Skaeli

Skaeli
ten


__ADS_3

...•••...


Sky menggeser pintu lemari berwarna putih dilengkapi kaca besar, mengambil hoodie oversize hitam yang menggantung untuk dipakai. Sky memang lebih sering mengenakan hoodie ketika akan keluar rumah. Alasannya, karena Sky nyaman.


Setelahnya, cowok manis itu merapikan rambutnya yang agak berantakan sehabis keramas lalu menyemprotkan sedikit parfum ke hoodie hitamnya. Tidak menunggu lama, Sky segera keluar dari kamar untuk menuju lantai bawah. Rencananya dia akan pergi ke rumah Clara untuk melihat keadaan Aeli.


Siang tadi sehabis mengantarkan Aeli ke rumah Clara, Sky langsung pulang. Membiarkan Aeli beristirahat dengan tenang agar kondisi gadis itu bisa cepat membaik. Suasana hati Sky yang semula buruk kini menjadi lebih cerah begitu sempat bertukar pesan dengan Aeli. Itu artinya kondisi Aeli memang sudah jauh lebih baik.


“Ke mana lo malam-malam gini?” tanya Rey kala melihat kembarannya menginjakkan kaki ke ruang tamu. Lantas Sky menolehkan kepala pada Rey yang baru mengambil es krim cup dari dalam kulkas. Duduk santai di kursi bar yang berada di dekat pantry. Sky berjalan menghampiri cowok itu.


“Jenguk seseorang.” Dia mengambil susu pisang dari dalam kulkas lalu meneguknya.


“Siapa? Jangan bilang lo mau jenguk Aeli?”


Tebakan Rey mendarat tepat sasaran. “Kok lo tau?”


Mendengar balasan Sky, Rey langsung tersedak. Matanya yang bulat menyorot Sky penuh keterkejutan.


“Demi apa? Padahal gue cuma ngasal, anjir!”


Sky hanya menunjukkan senyum yang membuat Rey makin geram ingin bertanya. “Tadi jam istirahat kedua lo izin ke mana sama Clara? Main ngacir gitu aja nggak ngasih penjelasan,” selidik lelaki bersurai coklat itu serius.


“Tebak.”


“Kencan?”


“Ngawur!”


“Nemuin Aeli, kan? Ngaku lo.”


Sky mengedikkan bahu tak acuh. Sengaja tidak menjawab. Lagipula Sky tidak ingin terlalu membeberkan tentang kejadian tadi pada Rey. Kembarannya ini, kelewat ember. Bisa-bisa semua yang dia ceritakan malah tembus ke FI. Uh, bahaya.


Tak mempedulikan gerutuan Rey yang kesal karena pertanyaannya digantung, Sky segera menjauh dan langsung berangkat menuju tempat tujuannya. Sky tidak ingin Aeli menunggu terlalu lama, mungkin saja gadis itu ingin segera istirahat kembali.


...•••...


“Lo mau bikin perut gue meledak ya, Clar?”


Pertanyaan Aeli bikin Clara tertawa. Sejak tadi gadis itu memang terus menawarkan Aeli makanan. Dia hanya khawatir jika penyakit sahabatnya itu kambuh lagi. Clara tidak ingin mengambil resiko lebih parah.


“Eleh, lebay. Lo juga makannya dikit-dikit kaya tikus,” balas Clara enggan mengalah. “Lagian ini bukan dari gue loh, Li. Tapi dari mama. Peran gue di sini cuma sebagai go-food dadakan.”


“Aduh tante Zakia, makasih banget ini mah. Tapi perut Aeli udah hampir meledak dikirimin makanan melulu.” Aeli memegang perut dengan ekspresi yang dibuat-buat. “Tolong sampaiin pesan kesan gue ke mama lo, ya.”


“Bacot! Udah cepetan makan, ini yang terakhir pokoknya.”


“Noooo ....” Aeli menutup mulutnya dengan kedua tangan.


