
" kak!!!" panggil Saddam saat bertemu ceri di cafe tepat Raffa kerja
ceri melambaikan tangan tak khayal membuat ekor mata Raffa yang sedari tadi sibuk di pantry mengecek stok bersediaan makanan menjadi terpecah fokusnya
yang aneh bukan Salim ala seorang murid kepada gurunya tapi malah Tos mengepalkan tangan layaknya teman..entah keakraban model apa yang dijejalkan oleh seonggok daging hidup yang bernama ceri itu kepada murid muridnya..entahlah gaya apa yang digunakan yang pasti itu diluar kewajaran
"lu ada rencana apa sekarang?" tanya Saddam menempelkan bokongnya pada sofa samping ceri
"ga ada! saya nyuruh kamu kesini buat mantau secara langsung tentang cewe yang kamu panggil sugar baby nya bokap kamu" kata ceri sambil memainkan handphonenya
"yey..kalo cuma mantengin tu betina doang mah gua bisa sendiri kali kak..ga ngebantu lu" kata Saddam menarik gelas cappucino milik ceri lalu menyedotnya yang memancing reaksi Raffa yang masih memantau dari kejauhan, Raffa mendudukan tubuhnya disamping ceri dan memandang ke arah Saddam dengan tatapan mengintiminidasi
"kenalin, Abang saya Raffa , dia yang bakalan banyak bantu kita nanti" kata ceri merangkul Raffa dan kini tatapan mata elang Raffa tertuju pada sosok gadis bertubuh pendek disampingnya
"maksudnya?" tanya Raffa masih tak memahami
"ini murid gua bang, saddam namanya, dia nyurigain Nina yang anaknys suka kesini itu sebagai sugar baby bokapnya, nah kita tuh butuh lu bang buat mastiin itu semua" kata ceri yang hendak meraih kembali gelas cappucino miliknya yang terlebih dahulu diminum murid durjananya itu refleks Raffa menarik gelas itu dan memberikannya kembali pada Saddam
"gua buatin yang baru" lalu Raffa jalan untuk membuat minuman pengganti untuk ceri
"yakin lu sama dia Adek Abang??" tanya Saddam dengan senyum miring
"saya sama Abang sepupuan, kalo kamu fikir muka kami beda ya jelas beda, kami kan lain ibu dan lain ayah" jawab ceri dengan datar tak nampak raut kebohongan dari mimik wajahnya..entah karna terbiasa mengatakan kepada khalayak tentang kebohongan hasil mengarang indah Raffa dan di ACC olehnya yang pasti mereka sepakat untuk mempublish hubungan mereka adalah saudara sepupu
"protektif" kata yang terucap dari mulut Saddam rupanya mampu membuat ceri salah tingkah dan Saddam kembali mengutas senyum miring mendapati sikap ceri yang nampak gugup itu
"de, gua harus ngecek barang di gudang, agak jauh dari sini, kalo lu butuh apa apa bilang ke Iki aja ya" kata Raffa menaruh segelas es cappucino lalu mengelus rambut ceri kemudian berjalan menjauh
Saddam nampak tertawa melihat kekonyolan kedua insan itu yang mendeklarasikan hubungan mereka sebagai saudara sepupu
"ngapain ketawa?" tanya ceri
"ngaca Sono muka lu udah kaya udang rebus" kata saddam masih mengulum tawa yang hampir meledak lagi dari mulutnya
"e..eehh noh dia" kata ceri menunjuk kearah pintu masuk nampak gadis bertubuh tinggi berjalan memasuki tempat itu lalu langsung menuju tempat pemesanan
"ninaaa..ninaaa" panggil ceri sambil melambaikan tangan
"ngapain lu panggil sih kak"bisik Saddam dan kini ia sekarang Saddam yang gugup setengah mati saat gadis itu berjalan menuju tempat mereka duduk
__ADS_1
"ya cari informasi langsung dari yang bersangkutan lah" jawab ceri masih mengulum senyum
"aiiissshh...kampret banget dah lu" jawab saddam kesal
"duduk" ajak ceri menepuk sofa sampingnya
"ganggu ga sih?" tanya Nina menaruh buku buku tebalnya diatas meja dan mendudukan dirinya disofa
"santai aja kali" jawab ceri
"siapa? pacar ya??" ujar Nina menggoda
"whatttttt??? Tante girang kali ah pacaran sama bocah dibawah umur"jawab ceri singkat dengan mimik yang ekspresif seperti biasanya
"lah gua fikir kalian seumuran" jawab Nina sambil mengambil handphone dari dalam tasnya
"dia ini murid gua, lagi ada konseling aja disini" jawab ceri singkat
"murid??? lu ngajar? wih mantul mantull...multi talenta ternyata " jawab gadis berparas cantik itu
mata Saddam hanya tertuju pada gelas es cappucino hasil rampokan dari gurunya saja seperti enggan menatap pada gadis itu padahal beberapa hari ini dia sibuk memata matainya namun saat berhadapan langsung seperti ada penghalang antara dia dan gadis yang diduga sebagai sugar baby sang ayah, kebencian mendominasi perasaannya kini
"gua apartemen Claudia ga jauh dari sini, lu emang dimana?"tanya Nina
