Senior Galak Ku! ( HUNLIS Versi Lokal)

Senior Galak Ku! ( HUNLIS Versi Lokal)
Last Choice


__ADS_3

...🐻🐻🐻...


"Okay fine! Then you want me do what? I'm not lying! I say all what I feel. Can we end this arguing? I'm so tired. I let you go, that's it!"


...×××...


Seminggu sudah hubungan keduanya merenggang, bertepatan dengan hari terakhir Bima berada dikos.


Cowok itu sudah memutuskan akan pergi, sebelumnya ia memang ragu. Namun, setelah mendengar kabar bahwa Papa nya jatuh sakit ia tak kuasa menolak apalagi membantah.


Si gadis? Diam dan menjauh. Ia ingin melepas namun hatinya tak sanggup. Ayolah hubungan mereka masih sangat baru untuk berpisah.


Mood swing Lisa sangat berpengaruh pada penghuni kos, pasalnya gadis itu berubah secara drastis.


Kemarin ia hampir 'menghancurkan' dapur kos, bahkan nyaris kebakaran kalau saja Adrian tidak disana.


Sekali lihat saja pasti tahu keadaan gadis itu sangat kacau. Kantung mata hitam, bibir yang sering menampakkan Gummy Smile itu tampak pucat.


Tak ada yang berani mengusik Lisa, hanya saja mereka khawatir Lisa akan berbuat sesuatu yang membahayakan.


Kondisi Bima tak jauh beda dengan Lisa, namun ia menyembunyikannya. Dan akan dikeluarkan ketika ia sendiri.


"Pura-pura kuat itu capek, gak usah ditutupin. Cowok juga berhak nangis."ujar Angga disuatu waktu.


Ia memergoki Bima yang tengah duduk melamun di gazebo taman belakang, tengah malam.


Perkataan Angga sukses membuat Bima menjatuhkan kristal yang selama ini ditahannya. Keluh kesah yang mengganjal dihatinya keluar begitu saja. Dihadapan 'Papi' kekasihnya.


Kenapa mau pergi saja harus se-drama ini? Bima tak akan pergi jika bukan karena tuntutan dan sebagai balas budi pada Papa nya.


Hari ini, ia akan berangkat apapun yang terjadi!


Bima berjalan menuju kamar Lisa, mengetuknya pelan.


"Siapa?"


Suara ini, yang selama berhari-hari tak didengarnya. Kini dapat ia dengar kembali. Anggap ia berlebihan, tapi ia memang benar sangat merindukan gadis yang seminggu ini menghindarinya.


"Buka pintunya. Aku mau ngomong sebentar."ujar Bima lembut.


Lisa menegang. Ia pikir Bima tak akan peduli, nyatanya cowok itu justru menghampirinya.


Ia memeriksa penampilannya, sedikit merapikan rambutnya yang agak berantakan. Lalu membuka pintu.


Bisa ia lihat Bima menjulang tinggi dihadapannya, wajahnya pucat.


"Ada apa?"


Bima tak menjawab, ia menarik tangan Lisa menuju taman belakang.


"Aku serius soal ini, Papa sakit. Sekarang aku harus pulang, Lis. Dan aku udah mikir ini matang-matang. Kalo kamu emang gak mau aku pergi, ikut sama aku! Kalo perlu kita nikah sekalian biar gak pisah, gimana?"


Lisa membelalakkan matanya, apa? Menikah?!


"Nikah?!"


Bima mengangguk yakin.


"Kita nikah aja kalo emang kamu gak mau pisah sama aku."


"Kamu gila?! Yang bener aja, kuliahku masih tinggal beberapa semester lagi. Aku gak mau nikah sebelum dapet gelar sarjana!"


"Itu solusi paling enak, Lis. Untuk urusan kuliah kamu bisa pindah ke Surabaya, aku udah pikirin dimana kamu bisa kuliah."


Bima udah mikir sampai kesitu? Luar biasa!


"Surabaya? Bukannya kamu mau pulang ke Bandung?"


"Aku bakal ngurus anak perusahaan Papa di Surabaya, sebelum itu aku emang pulang ke Bandung. Aku siap nafkahin kamu, karena aku gak perlu lagi nyari kerja."


"Kok kamu bisa mikir sampe kesana?"


Lisa terheran-heran.

__ADS_1


"Ya mau gimana lagi, kamu ngambek gak mau ditinggal. Itu satu-satunya jalan biar kita bisa sama-sama."


"Yang bener aja, nikah tuh bukan perkara mudah. Ini bukan tentang kita lagi loh, udah menyangkut dua keluarga besar. Lagian emang orangtuamu setuju?"


