
waktu menunjukkan jam 10 malam saat mereka sampai dirumah, ibu baru saja merapihkan warung untuk segera ditutup, ceri langsung membantu ibunya menutup warung saat mata ceri melihat beberapa mobil truck berhenti diseberang rumahnya yang merupakan sawah garapan
"Bu itu mau ada apa ya?" tanya ceri
"oh itu mau dibangun cluster katanya" jawab lestari
"wah rame dong Bu, Bu seminggu lagi ibu mulai masak lauk dan nasinya agak banyakan ya, pasti kuli bangunan disana bakalan cari makan dan kopi, kita bisa untung nih Bu" kata ceri spontan
"wah luar biasa anak ibu, tingkat mendeteksi uangnya itu tinggi banget lho Bu" kata Raffa yang baru saja memasukkan motornya ke garasi rumahnya kembali lagi keluar menemui ceri dan ibunya
"yey..Nyamber aja sih lu bang" kata ceri kesal
"iya juga ya fa, kadang ibu juga bingung ini anak titisan tuan krab kali ya, kok ga ada mirip miripnya sama ibu ya hahahaha" kata lestari menyamakan anak semata wayangnya seperti pria kepiting merah yang mata duitan di kartun Spongebob yang sering dia tonton ditivi
"iya Bu Iya bener" sambar raffa sambil tertawa geli duduk dibangku plastik didepan warung ibu lestari
"lah ibu kok nambah nambahin sih, ah udah ah sebel, beresin sendiri" kata ceri marah dan langsung naik kelantai 2
"eh eh..ini lho bantu ibu dulu" kata lestari berteriak namun diabaikan oleh ceri
"udah Bu, biar Abang aja yang angkatin" kata Raffa membantu membereskan dagangan
"besok jadi bang?" tanya lestari
"jadi kok Bu abis subuh Abang Ade berangkat" jawab Raffa sambil mengambil seplastik ciki dan menaruhnya didalam
"besok mau dibuatin sarapan apa?" tanya ibu
"ga usah Bu, beli disana aja, masa jauh jauh ke kota ga icip icip jajanan sana" jawab Raffa
"mana mau ceri beli bang, tau sendiri itung itung2annya Mateng banget, ga tau lah makin hari makin ga jelas aja maksud tujuannya ngoyo nyari duit itu buat apa" kata lestari yang mengeluhkan perubahan putrinya hari ke hari
"Abang yang jajanin Bu tenang aja" kata Raffa
"kamunya juga aneh sih bang, tiap hari jajanin ceri Mulu kamu kapan punya uang sendirinya bang" omel lestari berpindah ke Raffa
"abis ribet Bu, mau makan aja diitung itung Mulu, keburu maag kambuh Bu, lagian Abang kan dikasih uang sama mamah kalo kerumah Mbah juga dapet, trus kalo lagi kerumah engkong juga dapet" kata Raffa memberi tahu dari mana sumber pundi pundi uang didompetnya itu
"dasar kamu tuh ya bang, kalo dibilangin ada aja jawabanya" tangan lestari kini sudah sampai ditelinga Raffa lalu kemudian menjewernya
"awww awww Bu ampun Bu..ampun..sakit Bu" kata Raffa memohon ampun
lestari memang menagnggap Raffa sebagai anaknya sendiri, sedari awal mereka pindah Raffa dan ceri selalu main bersama, Raffa lebih sering makan dan minum dirumahnya meskipun masakan dirumah lestari jauh dari kata layak, diawal awal pindah lestari bahkan lebih sering memasak hanya satu jenis lauk untuk ceri dan dirinya tapi Raffa tak keberatan makan seadanya disana maka dari itu mama Sinta rajin membuatkan makanan kesukaan ceri dan lestari, sinta sangat senang melihat ceri yang jenius dan manis, impiannya dulu adalah menambahkan momongan lagi untuk Raffa, seorang adik perempuan yang manis dan menggemaskan tapi takdir berkata lain, Sinta harus merelakan kematian suami tercintanya akibat kecelakaan , kehadiran ceri mampu memberikan warna baru dihidupnya
__ADS_1
"pulang sana, istirahat besok mau biar seger besok pagi" kata lestari
"iya ibu ku yang cantikkkkkk tikkk tikkkk" goda Raffa yang sudah masuk kegerbang rumahnya
.
.
