Senior Galak Ku! ( HUNLIS Versi Lokal)

Senior Galak Ku! ( HUNLIS Versi Lokal)
Official?


__ADS_3

"Oke minggu depan kerumah deh."


"Lah apaan?! Gak ada! Ogah!"


×××


Senin, hari paling menyebalkan dalam kalender menurut Lisa. Hari yang paling dibenci gadis itu, karena hari Senin itu hari yang mengharuskan dirinya bangun lebih awal.


Dihari biasa gadis itu akan bangun pukul 8, tapi jika sudah memasuki hari Senin dia akan bangun pukul 6.


Alasannya karena dia tidak ingin terlambat di mata kuliah keramat, dengan dosen yang horor juga.


Seperti pagi ini, pukul 6.15. Lisa sudah siap dengan baju formal untuk ke kampus.


Gadis barbie itu menyisir rambut dan memoleskan liptint pada bibir tebalnya.


Setelahnya dia beranjak keluar untuk sarapan. Jam segini memang jarang yang sudah bangun.


"Lah udah mau berangkat?"


Lisa berjengit kaget.


"Ish apaan sih?! Ngagetin gua aja!"kesal Lisa.


Makhluk itu hanya terkekeh sambil nyengir tidak merasa bersalah.


"Cuman nanya elah, sensi banget pagi-pagi."


"Lagian lo langsung nongol gitu aja!"


"Setan aja kalo nongol kaga bilang-bilang."


"Kan emang elo sebangsa setan."


"Sialan."


"Nama lo tuh Abi, tapi suka banget cursing."


"Ga ada hubungannya kali."


"Serah. Minggir gua mau berangkat."


Lisa mendorong pelan bahu Abi.


"Sendirian?"


"Enggak, sama abang ojol."


"Ah elah kesian amat jomblo."


"Kan lo tuh ngeselin emang bang, sendirinya kaga ngaca."


Lisa mencebik kesal, Abi, makhluk astral yang sayangnya tampan itu selalu mengatainya. Kampret memang!


"Udah ah yuk gua anter, biar ada gandengan."


"Tumben baik lo?"tanya Lisa sambil memicingkan matanya curiga.


Abi menoyor kepala gadis didepan nya itu pelan.


"Suudzon mulu deh markonah."


"Musnah aja lo Abidin!"


"Ck! Bacot mulu, telat mewek. Herman cogan."


"Yaudah ayo!"


"Ngegas maemunah!"


Akhirnya kedua manusia yang sama-sama absurd itupun berjalan menuju garasi kosan.


Lisa menunggu Abi mengeluarkan motornya sambil memakai sepatunya.


Tak lama Abi berteriak kencang.


"Lis! Berangkat pake ojol aja lo! Motor gua lupa isi bensin!"


"ABIMANYU JOMBLO SIALAN!!!"

__ADS_1


×××


"Lis, sumpah gua gak maksud begitu. Gua lupa serius dah."


Lisa hanya diam, melirik sinis pemuda yang daritadi menguntit dirinya dari pulang kuliah hingga sekarang.


Dia lelah jiwa dan raga, dan Abi tidak mau berhenti mengikutinya. Risih tentu saja. Dirinya butuh istirahat, tapi makhluk menyebalkan dengan wajah rupawan ini sama sekali tidak mengerti.


"Minggir!"


"Maafin kakanda, dinda."


Mulai drama.


"Apasih geli *****!"


"Dinda, jangan engkau membentak kanda seperti itu. Sungguh hati kanda terasa sakit."


"Dinda dinda! Nama gua Lalisa! Minggir Abidin!"


"Lo berdua lagi ngapain sih, drama banget."decak Jessie jengah.


"Bantuin gua kek, ini si Markonah kaga mau maafin gua."


"Lagian kaga mampu beli bensin aja sok mau nganter, mamam tuh macan ngamuk."celetuk Roseann.


Bima yang baru saja masuk ke ruang tengah, dimana hanya ada Jessie, Roseann, Lisa, dan Abi menatap mereka heran.


Situasi apa ini? Kenapa gadisnya diam dengan muka masam seperti itu.


"Ada apaan nih?"tanyanya.


"Beb, maafin abang dong? Masa gitu doang ngambek sih."rayu Abi.


Lisa mendelik kesal, gitu doang apanya! Dia hampir terlambat 10 menit dijam kuliah dosen killer favoritnya. ( baca : yg paling dibencinya )


"Denger ya Abidin, gara-gara lo gua hampir telat sepuluh menit! Enak aja lo bilang gitu doang!"


"Maaf say, kan gua gak tau bensin gua abis."