Bima diam.


"Aku belum nanya, tapi aku bakal minta izin secepatnya!"


"Bisa-bisanya kamu mikir sampe situ, padahal direstuin aja belum tentu. Udah main nikah aja!"sungut Lisa.


Jujur, Lisa belum siap melepas masa lajangnya. Ia sudah membayangkan akan menikah ketika sudah dapat pekerjaan mapan.


Dan ini apa? Belum lulus saja sudah mau diajak menikah.


"Ini Last Choice, Lis. Pikiran aku udah mentok!"


"Aku gak mau!"


Bima terperangah, barusan ia ditolak oleh kekasihnya sendiri.


"Aku gak mau nikah, kalo emang harus itupun gak sekarang. Aku masih mau berkarir."


"Terus mau kamu gimana?"


"LDR! Semalaman aku mikirin itu, kita LDR aja."


"Kita gak bisa ketemu loh!"


"Kamu manusia primitif apa gimana? Kan bisa video call!"


Lisa memandangi Bima datar.


"Tapi kan beda sensasinya, kalo aku video call gak bisa cium!"


Gadis itu mendelik sebal. Mau pergi saja masih berpikir hal yang iya-iya.


"Dasar omes!"


...×××...


"Jangan selingkuh disana! Kalo ketahuan aku jamin kamu gak bakal liat aku!"


"Cuman kamu yang ada dihati aku, gak mungkin lah aku selingkuh."


"Huekkk.."


Jangan tanya siapa yang memberikan respon seperti itu, trio rusuh.


Angga tersenyum menanggapi.


"Bang, lo jagain ya si Lisa. Selama gua gak ada."


"Tenang aja, ini kan anak gua."


"Ati-ati ya bang, jangan lupa kalo balik bawa oleh-oleh yang banyak!"


"Bang Bima gak lagi mau liburan dodol!"


"Titip salam buat Om sama Tante ya, Bim."


"Iya teh, ntar disampein. Pergi dulu ya! Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."koor anak kos.


Lisa menangis setelah mobil yang ditumpangi Bima menghilang.


"Dih kok nangis Lis.."


"Cup cup cup, ntar babang beliin balon yang gede. Jangan nangis!"


Mendengar kalimat hiburan keluar dari mulut Abi, tangisan Lisa makin menjadi.


"Ck elo sih!"

__ADS_1


"Tau nih! Udah tau nangis malah diledek!"


"Gua ngehibur dia *******!"


Irena melotot.


Abi hanya nyengir tak berdoa dengan dua jari terangkat.


"Peace teh, kelepasan."


"Sengaja dia tuh teh!"


"Tau nih! Ngeles aja bisanya!"


"Bully teros, lama-lama gua makin ganteng."


"NAJIS!"


"NARSIS BANGET GILA!"


...×××...


Berpisah dengan orang yang kamu cintai tentu sangat sulit, namun ingat! Hubungan kalian akan tetap baik-baik saja ketika kalian saling percaya pada pasangan masing-masing. Walau jauh sekalipun! - Azaleara Park


"Lisa, udah dong nangisnya. Mata lo udah bengkak banget itu."ujar Jessie.


"Iya Lis, lagian bang Bima udah janji bakal sering jengukin lo."kini giliran Zennia yang bicara.


"Udah ya nangisnya.."


Perlahan isakan Lisa mulai berhenti.


I'm sorry but~


Don't wanna talk~


I need a moment before I go,


It's nothing personal..


I draw the blind..


They don't to see me cry~


Suara merdu Sabrina Carpenter mengalun. Lisa menyeka air matanya, melihat nama yang muncul dilayar ponsel nya.


Lovely Senior❤ is calling...


"Halo?"


"Suara kamu kenapa? Nangis ya? Hm?"


Lisa terdiam, air matanya luruh lagi. Isukan kecil mulai keluar dari bibir gadis Thailand itu.


"Hey what's wrong? Kenapa nangis sayang?"


"I'm okay.."jawab Lisa parau.


"Belum ada sejam loh aku pergi, kamu udah nangis kayak gini. Gimana nanti?"


"Gak tau."


Terdengar helaan nafas diseberang.


"Listen.. If you afraid that I'm gonna leave you with other woman, don't worry. I wouldn't do that! Trust me and stop crying! Don't make me feel sorry to leave you there.."


"Sorry but I'm already miss you.."


Bima tertawa.


"Jadi kamu tuh nangis karena udah kangen sama aku? How's cute! Gemes pengen cium.."


"Omes!" Lisa berkata datar yang disambut gelak tawa dari Bima.

__ADS_1


...×××...


__ADS_2