
Happy Reading💕
.
.
.
!!! Awas typo🙈
"K-ak--"
"Syutt, gak usah ngomong dulu. Kita balik sekarang."
🐻🐻🐻🐻
"Lisaaa!!!"panggil Angga.
Langsung saja dia berlari dan memeluk erat Lisa, dia sangat berterima kasih kepada Tuhan yang menjaga adik kecilnya.
"Lisa gak papa kok, papi gak usah khawa--" belum selesai Lisa bicara tiba-tiba tubuhnya limbung.
Beruntung Bima sigap, sehingga tubuh Lisa tidak sampai mencium tanah.
"Kita bawa ke rumah sakit sekarang. Dri, lo bawa motor gua."
"Siap."
Bima membopong tubuh Lisa masuk kedalam mobil Angga. Sedangkan pria yang punya mobil masih mematung ditempat.
"Bang! Tunggu apa lagi! Ayo buruan!"teriak Bima.
Angga tersentak dan mengangguk, ia mulai masuk ke mobilnya.
"Mending gua aja yang nyetir mobilnya, lo temenin Lisa."
Bima pun mengendarai mobil menuju rumah sakit keluarganya. Khawatir? Jelas. Setelah sekian lama dia menutup hati, kini ada yang mampu membukanya.
Lisa, dia Lisa. Orang yang mencairkan bongkahan es dihati seorang Bimasena Anggara.
🐻🐻🐻🐻
"Om, gimana keadaannya? Serius gak? Gak ada yang fatal kan?"

Radit yang ditanya hanya tersenyum jumawa, dia tahu keponakannya ini pasti menyukai gadis yang baru diperiksanya.
"Calm down bro, dia baik-baik aja."
"Kalo baik-baik aja kenapa lama sadarnya?"
"Dia ketakutan bim, wajar seperti itu. Dia menahan sekuat tenaga biar dia gak keliatan takut, maka dari itu setelah merasa aman dia melepaskan semua ketakutan nya tadi."jelas Radit panjang lebar.
"Dasar ****, kalo takut ngapain di tahan sih!"
"Mulut lo belum pernah dislepet dollar kayaknya bim, main ngegas aja."
"Sorry to say, om yang gak mau dibilang tua."
"Beneran minta dislepet ini bocah."
"Maaf, kira-kira berapa lama lagi Lisa siuman om?" Angga menghentikan pembicaraan absurd antara om dan keponakan itu.
"Gak usah khawatir gitu ngga, dia gak mati cuman pingsan."
"Om gua doain jomblo abadi ntar."
"Songong lo bocah!"
"Lagian ngomong kayak begitu."
"Sekitar setengah jam lagi, dia pasti sadar. Sabar aja."
"Terimakasih banyak ya om Radit."
"Yoi, gak usah sungkan sama saya. Kalo mintanya gak aneh-aneh mah saya turutin."
"Cih, gua minta beliin motor aja kudu nunggu semester akhir."
"Lagian bukannya minta ke bapak lo, malah mintanya ke gua."
"Lo mau om, papa ceramah dadakan. Jangankan motor, gua pengen ngekos aja ceramahnya berjam-jam."
"Lo juga sih, dirumah enak kok malah ngekos."
"Ck kalo gua gak ngekos mana mungkin bisa ketemu bidadari surga."
__ADS_1
"Halah gaya lo, udah kayak pernah ke surga aja. Sholat masih suka absen aja sok-sokan."
"Asli kesel gua, untung situ om gua."
Abaikan perdebatan unfaedah antara manusia ganteng itu.
Angga sedari tadi hanya diam memperhatikan, dia juga tidak mood untuk menimpali pembicaraan mereka.
Dia terlalu sibuk memikirkan Lisa juga masa lalu nya. Memori yang ingin dia lupakan dan ingin dia kubur dalam-dalam, kini muncul dengan sendirinya.
Mengingat hal itu membuat Angga tak mampu lagi hanya sekedar menghela napas, dia terlalu kesakitan.
3 years ago..
Angga yang saat itu masih duduk dibangku SMA begitu menyayangi adiknya, Namira.
Mereka kemana-mana selalu bersama, Namira waktu itu baru berusia 15 tahun. Terpaut usia hanya 2 tahun membuat Namira dan Angga sangat dekat, bahkan bisa dibilang tak terpisahkan.
Seperti sore ini, Namira menunggu Angga di pintu gerbang sekolah mereka. Namira duduk dikelas 2, menjadi adik kelas sekaligus adik kandung Erlangga Bayu Admaja.
Namira sangatlah cerdas, berkat kecerdasannya dia bisa mengikuti program ekselerasi.
"Mira."
"Kak, kok lama sih?"tanya Namira mencebikkan bibirnya.
"Maaf, kakak tadi disuruh bu Yuli bantuin ngeberesin tugas anak sekelas."
"Oh gitu, yaudah sekarang kita pulang."
Keluarga Angga bukanlah keluarga sempurna, Ayah dan Ibunya bercerai ketika Angga masih berusia 14 tahun.
Angga yang sudah cukup besar mengetahui alasan dibalik perceraian orangtuanya.
Orang ketiga.
Ya, ayah ibunya bercerai karena ada sesosok pengganggu dalam keluarga mereka.
Setelah bercerai, Ayah Angga menikahi perempuan itu. Tante Mariana. Angga sangat membenci perempuan itu.
Perempuan itulah yang telah merenggut kedua orang yang sangat disayanginya.
Flashback on
"Kak, Mira mau keluar bentar ya."
"Ke toko buku. Bentar kok."
"Iyaudah hati-hati, langsung pulang jangan mampir-mampir."
"Oke! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Salahkan Angga yang dengan mudahnya mengizinkan adiknya pergi begitu saja.
