Senior Galak Ku! ( HUNLIS Versi Lokal)

Senior Galak Ku! ( HUNLIS Versi Lokal)
Jadi..


__ADS_3

"Abi!"teriak Adrian.


"Apaan?"


"Liat sepatu gua gak?"


"Kaga tuh, lo taruh dimana?"


"Kemaren gua taruh di rak kayak biasanya."ujar Adrian kesal.


"Tanya teh Irena coba."


"Hm?"


"Liat sepatu gua gak teh?"


"Yang mana? Sepatu lo kan banyak?"


"Yang biasa tuh warna navy."


"Gak tau, nyelip kali. Cari yang bener."


"Mungkin sepatu lo di gondol kucing."celetuk Bagas.


"Yakali ****, disini mana ada kucing!"


"Ada tuh, kucing nya si ucup."


"Kucingnya ucup gak pernah main kesini."


"Yaudah sih, daripada lo ribut nyari sepatu mending pake yang lain kan bisa. Jangan kayak orang susah gitu napa."usul Jessi yang diangguki anak kosan.


Adrian cemberut mendengar protes dari Jessi, walaupun begitu dia tetap mengambil sepatu lainnya.


Di pagi hari begini anak kosan pasti kumpul didepan tv kalo habis sarapan, kebetulan juga pada masuk siang kecuali si Adrian.


"Halo everyone!!!"sapa Zennia riang.


Dia sudah rapi, pada bingung juga perasaan tadi si Zennia masih kucel mukanya. Ini udah cantik banget.


Mereka juga inget tadi Zennia ikutan duduk dikarpet sambil nonton gosip pagi, kapan mandinya coba?


" Zen, lo kok udah mandi aja sih?"tanya Jessi.


"Mba, hari ini gua mau pergi ketemu dosen ganteng."


"Demi kolornya bang Bima, lo dandan segini cantik cuman mau ngampus?"tanya Bagas.


"Apaan nying kolor gua dibawa-bawa!"


"Kolornya bang Bima tuh branded, jadi bagus lah dibawa-bawa."


"Lah napa jadi pada bahas kolor sih?!"


"Tau tuh, emang dasar si Bagas minta ditampol. Pagi-pagi udah bahas kolor aja lo!"hardik Jessi.


Rosean dan juga Lisa hanya diam sambil asyik mengupas kuaci, yang muda mah nyimak aja.


"Udah ah gak penting banget perdebatan kalian, gua berangkat dulu. Samlekom!"pamit Adrian berlalu dari ruang tengah.


"Ngucap salam yang bener monyet!"


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."anak kosan menjawab serentak.


"Zen, bukannya lo masuk siang?"


"Gua mau ngecengin maba, pada bening-bening soalnya. Tante gak


tahan."ujar Zennia.


"Lisa ikutt!!!"rengek Lisa.


"Cus, dandan yang cantik. Kalo bisa pake baju modelnya gua gini."



"Lo mau ngampus apa mau mangkal sih *****."cerca Bagas.

__ADS_1


"Tau tuh, perut lo keliatan tau. Gua tau perut lo langsing."-Jessi


"Protes mulu heran cecan."


"Oke, Lisa bakal ikutin gaya mba Zen."ujar Lisa mantap.


"Gak! Duduk!"sergah Angga.


Yang bener aja, 'Anaknya' mau dandan begitu. Gak jadi kuliah tapi mangkal dikampus. Godain maba yang bening-bening seperti kata Zennia.


"Ih apaan sih papi mah, pokoknya Lisa mau ikutan ngecengin maba!"kekehnya. "Mumpung jomblo ini."


Lisa berlalu ke kamarnya tanpa memperdulikan tatapan maut yang Bima berikan, pura-pura gak tau kalo dia sedang ditatap sebegitu tajam.


20 menit kemudian...


"Gimana? Bagus gak?"tanya Lisa meminta pendapat penghuni kosan.



"Ya gusti, ini bidadari dari mana? Cantik banget, seksi lagi."celetuk Bagas yang langsung dihadiahi tabokan.


Abi yang baru saja turun dari kamarnya langsung shock, dengan mulut menganga.


Lisa sungguh mempesona, bahkan Bima sampai menahan geram karena gadis itu menjadi pusat perhatian para cowo haus belaian. Kecuali Angga dan dia sendiri tentunya.


Mau ngelarang juga gak ada hak, belum official soalnya.


"Lis, lo mau kemana dandan segitu kecenya?"tanya Abi.


"Mau ngecengin maba bang."jawab Lisa enteng.


"Buset, yakin gua pasti pada banyak yang nempel ke elo bentar lagi. Liat dandanan lo yang begini siapa sih yang nolak,"ujar Abi "gua aja mau."lanjutnya.


"Kampret! Musnah lo!"maki Angga sembari melempar bantal sofa ke muka Abi.


"Anjing ini muka tampan gua jangan asal ditimpuk dong bang!"maki Abi.


"Heran ya, nama sholeh kelakuan kayak setan begini."cibir Angga.


