Sistem Raja Neraka

Sistem Raja Neraka
Chapter 20 Menantu Baru


__ADS_3

(Misi terdeteksi. Membeli makan siang untuk Wen)


Tiba-tiba Glenn mendapatkan pembertahuan misi saat dia membuka matanya. Dia bahkan belum mengumpulkan nyawanya. Dia berguling dan merenggangkan tubuhnya sebelum bangun. Punggungnya terasa sakit karena dia harus tidur di lantai yang keras. Kasur lamanya digunakan oleh sang ibu yang masih tertidur lelap.


Glenn ingat bahwa dia tidak lagi memiliki uang di dompetnya untuk membelikan wanita itu makan siang. Jadi dia segera mengambil 200 zloth sari sistem.


(200 zloth dikurangi)


Dia langsung mendapatkan dua lembar uang tunai di saku celananya. Jadi dia segera memindahkannya ke dalam dompet.


"Ibu aku pergi dulu" dia berpamitan kepada sang ibu yang sudah terbangun dari tidurnya.


"hati-hati di jalan"


Sesampainya di kantor, dia melihat Wen sudah duduk di kursinya. Seperti biasa, wanita itu selalu datang lebih awal.


"Wen" Glenn memanggilnya tapi tiba-tiba Wen mengangkat handphonenya dan meninggalkan tempat duduknya. Dan dia kembali saat jam kantor dimulai, sehingga Glenn tidak bisa berbicara dengannya lagi. Dan akhirnya, jam istirahat tiba.


"Wen" Glenn memanggilnya lagi, tapi Wen bersikap seolah-olah tidak mendengarnya. Dia berbalik dan pergi menjauh.


Glenn mengernyitkan keningnya. Dia mengejar Wen dan menarik pergelangan tangannya. "Ada apa denganmu?" tanyanya bingung.


"Apa maksudmu?" Wen bertanya balik. "Oh, aku tidak mendengarmu tadi" dia berbohong. Lalu dia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Glenn.


"Aku ingin mengajakmu makan siang" kata Glenn kemudian.


Wen tidak merespon.


"Kali ini aku yang bayar sebagai rasa terima kasih. Aku harap kau menerimanya karena aku tidak suka hutang budi"  Glenn sangat tidak suka memiliki hutang budi dengan orang lain. Dia akan membantu orang-orang yang sudah menolongnya dan tentu saja dia juga akan menghancurkan musuhnya dengan cepat. Dia tipe orang yang tidak suka drama dalam kehidupannya.


"Baiklah..." akhirnya Wen setuju.


Glenn merasa lega. Dia langsung menarik wanita itu ke kantin dan memesan dua porsi makanan untuk mereka.


(DING! Selamat Tuan berhasil membeli makan siang untuk Wen. Stamina +1)


Glenn memulai pembicaraan dengan topik pameran seni yang akan diadakan beberapa hari lagi. Walaupun dia sudah membaca dari internet. Dia merasa Wen tahu lebih banyak tentang hal ini daripada yang internet paparkan. Dan dugaan Glenn benar. Wen memberitahunya beberapa seniman terkenal yang akan datang di pameran seni itu untuk memamerkan bakat mereka. Dia juga memberitahunya bahwa tempat itu akan dijaga dengan sangat ketat karena beberapa seniman membawa karya seni mereka yang bernilai ratusan ribu untuk dipamerkan.

__ADS_1


"Ratusan ribu?" Glenn memikirkan bagaimana dia harus mengumpulkan uang sebanyak itu dengan gaji kecilnya. lalu dia juga berkhayal bahwa kaligrafi miliknya dibayar mahal. Walaupun tidak mungkin ratusan ribu untuk satu karya. Dia masih bisa mendapatkan puluhan ribu zloth dengan menjual beberapa karya.


"Kau harus berusaha keras. Aku harap kau beruntung" kata Wen.


"Terima kasih." respon Glenn. "Aku bisa melihat logo stronghold sebagai sponshorship di acara itu. Apa kau tahu sesuatu?" tanya Glenn kemudian. Dia benar-benar penasaran dengan hal ini.


Wen berpikir sebentar. "Aku tidak tahu banyak" Dia menunjukkan sesuatu di ponselnya. "Kelihatannya ada beberapa murid yang datang karena pameran seni. Tapi aku tidak tahu tujuan mereka. Sekolah itu bahkan bukan sekolah seni" katanya bingung. "Lalu satu hal lagi. Pameran seni itu diadakan oleh keluarga terkenal di kota ini"


"Keluarga terkenal? Siapa?"


"Pemilik Doha Pharmacy Group" jawab Wen dengan mata berbinar.


Glenn merasa nama itu tidak asing. Lalu dia ingat bahwa itu adalah perusahaan di mana Harris bekerja. Mungkin dia akan bertemu dengan pemuda itu disana sejak dia adalah salah satu penjaga keamanan di perusahaan itu.


