
Allahu Akbar -Allahu Akbar
Allahu Akbar-Allahu Akbar
Suara adzan berkumandang mengumandangkan lafadz Allah mengajak para makhluk ciptaanya untuk beribadah kepada-Nya. Suara adzan disini sangat merdu sampai menyelusup ke dalam qalbu dan terdengar jelas karna rumah kami dekat dengan mesjid. Umi sengaja memilih membangun rumah dekat mesjid, agar kami bisa lebih mudah jika ingin pergi ke mesjid. Dan sebenarnya mesjid itu adalah milik keluarga Mazumdar.
Aku, Abi dan Umi serta para staf pegawai rumah menghayati setiap lengkuhan nada indah dari Mu'adzin mesjid yang mengumandangkan adzan menyeru para Muslimin-Muslimat agar menghadap Allah Swt.
Hening.....
Tidak ada yang bersuara seucap kata pun. Seakan semuanya bungkam tidak mampu berkata-kata. Hanya suara adzan yang menggema memenuhi seisi rumah. Semuanya menunduk dan terus bertasbih dalam hati, bersautan dengan suara adzan.
Tak terasa ada butiran kristal bening yang jatuh dari kelopak mataku saat aku terpejam. Dadaku bergemuruh, batinku meronta-ronta ingin segera menemui-Nya dalam sujudku diatas sajadah yang suci, mencurahkan isi hati ku hari ini tentang rasa bahagiaku saat menerima sebuah suprise dari Abi dengan kedatanganya yang membuatku bahagia.
Acieee.... aku kok sok dewasa gini sih ngomongnya.
*~*~*~
Allahu Akbar-Allahu Akbar...
Laailaahaillallaah
Adzan pun berakhir kami lalu membaca do'a setelah adzan.
Aku memejamkan mataku membaca do'a. Setelah itu aku, Umi dan Abi menuju meja makan. Kami berbuka bersama, kami juga memakan buah kurma karna kata Umi memakan buah kurma saat berbuka puasa itu adalah bagian dari Sunnah Rasul.
Aku melirik ke arah dapur. Dan disana juga para art sedang berbuka puasa. Dan ada satu orang yang menjadi perhatianku. Entah dari mana tapi sifat jahil ku itu mendadak nongol. Aku tersenyum jahil dan menyiapkan sebuah rencana.
Ahahah..... Inikan udah Maghrib Star mau ngerjain dia ah. Kan nggak seru kalau nggak ada yang Star jahilin, bosen!! Lihat aja nanti bakalan ada yang teriak-teriak. Haha...
*~*~*~
DI MUSHOLA KEDIAMAN MAZUMDAR
Karna kami memiliki Mushola sendiri di rumah jadi kami sering melaksanakan sholat berjamaah apalagi saat ada Abi. Abi yang selalu jadi Imam.
Mushola di rumah Umi dan Abi ku ada di sebelah rumah. Ya jika orang lain yang baru melihat bisa dikatakan ini mesjid yang sangat besar bukan Mushola tapi karna ini hanya orang-orang rumah yang pakai termasuk juga art rumah dan para staf pegawai jadi kami hanya menyebutnya Mushola karna tidak di peruntukan untuk umum seperti mesjid kami yang di dekat rumah itu, baru bisa di pakai oleh umum. Tapi karna Kediaman Mazumdar memiliki kawasan yang luas baik dari segi rumah inti, rumah khusus pegawai art wanita, rumah khusus pegawai laki-laki, Muhola, serta tempat-tempat olahraga seperti lapangan khusus berkuda dan memanah yang belum sempat aku gunakan. Lalu di kediaman Mazumdar juga terdapat lapangan basket, baseball, dan masih banyak tempat -tempat serta bangunan yang lainnya .
Widih.... udah kayak pengarah wisatawan aja ya aku hahaha... Lanjuut..
Semua orang yang tinggal di Kediaman Mazumdar wajib shalat berjama'ah bersama kami di Mushola kecuali yang mungkin sedang berhalangan.
