Skaeli

Skaeli
fourteen


__ADS_3

“Menurutku Kakak itu sebenarnya pintar loh, mungkin karena malas aja nilai akademik Kakak nurun drastis. Coba mulai sekarang Kakak biasain rutin belajar tiap malam, baca-baca buku pelajaran, ngerjain latihan soal, aku yakin pasti ....”


Dipta sudah tidak fokus mendengarkan penuturan Claudia. Otaknya sejak tadi tidak bisa diajak kompromi dan malah memikirkan ucapan Tirta saat di kantin sekolah.


Kenapa Dipta malah memikirkannya, ya? Apa karena Dipta masih punya hutang yang belum dia tuntaskan? Mengapa juga Dipta harus pusing-pusing mempedulikan semua itu? Toh, orang yang bersangkutan juga sering tidak tahu diri. Lantas buat apa Dipta repot-repot meminta maaf?


“Nah, soal ini juga sebenarnya udah keluar pas kelas sepuluh loh, Kak. Kalau Kakak masih ingat dasarnya pasti Kakak bisa nyelesaiin soal ini.” Claudia menutur sambil menunjuk salah satu soal di buku paket.


Saat ini Claudia tengah menemani Dipta belajar, menjelaskan materi yang tidak Dipta pahami. Meskipun Claudia adik kelas Dipta, tetapi soal yang ditunjukkan Dipta lumayan mudah dan bisa dia selesaikan hanya dengan memahami dasar-dasarnya.


Claudia memiliki otak yang pintar dan sangat cepat menyerap pelajaran. Tidak salah jika Dipta memilih Claudia menjadi teman belajarnya.


“Coba Kakak selesaiin dulu. Nanti kalau udah selesai aku cek bener apa nggak,” tutur Claudia tidak mendapat respon apapun dari kakak kelasnya itu. Sang empu malah melamun sambil memainkan bolpoin di dagunya.


“Kak? Kak Dipta.” Claudia memanggil.


“Hah?” Dipta akhirnya keluar dari dunia lamunannya. “Kenapa?”


“Kak Dipta dari tadi nggak dengerin penjelasan aku, ya?” tanya Claudia sendu.


“Denger kok. Soal yang mana yang perlu gue kerjain?” Cowok itu berusaha fokus dan menghalau jauh-jauh wajah Aeli dari otaknya.


“Ngapain lo mikirin dia sih, Dip? Gak penting.”


Claudia tersenyum tipis, menunjuk soal yang harus Dipta kerjakan. Beberapa menit berlalu Dipta masih fokus berkutat dengan soal itu meski harus memutar otak dengan keras karena tadi tidak terlalu mendengarkan penjelasan Claudia.


Namun selang beberapa detik kemudian fokus Dipta langsung buyar melihat Aeli muncul di kantin sekolah bersama Clara. Dua gadis itu tampak tengah bercanda ringan dan Dipta gagal mengalihkan tatapannya dari Aeli yang terlihat sangat manis ketika tertawa. Cih, bisa-bisanya wajah gadis itu berubah-ubah seperti bunglon.


“Kak Dipta lagi liatin siapa?” Suara Claudia mengambil alih. Dipta menoleh pada Claudia yang kini menatapnya kebingungan.


“Bukan siapa-siapa,” sahutnya. Melanjutkan kegiatan sebelumnya.


Claudia yang penasaran lantas menoleh ke arah pandang Dipta dan mendapati sosok Aeli serta Clara di sana. Kerutan tipis muncul di kening Claudia. Apa mungkin Dipta melihat kakak tirinya itu? Tetapi, mengapa?


Memilih mengabaikan, Claudia kembali menyorot Dipta yang terlihat fokus. Sudut bibir Claudia tertarik membentuk senyum. Dia selalu suka memandangi wajah tampan itu dan semoga dia bisa terus memandang Dipta lebih lama lagi.


“Jangan biarkan waktu ini cepat berlalu, Tuhan.”


•••


Aeli tidak bisa menahan senyum selama bertukar pesan dengan Sky. Hatinya terasa berbunga-bunga, balasan Sky yang sederhana dan terkesan polos itu bikin dia ingin guling-guling saja ke tanah. Gemes banget loh!


Aeli mengangkat kepala, senyumnya makin lebar mendapati Sky yang juga menatapnya dari seberang sana. Diselingi senyum manis pula. Bagaimana Aeli tidak melting coba?


Clara yang sejak tadi memperhatikan kelakuan Aeli hanya bisa geleng-geleng. Tidak habis pikir mengapa Aeli dan Sky harus bertukar pesan sedangkan posisi mereka saja hanya berjarak tiga meja.