"Begitu. Aku ingin bertanya lagi" kata Glenn


"Apa?"


"Mau tidak kau menemaniku ke pameran seni itu? Aku sudah mendaftar sebagai peserta. Tapi sepertinya aku tidak bisa bekerja sendiri dan butuh pendamping. Apa kau sibuk hari itu?"


"Aku tidak sibuk. Baiklah. Aku akan menemanimu"


"Tapi tidak gratis" Wen tersenyum misterius. "10% dari pendapatan" dia mengedipkan matanya.


"Oke, tidak masalah"


Saat itu, sang manager gemuk melintas dengan seorang wanita di aula. Semua orang yang sedang makan di kantin bisa melihat pemandangan itu dengan jelas. Manager gemuk itu terlihat sangat hormat dan mengikuti wanita itu seperti tikus kecil di belakangnya. Mereka berbicara satu sama lain, tapi Glenn tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Siapa itu?" Glenn berbisik. Karena ruangan sangat sunyi sekarang, suaranya akan mencolok kalau dia bebricara.


Mata Wen membelalak kaget. "Kau tidak mengenal bos mu sendiri?" katanya sarkas.


Glenn langsung tersenyum kecil sambil tertawa. "Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas dari tempat ini. Jadi aku tidak mengenalinya." Glenn langsung mengkonfirmasi perkataannya. Tapi dia benar-benar tidak tahu bahwa bos perusahaan ini adalah seorang wanita yang cukup muda.  Tapi dia tidak terlalu memikirkan hal itu.


Setelah selesai bekerja, dia menemaninya ibunya berbelanja. Oleh karena itu dia harus menarik uang lagi dari sistem. Dia ingin ibunya dapat membeli apapun yang dia mau kali ini.


(500 zloth dikurangi)

__ADS_1


Satu lembar uang kertas 500 zloth pun muncul di sakunya. Glenn langsung memberikan uang itu kepada ibunya.


"Ini terlalu banyak" kata Rui keberatan. "Kau tidak bisa menghabiskan uang sakumu. Kau harus menyimpannya" dia langsung menolaknya.


"Tidak apa-apa ibu. Aku mendapatkan bonus dari kantor. Itu bukan uang sakuku" Glenn jujur. Dia mendapatkan uang itu dari sistem bukan uang saku bulanannya. "Lalu sebentar lagi aku juga gajian. Aku ingin ibu membeli apapun yang ibu mau sekarang. Jangan menolak atau aku akan sedih" Glenn berpura-pura memasang ekspresi sedih di hadapan ibunya.


"Baiklah, ibu akan menerimanya. Tapi ibu tidak akan menghabiskannya. Ibu hanya akan membeli beberapa persediaan makanan sampai kita pindah bulan depan" jawab Rui pasrah.


Mereka pergi ke pusat perbelanjaan terbesar di kota. Lalu mereka mulai masuk ke dalam satu toko. Rui mulai memilih dan membeli beberapa bahan makanan. Dia membeli roti, susu, sayuran, telur, daging, minyak dan lain-lain. Dia berniat untuk memasak sarapan untuk putranya nanti. Tidak lupa dia membeli matras baru untuk Glenn karena tidak tega melihatnya tidur di lantai.


Rui memilih salah satu buah. Lalu ada tangan lainnya yang ingin mengambil buah itu juga. Mereka bentrok. Rui menoleh dan melihat seorang gadis muda di sampingnya.


"Nona, aku mengambil buah ini lebih dulu" kata Rui.


"Oh, maafkan aku" gadis muda itu berkata dengan lembut sambil menjauhkan tangannya.


Glenn kembali sambil memegang serenteng kopi sachet dan dia sedikit kaget melihat sosok di samping ibunya. "Wen?"


Wen menoleh. "Halo" katanya malu-malu.


Rui mengamati keduanya. "Kalian saling kenal?"


"Ibu, ini Wen, teman kerjaku. Wen, ini ibuku" Glenn memperkenalkan keduanya.


"Halo bibi. Maafkan aku tidak sopan sebelumnya" kata Wen menyesal.


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa" jawab Rui cepat. Dia melirik Glenn. "Kau pernah membawanya ke rumah bukan?" Rui masih ingat dengan perkataan putranya yang lalu.


"Iya. Aku hanya berterima kasih karena dia sudah mentraktirku makan" jawab Glenn.


"oh" Mata Rui berbinar. Dia melirik Wen dan tersenyum. "Gadis cantik, kau sudah menikah atau belum?"


"Belum..."


"Kau sudah punya pacar?"


"Tidak ada..." jawab Wen malu-malu.

__ADS_1


"Ohohoho, menantu baru!"


"Ibu!"


__ADS_2