"Ini kenapa sih?"tanya Bima. Kerutan di dahinya semakin dalam, tanda dia sama sekali tidak mengerti. Sekaligus kesal setengah ****** karena Abi yang terus-terusan menyentuh gadis-nya.


"Dia ngambek sama Abi, gara-gara tadi pagi gak jadi dianterin."jelas Jessie.


Bima menatap Lisa yang fokus dengan acara televisi didepannya, mungkin gadis itu tidak sadar Bima sedang memperhatikannya.


Segitu kecewanya dia gak jadi dianter Abi? Sampe ngambek segala! Dan si Abi sialan itu malah ngerayu dia didepan gua! batin Bima murka.


"Ayolah beb, kamu tega sama abang? Masa gak mau maafin?"


Lisa menghela napas kasar, dia akhirnya mengangguk.


"Yaudah gua maafin, tapi jangan pernah lo sok mau nganter gua kalo gak ada bensin!"


"Siap princess!!! Gua isi bensin dulu kalo mau nganter lo ntar."


"Halah, modus!"seru Jessie dan Roseann.


"Biarin, dia kan jomblo."


Jessie dan Roseann sontak melirik Bima yang balas menatap mereka datar.


Padahal dalam hati pengen banget ngubur Abi hidup-hidup, tapi rasanya keterlaluan.


"Iya sih gua jomblo, kenapa? Lo mau jadi pacar gua?"tanya Lisa.


Bima tersedak jus jeruk yang bahkan belum sampai dikerongkongannya.


"Santai aja bang minumnya, jangan buru-buru gitu."ledek Abi.


Pasalnya dia tahu hubungan antara Lisa dan Bima yang sudah sadar akan perasaan masing-masing, namun belum ada kejelasan status.


Entah mau sampai kapan mereka begitu.


Yang namanya deket, saling suka tapi tanpa ada status mau cemburu pun gak punya hak. Dasar kalian.


"Bodo! Pergi gua!"


Bima pun pergi meninggalkan ruang tengah dengan hati gondok.

__ADS_1


×××


"Kamu sengaja?"tanya cowok itu datar.


"Maksudnya?"


Raut sang gadis pun menunjukkan bahwa dirinya tak mengerti akan arah pembicaraan ini.


"Gak usah pura-pura, kamu sengaja bilang begitu biar Abi nembak kamu kan?"


"Maksudmu gimana sih a'? Ini arah pembicaraan kita daritadi gak jelas banget. To the point aja kenapa?"


"Tadi siang, kamu nembak Abi didepan aku tuh sengaja? Biar aku cemburu? Iya?"


"Gak tuh, aku cuman main-main kok."


Bima tersenyum miring.


"Main-main? Kamu gak tahu efek yang kamu ciptakan dari "main-main"-nya kamu itu!"


"Apasih?! Kalo kamu tetep gak jelas aku masuk!"


"Aku belum selesai, kamu jelasin ke aku!"


"Jelasin apaan?"


"Maksud omongan kamu ke Abi tadi."


Bima bersidekap, menunggu penjelasan gadis itu.


Sedangkan dalam hati Lisa merutuki kebodohan dan kepekaan Bima yang minus.


**** banget dah! Gua bilang begitu biar lo sadar, kalo gua gak selamanya bisa nunggu kepastian lo! Sialan! batin Lisa.


"Gak ada kok, lagian kan gak selamanya aku bakal jomblo terus. Aku pasti bakal jadi milik orang, entah kapan. Bisa jadi besok, besoknya lagi, atau besoknya lagi. Takdir gak ada yang tau kan? Siapa tau juga yang bakal jadi pacar aku bang Abi, ya kan? Kita gak akan tau hal itu."


"Yaudah kalo gitu kita pacaran aja, aku gak rela kalo kamu sama orang lain. Jangan harap bisa nolak!"ujar Bima penuh penekanan.


"Hah?"


Lisa cengo, macam orang tuli.


"No repeat babe, you just need say yes or yes."


"Oke deal."


Bima tertawa, begitu menggemaskan gadis disampingnya ini.


"Kamu masuk, ini udah malem."


"Oke."


Apa-apaan nih, jantung gua kok rasanya mau lompat gini sih anjay!


"Gak usah canggung gitu lah, belum juga dilamar."


"Dih apaan sih!"


Lisa menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Mungkin saja dia blushing. How embarrassment!


"Cih gitu aja malu, biasanya malu-maluin."


"Bima sialan!"


"Kita tambah peraturan, kalo ngumpat kamu bakal aku cium. Oke?"


"Itu sih maunya kamu!"


"Yang emang maunya aku."


"Serah! Bye!"


Lisa beranjak dari kursi teras untuk masuk kedalam kamarnya.


"Night too babe." teriak Bima.


"Dasar gila!"balas Lisa


×××

__ADS_1


__ADS_2