Kurang kerjaan, itu kata Clara.


Ngomong-ngomong di meja ini ada sepupu Clara juga. Entah ada angin apa bocil cerewet itu tiba-tiba ikut gabung bersama Aeli dan kakak sepupunya. Biasanya juga mojok sendirian sambil merhatiin ketos Flourst.


“Kak Aeli sama kak Sky makin deket ya kayanya? Kok gampang banget, sih?” cerocos Tiffany. Nada bicaranya terdengar tidak terima.


“Gampang lah orang si Aeli ngegas mulu kaya sepur.” Clara menyahut.


“Ih, aku dari dulu ngegas terus kok gak dapet-dapet?”


“Sky nggak tertarik sama lo, Cil.”


“Sama kak Aeli tertarik gitu?”


“Menurut lo aja.” Clara menggeser laman instagram-nya sambil menyesap jus apel.


“Aku yang berjuang kak Aeli yang disayang.” Tiffany cemberut. Membetulkan letak kaca mata bundarnya.


“Gue juga berjuang, Nyet.” Aeli menyeletuk tidak santai.


“Tapi perjuangan aku lebih besar.”


“Masih besar cinta gue.”


“Perjuangan aku unlimited.”


“Cinta gue infinite.”


“Berisik woi!” seru Clara frustrasi. Kepalanya mau pecah mendengar perdebatan dadakan mereka.


Menghadapi Aeli saja Clara sudah mau gila, ini malah ditambah Tiffany. Apa nggak makin gila tuh. Mana dua-duanya bulol Sky pula. Tobat, tobat.


“Sepupu lo gue gampar ikhlas nggak, Clar?” tanya Aeli. Tiffany siaga satu.


“Gampar aja.”


“Kak Aeli jangan macem-macem loh. Mamaku galak,” sahut Tiffany songong.


Aeli mengejek, lalu membalas pesan Sky dan tersenyum lagi. Benar-benar gila orang ini, pikir Tiffany.


“Gimana kalau seandainya pas ke ultahnya kak Rinda aku ngajak kak Sky, ya? Jadi pengen pdkt lagi deh.”


Perkataan Tiffany bikin Aeli melotot horor. Sedang yang ditatap hanya memasang tampang tak berdosa.


“Coba kalau berani.”


Tiffany ngakak melihat respon Aeli. Ngakak campur ngeri sebenarnya. Tapi dia puas bisa bikin Aeli bete. Kapan lagi bisa jahilin ratu bully Flourst. Wkwk.


“Lo diundang juga, Tif?” tanya Clara.


“Diundang lah. Orang kak Rinda kenal sama aku.”


“Kenalan lo banyak banget buset. Kapan kenalnya?”


“Nggak tau.”


Clara menyelidik. “Mau gandeng siapa? Sky? Mati duluan lo.”


“Pengen sebenarnya, tapi—”


“Pengen mati?” sela Aeli. Tiffany membelalak kaget. Bikin jantungan saja Aeli ini.

__ADS_1


“Pengen gandeng kak Sky woi! Tapi gak berani. Takut dipites Kak Aeli.” Gadis itu menyengir. “Jadi mau ngerayu mas ketos aja, siapa tau luluh, kan.”


“Good luck.” Aeli dan Clara berujar bersamaan sambil menepuk pelan pundak Tiffany.


Bukannya semangat dia malah minder. Sesedih itu ya dirinya sampai yang memberi semangat pun lemah, letih, lesu, loyo, lunglai, letoy gitu?


Aeli sebenarnya masih menimang-nimang dalam hati. Bingung bagaimana cara mengajak Sky menjadi pasangannya di pesta ulang tahun Rinda. Aeli malu, takut juga kalau tiba-tiba Sky menolak dirinya. Meski Sky selalu menerima ajakannya, tetap saja hati kecil Aeli was-was. Rasa minder pasti ada lah walau sedikit.


“Lo belum ngajak Sky, Li?” Clara bertanya. Dibalas gelengan pelan oleh Aeli.


“Malu,” balas Aeli sambil memposisikan tangan di kedua pipi.


“Dih.”


“Maaf banget tapi aku pikir selama ini kak Aeli nggak punya malu.” Tiffany mengatakannya seenak jidat. Jika Aeli tidak ingat manusia ini sepupu Clara mungkin sudah dia injak-injak sampai rata.


“Emang harus banget ya gue ngajak duluan?” Aeli bertanya.


“Nggak juga. Tunggu aja dia ngajak duluan. Kalau nggak diajak ya terima nasib.”