“Li, gue suapin juga, ya!”


“Big noooo! Jijay bajay gelay no way!”


“Halah cocotmu! Giliran disuapin Sky aja ayo-ayo lo!” Clara memutar bola mata.


“Beda kelamin beda respon, Clar.”


Clara mengambil nafas dalam-dalam menghadapi tingkah Aeli. Dia merasa seperti berprofesi sebagai baby sitter dadakan. Bedanya yang dia rawat sekarang bayi gede yang bikin tekanan darahnya gampang naik.


“Aduh, anak cantik kenapa pada ribut? Suara kalian kedengeran sampai bawah lho.” Zakia—ibu Clara—menutur. Berdiri di ambang pintu seraya memperhatikan Aeli dan Clara sambil geleng-geleng pelan.


“Aeli tuh, Ma. Disuruh makan susah banget, katanya kenyang. Padahal dari tadi makannya cuma satu dua suap doang,” adu Clara, pundung.


“Cepu bet anjay.” Aeli membatin.


“Beneran Aeli udah kenyang?” tanya Zakia.


Aeli mengangguk dua kali dengan raut yang dibuat sepolos mungkin. “Kenyang banget, Tante.” Mengusap-usap perut datarnya.


“Yaudah nggak papa. Nanti makanannya dibawa aja lagi ke dapur. Kalau Aeli-nya nggak mau jangan dipaksa atuh, Clar.”


Aeli menjulurkan lidah ke Clara begitu mendengar penuturan Zakia. Clara langsung melotot tajam seolah akan menelan Aeli hidup-hidup.


“Mak gue jadi lembut banget dih, padahal dari tadi maksa mulu nyuruh Aeli makan. Dasar emak-emak bermuka double.”


“Oh ya, Li. Itu ada temenmu di bawah. Mau jenguk kamu katanya. Tante panggilin suruh ke sini aja apa gimana?”


Kerutan tipis muncul di kening Aeli. “Temen yang mana, Tan?”


“Ituloh, yang tadi siang ikut nganterin kamu ke sini. Yang mukanya manis, lucu, imut, gemesin. Sky atau siapa sih namanya itu?”


Mendengar nama Sky disebut, Aeli langsung menegakkan tubuh. Menatap Zakia dengan sorot memastikan. Bisa-bisa dia melupakan kesayangannya itu.


“Seriusan, Tan? Waduh, mana Aeli belum dandan lagi.”


“Centil bat,” cibir Clara.


“Itu pacar kamu, ya? Pinter banget kamu cari pacar. Udah manis, sopan lagi.”


Aeli menyengir lebar, mata bobanya ikut menyipit. “Masih calon, Tan.”


Clara hampir muntah mendengar penuturan Aeli yang bisa dibilang, kelewat PD.


“Kalau gitu Tante suruh ke sini aja ya orangnya?”


Aeli segera menahan. “Gak perlu repot-repot, Tan. Biar Aeli aja yang nemuin Sky di bawah.”


“Loh, kamu beneran udah baikan? Jangan maksain diri atuh, Geulis ....” Zakia hanya tidak ingin sahabat anaknya itu kembali sakit.


“Serius, Tante Kia. Tante gak perlu khawatir.” Aeli menenangkan.


“Yaudah kalau gitu. Tante tinggal dulu, ya. Dandannya jangan lama-lama, kasian gebetanmu kelamaan nunggu.”


“Ih, Tante bisa aja.” Aeli mendadak salah tingkah mendengar sebutan Zakia. Pipinya merona. Lantas, Zakia segera meninggalkan ruangan. Menyisakan Aeli dan Clara yang masih menatap julid ke arah sahabatnya.


“Sumpah, lo Aeli bukan sih? Sejak kapan lo jadi centil gini, anjrot? Ke mana image cool dan baddas lo selama ini?!”

__ADS_1


Aeli mengarahkan telunjuknya ke bibir Clara, menyuruh anak itu untuk berhenti berceloteh. “Ssstt. Shut up, Baby. Yang lo liat sekarang baru sebagian kecil.”