__ADS_1
Dan juga para pengawal yang menjaga di Kediaman Mazumdar di bagi menjadi dua section saat waktu sholat. Pada saat waktu Sholat para pengawal bergiliran dalam melaksanakan ibadah dan bertugas, jadi walau pun kami sedang shalat berjama'ah Kediaman Mazumdar tetap aman.
Aku menunaikan Sholat bersama Umi dan Abi tidak lupa pula para staf pegawai yang berbaris bersaf-saf.
Setelah melaksanakan kewajibanku, aku melanjutkanya dengan berdzikir dan membaca Al-Qur'An. Sedangkan para pekerja yang lain telah membubarkan diri untuk melaksanakan tugasnya masing-masing. Termasuk para pengawal di bagian kedua yang baru saja masuk dan melaksanakan ibadah mereka.
Hahaha... Udah nggak sabar nih mau lihat adegan yang zeru.. Batinku sambil tetsenyum jahil.
Aku pun bergegas pergi keluar. Tapi saat aku hampir mencapai teras Mushola aku di kagetkan dengan teriakan yang ku tunggu-tunggu. Azeek.
Ahahai... Zeru nih.... Ucap ku sambil berlari dan pura-pura terkejut.
"Aaaaaaaa!!!!!!!! " Teriakan korban kejahilanku haha.
" Aaaa... Hep mi piiiissss. " Ucap nya sambil melompat-lompat.
Aku datang ke TKP dengan wajah sok panik padahal aku suka.. Hahaha.
Aku menghampiri nya "Ada apa ini. " Tanyaku pura-pura tidak tahu.
" Non!! Hep mi piiisss. " Ucap nya yang sudah seperti orang kebakaran jenggot.
"Bukan Non..Ini.. Hep mi Non.. Hep mi.. "
Wahaha... Kok hep mi sih bukanya Help My yah? Dasar si incess.
Aku pura-pura tidak tahu atas apa yang terjadi padahal aku yang merencanakannya.
"Incess ada apa ceess? Inces kayak orang lagi dikejar hantu tahu gak. Sampe lompat-lompat terus lari-lari gitu. " Ucapku sambil menahan tawa. "Ooh Star tahu pasti Incess lagi latihan lari ya? tapi kok latihannya cuma muter-muter di situ aja sih atau Incess lagi latihan main lompat tinggi ya, hahaha Incess mau nandingin Star?" Ucapku sambil mati-matian menahan tawa.
"Non Star bantuin Incess Non.. Ini ada yang nempel Non di bahu Incess!! "Ucapnya makin panik.
"Emang ada apa di bahu Incess? sampe joget-joget kayak gitu. " Tanyaku mempermainkan. " Haa.. Ya Allah ...Awas Incess itu nya mau gerak ke leher!!!" Ucapku yang menambah panik si Incess yang super cantik.
Terlihat para pegawai yang lain dan juga Umi, Abi keluar dari Mushola. Mereka tertawa melihat Incess yang panik hingga terlihat sedang berjoget-joget seperti penari Kuda Lumping haha..
Umi mendekatiku "Sayang ada apa ini kok Incess panik kayak gitu. " Tanya Umi padaku.
"Nggak tahu Umi mungkin karna hewan kecil yang lagi singgah di bahu nya Incess. " Ucap ku sambil menunjuk hewan kecil yang sangat menggelikan, sampai-sampai bulu kuduk ku juga terasa merinding.
"Ya Allah itu kok bisa ada di situ Cess. " Kata Umi.
__ADS_1
Abi hanya terlihat terkekeh melihat kejadian itu. Sepertinya Abi telah mengetahui pelaku utamanya. Karna Abi tahu betul bahwa anak nya ini sangat jahil.
"Mmm... Mang! Mang Nurdin!" Panggil Umi.
"Iya nyonya aya naon.. eh maksud saya ada apa? " Ucap Pak Nurdin tukang kebun di rumah.
"Itu Mang tolong bawa pergi ulat bulu itu pak!" Ucap Umi khawatir tapi juga sempat beberapa kali tersenyum melihat tingkah si Incess.
