
Seharian itu Lisa habiskan bersama Edo, kakak tingkat yang merupakan sepupu jauhnya.
Tidak ada yang tahu kalau Edo itu masih saudara dengan Lisa. Mereka lebih cocok buat jadi sepasang kekasih.
"Makasih banget ya, Mas Edo."ujar Lisa tersenyum manis.
"Apasih yang enggak buat Lilis."goda pria itu.
"Udah dibilang jangan manggil Lilis!"
Edo tertawa nyaring. Menatap wajah cemberut Lisa, yang menurutnya menggemaskan.
Dulu sebelum tahu kalau mereka saudara, Edo pernah menyukai Lisa. Hampir saja pacaran, jika Bunda nya tidak mengajaknya dinner keluarga malam itu.
Ia sempat gagal move on, cewek yang ia taksir adalah sepupu jauhnya. Siapa yang tidak sedih!
"Udah jangan cemberut, jelek banget!"
"Abis lo ngeselin banget jadi orang!"
Edo tertawa lagi.
"Yaudah yuk, kita ke destinasi terakhir. Terus gua anterin lo pulang."
"Kemana?"
"Gak usah banyak nanya."
Lisa mencebik, yang ditanggapi Edo dengan kekehan kecil.
Beberapa belas menit kemudian mereka sampai disebuah minimarket. Lisa mengerutkan kening nya, lalu menoleh pada Edo yang ternyata sudah siap untuk turun.
"Gua haus! Buruan turun!"
Cowok itu kemudian turun, diikuti Lisa.
"Mas, aku mau ini!"seru Lisa.
Edo menaikkan sebelah alisnya. Menoleh pada Lisa yang memegang satu cup besar ice cream Oreo.
Ck, Lisa tuh kalo ber-aku-kamu pasti ada maunya!
"Yang lain, ntar gua diomelin sama emak lo!"
"Ih ya jangan bilang dong, yaaaa?"
Lisa mengedipkan matanya lucu. Hal itu tak membuat Edo mengubah keputusannya, tetap menggeleng tegas.
Membuat gadis itu memajukan bibirnya beberapa senti.
"Gak mau beli apapun?"
"Gak!"
"Yaudah ini aja, Mbak. Berapa?"
"Dua puluh enam ribu, Mas."
Edo mengucapkan terimakasih pada kasir itu, lalu keluar menyusul Lisa.
Gadis itu duduk didepan minimarket yang memang tersedia kursi dan juga meja.
"Lis, ayo!"
"Eh bentar! Foto dulu!"
Lisa mendengus, tapi tak urung ia tersenyum ke arah kamera.
edo.sptr24
Jakarta
❤ 🗨 •••
edo.sptr24 Ngambek sebenernya:v Lalisa_bell
32 detik yang lalu
...×××...
Bima melempar kasar ponselnya, baru saja ia melihat postingan yang menandai sang kekasih disana.
__ADS_1
"Sialan tuh cowok!"
Ia kembali mengambil ponsel yang tadi sempat ia lempar, mencoba menghubungi Lisa.
Panggilannya di-reject, Bima tak menyerah. Ia mencoba sekali lagi, namun ponsel Lisa sengaja dimatikan. Double shit!
Bima mengerang, rasa emosi menguar. Raut wajahnya merah padam. Dengan kasar, Bima menyambar jaket dan kunci motornya.
Ia harus menyusul Lisa!
Namun, ia bisa mendengar suara Lisa dibawah. Sepertinya gadis itu sedang marah-marah, dengan cepat Bima menuruni tangga.
Rasa penasaran dan emosi yang tadi sempat meluap kini semakin bertambah.
Disana, bisa ia lihat Lisa dengan penuh emosi memaki seseorang yang ia kenal. Sangat ia kenal.
Sheralin Yurika.
"Gua gak bisa paham, kenapa lo bisa deketin cowok gua lagi! Lo kan tau dia punya pacar, harusnya lo tau diri! Bukan malah nyamperin dia kayak gini!"
"Eh denger ya! Sebelum dia kenal lo, dia lebih dulu kenal sama gua! Bahkan dia pernah pacaran sama gua, lo gak usah sok kecakepan hanya karena dia pacar lo sekarang!"
Angga mengusap wajahnya kasar melihat pertengkaran didepannya. Berulang kali ia menyuruh keduanya berhenti, namun tidak berefek apa-apa.
"Gua sok cakep? Hah! Eh bule nyasar, asal lo tau gua lebih cakep daripada muka lo yang penuh suntikan bahan kimia itu!"
Muka Alin memerah.
"Kurang ajar lo!"
"Apalo!"sinis Lisa.
Disaat Alin sudah akan menjambak Lisa, Bima menepis tangan gadis itu kasar.
"Bima?"
"Ngapain lo kesini?"
"Loh kok kamu gitu sih, kan kamu yang nyuruh aku kesini.."ujar Alin manja.
Lisa mendelik pada Bima, ia salah mengira kalau Alin datang kesini dengan sendirinya. Nyatanya Bima yang meminta wanita itu untuk datang.
