Si Cilik Super Jenius

Si Cilik Super Jenius
Tes IQ Minggu Depan?


__ADS_3

Sudah dua bulan semenjak kepulanganku dari Rumah Sakit. Dan besok aku sudah bisa bersekolah. Dan di masa liburku, teman-teman sekolah ku banyak berdatangan untuk menjengukku. Bahkan dari pihak sekolah pun selalu menanyakan kabarku. Entah mengapa mereka begitu perhatian padaku.


Malam ini seperti biasa, seusai belajar aku selalu menyempatkan diri untuk membaca novel online kesukaanku. Walaupun aku masih dalam keadaan sakit, tapi aku tetap melakukan aktivitas ku seperti biasanya. Apalagi belajar, kegiatan belajar tidak pernah aku lewat kan. Entah itu dari guru privat yang di bayar ayahku maupun lewat online sekalipun. Walaupun meski aku tidak belajar pun aku tetap memahami semuanya.


Begitu pula dengan membaca novel, membaca novel adalah salah satu hobiku. Bahkan aku selalu meluangkan sedikit waktu ku demi membaca novel.


Saat aku sedang asik-asiknya dengan aktivitas membaca novel ku, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara deringan telefon rumah yang terletak di meja kamar ku.


Aku menghampri telfon rumah itu dengan susah payah karena kakiku masih nyilu jika di gerakan. Tapi saat aku ingin menjawabnya, deringan itu berakhir. Karena tak ingin ambil pusing aku kembali duduk atas kasur.


"Yaaaah.. Kok endingnya Sad banget sih. Menusuk ke qalbu. Sakitnya tuh disini. " Kataku sambil meremas piyama bagian depanku. Aku pun membayangkan betapa sedih nya saat seseorang ditinggal pergi. Eit, tapi jangan salah paham dulu, novel yang ku baca ini bukan kisah cinta pada umumnya. Novel yang ku baca menceritakan seseorang yang ditinggal pasangannya karena meninggal akibat memiliki sebuah penyakit yang mematikan. Bukan sakit hati karena putus cinta ditinggal selingkuh, apalagi ditinggal menikah. Sungguh terlalu.


Tanpa aku sadari sebutir kristal bening jatuh dari pipiku. Sungguh cerita ini sangat menyesakkan. Seakan aku juga dapat merasakannya, seakan aku pernah mengalaminya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.


Tok.. Tok.. Tok..


"Assalamualaikum Neng Star, ini ada telefon untuk Neng Star." Ucap seseorang di balik pintu kamarku setelah mengetuk pintu. Dan sepertinya itu salah satu art rumahku.


"Masuk aja bik. Pintunya nggak Star kunci kok. " Balasku.


Lalu Bibik art itu pun masuk dengan sangat sopan.


"Ini Neng." Katanya sambil menyerahkan telefon rumah yang seharusnya ada di Ruang Tamu.


"Siapa yang telefon ?? " Tanyaku.


"Katanya.. kepala sekolah Neng Star." Jawab Bik art.

__ADS_1


Lalu aku pun mengangguk kan kepala.


"Ya udah Neng, kalau begitu, Bibik keluar dulu ya Neng." Izinnya dengan sopan.


"Oh iya Bik, Makasih ya. " Kataku.


Bibik Art pun mengangguk dan segera keluar kamar. Aku pun mulai berbicara dengan kepala sekolah ku itu.


"Assalamualaikum pak. " Salam ku memulai percakapan.


"Waalaikumsalam Star. Bagaimana dengan keadaanmu?" Tanya nya.


"Alhamdulillah pak, Star sudah lebih baik dari sebelumnya. "


"Syukurlah kalau begitu. Emmm.. Begini Star, besok kamu tidak perlu masuk sekolah. " Katanya. Dan sontak membuatku mengerutkan dahi.


"Kenapa pak? Star kan besok sudah bisa bersekolah, sekaligus mengikuti Ujian juga pak. " Tanyaku.


Awalnya aku pun juga bingung dengan semua ini. Mengapa cepat sekali Ujian? Itu yang ku tanya kan pada diriku sediri. Tapi apalah daya, aku tidak ingin menambah beban pikiran. Maka aku ikuti saja semua alurnya.


