ingin berbicara denganmu."


Cristine menatap Andre tidak senang, namun tidak menolak.


"Aku baik-baik saja. Tunggulah disini, dia tidak akan berani menyakitiku." Kata Cristine menenangkan Robin yang tadi menghentikannya.


Cristine mengikuti di belakang Andre, mereka berdiri berhadapan di belakang ruang perpustakaan.


Tempat itu selain tidak pernah dilalui siswa, juga tempat terdekat dari kelas keduanya.


"Apa yang mau kamu bicarakan."


"Cristine. Ini adalah kata-kata peringatan terakhirku untukmu. Aku tidak perduli jika kamu sahabat Selena sekalipun. Jangan mencampuri urusan pribadi Selena. Dia adalah kekasihku, calon istriku di masa depan. Aku tidak mentolerir perbuatanmu yang diam-diam membantu Lucas dekat dengan Selena. Jika kamu tetap melakukan ini, percaya atau tidak, aku akan merusak Selena, dan itu karenamu." ancam Andre dengan wajah marah.


Cristine terhenyak melihat sosok Andre yang seperti ini. Dia mundur dengan kaki yang lemah tanpa sadar, tapi Cristine berusaha terlihat bahwa dia tidak takut pada Andre.


"Selena tidak melihatmu dengan pikiran seperti itu Andre. Kamu harusnya sadar. Selama ini dia hanya menganggapmu sebagai temannya tidak lebih."


"Kamu pikir aku perduli. Selama Tante Lyana tidak merubah pikirannya untuk setuju dengan perjodohan kami, aku tidak akan menyerah. Menurutmu, Selena akan tidak menuruti perkataan Ibunya. Cristine, kamu lebih jelas tentang hal itu daripada aku." Andre tertawa licik saat melihat Cristine yang berubah pucat.


"Jangan ikut campur urusan kami. Kamu hanya perlu menjadi sahabatnya yang baik dan patuh berada disampingnya." Kata Andre dengan tawa rendah.


"Aku tidak takut. Selama itu demi kebaikan Selena, aku akan membantunya. Andre, yang Selena sukai hanyalah Lucas."


Andre menyudutkan Cristine, matanya tajam penuh kebencian, Dia mengencangkan tangannya di leher Cristine sampai membuat Cristine tersedak karena perbuatannya.


"Aku tidak main-main dengan ancamanku. Kalau kamu masih sekeras kepala ini, jangan salahkan aku jika Selena tidak baik-baik saja nanti. Aku sangat senang kalau sudah melihat Selena yang kesakitan dengan luka-luka cantik itu di tubuhnya. Aku hanya perlu menambahkan luka yang membuat mentalnya terguncang, dan wushh... "


Saat suara terakhir Andre jatuh di telinga Cristine, dia terduduk lemah di tanah dengan tubuh gemetar. Matanya temor penuh rasa takut karena ancaman.


"... Dia akan memilih mati daripada hidup di dunia ini."


****


"Kenapa dengan wajahmu." Selena bertanya dengan khawatir. Cristine terlihat lesu dan tidak bersemangat.


Cristine hanya menggeleng dan berkata bohong. "Aku pusing dengan ujian matematika tadi, sangat susah sampai membuat kepalaku sakit."

__ADS_1


Selena tidak bertanya lebih lanjut. Keduanya sedang dalam perjalanan pulang.


Cristine merasa bahwa dia di tatap di belakang tubuhnya. Membuatnya merinding.


Saat dia melihat ke belakang, Andre menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Apa yang kamu lihat."


"Tidak. Bukan apa-apa."


\* \* \* \* \*


"Selena. Antarkan ini pada Tante May. Bilang padanya terima kasih."


Selena yang sedang duduk di ruang tamu, melangkah ke arah Lyana yang sedang di dapur.


Dia melihat di atas meja, sebuah rantang makanan berwarna merah ada disana.


"Apa ada lagi Ma." tanya Selena lagi.


"Hanya itu saja. Tante May sedang ada pengajian di rumahnya, kamu bantulah."


"Iya Ma." Selena memegang rantang itu dan pergi ke rumah Tante May, yang adalah ibunya Andre.


Selena pergi dengan berjalan kaki, hanya 20 menit untuk dia sampai di depan rumah berlantai dua yang bisa dibilang rumah mewah di desanya dia tinggal.


Komplek perumahan disini memang berbeda dengan komplek perumahan yang Selena tinggali.


Ini adalah perumahan dengan dua lantai yang biasa seorang pejabat di desa itu tinggali.


Beberapa guru Selena juga berada di komplek perumahan itu.


Tante May merupakan adik sepupu Rehan. Mereka sudah dekat semenjak keduanya masih muda. Dan juga Tante May adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Ibunya itu.


