Senior Galak Ku! ( HUNLIS Versi Lokal)

Senior Galak Ku! ( HUNLIS Versi Lokal)
Graduation


__ADS_3

Lumayan panjang nih~


Like comment nya dung😗


×××


Genap sebulan hubungan Bima dan Lisa berjalan, begitu cepat. Padahal rasanya baru kemarin  saling suka dan malu-malu kalo ketemu. Tiba juga waktu dimana Bima akan melepas gelar mahasiswa abadi, tepat dua hari lagi cowok tampan itu akan diwisuda. 


"Pake ilmu apaan lo bang bisa lulus setelah sekian lama?"tanya Bagas.


"Gua bertapa dulu digunung Kidul."jawabnya cuek.


"Wih bisa nih jadi contoh."


Irena menjitak kepala adik tingkatnya itu.


"Kalau mau lulus tuh yang rajin, jangan cuman main ps tiap hari!"cercanya.


"Iya teh iya."


"Lo bakal pulang kampung dong bang kalo udah lulus?"giliran Abi yang bertanya.


"Liat nanti, bokap nyuruh gimana."


"Bentar lagi penghuni kosan bakal sisa dikit banget. Teh Irena juga bakal wisuda terus kawin, bang Bima juga, terus bang Angga. Ntar pasti suram."


"Iya nih, gua kudu buru-buru lulus juga deh kayaknya."


"Gaya lo! Emang udah di acc proposal lo?"


"Belum sih, cuman gua masih usaha. Dosen satu ini rada bikin naik darah."


"Masih mending, lah gua dosen nya ketemu aja gak mau. Alasannya sibuk, jadwalnya full terus."


"Kenapa gak minta ganti sih Abidin!"


"Lo ketularan si Lisa nih pasti! Gua Abimanyu bukan Abidin!"


"Roseann! Lo dicariin Junedi."panggil Lisa.


Panjang umur, baru disebut namanya udah nongol.


"Ngapain tuh anak kesini?"


"Gak tau, kangen kali. Udah sono!"


Adrian menatap kepergian Roseann. 


Ngapain si Junedi nemuin Roseann? - batin Adrian gelisah.


"Santai aja kali, komuk lo aneh!"komentar Lisa.


"Cemburu nih?"


"Kagak!"


"Nyolot ***** hahahahaha"ejek Abi.


"Diem lo!"


Ruang tengah riuh dengan ejekan yang ditujukan untuk Adrian.


"Si Yerina gak mati kan? Dia jarang keluar kamar."celetuk Bagas tiba-tiba.


"Dia patah hati lah."jawab Jessie.


"Kok tau? Dicurhatin?"


"Dasar gak peka! Tuh bocil suka sama bang Bima!"Zennia menimpali.


"Gila! Padahal gua lebih ganteng tapi kenapa kalah sama bang Bima."


"Nih ngomong sama jempol kaki gua!"


"Gua emang ganteng kali, sekali liat juga orang tau kalo gua itu ganteng banget. Apalagi gua baik, sholeh, dan gampang diajak ngobrol gak dingin kayak bang Bima."


"Serah!"


"Liat deh Zen, gua ganteng kan?"



Zennia memandang Abi heran. 


Ini orang sehat gak sih? Kenapa nanya nya ke gua? batin Zennia.


"Gak usah sok manis! Geli gua liatnya!"cerca Adrian sambil melempar bantal sofa ke arah Abi.


"Sirik aja sama orang ganteng!"


"Ribut aja, masih diliatin."ujar Angga tenang sarat ancaman.


Mendadak ruang tengah menjadi hening.


"Kok diem?"tanya Roseann yang berjalan ke arah mereka.


"Ngapain si Junedi?"tanya Jessie.

__ADS_1


"Balikin flashdisk teh."


"Kirain mau ngajakin kencan."ujar Bagas geli.


Ekor matanya melirik Adrian yang sedang memasang muka masam.


Bodo gua gak peduli! - batinnya.


"Kencan apaan dih! Gua pilih-pilih kali, si Junedi emang ganteng cuman otaknya cuman seperempat!"dumel Roseann.


Gadis itu duduk disebelah Irena sembari menyandarkan kepalanya. Gelak tawa memenuhi ruang tengah kos atas lontaran kalimat dari Roseann.


"Kejam sekali mulut kau, nak!"cibir Abi masih dengan tawanya.


"Gua juga berpikiran kayak gitu, soalnya si Junedi tuh rada aneh."ujar Zennia.