.
sebelum subuh Raffa udah menggedor pintu rumah ceri , Raffa telah rapih mengenakan kaos kuning celana training panjang biru, dan jaket biru juga tas selempang kecil,
sedang ceri keluar dengan memakai kaos polo biru dan celana traning biru juga topi dan memakai tas pinggang kesayangannya sebagai tempat menyimpan harta karunnya nanti wajahnya nampak masih sangat ngantuk karna baru tidur beberapa jam saja tadi
meja lipat, dan se tas besar parfum telah ditaruh diatas motor Raffa tak lupa mereka membawa karpet porteble untuk istirahat disana
"de helm mana de helm" tanya Raffa
"Oia Ade lupa, sebentar sebentar"
tak lama suara adzan berkumandang, masjid terletak 3 rumah dari rumah Raffa yang berarti hanya berbeda 4 rumah dari ruko ceri
" Abang solat dulu" kata Raffa langsung menuju ke masjid
"lah ini yang jagain tas siapa?" tanya ceri
Raffa dan ceri sedari kecil memang anak anak yang diajarkan agama, meski ceri terlahir dari ayah beragama Nasrani saat ceri tinggal hanya berdua dengan ibunya saja dikampung itu,ceri melihat Islam hidup damai dan harmonis dalam kehidupan sehari hari
ceri memilih membaca dua kalimat syahadat beberapa bulan setelah mereka pindah ke kampung itu, lestari sangat bersyukur putrinya dengan suka rela menganut agamanya, lestari tidak pernah meminta ceri memeluk agama yang sama dengannya namun cerilah yang nampak jatuh hati pada Islam, dan Raffa kecil dengan senang hati membimbing ceri kecil membaca Alquran juga solat, mereka juga masuk ke TPQ di masjid itu
ceri segera ambil wudhu lalu solat kemudian turun ke dapur menyeduh dua gelas susu coklat untuknya dan Raffa
sesaat ceri teringat omongan semalam bahwa Raffa ternyata tak suka susu coklat
tak berapa lama Raffa sudah datang
"minum dulu bang biar ga kosong perut lu" kata ceri memberikan segelas susu
ceri meminum susu sambil berdiri lalu dihentikan oleh Raffa dan ditarik duduk di sofa kasur didalam ruangan itu, ya rumah ceri hanyalah ruko ukuran 4x 8 meter bagian depan nampak rolling door lalu sampingnya pintu terdapat etalase berbentuk L di bagian depan rolling door terdapat slowcase tempat menaruh minuman agar terasa dingin seperti warung eceran pada umumnya bagian tengah ruangan terdapat sofa kasur porteble yang bisa digunakan untuk jadi tempat tidur dadakan lalu TV LED didinding bagian kanan juga kipas angin baling baling ditengah tengah ruangan bagian dalam terdapat kamar mandi dan kitchen set mini tepat dibawah tangga menuju lantai 2 sangat sederhana, dilantai 2 pun hanya ada lorong dengan 2 kamar dan balkon, ceri menempati kamar depan menghadap kejalan dengan kaca yang lumayan lebar rumah ceri dan Raffa saling menempel karna memang ruko itu dulu milik keluarga Raffa yang telah dijual, masih ada 4 ruko lagi disamping ruko ceri semua masih kepemilikan mamah Sinta ibu dari Raffa
"kalo minum tuh duduk, adab de" kata Raffa
ceri duduk disamping Raffa menghabiskan susunya
__ADS_1
"eh udah pada siap, ibu bikinin roti pake telor dulu ya?" kata lestari yang baru turun dari tangga masih menggunakan mukenanya
"ga usah Bu, kita langsung jalan aja" kata ceri terburu buru.
"abangmu laper dong cer!" kata lestari
"udah minum susu tuh sama ceri, udah ya Bu doain dagangan dedek laris manis, assalamu'alaikum ibu" ceri mencium tangan ibunya
"assalamu'alaikum Bu" giliran Raffa mencium tangan ibunya
mereka menaiki motor vario milik Raffa menaruh meja porteble dibagian depan dan tas minyak wangi ditaruh ditengah tengah mereka
"kudu punya tas motor kaya tukang mas mas JNE deh de" kata Raffa yang awalnya menggoda
"iya ya bang, beli ah gua nanti, berapa ya harganya bang?" kata ceri diatas motor seperti kesulitan memegangi tas besar berisikan parfum itu
"dih becanda de, ya kali lu masih muda mau naik motor pake tas motor kaya tukang paket dan tukang sayur gitu" kata Raffa tertawa
"lah emang kenapa, gengsi ga akan buat gua jadi orang kaya bang" tukas ceri
"de seriusan deh gua tanya, lu ada apa sih terobsesi Banget jadi orang kaya?" tanya Raffa masih mengendarai motornya
" saat semua yang terenggut dari gua hanya karna kasta bang, saat itu gua berfikir gua harus kaya" kata ceri
"Abang boleh tau ga?" tanya Raffa mulai memberanikan diri bertanya hal yang sangat pribadi pada ceri
"belum waktunya bang, nanti Abang akan tau semuanya kok" kata ceri
______________
sebuah luka yang membekas
tak terlihat namun tak terlupa
diatas luka aku bangkit
menata hidupku yang mulai sempit
jangan ...jangan pandang aku terlalu kerdil
ingatlah aku kan kembali
melihatmu jatuh meratapi tiap luka yang berbekas karna mu
__ADS_1
______________
happy reader..jangan lupa like n coment 🥰🥰