"yah ga searah, gua ditambun, ehh kok tinggal di apartemen emang keluarga diluar kota ya?" tanya ceri
'pinter ni cewe mancing mancingnya' gumam Saddam dalam hati
"orangtua gua gua meninggal beberapa bulan yang lalu, gua tinggal di apartemen milik sahabat ayah gua, dan dia juga yang biayain semua kebutuhan gua selama ini" kata Nina
degg
'gua salah faham sama ayah?? tapi apa bener sama ucapan ni cewe bisa aja kan dia bohong doang' batin Saddam
"sorry gua ga maksud.." kata ceri mengelus punggung tangan Nina
"it's oke semua udah lewat, gua beruntung masih ada orang dermawan yang mau ngurus gua, sebenernya ga cuma cuma sih" kata Nina sambil tersenyum kecut
'tuh kan pasti dijadiin simpenan deh' batin Saddam
__ADS_1
"gua sebenernya udah dijodohin sama ayah Sama anaknya om yang ngurus gua, dam lucunya dia masih SMA, lucu ga sih hidup gua? punya jodoh yang umurnya lebih muda dari gua?dam sampe sekarang gua ga tau orangnya kaya apa?hahaha" Nina tertawa hambar
deggg
'mati gua!! maksudnya apaan nih? anak om itu? gua dong??? gua dijodohin sama dia???' gumam Sadam dalam hati yang mampu membuat wajahnya Semerah udang rebus dan kini gantian ceri yang tersenyum miring mendapati wajah sang murid memerah
"trus lu sendiri gimana?" tanya ceri
"go it the flow aja lah..emang hidup ngasih gua pilihan?? ga kan?? om juga bilang belum waktunya gua dan calon gua untuk ketemu, dia mau kita sama sama nikmati semua proses pendewasaan kita masing masing, dia baik banget sih menurut gua, om bilang ga mau ngerenggut masa muda gua dan anaknya yang masih abegeh itu karna perjodohan ini, dia mau meski akhirnya gua dan anak abegehnya nikah ga ngurangin semua hal indah dari diri kita masing masing, dia ga mau nantinya ada penyesalan anatara gua dan anak abegehnya itu" tutur Nina
"keren banget tuh pemikiran, bijaksana tingkat dewa sih menurut gua"kata ceri menyenggol lengan Saddam yang sedari tadi sibuk mengaduk aduk es cappucino
"tapi apa si om ga takut ya calon mantunya kepincut sama cowo lain atau anak abegehnya sama cewe lain?" tanya ceri
"gua juga pernah tuh tanya gitu, tapi si om malah ketawa, trus bilang, tugas dia cuma jagain amanah almarhum ayah kalo nanti dalam proses perjalanannya membuat gua memutuskan untuk jatuh cinta sama pria lain itu bukan lagi jadi urusan dia, dan dari situ gua jadi tau batasan gua buat jaga hati gua cer, entah kaya apa tampang abegehnya si om sebagian hati gua udah punya dia, meski sebagian lagi masih milik yang lain"kata Nina kini menunduk
'hah!!! ini maksudnya gimana sih? dia beneran jodoh gua? dan dia bilang sebagian hatinya buat gua? bahkan dia aja belom tau muka gua kaya apa? gila apa bego sih ini perempuan?' gumam Saddam
"dan sebagian lagi milik Abang gua kan? gua sih mikir pilihan lu tepat, Abang gua emang seponggoh makhluk yang digilai banyak hawa disini jadi kemungkinan lu dapetinnya juga tipis banget, jadi resiko lu buat jadian bakalan kecil, dia juga bukan cowo yang gampang jatuh cinta sama cewe, pilihan cerdas sih menurut gua" kata ceri dengan gaya analisa diluar batasan orang normal pada umumnya
"ha ha ha ha... gitu ya...gua ga berfikir sejauh itu sih tapi denger omongan lu tadi kok gua jadi sakit ya?? gua juga ga nyangka semudah ini gua ceritain masalah pribadi sama lu orang yang baru dua kali gua temui ha ha ha" kata Nina sambil terus tertawa
'manis, astagfirullah mikir apa sih gua' lirih suara hati Saddam
"gua emang punya sirep bikin orang orang nyaman ngomong sama gua kali, ga usah kaget lu bukan yang pertama bilang gitu, eh sebentar ya gua tinggal sebentar mo ke bang Iki sebentar, dam saya kedalam dulu ya" kata ceri menginggalkan mereka berdua dimeja
"gua Nina" ucap Nina menjulurkan tangan
"Saddam" membalas juluran tangan Nina
"kelas berapa de?" tanya Nina
'njiirrr dia panggil gua de!!! woyyyy gua bakal laki lu betina....agghhhhh' Sadam mulai spaneng menghadapi pergolakan batinnya sendiri
"kelas dua, dan jangan panggil de, kesannya gua kaya masih bocah banget, kita cuma beda beberapa tau doang" jawab saddam cetus
"oh..oke oke...kayanya asik ya punya guru yang masih muda kaya ceri, pasti asik banget" kata Nina membuka pembicaraan
"lumayan" jawabnya
__ADS_1
lalu keheningan pun tercipta diantara mereka berdua, gugup sudah pasti mengisi penuh hati Saddam saat ini, bagaimana tidak wanita yang dia hadapi saat ini adalah istri masa depan pilihan ayahnya meski wanita itu tak mengetahui kenyataannya