Aeli beranjak untuk segera menemui Sky tanpa mengindahkan Clara yang masih menganga terkejut karena kelakuan konyolnya. Semenjak Aeli bertemu dengan Sky, sikapnya benar-benar berubah. Gadis itu jadi lebih sering tersenyum dan terlihat jauh lebih ceria dari sebelumnya.


Ternyata, efek yang ditimbulkan oleh Sky di hidup Aeli memang sebesar itu. Clara sendiri tidak menyangka Aeli bisa sangat cepat jatuh cinta pada Sky. Sekarang baru Clara percaya makna cinta pada pandangan pertama.


“Sky,” panggil Aeli begitu sampai di ruang tamu. Dia melempar senyum pada Sky yang duduk di sofa ruangan, wajahnya tampak jauh lebih semringah.


“Li, kamu beneran udah sehat? Gak papa nyamperin saya ke sini?” Dari tatapan lelaki itu pun Aeli tahu jika Sky masih mengkhawatirkan keadaannya. Rasanya Aeli ingin melayang bebas ke udara melihat tatapan Sky untuknya.


“Gapapa, kok. Duduk lagi aja.” Sky mengangguk pelan, kembali ke posisi. Aeli ikut mendudukkan diri di sebelah Sky tanpa disuruh dan tanpa canggung pastinya.


“Sky udah lama?” tanya Aeli. Menyorot lekat makhluk Tuhan yang dia kagumi akhir-akhir ini.


“Baru aja. Maaf ya saya ke sini gak bawa apa-apa. Lupa soalnya. Pas udah sampai sini baru ingat.” Sky menjelaskan sambil tersenyum canggung. Rautnya terlihat bersalah. Tanpa sadar Aeli menggigit bibir dalam, menahan segala macam rasa gemas dan rasa ingin mencubit wajah itu.


“Santai aja. Dengan lo ke sini aja gue udah seneng banget.” Aeli berkata tulus. “Oh ya, makasih buat tadi siang, ya. Lo udah repot-repot nganter gue ke sini. Padahal kan seharusnya lo masih di sekolah.”


“Kamu nggak capek bilang terima kasih terus, Li? Saya yang jawab sama-sama aja udah pegel loh.”


Aeli tertawa. “Beda dong, Sky. Tadi kan gue bilangnya di chat. Pengennya bilang secara langsung gini baru bisa lega.”


“Berarti sekarang udah lega?”


Aeli mengangguk antusias dengan wajah berbinar-binar. “Lega banget.”


Perasaan aneh itu selalu hinggap saat Aeli bersama Sky. Selain merasa debaran tak biasa di dadanya, dia juga merasa aman dan damai. Sky itu sudah seperti vitamin untuk Aeli, dengan melihat wajahnya pun bisa membuat mood Aeli yang semula buruk langsung membaik sepenuhnya.


“Sky, sejujurnya gue sempet mikir saat lo liat keadaan gue tadi, lo bakal ngejauh dari gue. Gak mau nemuin gue lagi, gak mau temenan sama gue.” Aeli mengatakannya dengan wajah sendu. Secepat itu ekspresinya berubah.


Kebingungan menyelimuti Sky. “Kenapa saya harus ngelakuin itu?”


Hembusan nafas pelan lolos dari bibir mungil Aeli. Dia memberanikan diri mengangkat bola matanya hingga bersitatap dengan mata Sky yang menyorotnya penuh tanda tanya.


“Karena lo udah tau sebenarnya gue cuma cewek lemah yang gak lebih baik dari siapapun.” Aeli tersenyum miris. “Clara pasti udah nyeritain semuanya ke lo, kan? Kenapa gue bisa terkurung di gudang itu?”