Tanpa menawarkan diri untuk mengantar adik semata wayangnya itu, dia sendiri sedang dalam mood yang buruk.
Makin hari ayahnya sungguh tidak berperasaan, entah apa yang dilakukan wanita ular itu pada ayahnya.
Karena ayahnya dengan lancar dan terang-terangan mengusir dia juga Namira. Hanya karena kesalah pahaman, tentu Angga tidak terima diperlakukan tidak adil oleh ayah kandungnya.
Saat tengah merenung, dirinya dikejutkan oleh panggilan dari nomor Namira. Dengan cepat dia mengangkat panggilan itu.
Karena takut terjadi sesuatu pada adiknya.
"Halo, Mira. Kamu udah mau pulang?"
"Maaf, apa ini dengan keluarga Namira?"
"Iya, saya kakaknya. Erlangga. Anda siapa?"
"Sebaiknya saudara Erlangga segera ke kantor polisi. Kami akan menjelaskan nya."
"Baik, pak. Saya akan segera kesana."
Angga menyambar jaketnya beserta kunci motor. Benaknya dipenuhi tanda tanya, kenapa ponsel Namira berada ditangan polisi. Berbagai pikiran negatif memenuhi pikiran Angga.
Ditepisnya segala kemungkinan buruk yang terjadi pada Namira.
"Mungkin hapenya jatuh dan yang nemuin langsung nyerahin ke polisi."gumam Angga meyakinkan diri.
Sesampainya di kantor polisi, dia segera bertanya perihal masalah yang menimpa Namira.
"Saudara Erlangga."
"Ya pak, saya. Apa yang terjadi dengan adik saya? Dia ada dimana sekarang?"
__ADS_1
"Adik Anda sedang diotopsi, maka dari itu Anda diharuskan mengisi dokumen yang dibutuhkan."
Angga shock, dia tidak bisa berkata apapun. Seakan pita suaranya telah putus.
"M-maksud bapak?"
"Adik Anda ditemukan tewas di bantaran sungai. Kemungkinan besar adik Anda bunuh diri, karena tidak ditemukannya bukti pembunuhan dalam tubuhnya. Hanya ada beberapa lebam yang diakibatkan oleh benturan dengan batu yang ada disungai."
"Pak, Anda jangan main-main. Pasti kalian salah mengenali orang, adik saya bukan anak seperti itu!"bantah Angga menahan emosi.
Siapa yang tidak akan marah, jika seorang yang disayangi telah terenggut nyawanya. Namira masih terlalu muda tentu sulit bagi Angga mengakui faktanya.
"Anda bisa cek di ruang otopsi, saya akan minta petugas untuk mengantar Anda."
Angga tidak menolak, bahkan berdiri saja rasanya sulit. Dengan tenaga yang masih tersisa, Angga mengikuti petugas kepolisian ke ruangan yang dimaksud.
"Saudara bisa masuk."
"Terimakasih, pak."
Disana, sosok yang sangat Angga sayangi lebih dari dirinya sendiri. Terbaring lemah tak bernyawa, dengan bibir membiru dan lebam di beberapa bagian tubuhnya.
"Mira, kenapa kamu tega ninggalin kakak."kata Angga pilu.
"Kamu gak sayang lagi sama kakak?"
"Apa yang membuat kamu sampai melakukan hal seperti ini? Kamu tau ini dilarang agama."
"Mira, kakak gak bisa hidup tanpa kamu. Cuma kamu alasan kakak bertahan, kalo sekarang kamu udah gak ada buat apa kakak hidup?"
"Maafin kakak, kakak gak becus jagain kamu. Seharusnya kakak tadi gak ngebiarin kamu pergi sendiri, kakak terlalu egois. Kakak hanya memikirkan diri kakak sendiri, tanpa tau luka yang kamu rasakan."
"Mira, kakak harus gimana? Bangun gih, kakak bakal bikinin kamu ramen kalo kamu mau buka mata kamu."
Angga menangis dalam diam, berlutut seolah meminta pada Sang Pencipta agar mengembalikan adiknya.
Hari ini adalah hari kehancuran untuk Erlangga Bayu Admaja.
Seorang Angga yang dulunya pemuda ceria kini berubah 360°. Senyum yang dulu selalu terpatri dibibirnya sirna.
Kepergian Namira adalah penghilang senyum itu.
Setelah setahun kepergian Namira barulah Angga tahu kalau adiknya itu dibunuh, karena menurutnya meninggalnya Namira adalah suatu kejanggalan.
Angga menghabiskan waktunya untuk mencari pembunuh itu, hatinya telah tertutup dendam. Dia menjadi seorang manusia kejam tak berperasaan.
Namun, sikapnya kembali berubah saat bertemu dengan Lisa. Gadis cantik asal negeri Gajah Putih, yang menurutnya mirip dengan Namira.
Ceroboh.
Flashback Off
Angga tersenyum kecil mengingat pertemuan pertamanya dengan Lisa.
"Pih.."panggil Lisa serak.
"Lis, kamu udah sadar. Bentar papi panggilin dokter kesini."
"Bim! Jagain Lisa!"pesan Angga.
"Kak Bima.."
"Gimana perasaan lo? Baik-baik aja kan?"
Lisa hanya mengangguk sambil tersenyum lemah.
"Makasih, gua gak tau apa yang bakalan gua alami kalo lo gak dateng."
"Hm."
"Dasar irit."cibir Lisa.
🐻🐻🐻🐻
Ollaaaa~~ yuhuu
1271 word nih:v nulis masa lalunya babang Angga asli panjang bingit.
Kutunggu voment nya ya^^
Oiya ini Rafi sepupunya si gesrek Abi. Marganya sama² Kim wkwkwk.
*songong mukanya
Tunggu next part nya^^
__ADS_1
Azaleara💕