
**Happy reading^^
.
.
.
.
Ps. Sorry kalo ada typo**:"
"A-ariel?"
π»π»π»π»
"Hai, Lice. Long time no see, I miss you so much."ujar Ariel.
Lisa diam. Tak tahu harus menjawab apa, keterkejutan melihat sosok didepannya ini ternyata masih belum hilang. Bibirnya mendadak kelu, dalam hati dia merutuki kebodohannya. Kenapa tadi dia tidak ikut Zennia saja.
Ariel yang merasa tidak mendapat respon dari gadis ini pun hanya tersenyum tipis.
Zennia langsung mencari Lisa begitu keluar dari toilet, dan mendapati Lisa duduk membelakanginya dengan sosok brengsek yang paling dia benci. Ariel Pradana Kusuma.
Dengan geram dan langkah lebar Zennia berjalan menghampiri meja mereka berdua. Bisa dilihatnya muka pucat sahabatnya itu.
"Ngapain lo disini!"hardik Zennia.
"Eh halo zen, makin cantik aja lo."
"Gak usah lo temuin Lisa lagi!"bentaknya yang sukses membuat seisi kantin memandangnya terkejut.
"Lo bukan orangtuanya yang bisa ngatur-ngatur dia."jawab Ariel santai.
"Gua keluarga bagi dia, gua kenal dia lebih lama daripada lo!"
"Kalian bahkan gak ada hubungan darah."
"Seenggaknya teh Zennia gak pernah main tangan sama gua."suara dingin Lisa mengurungkan niat Zennia yang akan membalas Ariel.
Kemudian Lisa berdiri dan menarik tangan Zennia.
"Gak nyangka tuh manusia bisa kesini."kata Zennia setelah keluar dari kantin.
"Dia kan emang sekampus sama kita teh."
"Bukannya udah keluar?"
"Emang, tapi kayaknya balik lagi."
"Lo gakpapa kan?"
"Gak papa kok. Cuman masih kaget aja."
"Lis lo punya anak kosan, kalo tuh anak sampe berani deketin lo lagi dia bakal berurusan sama anak sekosan."
"Makasih ya, gua jadi ngerasa ngerepotin kalian."
"We are family, remember?"
"As always, family forever."
Senyum Lisa terkembang lebar.
π»π»π»π»
"Neraka bocor kali yak, panas bener."keluh Abi.
"Yee sembarangan!"kata Bagas menoyor kepala Abi.
"Kali aja gitu, daritadi gua duduk dibawah AC gak ngefek."
"Itumah dosa lo aja yang banyakan."sahut Adrian.
"Sialan!"sungut Abi kesal.
"Udah gak usah berantem, nyuci piring sana! Ini jadwal nya Abi sama Bagas."
"Ntar deh teh ya."jawab Abi malas.
"Halah bilang juga ntar, tapi baru besok dicuci. Buruan gak?!"
Tanpa banyak kata Abi beserta Bagas ngacir kedapur, pasalnya Irena mood nya kurang bagus pagi ini. Jadi, mending nurut aja.
__ADS_1
"Teh, Papi mana?"
"Papi lo keluar tadi, gak tau dah kemana."jawab Bima.
"Please ya yang ditanya gua kenapa lo yang jawab sih!"
"Udah gak papa, yang penting gua udah tau papi gak ada."
"Nah iya, tumben lo rapi hari minggu gini. Mau kemana?"tanya Rafi.
Fyi, Rafi ini adek sepupunya Abi yang seumuran Lisa.
"Mau ke toko buku bentar."
"Gua anterin ya?"tawar Bima.
"Gak usah deh a', deket kok. Itu abang ojol udah nungguin. Bye! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."jawab mereka serentak.
π»π»π»π»
Lisa benar pergi ke toko buku, dia bahkan mengabaikan larangan sang 'papi' agar tidak keluar sendirian.
Dengan santai dia menelusuri setiap rak buku disana, mulai dari novel, buku riset, pengetahuan, dan lainnya.
Tujuannya kesini pun tidak jauh-jauh dari mencari bahan tugas kuliahnya.
Saat tengah asik memilih buku, tiba-tiba ada tangan yang menarik dirinya dan menyuntikkan sesuatu.
Dalam hitungan detik Lisa roboh didekapan orang itu.
-Kosan Babeh Sooman-
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, lah udah pulang bang?"
"Lo bisa liat gua disini, tandanya gua udah pulang."
"Abi ****!"
"Gua kan cuman basa basi elah."
"Yee semprul!"
