
selesai acara car free day mereka membereskan dagangan mereka lalu bejalan pulang, perasaan berkecamuk dihati ceri, bertemu dengan ayahnya membuatnya menjadi merasakan sakit hati yang sama sepanjang perjalanan ceri nampak diam, Raffa pun membiarkan ceri untuk menyelami perasaannya sendiri, ceri memang butuh waktu untuk sendiri
"assalamu'alaikum, Bu dedek pulang" kata ceri
"waalikumussallam, gimana dagang hari ini de? " tanya lestari
"Alhamdulillah lumayan Bu, abis 47 botol" kata ceri dengan wajah datar
"Alhamdulillah, lah kamu kenapa de sakit?" tanya lestari
"nggak kok Bu, kurang tidur aja,tadi kan kita pulang malem trus brangkat subuh subuh banget" tukas Raffa sambil menenteng tas besar ditangan kanan dan meja porteble ditangan kiri
"Bu Adek, tidur dulu ya Bu, ngantuk, jangan dibangunin ya Bu," kata ceri lalu mencium pipi ibunya dan bergegas naik keatas
"fa, bener ceri cuma ngantuk aja kok kayanya lemes banget?" tanya lestari
"iya Bu, tadi tuh disana dia ga bisa tidur soalny lumayan rame hari ini, udah ya Bu,abang mau pulang juga mau tidur, ngantuk juga, assalamu'alaikum Bu" kata Raffa meraih tangan dan menciumnya
"iya makasih ya bang" jawab lestari
Raffa berjalan gontai sampai ke rumah
"assalamu'alaikum mah"
"waalikumussallam, bang gimana dagang nya, rame?" tanya Santi
" Alhamdulillah mah, mah Abang Langsung masuk kamar ya, Abang ngantuk banget" kata Raffa berjalan ke kamar
" eh Abang udah makan belom tadi? makan dulu bang, itu mamah buatin opor ayam kesukaan Abang, mamah anterin opor kerumah ceri ya bang" kata Santi menutup pintu rumahnya
"ri, itu Abang kenapa? kok mukanya ditekut gitu?" tanya Santi pada lestari
"ngantuk teh, mereka kan baru pulang jam 10an trus subuh subuh udah berangkat dagang, biarin aja biar istirahat dulu" kata lestari
"ini opor" kata Santi memberikan sepanci kecil masakan buatan nya
"udah teh, tiap hari ada aja yang dibawa kesini" kata lestari
"biarin aja, aku masak banyak ga mungkin juga abis buat makan berdua" jawab Santi
"kalo gitu masaknya jangan banyak banyak lah teh,kan sayang" kata lestari
"ga bisa udah kebiasaan" kata Santi terkekeh
.
.
.
.
di lain tempat Raffa memandang langit langit kamarnya sambil memegangi dadanya yang berdegup tak karuan
'kok jadi deg degan ya, apa iya gua jantungan?tapi kan gua masih muda? ah pasti kurang tidur aja nih' gumam Raffa dalam hati
tak membutuhkan waktu lama kini Raffa sudah terlelap tidur
berbeda dengan ceri yang masih menerawang dalam ke masa lalu saat dia, ibu dan ayahnya menghabiskan waktu bersama dirumah besar milik ayahnya meski ceri tak pernah mengalami kata jalan jalan bersama keluarga karna menghindari pemberitaan yang buruk untuk Surya, ya benar layaknya istri siri yang hanya ada didalam rumah dan pergi sesekali membeli kebutuhan hidup juga tak ada interaksi dengan siapapun membuat ceri kecil hanya memiliki ayah dan ibu sebagai temannya, saat disekolah pun ceri tidak boleh banyak memberitahukan kebenarnya tentang siapa ayahnya pada banyak orang karna ibu hanya akan membuat image ayahnya hancur dan gagal menjadi kandidat pewaris stasiun televisi swasta itu, yang merupakan ambisi ayah terlebih neneknya nyonya Diana. hatinya sedih atas pengkhianatan ayahnya tapi juga bahagia atas kebebasannya diwaktu yang bersamaan, meski harus menutupi jati dirinya pada dunia, setidaknya kini dia memiliki banyak teman, dan sahabat, seseorang yang tak pernah terbayangkan akan hadir dihidupnya yang lalu.