“Kedengarannya agak mustahil gitu ya kak Sky ngajak duluan.”


“Kenapa mustahil?”


“Ya buktiin aja nanti. Aku sih no comment.” Kepala Tiffany langsung ditoyor oleh Clara.


“Gaya lo, Cil. No comment segala. Tapi bener sih kata dia, liat aja nanti Sky bakal ngajak lo apa nggak.”


Wajah Aeli berubah murung. Segala jenis pikiran negatif nemplok di otaknya. Andai Aeli tidak mendadak punya malu begini, mungkin dia sudah langsung mengajak Sky tanpa basa basi. Sial memang, seharusnya rasa malu Aeli tidak muncul disaat seperti ini.


“Kalau nggak ada inisiatif dari Sky, ikutin aja saran gue kemarin,” bisik Clara dan Aeli langsung paham apa yang dimaksud cewek itu.


Satu nama melintas tidak sopan di otaknya. Siapa lagi kalau bukan Dipta Prahardja.


•••


Aeli yang baru sampai ke parkiran dibuat terkejut kala melihat figur Dipta tepat di samping mobilnya. Gadis itu mengerut dalam, bertanya-tanya apa yang Dipta lakukan di sana. Detik berikutnya Aeli melanjutkan langkah dan berhenti di depan cowok itu dengan tatapan menyelidik.


“Ngapain lo?” ketus Aeli.


Dipta yang sejak tadi bersandar di mobil Aeli melepas kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidung lalu menyorot Aeli lekat-lekat. Seragam yang tidak terlalu rapi dan satu tangan yang berada di saku celana membuat cowok itu terlihat sangat tampan. Demi apapun, Dipta benar-benar mempesona sekarang.


Satu sudut bibir Dipta terangkat, dia masih belum mengatakan apapun melainkan sibuk memperhatikan wajah jutek Aeli. Sedang yang ditatap kini menghela nafas panjang, muak.


“Minggir. Gue mau masuk.”


Dipta sama sekali tidak mendengarkan perintah itu.


“Minggir gue bilang. Gausah cari gara-gara deh. Gue lagi gak mood.”


“Gue lagi gak mau cari gara-gara.” Dipta akhirnya membuka mulut.


“Terus? Mau ngelabrak gue karena jutekin cewek lo?”


Dipta tidak menjawab, dia maju beberapa langkah dan berhenti kala sampai tepat di depan Aeli. Karena Dipta cukup tinggi, alhasil Aeli terpaksa mendongak agar bisa melihat wajah menyebalkan cowok itu.


“Jadi pasangan gue di acara ulang tahun Rinda.”


Kalimat itu meluncur keluar tanpa beban dan tentunya berhasil membuat mata indah Aeli membola. Raut keterkejutan mendominasi seketika.


“Apa lo kata?”


“Jadi pasangan gue, budek.”


“Kobam lo, ya?”


Tak mempedulikan penuturan Dipta barusan, Aeli berjalan melewati cowok itu untuk segera menghampiri mobilnya. Namun langkahnya terhenti karena Dipta tiba-tiba menahan pergelangan tangannya. Aeli cukup terkejut, jantungnya berdegup kencang dengan sekujur tubuh yang tiba-tiba mendingin.


“Gue juga mau minta maaf soal sikap gue selama ini. Gue salah karena sering cari masalah sama lo.” Dipta menutur. Menyorot Aeli yang sama sekali tidak menatapnya.


Aeli mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan, berusaha menahan rasa marah kala Dipta menyentuhnya agar tidak meledak tiba-tiba di sini. Tangannya mengepal kuat dan mungkin saja Dipta menyadari setegang apa tubuhnya sekarang.


“Gue gak nerima maaf dari siapapun. Lepas.”


Dipta menghela nafas pelan, berhenti di depan Aeli agar dapat melihat wajah itu. “Gue serius.”


“Gue gak punya waktu buat maaf-maafan!” Aeli ingin melepaskan cekalan tangan Dipta dari tangannya, tetapi gagal karena Dipta masih menahan.


“Maafin atau jadi pasangan gue.”


“Lepas atau gue teriak.” Aeli membalas datar. Dirinya benar-benar tidak nyaman dengan sentuhan cowok itu.


“Berarti jadi pasangan gue.” Dipta melepaskan cekalan di tangan Aeli begitu saja. Aeli memejamkan mata sejenak sebelum membalas.


“Beneran kobam nih orang.”


Buru-buru dia masuk ke dalam mobil dan segera membawa mobil tersebut meninggalkan area parkir. Dia bergidik ngeri karena sikap aneh Dipta barusan. Sudah minta dimaafkan, maksa menjadikannya pasangan pula. Sentuhan cowok itu, ah sial. Sepertinya Aeli harus mandi bunga secepatnya.