Perasaan buruk Aeli menyalur ke Sky. Dia seperti dapat merasakan sebesar apa luka yang Aeli rasakan begitu mengungkit hal yang menimpanya tersebut. Merespon pertanyaan Aeli, Sky mengangguk. Memang setelah sampai di sini beberapa jam lalu dan membiarkan Aeli beristirahat, Clara sudah menceritakan penyebab Aeli menjadi seperti itu kepada Sky. Bohong jika dia tidak terkejut.


“Papa gue emang sering kurung gue setiap kali gue berulah. Bodohnya gue gak kapok dan terus ngulangin hal yang sama kemudian jatuh di lubang yang sama.” Cerita Aeli mengalir tanpa sadar.


“Lo percaya nggak kalau dulu papa sayang banget sama gue? Gak pernah kasar, selalu lindungin gue, jadi pahlawan buat gue,” tanya Aeli retoris.


“Sampai-sampai gue pernah nganggep papa itu adalah orang paling hebat, paling kece, paling keren yang pernah gue temuin.” Aeli tersenyum, namun tidak dengan matanya. Mata indah itu seolah berusaha menjelaskan ada sebuah luka yang berebut ingin bicara. Hingga membuatnya berkaca-kaca.


“Tapi karena sesuatu, penilaian papa di mata gue berubah total. Bahkan sampai sekarang gue masih takut buat ketemu dan bicara sama dia. Padahal kalau udah di depan dia gue sering banget berlagak sok berani.”


Meski tidak menjawab, Sky tetap menyimak cerita Aeli dengan seksama. Dia tidak ingin melewatkan satu kata pun.


“Sebenarnya tujuan gue nyakitin Claudia gak lebih karena gue pengen dapet perhatian papa. Gue pengen disayang papa, dimanja, diperhatiin, kaya yang dulu dia lakuin ke gue. Tapi semenjak Claudia hadir, papa udah nggak pernah lakuin itu lagi. Yang ada dipikiran papa cuma Clau, gue kaya nggak dianggep.”


Aeli mengambil nafas dalam, menghembuskannya pelan lalu kembali melanjutkan ceritanya.


“Gue bakal lakuin apapun biar papa bisa perhatiin gue lagi, sekalipun gue harus nyakitin adik tiri gue sendiri. Demi apapun gue gak peduli asal keinginan gue terkabul. Sayangnya, ekspektasi nggak seindah realita, Sky. Papa marah besar tiap anaknya gue ganggu dan malah balik nyakitin gue. Dia kaya nggak sadar kalau gue juga anaknya.” Kekehan miris itu muncul kembali, menghadirkan rasa sesak di dada kiri Sky.


“Gue gak ngebela diri, tapi gue punya alasan ngelakuinnya. Dari dulu gue udah berusaha buat dapet perhatian papa. Jadi anak baik, banggain papa, baik-baikin Clau padahal gue benci banget. Tapi usaha gue nggak ada yang berhasil. Papa tetep nggak peduli sama gue.”


Hampir saja Aeli menitikkan air mata setelah menyelesaikan cerita sepanjang rel kereta. Buru-buru dia menyeka bawah matanya sebelum dirinya kembali terlihat menyedihkan di hadapan Sky. Menggantinya dengan tawa kecil.


“Sorry. Gue emang suka kebablasan kalau cerita. Kalau lo pengen julid gapapa julid aja, Sky. Jangan ditahan. Takutnya jadi bisul.” Aeli menyerocos asal. Membuat Sky yang sejak tadi diam, menatapnya sayu, kini ikut tersenyum.


“Kamu kuat, Aeli. Kamu orang paling kuat yang pernah saya temui,” ungkap Sky. Aeli terdiam, meneliti manik coklat itu, mencari kebohongan. Sayangnya hanya ketulusan dan kehangatan yang dia dapatkan.


“Saya yakin, tanpa kamu melakukan hal seperti itu pun pasti suatu saat nanti papamu bakal kembali. Ngasih perhatiannya ke kamu lagi.”