'kuat cer, lu harus kuat, tunjukkin sama dunia lu layak diperhitungkan, lu bukan lagi anak simpanan, lu adalah ceri putri anak tunggal dari lestari, semangat!!!!' gumam ceri dalam hati
dan diapun terlelap perlahan
.
.
__ADS_1
.
.
.
4 bulan berlalu ceri baru saja menyelesaikan program prakerin nya diperusahaan swasta bersama dua teman sekelasnya Nina dan sindy, mereka hanya perlu membuat laporan dan meminta tanda tangan ke Perusahaan itu lagi
sementara Raffa sudah mulai sibuk menyiapkan revisi laporan karna Minggu depan Raffa akan mengikuti sidang UKK, mereka jarang mengobrol bersama kini, didepan rumah mereka kini sudah berdiri cluster 20 rumah, cluster kecil namun cantik terlihat, ada juga yang telah mengisinya hingga suatu siang saat ceri mengetik laporannya dimeja depan warungnya dengan laptopnya
"de, beli telur sekilo sama minyak ya" kata seseorang dengan perawakan tinggi sekitar 170m dan wajah yang sangat familiar Dimata ceri
" eh kayanya saya pernah liat kamu tapi dimana ya?" tanya pria matang itu
"iya om, saya yang jualan parfum di car free day 3 bulan 12 hari lalu, upsst" kata ceri lalu menutup mulutnya
ceri merasa malu oleh lelaki itu bahwa dia menghitung hari pertemuan pertamanya dengan pria itu
" ha ha ha ha.. kamu itungin de?" kata pria itu
"kebetulan itu hari penting saya om, jadi saya inget" kata ceri mencari alasan
"ha ha ha..iya iya...telor dan minyaknya ada?" tanya pria itu
"oh iya om sebentar" ceri membawa laptop nya masuk kedalam toko, menaruhnya diatas sofa dan mengambil pesanan pria itu
pria itu melirik ke laptop ceri
"lagi buat laporan prakerin?" tanyanya
"iya om, ini om jadi 34ribu" kata ceri
"ini " kata pria itu memberikan uang pada ceri
"makasih om, oh iya om tinggal dicluster itu?" tanya ceri
'oh namanya bara' gumam ceri dalam hati
"ini om nomor saya" ceri menulisnya dikertas yang dirobeknya dari kardus rokok
"siapa namamu?" tanya bara
"ceri om, Ceria Putri" kata ceri memberi senyum terbaiknya
"namamu unik ceria, memang sesuai dengan jati dirimu cer, oke om pulang, thanks" kata om tampan itu menarik bibirnya melengkungkan senyum tipis lalu menyeberang jalan dan masuk kedalam rumahnya
ekor mata ceri terus memburu bara dari belakang
' manisssssss, ibu ga kuat...terlalu manis Adek takut sakit gigi' gumam ceri dalam hati
"ngapain kamu cengar cengir disitu?" tanya lestari memecahkan lamunan indah ceri
"Bu..itu cluster yang nomor dua itu, gantengnya banget tau Bu, haduuhhh cenut cenut dedek liatnya" kata ceri kembali tersenyum
"lah kamu tuh sakit gigi lagi de?" tanya lestari
"bukan Bu, om itu terlalu manis Bu bikin cenut cenut Bu" kata ceri
"Halah kamu tuh ada ada aja,, masih bocah kok seleranya om om" kata lestari meninggalkan ceri ditoko dan duduk disofa memotongi sayuran sambil menonton serial FTV kesukaannya yang isinya seputar istri yang tersakiti, anak yang dibuang, atau suami yang dikhianati
"yaelah Bu itu Mulu yang ditonton, kalo mau drama mah ga usah nonton senetron gituan Bu, ngaca aja sama diri kita, ga kalah dramanya kok dari senetron begituan" kata ceri menggerutu
"hussh jangan ngomong sembarangan, nanti kalo ada yang denger gimana" kata lestari
"ibu mah masih aja parno, tenang aja Bu mereka udah ga peduli lagi kita masih hidup apa nggak Bu" kata ceri
"dari mana kamu tau dek?" tanya lestari sedikit mengerutkan dahi menatap curiga
__ADS_1
"Bu ini udah 6 tahun berlalu ga ada tuh tanda tanda mereka cariin kita, kita cuma dibekasi Bu bukan di luar angkasa masa iya orang seberpengaruh mereka ga bisa nyari dua orang yang miskin kaya kita, mereka tuh emang ga inginin kita Bu" kata ceri
"ceri..jaga omongan kamu" bentak lestari
dan untuk pertama kalinya lestari berteriak pada ceri,
ceri yang kaget langsung berlari keluar dan masuk kerumah Raffa, Raffa yang sedang nonton tv diruang tamu kaget saat ceri masuk tanpa salam dan langsung masuk ke kamarnya lalu menguncinya
"siapa bang?" tanya mamah dari dapur
"dedek mah, tiba tiba masuk kamar Abang, kayanya nangis deh mah" kata Raffa
"hah nangis" Santi langsung mengetuk kamar Raffa
" tok tok tok, dek ini mamah, kamu kenapa sayang?"
