
...Jangan lupa like and vote yaaaa;-)...
...Komen sebanyak-banyaknya:)...
...Cerita ini murni dari imajinasi Author sendiri yaaa....
...Typo bertebaran...
...Selamat membaca♥...
...---------------------------------------------------------------------...
...Jika kamu terluka aku juga terluka....
...Jika kamu merasakan sakit aku pun akan merasakannya....
...Salahkah kalau aku khawatir padamu?...
...------------------------------------------------------------------...
Saat ini Adalla sedang duduk termenung disebuah kursi sambil memandang lurus kearah pintu kamarnya dengan pandangan kosong. Tidak menghiraukan iPhone miliknya yang sedari tadi berdering.
"Apa yang kau pikirkan" tanya Qenan datar.
Adalla mendonggak dan menatap wajah Qenan yang menatapnya dingin. Tatapan yang tidak pernah berubah yang selalu dia dapatkan sejak SMA.
"Tidak ada" jawab Adalla jujur sambil menatap Qenan yang berjalan menuju kelemari pakaiannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Adalla cepat ketika melihat Qenan yang membuka lemari pakaiannya.
"Berhentilah bertanya, dimana semua pakaianmu selain dari kain lap ini?" ucap Qenan menunjuk kearah pakaiannya, padahal dia baru saja membellinya kemarin.
Tanpa sadar Adalla mengerucutkan bibirnya tidak terima perkataan Qenan yang mengatakan bahwa pakaiannya adalah kain lap.
"Padahal aku baru membelinya kemarin" gumam Adalla pelan sambil melirik sinis kearah Qenan.
"Jaga matamu, Adeline!! Atau aku akan membuatmu tidak bisa melihat lagi" ucap datar Qenan.
"Perkataanmu sangat tajam, Tuan" gumam Adalla.
Drrrttt
Ddrrtt
Drrrtt
Adalla mengalihkan pandangannya kearah iphone miliknya yang sedari tadi bergetar diatas meja. Dia pun mengambilnya dan membuka pesan yang dikirimkan sesorang kepadanya.
---------------------------------------
From : Vernon Jelek
To : Kanaya
Lo Udah tidur bep:))
-------------------------------------------
__ADS_1
Senyum Adalla terbit melihat pesan singkat dari Vernon. Vernon Afgaswarma adalah satu-satunya teman Kuliah Adalla yang menetap dijerman.
Saat akan membalas pesan dari vernon tiba-tiba iPhone milik Adalla terlempar mulus hingga mengenai dinding dan hancur berkeping-keping.
Dilihatnya wajah Adalla yang terlihat marah meskipun tertutup dengan wajah datarnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Adalla marah melihat iPhonenya yang dia belli susah payah dibanting begitu saja.
"Hari ini, kau akan tinggal di Mansion milik saya" ucap Qenan tak terbantahkan, mengabaikan pertanyaan Adalla.
"Aku tidak mau dan kau tidak boleh memaksaku, tuan" kesal Adalla.
"Saya tidak meminta pendapatmu, Adeline!! perintah saya adalah muthlak. mau atau tidak kau harus ikut dengan saya" sambung Qenan dengan wajah datarnya.
"Dasar pemaksa" gumam Adalla pelan tapi masih bisa didengar oleh Qenan.
"Diamlah, Sekarang ganti bajumu atau saya harus menyuruh pengawal saya untuk menyeretmu kebawah" ucap Qenan.
Dengan segera Adalla mengambil beberapa helai pakaian dan memasuki Kamar mandi miliknya.
Setelah 15 menit berlalu, Adalla sudah lengkap dengan pakaian yang membalut tubuhnya. Dres berwarna pink dengan Sneaker berwarna putih serta rambut yang dia urai sepunggung.
Sementara itu, disebuah kafe, tiga orang pria yang sedang merencanakan sesuatu dengan serius.
"Jadi siapa musuh kita Kali ini?" ucap seorang pria berambut kriting kepada dua orang didepannya.
"Aarich Qenan Alvaran" ucap pria dengan tubuh yang sedikit gemuk.
"Lalu apa yang akan kau lakukan Genendra " ucap seorang pria berambut lurus yang sedang bertopang dagu.
"Yang ku dengar Aarich Mengambil semua sahamnya dari perusahaanmu" sambung pria yang bertopang dagu.
"Jangan bertindak gegabah, kau tidak tau siapa Aarich Qenan.Dia adalah orang yang sangat licik" ucap pria gemuk yang bernama Bascel Agafarma.
"Apa kau lupa Bascel Kelicikan adalah nama tengahku"ucap Nealyon sambil tersenyum miring menatap Bascel.
"Segera singkirkan pemikiran buruk yang ada di fikiranmu Lyon.aku tidak mau kau menyesal nantinya, aku sudah memperingatkanmu bukan!! Jangan bermain api kalau kau tidak mau terkena panasnya"
"Diamlah Bascel, ini akan menjadi urusanku bersama Nealyon. Kau duduk saja dan nikmati pertunjukan dari ku dan Nealyon".