“Mustahil, Sky. Masih dianggap anak aja gue udah bersyukur banget. Seenggaknya papa masih inget pernah bikin gue.”


“Gak ada yang mustahil kalau kamu yakin, Li.”


Perkataan Sky kembali membuat Aeli menahan air matanya agar tidak tumpah. Sudah lama dirinya tidak mendapat kalimat semangat seperti ini. Kalimat yang membuatnya merasa bahwa mimpinya bukan sekedar mimpi.


“Sky, makasih ya karena udah sudi dengerin cerita gue dan ngasih respon positif. Lo baik banget, gue sampai bingung gue harus bilang apa selain makasih.”


Sky mengembangkan senyum tulus. Mengangguk pelan. “Kamu gak perlu bilang apa-apa, Li. Malah seharusnya saya yang berterima kasih karena kamu percayain saya sebagai pendengar cerita kamu.”


Aeli sendiri tidak tahu sejak kapan dirinya bisa seterbuka ini pada orang baru. Menceritakan kisah kelam yang berusaha dia sembunyikan sebisanya tanpa beban. Seolah, dirinya benar-benar mempercayai cowok ini. Aeli harap, pilihannya menceritakan hal tersebut pada Sky bukanlah pilihan yang salah.


...•••...


Setelah mengumpulkan niat semalaman, akhirnya di sinilah Aeli sekarang. SMA Flourst yang menjadi tempatnya menimba ilmu dua tahun terakhir. Semenjak Aeli dibawa kabur oleh Clara, tidak ada tanda-tanda bahwa Mahesa mencarinya. Sekedar menelepon dan memaksanya pulang pun nihil.


Aeli bingung harus bersyukur atau meratap, Mahesa tidak mengganggunya tetapi juga tidak memperhatikan dirinya. Seolah memang keinginannya sejak lama untuk menyingkirkan Aeli dari rumah. Entahlah, yang jelas hati Aeli sedikit tergores karena hal itu.


“Kayanya nanti bakal banyak anak-anak yang julid-in lo, Li. Pokoknya lo jangan sampai kepancing. Gue lagi ogah ngeladenin drama lo,” celetuk Clara seraya menyapukan lipstik pink oranye di bibir indahnya.


Aeli menolehkan kepala pada Clara yang masih duduk di kursi kemudi sambil berkaca. Jujur saja, Aeli juga sedang malas meladeni emosinya.


“Gue berusaha kalem sebisa gue.”


“Gue agak ragu sih.”


“Sama.”


Akhirnya mereka sama-sama menghembuskan nafas panjang. Setelah itu, Clara segera mengajak Aeli keluar dari dalam mobil. Kembali menghadap kenyataan.


Berulang kali Aeli mencoba mengatur nafasnya seraya memejamkan mata. Merasa lebih baik, Aeli memberanikan diri membuka pintu mobil. Kala dirinya keluar, kala itu pula tatapan sendunya berubah datar dan dingin. Dirinya kembali seperti Aeli yang dikenal oleh banyak orang.


Karena mereka sampai di sekolah sepuluh menit sebelum bel, otomatis sudah banyak murid yang hadir. Perhatian mereka teralihkan begitu melihat figur Aeli dan Clara berjalan ke dalam gedung sekolah. Seperti biasa, langkah keduanya kembali menjadi pusat perhatian. Bagai sebuah tontonan yang tidak boleh dilewatkan.


“Kasus yang waktu itu kelanjutannya gimana woi? Si Aeli gak dihukum sama pihak sekolah?” tanya seorang siswi bernama Anala. Masih memperhatikan Aeli dari kejauhan.


Ivy mengedikkan bahu. “Nggak kali. Buktinya dia dibolehin masuk tuh.”


“Kirain kemarin-kemarin dia nggak masuk karena di skors, taunya enggak.” Mae mengimbuhi.


“Padahal bagusan kalau dia di skors, ya. Gak drama sana sini.”

__ADS_1


Ivy dan Mae mengangguk-angguk membenarkan perkataan Anala.