•••


Aeli berlari ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya di garasi. Rasa takut dan cemas karena kelakuan Dipta tadi masih menghantuinya dan Aeli harus sesegera mungkin membersihkan diri. Dia tidak nyaman dengan perasaan yang hinggap.


Aeli pikir ketakutannya bersentuhan dengan orang lain sudah hilang karena saat Sky menyentuhnya selama ini, Aeli sama sekali tidak merasa cemas atau panas dingin. Ternyata dia salah besar, perasaan sialan itu masih ada.


Langkahnya terhenti mendadak mendengar suara batuk-batuk dari arah kamar orang tuanya. Aeli yang penasaran mengintip pada pintu yang tidak tertutup rapat itu tanpa sadar. Matanya menangkap sosok Mahesa yang tengah terbaring lemah di atas kasur.


Apa pria itu sakit? Sejak kapan? Perasaan pagi tadi masih baik-baik saja di meja makan.


Karena khawatir, Aeli memberanikan diri membuka pintu dan masuk. Mahesa sedikit terkejut melihat figur anaknya itu.


“Pa ... Papa sakit?” tanya Aeli hati-hati. Sungguh, dia sama sekali tidak ingin memancing keributan sekarang.


“Kamu butuh apa?” Mahesa bertanya balik. Biasanya Aeli hanya menghampirinya jika butuh sesuatu.


Lantas Aeli mendekat, meneguk ludah sembari mengusir rasa gugupnya jauh-jauh. Bagaimana pun perlakuan Mahesa kepadanya selama ini, Aeli tetap tidak tega melihat papanya itu kesakitan.


“Papa udah minum obat belum?”

__ADS_1


Ada jeda beberapa saat sebelum Mahesa memutuskan untuk menjawab. “Sudah.”


Aeli menghela nafas pelan, nada bicara Mahesa tetap datar dan dingin seperti biasa.


“Kenapa Papa nggak ke rumah sakit, Pa? Aku panggilin pak Wino buat siapin mobil, ya? Kayanya Papa harus—”


“Nggak perlu.”


Semenjak Aeli kembali dari rumah Clara, Mahesa tidak pernah sekalipun berniat menyapa atau menegurnya. Pria itu hanya diam membisu dan terlihat enggan menatap Aeli. Jika boleh jujur, sikap Mahesa yang seperti itu lebih menyakitkan untuk Aeli.


Demi apapun Aeli lebih rela dimarahi atau dimaki-maki daripada didiamkan seperti ini. Sejenak dia merasa benar-benar tidak dianggap oleh Mahesa. Atau mungkin memang begitu?


“Yaudah deh. Aku keluar dulu. Kalau Papa butuh sesuatu panggil aku, ya?”


Mahesa tidak menjawab, bahkan tidak menatapnya. Aeli langsung menyadari ucapannya barusan. Untuk apa juga dia repot-repot menawarkan bantuan, sedangkan Ashila pasti akan selalu ada untuk papanya itu. Bodoh banget.


Mahesa menghela nafas pelan setelah kepergian Aeli. Matanya menatap pintu yang sudah tertutup itu lamat-lamat. Sedikit tidak menyangka Aeli akan memperhatikan dirinya. Mahesa pikir, anaknya itu benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan keadaannya.


•••


Hari ini Aeli memberanikan diri mengajak Sky menemaninya pergi ke toko buku. Sebenarnya Aeli bisa sih pergi sendiri, hanya saja dia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Sky sekaligus ... ya, you know lah.


Kini Aeli sudah berada di atas motor Sky, tersenyum sambil menikmati udara pagi menjelang siang yang cukup menyejukkan karena cuaca hari ini tidak secerah biasanya. Jangan lupakan tangan Aeli yang sudah nangkring cantik di pinggang cowok itu. Bahkan tanpa meminta persetujuan.


Awalnya Aeli hanya mengajak Sky, tidak menyangka jika Sky malah menawarkan diri untuk menjemputnya. Aeli tentu langsung menyetujui dengan senang hati. Kapan lagi kan bisa dijemput pujaan hati tanpa repot-repot merengek seperti anak kecil.


“Sky beneran nggak ada kegiatan apa-apa di rumah? Gue ngajak lo gini, gak ganggu, kan?” cerocos Aeli. Dagunya setia menumpu di bahu lebar Sky. Menyorot wajah manis cowok itu dari samping. Duh, mereka ini sudah seperti pasangan kekasih saja.