"Lo ngigo apa mabok?"
Lisa semakin tajam memandang Bima, kedua matanya seperti memancarkan laser.
"Jangan ngarang cerita! Bilang sama gua, lo mau apa kesini?!"bentak Bima.
Alin diam.
"Cih, sok ngebentak. Aslinya gak tega tuh!"ejek Lisa.
Bima menoleh kearah gadis yang di rindukannya itu.
"Gak usah cemburu!"
"Bacot amat! Buruan lo usir itu mantan terindah lo! Eneg gua liatnya."
"Bim, kita balikan yuk! Aku minta maaf dulu udah ninggalin kamu, padahal kita hampir tunangan. Dan kita bahkan udah ngelakuin it--"
"Stop! Shut your dirty mouth, Sheralin!"
"Ta--tapi kan emang kita udah--"
"Diem! Gak usah bikin gosip!"
"Gak nyangka gua ya, selain lo itu suka mainin cewek ternyata brengsek juga!"
Lisa memandang remeh Bima, yang balas menatapnya datar.
"Kamu percaya? Seriously?"
"Gak ada alasan buat gak percaya, diliat dari badungnya elo aja udah keliatan kali."
Bima menghembuskan nafasnya kasar. Dua gadis ini menguji kesabarannya.
"Lin, mending lo pergi dari sini! Gak usah balik lagi, inget kita statusnya cuman mantan!"
"Orangtua kamu jodohin kita! Aku gak akan mau kalo ini bukan karena kemauan mereka, aku gak terima direndahin kayak gini!"sungut Alin.
"Wow, bravo!"decak Lisa dengan kekaguman yang dibuat-buat.
"Aku gak akan nerima perjodohan apapun, apalagi urusannya sama elo!"pungkas Bima.
__ADS_1
Dengan hati gondok, Alin pergi. Sebelum itu ia berucap akan merebut Bima apapun yang terjadi.
"Mau rebut? Sekarang aja gua kasih, ikhlas kok gua! Lagian udah bosen sama cogan model begini."
Lidah tajam Lisa mengusik hati Bima.
"We need to talk, Lalisa!"ujar Bima tajam.
Ia menyeret kasar lengan gadis itu, tidak ada kelembutan. Bahkan ia tak peduli! Intinya, masalah mereka harus selesai hari ini juga!
"Sakit! Lepas gak?!"teriak Lisa meronta.
"Shut up!"
Sampai dirooftop, Bima menghempaskan tangan Lisa kasar. Bekas merah terlihat jelas disana, sedikit mengusik. Namun, Bima mencoba tak peduli.
"Kasar banget sih lo sama cewek?! Giliran sama Alin aja gak gini!"
"Gak usah bawa-bawa Alin!"
"Bodo! Lo mau apa?!"
"Kita butuh bicara, kita harus nyelesaiin masalah ini sebelum makin rumit. "
"Nyatanya disini elo yang bikin jadi rumit!"
Bima mendengus kasar.
"Aku minta maaf, oke? Apapun yang terjadi belakangan ini aku minta maaf. Soal gak ngabarin kamu, tato ditangan aku, perjodohanku sama Alin. Semuanya..." Bima melunak.
"Gak mau!"tolak Lisa.
"Lis, ayolah. Aku capek berantem sama kamu, aku berniat baik loh ini. Masa kamu gak mau maafin aku!"
"Anggep aja itu pembalasan!"
"Lisaaa..."rengek Bima manja.
Lisa mendelik terkejut, ini manusia es sedang merengek padanya.
"Gak usah sok imut!"
Sebenarnya ia ingin tertawa, lalu mencubit pipi Bima yang sedikit gemuk dari terakhir mereka bertemu.
Gemesin juga ini orang! Sayang gua lagi jual mahal, jadi gak bisa ketawa! - rutuk Lisa dalam hati.
"Please..."
Lisa menghela napas.
"Oke! Lisa maafin."
Bima sudah bersiap akan merengkuh tubuh Lisa, namun Lisa mencegah Bima.
"Gak ada acara peluk-peluk, ya!"
"Lis, besok aku balik ke Surabaya. Bahkan seharusnya udah dua hari yang lalu, tapi aku gak balik karena nungguin kamu maafin aku."
"J-jangan balik besok."cicit Lisa.
"Apa?"
"Jangan balik besok, aku kangen kamu."
Bima tertawa, lalu menenggelamkan kepala gadis itu dalam dadanya. Ia lega, Lisa sudah memaafkan nya.
"Aku juga kangen sama kamu, banget. Kamu beneran maafin aku kan?"
Tak ada jawaban dari Lisa.
"Yaampun Lisa, kamu kok malah tidur sih? Dasar tukang tidur!"
Lisa hanya menjawab dengan gumaman tidak jelas.
Dada Bima terlalu nyaman kalau tidak dimanfaatkan.
...×××...
...Hi guys! Balik lagi sama cerita yang sama, Lisa&Bima!...
...So guys, gimana part ini? Sorry ya kalo kurang rapi ngetiknya atau kurang bisa dipahami. ...
...See you next!...
__ADS_1