"ga kenapa kenapa mah, dedek pinjem kamar Abang dulu ya mah, sebentar aja,." kata ceri masih didalam kamar
"iya ga apa apa, nanti kalo sudah lebih baik keluar ya, mamah bikinan makanan kesukaan kamu nih" kata Sinta
"iya mah makasih"
ceri menangis sesenggukan dikamar Raffa, bantal Raffa media ternyaman untuknya menumpahkan seluruh isi hatinya
Santi menyelesaikan aktivitas memasaknya lalu pergi keruko lestari , nampak lestari menangis didepan tv
"ri, astaghfirullah, kenapa sih,dirumah ceri nangis disini kamu yang menangis begini, ada apa?" tanya Santi pada lestari
akhirnya lestari tak lagi sanggup menutupi kisah kelam hidupnya dan menceritakan semua pada Santi, Santi memeluk lestari dengan hangat, mencoba menenangkan tetangga yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri itu
"aku tau kamu pasti ketakutan selama ini, tapi ceri pasti lebih merasakannya, dia masih terlalu kecil untuk melewati ini semua" kata santi
"iya teh, saya terlalu egois memaksakan kehendak saya sama ceri teh, tanpa saya sadar saya membentuk anak saya menjadi seperti ini, saya lah yang salah teh" kata lestari
"kamu ga salah, kamu tenangin diri kamu dulu ya, biar ceri tenangin diri juga dirumahku, dia butuh waktu RI, " kata santi diikuti anggukan lestari
30 menit terlalu Raffa mengetuk pintu kamarnya dan kini ceri membukakannya
ceri langsung memeluk Raffa dan menangis sejadi jadinya
butuh waktu 10 menit untuk ceri melepaskan seluruh tangisnya saat dirasan ceri lebih tenang Raffa menjauhkan tubuh ceri dari pelukannya
"udah lebih tenang sekarang?" tanya Raffa
ceri mengangguk
"sekarang bisa ceritain ke Abang?" tanya Raffa
ceri menceritakan yang terjadi pada dia dan ibunya
"gua salah ya bang?" tanya ceri
Raffa menggelengkan kepala
"kalian memang udah waktunya bicara, 6 tahun itu bukan waktu yang sebentar buat kalian menyembunyikan isi hati kalian" kata Raffa
" bang"
" gua laper" tambah ceri
'iihhhh ga bisa apa ga ngerusak suasana,dih kok gua mikir macem macem sih? wah konslet nih otak gua, pasti gara gara udah lama da dipeluk cewek trus dipeluk ceri otak gua gagal fungsi nih, sadar fa sadar' gumam Raffa dalam hati
" dah yuk ke meja makan, mamah udah nyiapain makanan buat lu tuh" kata raffa menggandeng tangan ceri menuju meja makan
ceri duduk dimeja makan lalu mengingat pertemuan kedua dengan bara kembali mengundang airmata
' kenapa pelangi datang sebelum badai? adakah dia hadir bersamaan dengan airmata, atau tuhan ciptakan dia untuk membasuh lukaku?' gumam ceri dalam hati
__ADS_1
memikirkan bara membuatnya bahagia sekaligus luka diwaktu yang hampir bersamaan