"Ouh siap Nyonya." Ucapnya. Setelah itu terlihat Mang Nurdin sedang memegang sesuatu yang membuat aku menjauh.
Haha.. Kok aku yang ngerjain tapi aku juga takut, iiiiiih geliiii..... Nggak kebayang kalau aku jadi si Incess.. Hahaha mungkin udah kayak ulet juga guling-guling. Batinku sambil membayangkan kalau aku yang seperti si Incess.
Mang Nurdin pun membawa si sobat kecil tapi berbulu itu menjauh. Aku dan Mang Nurdin saling menahan tawa.
"Cess. Incess nggak apa-apa kan, Star kaget lihat Incess kayak orang kesurupan jurig kuntilanak yang kepergok masaa tahu. Sampe loncat-loncat kayak mau terbang terus teriak-teriak lagi!!" Ucapku berpura-pura.
"Iya Non, tadi pas Incess mau pake sendal tiba-tiba ada ulet di bahu Incess tapi Incess nggak tahu itu ulat dari mana Non.. Padahal di area Muhola nggak ada pohon". Aduan si Incess padaku.
" Ya mungkin itu uletnya terbang kali dari taman depan sana. " Ucapku sambil menunujuk taman yang agak jauh dari Muhola.
Si Incess mengerutkan dahi tanda bingung. "Masa si Non? " Ucapnya sambil terlihat berpikir.
Terlihat Umi, Abi dan Stafyang masih di sana menahan tawa melihat si Incess.
Ya. Si Incess itu salah satu art di kediaman Mazumdar. Tapi dia yang paling menonjol dia antara art yang lain, dengan sifatnya yang rempong. Bahkan dia ingin di panggil Incess pada saat Interview padahal nama aslinya itu Markonah. Ya kami tidak keberatan dengan hal itu. Kami sudah menganggapnya saudara sendiri.
Sebenarnya bukan hanya dia tapi seluruh pegawai di Kediaman Mazumdar sudah kami anggap keluarga. Mereka semua sangat dekat denganku apalagi dengan si Incess yang sangat dekat denganku apalagi saat dia mencoba memakai bahasa Inggris padahal dia belum bisa dan hasilnya semua pengucapanya salah bahkan jika ada yang pertama kali mendengar dia memakai bahasa Inggris pasti akan salah faham.. Hahaha. Gaswat ini mah.
Tapi menurutku ini seperti hiburan saat dia terus mengoceh dan yang paling menjadi hiburan saat dia menjadi sasaran empuk kejahilanku. Hahaha...
Tak berapa lama ada Mang Nurdin yang kembali ke Muhola, mungkin setelah membuang ulatnya. Haha..
"Tuan, Nyonya, Neng Star. Itu ulatnya udah Emang buang. "Ucap Mang Nurdin.
Ya mungkin kalian heran kenapa saat Umi dan Abi di panggil dengan sebutan Nyonya dan Tuan tapi saat memangilku malah denagn sebutan Eneng atau Neng. Eit, jangan mengira kalau si Emang nggak sopan ya.. Sebutan itu aku yang minta bahkan pada seluruh pegawai. Karena aku menyukainya. Tapi masih banyak juga yang masih memanggilku Nona bahkan ada yang menyebutku Nona muda, Nona tunggal atau kalau nggak salah dengar ada yang memanggilku Nona besar. Ah terserah mereka lah tapi yang penting orang-orang yang dekat denganku seperti Mang Nurdin masih menyebutku dengan sebutan yang ku minta. Kecuali si Incess sudah ku bilang berapa kali tapi dia tetap memanggilku Nona. Halah walah... Kuma si Incess we lah.
(Terserah si Incess aja). Dalam B. Sunda.
Hai... Hari ini eps lumayan panjang yaa ..
Jangan lupa tinggalkan jempol keritingmu klik like and coment ya supaya author lebih semangat lagi tulis ceritanya.. Capp Cuss...😘😘
__ADS_1