"Jahat banget sih babang Angga masa coba dikatain setan."


Ketukan pintu dan salam menginterupsi percakapan gak bermutu mereka.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam, eh ucup. Masuk."


"Iye bang, widih ini eneng-eneng cantik pada mau kemana?"


"Mata lo gua colok bentar lagi."ancam Bima ketika memergoki pandangan pemuda itu terfokus pada Lisa.


"Ampun bang. Oiya, ini sepatunya anak kosan?"


"Lah iya, itu sepatunya si Adrian. Tadi dia nyariin."-Irena


"Kok bisa ada sama lo sih?"-Jessi


"Dibawa sama kucing gua Miranda noh."


"Pantesan, yaudah taruh aja didepan."


"Oke, sekalian mau pamit pulang. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sebelum benar-benar pergi, Ucup menyempatkan diri melihat ke arah Lisa dan juga Zennia.


"Mata lo *******!"bentak Bima.


Ucup langsung lari begitu denger suara bariton milik Bima menggema.


Weh Bima bisa ngumpat juga ternyata, walaupun kadang sering sih. Tapi gak sekeras tadi, dia gak rela sebenernya ada yang liatin Lisa.


"A' mulutnya belum pernah diuleg ya?!"hardik Lisa.


Tumben aja kakak tingkatnya ini mengumpat, karena Bima terkenal alim. Masa bisa kelepasan ngomong gitu. Menurut Lisa seperti itu.


"Kelepasan. Sorry."

__ADS_1


Bima segera beranjak dari sana, lalu pergi ke kamarnya yang tidak jauh dari ruang tengah.


"Lah ngambek."


"Yuk ah kita berangkat, Lis!"


"Kuy! Berangkat.."


"Apa-apaan! Gak ada, ganti baju dulu!"cegah Angga.


"Dih papi, kelamaan tau."


"Udah.. Turutin aja kemauan bapak lo, tau sendiri dia posesif minta gaplok."sarkas Jessi.


"Je, gua posesif juga karena gua mau ngelindungin dia."bela Angga tak terima.


"Ya tapi lo berlebihan tau gak! Jangan suka mengekang seseorang. Lo tau sendiri cewe paling gak suka kalo dikekang kayak gini, lo masih belum sadar juga setelah kita putus!?"geramnya.


Entah keceplosan atau apa, perkataan Jessi mampu membuat anak kosan memandang ke arahnya.


Setelah mengatakan itu Jessi beranjak menuju kamarnya, bisa terdengar pintu berdebam dengan keras. Sepertinya memang sengaja dibanting.


Atensi anak kosan beralih pada Angga setelah Jessi masuk kamarnya, diluar perkiraan Angga hanya diam mematung.


Mencerna kalimat reflek yang keluar dari mulut Jessi.


Jadi..


Dulu pernah ada kisah diantara mereka berdua? Ya. Ada.


"Jadi, papi sama mba Jessi pernah pacaran?"tanya Lisa mencoba memecah keheningan.


Pertanyaan yang terlontar dari bibir gadis 22 tahun itu seolah menjadi boomerang untuk Angga, menjungkir balikkan memori masa lalu yang ia lalui bersama Jessi.


Mengembalikan kenangan 3 tahun yang lalu, saat ia baru memulai membuka hati untuk wanita.


Hatinya terjatuh pada pesona Jessi, yang meskipun galak tapi memiliki perhatian.


Angga yang perhatian dalam ketidak peduliannya, juga mampu menarik Jessi kedalam rengkuhan cowok itu.


Satu sifat yang melekat dalam diri Angga, posesif. Sangat.


Entah itu pada adiknya atau Jessi sekalipun, jika ditanya dia selalu menjawab itu semua hanya untuk melindungi mereka.


Mereka putus bukan karena sifat Angga yang satu itu, melainkan satu hal yang menjadikan hubungan mereka merenggang.


Dan akhirnya terpisah.


Seberapa kuat mempertahankan seseorang itu disamping kita, pasti akan terlepas jika ada yang tidak menginginkan adanya hubungan itu.


"Lis, kita gak usah ngampus deh. Mending kita samperin mba Je."


Lisa mengangguk menyetujui, bagaimanapun Jessi adalah keluarga baginya dan bagi anak kosan.


"Papi kalo mau cerita pasti Lisa dengerin, always."


Angga tidak menjawab, dia masih terdiam.


Abi dan juga Bagas yang melihatnya hanya bisa menepuk pundak senior nya itu.


"Lo juga bisa berbagi sama kita bang, sebagai sesama cowok."


Sanggupkah dia membuka cerita lama setelah apa yang Lisa alami baru-baru ini? Insiden yang berhasil mengingatkannya kepada Namira?


To be continued


Haloo..


1k+ word lg nih😙


Lagi mood update aja sih:)


Idenya muncul begitu saja hehe, perasaan Angga mulu yg ada konflik sama masalalu thor:"


Yaaa begitulah, bentar lagi cast lain kok.


Tap ⭐ for vote.


-Azaleara-

__ADS_1


__ADS_2