"Anehnya dia paling ya suka banget mengekspresikan apa yang dia rasain, contohnya nih kemaren gua liat dia joget-joget dilorong kampus. Sarap gak tuh!"lanjutnya.


"Kenapa lo gak ikutan joget?"tanya Bima.


Zennia menatap cowok itu datar.


"Gua masih punya urat malu, ngapain juga orang gak jelas diikutin. Suka ngaco lo bang!"


"Yakali aja bisa duet, lumayan kalo viral."


"Lis, ini cowok lo gua buat jadi makanan Alligator boleh gak?"tanya Zennia pada gadis Thailand disebelahnya.


"Boleh, gua tinggal cari yang baru."jawabnya seolah tak peduli dengan masih melanjutkan memakan gummy bear ditangannya.


Bima melotot.


"Gitu ya kamu sekarang."


Lisa mendongak, pastinya Bima saat ini tengah duduk disofa. Sedangkan dia lesehan bersama yang lain karena sofa diruang tengah tidak muat.


"Gitu apa?"


"Udah main nyari ganti."


"Ya mau gimana, kan sama teh Zennia mau dibuat makanan Alligator. Ntar aku jomblo, makanya nyari baru biar gak kesepian."jelas gadis itu tenang.


Sontak penjelasannya mendapat gelak tawa dari yang lainnya.


"Lucu banget sih kalo lagi berantem."


"Lisa itu polos apa **** sih?"


"Padahal Zennia gak mungkin serius."


Bima mendengus. Nasib punya pacar polosnya kelewat batas, mau marah pun percuma. Gak bakalan diperhatiin, orang Lisa lebih tertarik sama Gummy Bear-nya saat ini.


×××


"Lo serius?"


"Iya bang, ini perintah bokap. Gua gak berani ngebantah, cukup dulu gua gak ngikutin kemauan dia."


"Terus lo maunya gimana?"


"Gua bingung. Mau jelasin gimana sama Lisa, dia pasti kecewa."


"Lo jelasin dulu pelan-pelan. Gua yakin dia pasti ngertiin lo."


"Okay, thanks bang. Jangan bilang apa-apa dulu soal ini, biar gua sendiri yang jelasin."


"Gak perlu!"


"Lisa?"ujar kedua cowok itu barengan.


Terkejut? Tentu. Disaat mereka sedang membahas sesuatu yang menyangkut seseorang dan orang itu muncul dengan wajah yang...kecewa mungkin?


"Lis, aku bisa jelasin."


"Aku udah denger semuanya."


"Maaf."


"Gak papa, aku gak akan jadi egois. Kalo emang mau pergi gak papa, aku gak akan nahan."


Bima lebih memilih gadis didepannya ini memaki dirinya, daripada berkata hal yang menyakitkan. Seolah dirinya tidak diinginkan seperti ini.


Lisa pasrah, karena seseorang harus berbakti kepada orangtua nya. Dia tidak mau menjadi penghalang seseorang untuk berbuat baik.


Biarlah dirinya melepaskan.


×××


Bima's Graduation Day.


Siang ini para penghuni kosan sudah riuh, pukul sebelas lebih seperempat mereka sudah siap untuk pergi ke kampus menghadiri wisuda Bima. Mereka membawa berbagai hadiah untuk Bima, seperti buket bunga dan hadiah lainnya, bentuk ucapan selamat atas kelulusan cowok itu.


"Udah pada siap?"tanya Adrian.


"Udah yuk berangkat, keburu macet ntar."


Semuanya mengangguk semangat, pasalnya setelah acara mereka akan langsung mengadakan syukuran dicafe milik sepupu Abi. Gratis! Siapa yang tidak senang? Lisa. Gadis itu hanya tersenyum tipis melihat para seniornya itu.

__ADS_1


Dia bukannya tidak senang kekasihnya bisa lulus, tapi hatinya seperti tidak rela. Membiarkan lelaki itu cepat meninggalkannya, ingin menolak. Namun kembali lagi, bahwa Bima selama ini berjuang untuk lulus. Jauh sebelum mereka pacaran.


"Lisa?"panggil Jessie.


"Eh apa?"


Gadis itu tersentak dari lamunannya.


"Ngelamun? Udah sampe, ayo turun."


Angga diam tak bereaksi melihat 'putri' kesayangannya itu melamun. Tentu dia tahu apa penyebabnya.


Lisa turun dengan wajah datar sarat kesedihan. Dia bingung harus bagaimana mengekspresikan hatinya saat ini. Matanya berkaca, tapi buru-buru dihapusnya air mata itu sebelum jatuh. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali, mencoba mengusir pikiran negatifnya sendiri.