“Gue aja liatnya udah capek lho. Tiap hari nyari masalah mulu sama Claudia. Gak bosen apa?”


“Padahal si Claudia anteng-anteng aja ya nggak? Dianya aja yang heboh suka nyari masalah.”


“Tuh cewek kalau nggak bikin gara-gara sehari kayanya bakal sekarat deh.”


“Kalau nggak gitu dia nggak bakal ada yang merhatiin. Biasalah orang caper.”


“Siapa yang caper?”


Ketiganya yang tadi masih asik menggosip langsung melebarkan mata, menatap satu sama lain dengan tatapan terkejut. Saking fokusnya membicarakan Aeli, mereka sampai tidak sadar jika objek yang mereka bicarakan sudah berdiri di dekat mereka sambil memasang raut sedatar triplek.


“A-aeli? S-sejak kapan lo di sini?” Ivy gugup. Suaranya memelan nyaris tak terdengar.


Sedangkan dua temannya yang lain meneguk ludah, ketakutan.


“Sejak kapan pertanyaan dibalas dengan tanda tanya?” Dari intonasinya pun sudah jelas jika Aeli sedang menahan gondok setengah mati.


Clara yang tadinya ingin menghindari drama malah ikut dibuat kesal dengan ucapan mereka. Alhasil dia berdiri di sebelah Aeli sambil melempar tatapan penuh intimidasi.


“Lagi gosipin Aeli, ya? Kok bisik-bisik? Gak langsung di depan orangnya sekalian? Nih orangnya udah nongol.”


Ketiganya kicep, menyenggol lengan satu sama lain. Senyum sinis terukir di bibir Aeli, manusia-manusia ini tidak lebih dari para pengecut yang senang menjelek-jelekkan orang lain kala orangnya tidak ada. Tetapi ketika dihampiri, mereka bertingkah seperti tikus got yang tidak punya harga diri.


“Lain kali kalau berani gosipin orang siapin nyali yang gede dong. Minimal berani ngelawan kalau orang yang kalian gosipin nggak terima,” sarkas Aeli. “Biar nggak malu-maluin juga.”


Aeli mengangkat tangannya ke udara, membalikkan tempat sampah yang sejak tadi berada di belakang tubuhnya hingga isinya jatuh mengotori tubuh tiga gadis tadi. Membuat mereka bahkan murid-murid lain tersentak kaget. Aroma tak sedap menguar, kontan membuat Clara menutup hidung. Sedangkan Alana, Ivy dan Mae masih diam tak berkutik dengan kepala menunduk tanpa berani melawan.


“Is this what you expected, right? So, enjoy it.”


Aeli lantas melenggang pergi tanpa rasa bersalah. Clara terkekeh kecil, mengejek gadis-gadis tadi.


“Siapa suruh punya mulut gak di rem. Kena semprot kan. Rasain!” Clara mengibaskan rambut panjangnya di depan mereka dan segera berlalu menyusul Aeli.


...•••...


“Lo harus minta maaf sama Aeli, gara-gara lo dia sakit dan gak masuk sekolah beberapa hari ini!”


Suara Dylan menggema di ruang kelas 11-5. Membuat beberapa murid yang masih tersisa menaruh tatap ke arah mereka.


“Kenapa jadi gara-gara gue?” sahut Dipta tidak terima.


Dylan yang kini berdiri di sebelahnya berkacak pinggang. Posenya persis seperti bapak-bapak yang tengah mengomeli anaknya karena ketahuan pulang malam.


“Pikir sendiri, goblok!” Dylan hilang kesabaran.


Dipta berdecak kesal. Rey kemudian ikutan mengimbuhi. “Kata gue sih mending lo minta maaf, Dip. Betah banget lo hidup di atas rasa bersalah.” Cowok itu geleng-geleng tidak habis pikir.


