
"bang pulangnya ga usah dijemput, gua nebeng temen kuliah gua yang searah aja" kata ceri saat turun dari motor dan membuka helm yang dikenakannya
"siapa?" tanya Raffa dengan sorot mata tajam
"yaelah tuh mata, biasa aja kalee, kisya temen sekelas gua, dia juga ngajakin jalan hari Jumat ini, sekalian gua mau survey harga barang sih, tar ajalah kapan kapan gua ceritain, dah sana balik kekampus lagi, tar lu telat lagi..bye Abang" ceri berlari menenteng tas Tote bag berisi beberapa pesanan salad buah dan mie gledek pesanan pak Dika
tujuan awalnya tentu langsung keruang dosen untuk mengantarkan pesanan dosen muda itu
"assalamu'alaikum, pak Dika..sory kelamaan ya..ini pesenannya jadi 85ribu" kata ceri menaruh semua pesanan milik pak Dika diatas meja kerjanya
"oh iya" kata Dika sambil merogoh kantong lalu memberikan uang pecahan seratus ribu kepada ceri
ceri nampak merogoh kantong celananya mencari uang kembalian
"ga usah, buat kamu aja, anggep ongkir" jawab Dika sambil membenarkan letak kacamatanya
"wah senengnya kalo pelanggan saya kaya bapak semua, thanks ya pak, Oia kalo suka sama makanannya komen di medsos saya ya pak, buat testimoni tapi kalo ada yang kurang wa langsung aja ke saya..oke! kata ceri menempelkan ujung jari telunjuk dan jempol membentuk huruf O
"kalo saya suka sama yang jual makanannya saya harus komen dimana?"tanya Dika dengan senyum simpul penuh makna
"hah?? sorry sorry to say nih ya pak...I'm not for sale! ucap ceri sambil memberikan tanda silang dengan kedua tangannya
Dika terbahak
"yah cer..pura pura pikir pikir dulu kek, kok kesannya saya jelek banget ya Balum nembak udah langsung ditolak" ucap Dika yang masih terkekeh geli
"ha ha ha ha..bapak mah ga jelek, ganteng malah tapi sayang ati saya ga cenat cenut...Jangan cinta sama saya pak..berat biar dilan aja" jawab ceril masih berkelakar lalu berjalan menjauh dari meja Dika meninggalkan pemuda tampan itu yang masih tersenyum menatap punggung ceri yang hilang dibalik pintu
tanpa mereka sadari percakapan merekapun terdengar oleh Sintya mahasiswi yang sedari tadi ada diruangan yang sama dibalik lemari sedang mengambil buku buku tugas kawan sekelasnya mendengarkan semua ucapan Dika dan ceri membuat hatinya perih teriiris sembilu, pasalnya dia telah lama menaruh perasaan pada sosok dosen tampan itu, namun tak pernah memiliki keberanian untuk sekedar mendekat atau bahkan menatapnya, selama ini cukuplah untuknya menjadi pemuja rahasia bagi sang dosen pujaan itu, hingga senyum smirk terbit diujung bibirnya gurat kebencian nampak jelas diwajahnya
.
.
.
"woy...dempul terooss ampe tebel!" goda ceri pada kisya yang asik dengan kaca dan makeup nya saat kelas masih nampak sepi, belum banyak yang datang karna jam kuliah baru akan dimulai 30menit lagi
"iiisshh..si Kate ngagetin aja sih lu! untung ga belepotan" ujar kisya kesal
"su'e gua dipanggil Kate!" ucap ceri terkekeh
"lah trus gua panggil apa? tinggi dibawah rata rata? apa pendek? apa cebol?" ucapnya masih menatap kaca ditangannya
"yaelah ga usah diperjelas kaleee, eh Jumat jadi ga?" tanya ceri
"lah jadi dong, gua jemput jam 10 yak!" kata kisya yang kini sibuk menjepit bulu matanya
"oke, Oia tar pulang gua nebeng ya, ga bawa motor gua"
"sip" ucap kisya
.
.
.