"It's okay, Lice."kata Angga menguatkan. 


Dirangkulnya bahu gadis itu menuju Bima yang sudah dikerubungi anak kosan.


Lisa mencoba memasang senyum lebarnya pada Bima yang juga tengah menatapnya, Bima tahu gadisnya bersedih. Dan itu karena dirinya.


"Foto bareng semua yuk! Ntar dipajang yang gede diruang tengah!"seru Bagas.


×××


Setelah acara foto itu selesai, mereka segera berangkat menuju cafe. 


"Oke, buat yang punya hajat mohon beri sambutan."ujar Abi.


"Sambutan apaan?"


"Ya apa kek kesan dan pesan atau apa gitu."


Bima berdiri.


"Sebelumnya gua ucapin terimakasih buat kalian, keluarga gua. Yang udah bertahun-tahun sahabatan sama gua dan juga buat pacar gua. Makasih atas dukungannya selama ini. Thanks buat semua kenangan yang kalian buat sama gua selama gua ada dikos. Dan gua juga mau nyampein kalo gua bakal balik ke Bandung seminggu lagi."


Bisa dilihat wajah terkejut didepannya, kecuali Angga dan Lisa. Gadis itu menahan gemuruh dalam dadanya. 


"Kok baru bilang sih bang?"


"Iya nih! Bukannya lo mau nyari kerja disini?"


"Kalo lo pergi Lisa gimana?"


"Baru sebulan loh bang lo jadian sama dia, masa langsung ditinggal jauh."


"Ini permintaan bokap, gua gak bisa nolak lagi. Gua sebulan sekali bakal main kesini."


"Sebulan sekali itu lama bang!"


"Yah kalo bang Bima pergi, siapa yang bakal minjemin gua duit?"ujar Abi memelas.


"Emang suka nyebelin si Abidin! Bukannya sedih malah mikirin kasbon!"


Bima tersenyum tipis melihat anak kos yang ribut itu, hal yang bakal dia rindukan.


"Lis, aku mau ngomong sama kamu."


"Ngomong aja."


"Gak disini."


Bima bangkit dan menarik lembut pergelangan gadisnya menuju lantai atas.


"Apa?"tanya Lisa setelah mereka sampai.


"Harus ya kamu sedingin ini sama aku?"


Gadis itu mengernyit, dingin? Apa Bima tidak sadar kalo dia menyembunyikan tangis?


"Maafin aku. Aku tau ini terlalu mendadak buat hubungan kita, tapi aku gak bisa nolak keinginan Papa. Aku udah nentang dia buat kuliah dan aku gak mau ngelakuin itu lagi, aku harap kamu bisa ngertiin keputusan ini."jelas Bima.


Lisa masih diam, ia hanya menatap pemandangan indah didepannya. Seperti tak ada niatan untuk menjawab.


"Kalo kamu kecewa bilang sama aku, jangan cuman diem. Aku ngajakin kamu kesini buat bicarain masalah ini baik-baik, bukan liat kamu diem begini."


Gadis itu menoleh, menatap cowok disampingnya dengan pandangan datar.


"Pergi atau gak itu urusanmu! Terserah! Aku gak akan nuntut apa-apa."


Bohong kalau Lisa baik-baik saja saat ini, dia mencoba menahan segala gejolak dihatinya. Dia tidak ingin egois dengan menahan Bima disini, bersamanya.


"Lis, denger. Aku bakal sering kesini buat jengukin kamu, kita bisa habisin waktu berdua. Tolong jangan bikin semuanya makin rumit kalo dibicarain baik-baik bisa."


Jujur Bima mulai geram dengan sikap tak acuh Lisa, gadis itu tidak mau memahami posisinya.


"Kamu mau pergi kan? Yaudah. Aku gak akan nahan kamu atau ngelarang, keputusan ada ditangan kamu. Aku gak akan jadi egois, penuhi keinginan orangtua kamu."


"Come on Lice, I know you angry. Don't lie to me, I can see all your feeling in your eyes. You can't lie to me, remember?"


"Okay fine! Then you want me do what? I'm not lying! I say all what I feel. Can we end this arguing? I'm so tired. I let you go, that's it!"


Lisa pergi dari hadapan Bima isak tangis yang sedari tadi ditahannya pun keluar. Sedangkan Bima, cowok itu mengusap wajahnya kasar. Ini pertengkaran terberat yang pertama dalam hubungan mereka, dengan masalah yang berat pula tentunya.


×××


Yahh berantem:( tunggu mereka baikan yak baru lanjut lagi.

__ADS_1


__ADS_2