Dari tempatnya berdiri Selena melihat beberapa orang pria dewasa hilir mudik di sekitar rumah Andre.


Beberapa wanita dengan kerudung berwarna-warni juga ada disana. Semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Tidak ada yang memperhatikan kehadiran Selena yang masih berdiri di pintu gerbang.


"Aku tidak ingat punya patung yang terlihat bodoh di rumah."


Suara Andre dibelakangnya membuat Selena sedikit terkejut.


Dia berbalik, dan melihat Andre dengan kantung di tangan.


Selena tidak menggubris kata-kata Andre yang selalu sarkas padanya. Dia sudah terbiasa.


"Sampai kapan kamu mau berdiri disana. Masuk." kata Andre membuka pintu besi itu dan tidak menutupnya.


Selena terdengar menggerutu di belakang punggung Andre. Namun tetap mengekor di belakangnya.


"Apa Tante May sibuk. Mama menyuruhku untuk mengembalikan ini padanya."


Keduanya sudah masuk ke dalam rumah. Mereka lewat pintu samping yang langsung mengarah ke ruang dapur.


Andre menaruh kresek yang dia bawa di atas meja. Dan tidak menjawab kata-kata Selena.

__ADS_1


Tiba-tiba Andre berbalik dan Selena sedikit tersentak.


"A... Apa." tanya Selena gugup.


Dilihat dengan penuh perhatian dengan wajah tampan seorang pria, Selena selalu merasa malu.


Bisa di bilang Andre yang seperti ini, membuat Selena tidak nyaman. Dia merasa Andre yang cuek dan selalu berkata penuh hinaan padanya terlihat bisa di terima, daripada dengan Andre yang menatapnya lembut.


"Jangan pernah menatapku dengan mata polos ini dan berbicara dengan nada akrab seperti itu." Andre menyentuh wajah Selena. Dia mengusap pipi lemak bayi Selena, di tangannya itu terasa halus.


"Apa yang kamu lakukan." Selena menepis tangan Andre yang seperti ingin menyentuh matanya. Dia merasa tidak nyaman dengan kedekatan tiba-tiba mereka.


Andre sangat aneh hari ini. Itu tidak seperti bagaimana dia bersikap selama ini padanya.


"Apa yang kalian lakukan disana." suara wanita menginterupsi kecanggunan di ruangan itu.


Maya, wanita cantik dengan hijab hijau mint yang dia kenakan saat ini, membuat sosoknya terlihat semakin menawan.


Saat Maya melihat Selena, dia terpekik girang dan langsung memeluk Selena dengan erat.


Selena merasa susah bernafas. "Tan... Tante May. Sesak."


Maya hanya mengendurkan tangannya dan tidak melepaskan pelukan itu.


Ada sedikit senyum simpul yang terlihat di wajah tampan Andre saat melihat pelukan di depannya kini.


"Ma, Andre akan ke kamar. Sirup dan buah-buahan yang Mama pesan ada di atas meja."


"Terima kasih sayang. Ada opor ayam di dapur jika kamu mau makan." teriak Maya kepada Andre.


"Hmm."


Dia sudah melepaskan pelukan di tubuh Selena. Dengan wajah berbinar, Maya membawa Selena ke dalam kamarnya.


Hari ini rumah Andre sedang ada pengajian rutin yang biasa Maya ikuti bersama Ibu-Ibu komplek di sekitar rumah.


Selena menurut saja ketika tangannya di tarik oleh Maya. Tantenya ini memang seperti ini, selalu memanjakan Selena jika mereka bertemu.


"Tante, Mama menyuruhku kesini untuk membantu. Apa ada yang harus Selena kerjakan."


"Tidak Selena. Kamu akan menemani Tante di luar nanti. Lagipula semuanya sudah selesai sejak tadi. Kita hanya sedang menunggu Ibu-Ibu yang lain datang."


"Tante sudah menunggumu. Nah sekarang kamu bawa ini, ganti baju itu, dan sebelumnya..." Maya menghirup tubuh Selena. Dia mengernyit.


Selena malu karena tingkahnya. Dia memang belum mandi, tapi tidak mungkin dia sebau itu kan.


"Aromamu masih sama seperti dulu Selena. Bau segar greentea, seperti wangi parfum yang tante sukai. Dan em sedikit bau keringat. Cepat mandi, setelah selesai kembali kesini."


Selena pasrah dengan Tante Maya yang sangat bersemangat ini.


Dia mengambil gamis berwarna biru muda di tangan Maya. Dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan.


.


.


.

__ADS_1


**Thank You For Reading ^^


Adakah yang baca cerita ini**?


__ADS_2