“Enggak. Malahan saya senang kamu milih saya buat nemenin kamu.”


Aeli mengulum senyum. “Gue juga seneng lo mau gue pilih.”


Mereka kembali diam, sama-sama sibuk memikirkan topik apa lagi yang harus dibicarakan.


“Kamu—”


“Lo—”


Nah kan, malah barengan gitu.


“Ngomong duluan aja, Sky,” ujar Aeli.


“Kamu aja.”


“Lo aja. Habis lo ngomong baru gue ngomong.”


Sky diam sejenak, ragu sebenarnya. Tapi jika tidak sekarang, kapan lagi?


“Yaudah gue duluan deh.” Secepat itu Aeli berubah pikiran.


“Iya. Kamu mau ngomong apa?” Sky menanggapi. Menunggu kalimat apa yang akan Aeli lontar.


“Itu, lo ... lo ....” Aeli malah jadi ragu untuk melanjutkan.


“Saya?”


“Duh, gimana gue ngomongnya, ya?”


Aeli masih diam, mencerna kalimat yang tepat di dalam otak. Fokusnya teralihkan  karena motor Sky tiba-tiba berhenti. Ternyata mereka sampai lampu merah.


Merasa tidak ada lanjutan dari Aeli, Sky menoleh. Wajah bingung Aeli mengisi pandangannya. Ditatap dari jarak sedekat ini oleh Sky membuat Aeli meneguk ludah. Itu wajahnya bisa mundur sedikit tidak sih? Manisnya kebablasan loh.


“Kamu mau ngomong apa?” tanya Sky. Entah sadar atau tidak suaranya bikin jantung Aeli hampir meledak.


“Ma-madep depan, Sky,” suruh Aeli gugup setengah mampus.


Sky mengerutkan kening, namun tetap memenuhi ucapan Aeli. Detik itu pula Aeli langsung menarik nafas sebanyak-banyaknya sambil menyentuh dada. Hampir saja dia mati mendadak di motor ini karena ulah Sky.


“Kakak itu bengek ya, Ma?” Mendengar celetukan dari motor sebelah refleks membuat kepala Aeli menoleh. Ada seorang gadis kecil yang tengah memandang heran ke arahnya.


Aeli langsung memasang wajah garang, matanya melotot sengaja menakut-nakuti anak itu. Saat ibu anak itu memandangnya, senyum manis langsung terpasang di wajah Aeli. Dibalas senyuman juga tentunya.


“Loh, kamu kenapa nangis?” tanya ibu anak tadi. Keheranan.


Bukannya menjawab tangisnya malah semakin kencang. Membuat beberapa pengendara menoleh heran ke arah mereka. Aeli tersenyum geli. Seru juga menjahili anak kecil.


Tiga detik kemudian, lampu lalu lintas berubah hijau. Sky langsung menjalankan motornya dan tangan Aeli kembali melingkari pinggang cowok itu.


“Kerjaan kamu, ya?” tanya Sky.


“Kerjaan? Oh anak tadi? Enggak tuh.”


“Saya liat kamu melototin anak itu.”


Aeli membelalak kaget. “Liat dari mana?”


“Ini.” Sky menunjuk spionnya. Sial, turun sudah harga diri Aeli. Kresek mana kresek.


“Nyebelin. Kenapa lo harus liat sih?”


“Keliatan.”


Aeli cemberut. Pipinya merona. Membayangkan Sky menyaksikan dirinya yang seperti itu, rasanya Aeli ingin langsung menghilang saja dari muka bumi.


Melihat raut Aeli dari pantulan kaca, Sky mati-matian menahan tawa. Baru kali ini wajah gadis itu terlihat sangat lucu di matanya.


“Jangan ketawa,” tegur Aeli setelah menepuk pelan punggung Sky.


Sky menetralkan raut wajahnya kemudian. “Enggak.”


Saking asiknya dengan dunia masing-masing mereka berdua sampai melupakan pembicaraan yang terjadi sebelumnya. Melihat Sky yang tidak berusaha menahan tawa lagi, Aeli tersenyum. Kembali mengeratkan pelukannya di pinggang cowok itu lalu meletakkan pipinya di punggung Sky.


“I swear I'll make you mine.” Dia bergumam rendah. Memastikan Sky tidak mendengarkan ucapannya barusan.


Aeli tidak tahu jika Sky tengah menahan getaran hebat di dadanya karena ulah Aeli yang seenak jidat mengeratkan pelukannya. Sepertinya gadis itu sengaja ingin Sky mati kagok di sini.


...•••...

__ADS_1


__ADS_2