"ini rumah lu cer?" tanya kisya saat sampai didepan rukonya
__ADS_1
"iya, jadi tau kan kenapa gua masih harus jualan dikampus?" ucap ceri karma beberapa kali kisya menanyakan penyebab ceri hoby sekali berniaga apapun dikampus padahal dikelas malam ceri termasuk anak baru karna selama ini ceri mengikuti kelas kuliah pagi
"yaelah, santai aja kali, justru gua bangga kenal sama lu, muda dan penuh semangat" ucap kisya memuji saat ceri hendak melepas seatbeltnya nampak motor Raffa berhenti didepan rumahnya memandang kearah mobil didepan rumah ceri yang merupakan mobil milik kisya
"wihh...seger bener" ucap kisya saat melihat Raffa yang tengah melepas helmnya
"oh..bang Raffa, sepupu gua" dusta ceri
"wah..kenalin...lu wajib kenalin gua sekarang juga" ucap kisya yang langsung melepas seatbeltnya dan keluar dari mobilnya
"bang" panggil ceri
"baru nyampe juga? tau gitu tadi gua jemput aja sekalian" ucapnya pada ceri
"bang kenalin ini temen gua, kisya" ucap ceri
"oh, yang ngajak lu jalan Jumat besok, hai gua Raffa, tolong jagain kesayangan gua ya" ucap Raffa melambaikan tangan
'what kesayangan? katanya sepupu kok kesayangan sih?' batin kisya
"jangan dengerin si Abang suka lebay, masuk lu sana" bentak ceri pada Raffa
"iye iye...kis gua masuk dulu ya, si cebol kalo udah ngegas susah ngeremnya" ucap Raffa menenteng motornya masuk ke gerbang rumahnya
" kya... cebol!!! iya iya iya" goda kisya pada ceri
ceri mencebikkan bibirnya
setelah tak nampak Raffa dari balik gerbang kisya mulai bertanya
"kok dia bilang kesayangan?serius lu sepupuan? jangan jangan??" selidik kisya penuh curiga sambil menodongkan jadi telunjuknya
"oh...kirain"
"udah lu, balik sana! udah malem, thanks ya udah anter gua" ucap ceri
"sama sama, gua balik, assalamu'alaikum" ucap kisya
"waalikumussallam" jawab ceri sambil melambaikan tangan
ceri memasuki kedalam ruko dikagetkan oleh sosok ibu yang mukanya tertutup masker timun
"kenapa kamu sekarang ikut ikutan bohong sih?" ucap ibu yang tiba tiba bersuara dari Bali etalase
"astagfirullah hal adzim, ibu ngagetin aja" ucap ceri sambil memegangi dadanya nampak masih syok
"ibu tanya, kenapa kamu malah ikut ikutan bohong kaya abangmu itu hmm?" tanya ibu lagi
"oh..Adek rasa Abang ada benernya juga sih Bu, kalo ceri pake status sepupuan posisi Adek aman ga terjamah sama para pengagum bang Raffa, dan sejauh ini pake status sepupuan sama bang Raffa tuh lumayan menguntungkan sih Bu buat Adek, buktinya sekarang banyak banget tuh para fans fanatik Abang yang order salad buah ke aku, kan untung banyak akunya" ucap ceri sambil tersenyum
"ihhhh..kamu mah...ga boleh gitu, itu namanya penipuan tau!" kata ibu yang bangkit dari duduknya lalu menuju westafel untuk mencuci mukanya
"kan abangnya juga nyuruh bilang begitu Bu" sanggah ceri
"lah terserah kamu ah, ibu pokoknya udah bilangin, kalian tuh lebih banyak alesannya kalo diajarin sama ibu" jawab lestari
"iya Bu, maaf" kata ceri lalu menapaki anak tangga naik kelantai dua ke kamarnya
.
__ADS_1
.
.
.
"Bu..ibu" panggil Raffa dipagi itu saat hendak berangkat ke coffee shop
"iya bang kenapa?"
"Sabtu abis subuh kita berangkat ke Bandung ya, jemput mama pulangnya Minggu sore, ibu sama ceri bisa kan?" tanya Raffa pada lestari
"ibu sih bisa bisa aja, yang kebanyakan acara kan si Adek bang" kata lestari merapihkan dagangannya
"tar Abang telepon deh" ucap Raffa meraih tangan lestari lalu bersalaman dan bergegas berangkat kerja
"hati hati bang" ucap lestari
.
.
.
.
"assalamu'alaikum, de Sabtu subuh kita jalan ke Bandung jemput mama, jangan terima orderan buat Sabtu Minggu ini" ucap Raffa dari saluran telepon
"waalikumussallam, iya Tut Tut Tut" ceri langsung mematikan sambungan teleponnya karna saat ini dia berada didalam kelas dalam keadaan sedang menjelaskan materi didepan kelas
'sue..dilangsung dimatiin' gumam Raffa dalam hati
hatinya berkerut masih menatap layar handphonenya
"ngape?" tanya Iki dari sampingnya membawa plastik berisi cup minuman lalu menyusunnya
"si cebol, maen matiin telepon aja" kata Raffa masih dengan suara kesal
"gila bucin banget sih lu tau ga?" ucap Iki sambil tertawa kecil
"auk ah" jawab Raffa
"lagi Dikelas kali dia!" ucap Iki santai
"iya ya...tauk lah..kenapa kalo nyangkut dia otak gua kok ga bisa berfikir rasional ya?" ucap Raffa lirih
"ya..karna lu terlalu over protective sama dia, gua sih cuma mau bilang sama lu, jangan terlalu lah, dia juga butuh ruang..dia juga harus menikmati masa mudanya, gua liat lu terlalu mendominasi hidupnya bro" ucap Iki sambil menepuk bahunya
"emang iya ya?"
"fa, dia tuh anak yang punya karisma, keliatan kok dia tuh terlalu bersinar diantara yang lainnya sekalipun dia dandan sebiasa mungkin...ini bukan hanya masalah tampang aja tapi emang auranya dia yang keren dari sananya, pembawaannya yang ceria dan otaknya yang encer udah cukup buat dia dapet perhatian dimanapun dia berada, jadi saran gua kasih dia kesempatan buat dia mengesksplor dirinya sendiri fa, lu ga mau kan bikin dia ga bisa ngembangin sayapnya cuma karna sifat over protective lu?" ucap Iki
degg
"kok gua jadi egois ini ya?" ucap Raffa lirih menyesali sikapnya
"belom terlambat buat berubah bro" ucap Iki
"thanks ya bro"
__ADS_1
"sama sama"