"Itu dia Star, kamu tidak perlu sekolah dan juga tidak perlu mengikuti Ujian nya. " Ucap Pak Kepsek. " Kamu hanya perlu bersiap-siap untuk mengikuti tes IQ setelah Ujian atau Penilaian semester ganjil selesai. " Lanjut nya.


"Lho pak, bukanya tes IQ itu setelah Ujian Nasional ya? Biasanya Star melakukan tes IQ pas akhir semester genap. Dan ini kan baru semester ganjil." Ucap ku sambil bertanya.


"Memang benar apa kata kamu Star. Tapi untuk apa kamu menunggu satu tahun jika kamu bisa melakukannya kapan pun? Semua orang tahu kamu itu anak yang jenius bahkan sangat jenius. Dan bapak yakin kamu tidak keberatan. " Jawabnya.


"It's okay no problem. Nggak ada masalah pak kalo Star mah. Tapi Star cuma bingung aja pak. " Ucap ku.


"Bapak tahu kamu bingung, tapi untuk apa kamu bersekolah berlama-lama. Bahkan kejeniusan kamu sudah melebihi seorang ilmuan Star. Buktinya saat kamu menciptakan sebuah alat pendeteksi adanya musuh atau bahaya dari udara, dan kamu tentunya membantu para tentara angkatan udara Star. Dan otomatis kamu juga membantu keamanan Negara, iya kan? Dan bapak tidak akan membiarkan seseorang yang jenius seperti kamu harus berlama-lama sekolah. Banyak orang yang membutuhkan kamu. Dan Negara ini juga membutuhkan kamu. " Jelas nya.

__ADS_1


Dan seketika aku teringat saat di mana dulu aku mendapatkan sebuah penghargaan dari Indonesia karena aku berhasil membuat suatu alat pendeteksi bahaya atau musuh dari udara seperti yang di katakan Pak Kepsek tadi. Sampai hampir seluruh Negara di Asia bahkan di benua lain, menginginkan aku menciptakan alat serupa. Tapi sayangnya aku tidak tertarik dan aku juga bisa jika harus menciptakan alat-alat seperti itu untuk Negara lain walaupun mereka menjanjikan kekayaan yang tiada habisnya untukku. Tapi aku tetap menolak dengan cara yang halus. Ya, kecuali Negara kelahiranku Indonesia dan Negara tempat aku di besarkan yaitu India.


"Bagaimana Star? Kamu bisa? " Tanya nya membuat lamunanku buyar.


"Ya udah deh pak. Star sih oke-oke aja." Jawabku.


"Baik. Jadi kamu tes IQ minggu depan ya, setelah Ujian atau Penilaian siswa yang lain. " Jelasnya.


"Siap Pak. "


"Ya sudah, ini sudah malam dan kamu jarus beristirahat. Kalo begitu bapak akhiri percakapan ini. Assalamualaikum. "


"Wa'alaikumussalam Warahmatullaahi Wabarakaatuh. " Jawabku.


"Huuhft "


Aku membuang napas kasar. Lalu meletakkan telefon rumah itu sembarang di atas kasur.


Ya, ya, ya. Tes IQ, Aku sering melakukan nya. Bahkan setahun sekali. Aku memang sudah terbiasa. Tapi aku bingung saja karena, ya,,tes IQ yang selalu ku lakukan bisanya di lakukan setelah Ujian Nasional, bisa di sebut saat ujian kenaikan kelas juga. Maka jika aku lulus aku akan meloncati satu kelas.


And, ini baru setengah semester dan aku akan melakukan tes IQ? Dan otomatis jika aku lulus tes, maka aku akan langsung loncat satu kelas.


Hmmmm.... Jika di perhitungkan aku hanya akan satu tahun sekolah tingkat SMA. Karena jika kelas X hanya setengah tahun alias enam bulan, maka aku akan loncat kelas ke kelas XII juga di pertengahan tahun, melanjutkan tahun yang tertinggal di kelas X. Dan tentu saja aku akan lulus sekolah lebih awal. Ya, memang tidak merugikan dan aku juga fine-fine saja. Aku tidak pernah keberatan selagi aku bisa.


Bersambung...


><


>><SALAM SCSJ

__ADS_1


><


SALAM SCSJ


__ADS_2