"Lisa kemana? Masih ngebo?"tanya Angga tanpa menghiraukan perdebatan unfaedah adik kosannya itu.
"Tadi ke toko buku katanya."
"Sama siapa?"
"Sendiri, tadi gua anter gak mau dia."jawab Bima.
"Lo semua **** atau ***** sih! Udah gua bilang JANGAN BIARIN LISA PERGI SENDIRI!"teriak Angga menggema dipenjuru kosan.
"CARI DIA SEKARANG!"titah Angga tak terbantahkan.
Perasaannya kini tak karuan, memikirkan kejadian yang mungkin terjadi pada adik kecilnya itu.
Meskipun bukan adik kandung, rasa sayangnya pada Lisa amatlah besar. Dan menghilangnya Lisa kali ini perlahan membuka kembali memori lama miliknya.
π»π»π»π»
"Gimana nih?"-Abi.
"Lacak ponselnya, lo kan hacker ****!"-Rafi.
"Gak usah ribut bisa gak sih?!"-Irena.
"Tau nih, lagi darurat malah ribut gak penting."-Bagas.
Abi pun mengambil peralatan hack miliknya, dan mulai melacak lokasi Lisa. Tak sampai 5 menit, layar laptop Abi menunjukkan lokasi gadis malang itu.
"Ini sih di rumah si brengsek itu!"seru Zennia.
"Sekarang kita kesana!"
"Bang bima lo perginya sa-- lah kemana orangnya."
"Dia langsung keluar begitu tau lokasi Lisa."
"Gercep juga si Albino."celetuk Irena.
__ADS_1
"Kenapa masih bengong! Buruan!"
"Siap komandan!"
π»π»π»π»
-Ariel's House-
"Lepasin gua brengsek!"teriak Lisa.
Entah berapa kali dia berteriak kepada manusia dihadapannya ini.
"Gak sebelum lo mau balikan sama gua!"
"Jangan mimpi! Gua GAK AKAN MAU BALIKAN SAMA PSYCHO KAYAK LO!"
Plak
Tamparan keras menyapa pipi mulus seorang Lisa.
"Lice, mending lo nurut sama gua. Gua gak akan nyakitin lo kalo lo nurut."
"Cuih! Gak akan!"
"Heran gua sama lo, gua udah minta baik-baik ke lo!"
"Riel! Seharusnya lo mikir, apa dengan lo nyulik gua kayak gini bisa bikin kita balikan? Ngotak lo anj*ing!"
"Jadi lo gak mau?"
"Gak!"
π»π»π»π»
Bima memacu motornya seperti orang dikejar setan, tak dipedulikan suara klakson yang menulikan pendengaran.
Dipikirannya hanya satu, membawa Lisa pulang dengan selamat. Kalaupun dirinya yang tidak selamat, dia tidak keberatan.
Asalkan gadis bodoh yang telah menempati ruang kosong hatinya itu bisa kembali ke dalam kosan babeh sooman.
"Tunggu Lis, gua bakal nyelametin lo."
π»π»π»π»
"Oke, kalo gua gak bisa milikin lo lagi. Jadi gak akan ada juga yang bisa milikin lo."ujar Ariel dingin.
Dia mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya. Melihat itu tubuh Lisa bergetar, apakah ini akhirnya?
Lisa merapatkan matanya saat pisau itu menempel pada lehernya.
Mama..
Maafin Lisa selama ini, Lisa sayang banget sama Mama Papa.
Maaf Lisa suka bandel dan ngga nurut.
Lisa harap Mama gak akan menangisi kepergian Lisa ya, Ma..
Cukup lama Lisa memejamkan matanya, namun ia tidak merasakan sakit.
Bugh
"Dasar ******** gila! Mati lo *******!"
Tunggu, Lisa mengenal suara ini. Jangan-jangan..
Tidak mungkin, ini pasti hanya halusinasi. Lisa tidak ingin membuka matanya, seolah memang dia sudah meninggalkan dunia ini.
Lisa merasakan bahunya diguncang pelan oleh seseorang.
"Lis, bangun!"
"Lisa!!! Lo jangan bercanda, buka mata lo!"
Perlahan Lisa membuka matanya. Ternyata dia tidak berhalusinasi, pria itu kini ada dihadapannya.
"B-bang gu--"
"Syutt udah, gak usah ngomong dulu. Kita balik sekarang."
**Siapa nih yang nyelametin Lisa? Tebak aja dulu wkwkwk:v
jangan lupa like nyaaπ
__ADS_1
Azalearaπ**