“Setuju. Gimana pun Aeli jadi sakit gara-gara lo.” Kini Fabian yang berujar. “Coba aja waktu itu lo gak cari masalah, kacauin acara makan dia dan hampir nampar dia, pasti dia gak bakalan sakit.”


Kepala Dipta mendadak pusing, jujur saja. Dia dikeroyok oleh tiga cowok bermulut ringan yang seolah tidak menerima negosiasi sama sekali dalam bentuk apapun. Dipaksa meminta maaf pula. Poor Dipta.


“Kita nggak mau tau ya, Dip. Pokoknya lo harus minta maaf. Lo harus dapet maaf dari Aeli,” perintah Fabian mutlak.


“Sepenting itu maaf dia buat lo?” Dipta masih mencari celah untuk menolak.


“Buat lo! Kita cuma nggak mau kalian berantem terus tiap ketemu.”


“Masalahnya apa?”


Fabian makin geram. “Bikin pusing, sialan! Bikin malu! Masa raja dan ratu Flourst tiap ketemu kaya kucing sama anjing? Gak like ah.”


Dipta mendengkus kasar. Moodnya rusak karena teman-temannya itu.


“Pokoknya ntar istirahat atau pulang sekolah udah udah harus dapet maaf dari dia. Eh dia udah masuk belum sih?” tanya Fabian lagi.


“Sky, si Aeli tadi masuk kan, ya?” tanya Dylan ke Sky yang tengah sibuk mengerjakan sesuatu di mejanya.


“Kok nanya gue?”


“Terus nanya siapa, Adek? Kan di sini cuma lo yang deket sama dia.”


“Oh ya, hubungan lo sama Aeli udah sampai tahap apa, Sky? Kayanya dia tertarik banget tuh sama lo,” imbuh Tirta yang sejak tadi memainkan game di ponselnya. Tanpa mengalihkan tatapan dari benda persegi itu.


“PDKT? Atau mungkin udah jadian ya lo berdua?”


Sky geleng-geleng.


“Emangnya enggak? Lo gak punya perasaan apapun gitu ke dia?” tanya Fabian penasaran.


“Kalau gak ada perasaan mah mana mungkin malam-malam belain jenguk si Nyai.” Rey menyeletuk santai. Teman-temannya kontan membelalak terkejut.


“Ebuset, kapan? Kok aing nteu nyaho'?” Dylan bertanya-tanya.


“Kemarin malam. Ya kan, Twins?” Rey mengangkat alisnya berulang kali. Raut tengilnya terlihat super duper menyebalkan. Cowok itu memang ember banget, jangan kaget.


“Waduh. Diem-diem gerak lo ya, Sky.”


“Gaslah. Kita dukung kok lo sama Aeli. Siapa tau lo bisa ubah dia jadi baik, kan? Aura api kaya Aeli mah cocoknya sama aura salju kaya lo.” Fabian berkata sok bijak.


“Adek gue udah gede rupanya. Abang bangga sama kamu, Dek.” Dylan mengacak rambut Sky dan langsung ditepis kasar.


“Geli, Bulan!”


“Dylan dek, Dylan!”


“Bulan.”


“Serah lo, bangkek!” Dylan mendadak emosi. Sky dan mereka kontan terkekeh melihat wajah sebalnya.


Sedang Dipta, cowok itu masih bergelut dengan pikirannya tanpa mendengarkan celotehan teman-teman berisiknya itu. Dipta dilema antara meminta maaf pada Aeli atau tidak. Jujur, gengsinya sangat mendarah daging dan sudah tidak tertolong. Selain itu dia juga sedikit malu berhadapan langsung dengan Aeli setelah apa yang sudah dilakukannya beberapa hari lalu.


Iya, Dipta merasa bersalah dan menyesal di saat yang sama. Siraman kalbu yang teman-temannya berikan ternyata cukup berpengaruh.

__ADS_1


“Tinggal minta maaf doang, kan? Gak susah.” Dipta meyakinkan diri sendiri.


...•••...


__ADS_2