"Kita butuh rencana yang matang" sambung pria yang berambut kriting yang bernama Ganendra.
Tanpa memperdulikan ucapan ke dua temannya itu, pria yang bertopang dagu yang bernama Nealyon melangkahkan kaki untuk keluar dari Kafe tersebut.Dia sendiri yang akan turun tangan mengatasi masalah ini.
...°°°...
Dalam perjalanan menuju mansion Qenan, Adalla hanya diam enggak untuk mengeluarkan suara sedikitpun. Sedangkan Qenan juga sedang sibuk mengurusi perusahaannya terbukti sedari tadi dia hanya menatap pada iPad pro miliknya yang memunculkan Grafik keuntungan perusahaan saat ini.
Cittttttt
Brakkk
Duarrrr
Tiba-tiba ada sebuah mobil dari arah berlawanan dengan kecepatan penuh hendak menabrak mobil yang sedang dinaiki oleh Qenan.
Dengan sigap Qenan membuka pintu mobil dan meloncat dari mobil yang dinaikinya, tidak lupa Qenan melingkarkan kedua tangannya ketubuh Adalla dengan menggunakan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi Adalla dari Kerasnya aspal yang dapat melukainya.
__ADS_1
"Kau tidak papa" ucap Qenan dengan darah yang mengalir dari dahinya.
"Qenan, kau terluka" jawab Adalla cemas sambil mengusap darah yang mengalir didahi Qenan.
"Saya tidak apa-apa, ini hanya luka kecil" sambung Qenan menatap tajam lengan Adalla yang sedikit tergores dan mengeluarkan darah, dengan cepat Qenan membuka setelan kantornya dan memakaikannya keAdalla.
Qenan segera bangkit dan membantu Adalla untuk berdiri.
"Tunggulah disini" ucap Qenan.
"Kau mau pergi kemana?" cegah Adalla sambil memegang lengan Qenan.
"Disinilah sebentar, saya akan segera kembali" ucap Qenan sambil mengelus kepala Adalla dengan lembut.
Adalla hanya bisa menganggukkan kepalanya dan melihat punggung Qenan yang berjalan jauh menjauhi dirinya.
Tiba-tiba lima pengawal Qenan mengelilingi tubuh Adalla dan menjadikan tubuh mereka layaknya perisai untuk melindungi Adalla.
"Siapa kalian?"tanya Adalla penasaran.
"Nona, jangan khawatir. Kami adalah pengawal pribadi tuan Qenan. Kami akan melindungi nona"ucap salah satu pengawal dengan wajah datar tapi tidak sedatar wajah Qenan
"Terima kasih"ucap tulus Adalla.
"Tidak perlu berterima kasih nona, ini sudah menjadi tugas kami".
Dor
Dor
Dor
Dor
Suara pistol bersaut-sautan.disana tiga orang pemuda tergeletak lemas dibawah kaki Qenan dengan darah yang mengalir ditubuhnya.
"Kevin, bawa mereka keruangan bawah tanah. masukkan mereka keruangan merah." ucap Qenan dengan suara yang dinginnya.
"Iya tuan" jawab kevin dengan suara yang bergetar karna ruangan merah adalah ruangan yang paling mengerikan diantara ruangan-ruangan Qenan yang lain.
Dilorong bawah tanah mansion Qenan terdapat tiga ruangan. Ruangan pertama itu memiliki pintu berwarna putih. Ruangan itu hanya untuk seseorang yang berani menipunya ataupun berencana melukai Adalla. Ruangan kedua memiliki pintu berwarna khas hijau, ruangan itu hanya digunakan untuk percobaan serbuk-serbuk yang diciptakannya saja. Ruangan ketiga memiliki pintu berwarna Merah.
Bahkan kevin pun bergetar ketakutan jika memasuki ruangan tersebut. Ruangan itu memiliki keamanan yang sangat ketat bahkan pintunya terbuat dari baja agar suara jeritan orang didalam tidak terdengar sampai kedalam mansion. Ruangan ke tiga hanya untuk mereka yang berani melukai Adallanya dan mencari gara-gara dengannya.
Dilain sisi seorang pria yang memperhatikan mereka dari kejauhan menggeram kesal karna orang suruhannya gagal mencelakai Qenan.
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙
Saat ini, Qenan dan Adalla sedang berada dikamar dengan Adalla yang sedang mengobati luka dikening Qenan dengan wajah yang serius. Sedangkan Qenan sibuk memandangi wajah Adalla yang sangat cantik.
"Tuan, sebaiknya tuan mengganti kameja tuan. Ucap Adalla saat melihat kameja yang dipakai Qenan terdapat bercak-bercak darah.
"Hmmmm" gumam Qenan sambil melangkahkan kakinya menuju Kamar mandi kamarnya.
Setelah melihat Qenan yang sudah tidak ada, Adalla melangkah ketempat tidur milik Qenan dan membaringkan tubuhnya yang sangat kelelahan sehingga Qenan pun tertidur pulas.
...Up!!!...
__ADS_1
Dikya_Lita💙