
...•••...
Flourst Info yang telah memposting berita beberapa menit lalu langsung membuat geger seantero Flourst. Tidak hanya murid-murid lain, bahkan Dipta, Rey dan teman-temannya yang lain dibuat terkejut dengan berita yang beredar. Mereka sibuk mencari tahu keakuratan berita tersebut.
flourst.info
[pic]
Liked by liziana.claraaa and others
flourst.info Waduh! Ratu Flourst udah punya pawang nih😲
View all 409 comments
liziana.claraaa congrats beb🙈 @fy.aeliya
tiffanypricil14 heh! ini beneran?!
jena_mariska kapal gue berlayar woi
afrindaaaaa_ how cute😍 congrats say @fy.aeliya @skylazaro
ronapamella inimah 100% real no tipu-tipu
erlanggadylan eh? hah?
rey_kav53 kadieu buru! @skylazaro
fabianaksanio syok berat njir
tirtaaatatatata gercep bgt lu bang @skylazaro
skaelicute wah! kapal kesayangan akhirnya berlayar
talifans #kawaltalisampaiberlayar
gladysaa28 cocokan sama kak dipta
istrisahchaeunwoo lucu bgt sih
linmelanie cocokan sama kak dipta(2)
geraldjonathan cocokan sama gue😎
“Pantesan tadi pagi Aeli senyumnya cerah banget. Ternyata karena ini toh,” kata salah satu murid begitu melihat berita yang beredar di FI.
“Tipe Aeli rupanya yang unyu-unyu gemes gini, ya? Lucu banget sih.”
“Udah nebak kalau mereka bakal jadian sih. Tapi tetep aja kaget anjir!”
“Btw, ini admin FI dapet info dari mana, ngab? Gercep amat.”
Mereka semua sibuk membicarakan berita tersebut. Karena Aeli dan Sky cukup terkenal maka dari itu apapun berita yang bersangkutan dengan mereka pasti akan menjadi buah bibir murid-murid lain.
“Bentaran deh. Ini mereka kapan jadiannya anying?” tanya Tirta penasaran.
Ngomong-ngomong kelimanya tengah berada di warung belakang sekolah. Kecuali Sky yang masih berada di ruang guru karena tadi sempat dimintai tolong oleh guru yang mengajar untuk membawa tumpukan buku tugas.
Mengapa harus Sky? Karena hari ini dia piket.
“Adek gue emang gercep banget deh. Bangga banget gue,” kata Dylan dramatis.
“Yang jadi pertanyaannya nih ini orang. Lo beneran nggak tau apapun? Sama sekali?” Fabian menyelidiki Rey yang juga sempat terkejut melihat postingan di FI.
“Apaan? Karena gue saudaranya terus gue harus tau semuanya gitu?” Rey sensi.
“Lo kan mata-mata kita. Ya kali mata-mata ketinggalan berita.” Fabian berdecak tiga kali.
“Mata-mata mata lo!”
“Si adek ke mana sih anjir? Mulut gue udah gatel pengen ngucapin selamat dia malah kagak nongol-nongol,” celetuk Dylan.
“Lo pada bakal percaya nggak kalau ternyata Sky lagi pacaran sama Aeli?” Tirta menatap mereka satu persatu.
“Lah jangan-jangan iya? ****** lagian kita ngapain ke sini dah? Jadi gak bisa liat keuwuan perdana Skaeli kan.”
“Udah nyiapin nama couple aja lo,” cibir Tirta.
“Woah iya dong! Gini-gini gue tuh penumpang VVIP kapal Skaeli,” aku Dylan bangga. Dibalas decihan sinis oleh Tirta.
“Tuh yang ngajak.” Rey menunjuk Dipta yang asik merokok sambil menggulir layar ponsel. Punggungnya di sandarkan di tembok dengan posisi kaki selonjoran di atas bangku.
Dipta yang mendengar namanya disebut kontan mengangkat bola mata, menyorot teman-temannya datar. “Siapa suruh ngikut,” sahutnya dingin.
“Iya juga, ya? Ngapain kita ngikut?” Dylan terbingung-bingung.
...•••...
Jangan tanya bagaimana informasi tentang status baru hubungan Sky dan Aeli bisa bocor ke Flourst Info. Jawabannya ada di gadis cantik berambut pirang panjang dengan ujung bergelombang penghuni kelas 11-1, dengan nama lengkap Friska Annesley.
Begitu mendengar percakapan Aeli dan Clara pagi tadi, Friska langsung melaporkannya ke admin FI. Tidak lupa mengirimkan bukti keakuratan informasinya yakni rekaman pembicaraan dua gadis yang dia dengar.
Gadis itu tidak memiliki niat buruk, sama sekali. Dia hanya ingin meramaikan FI dan membuat gempar seantero sekolah. Lagipula tidak ada salahnya jika hubungan Sky dan Aeli diketahui publik, toh dua manusia itu tidak keberatan asal kenyamanan mereka tidak terganggu.
“Dasar mata-mata lo emang,” cibir Jena seraya memutar bola mata.
“Jangan-jangan yang selama ini ngirim berita-berita soal Aeli ke admin FI itu lo, ya?” tebak Rona.
Friska menyengir, menunjukkan deretan gigi rapinya yang putih. “Yoi dong. Kaget kan lu pada?”
“Kaget sih nggak. Apalagi kalau Aeli tiba-tiba dateng jambak muka lo, beneran gak bakal kaget dah gue,” damprat Rona bikin Friska cemberut.
“Aeli nggak bakal marah kok. Lagian gue juga nggak pernah ngirim berita buruk soal dia.”
“Siapa tau. Ya nggak, Ron?”
Rona mengangguk setuju. “Lo kayanya nge-fans berat ya sama Aeli sampai kehidupan asmaranya aja lo urusin?”
“Ih gila lo pakai nanya! Gue udah nge-fans banget tau sama Aeli dari kelas sepuluh. Gue tuh sebenarnya pengeeeen banget temenan sama dia, sahabatan gitu kaya dia sama Clara. Tapi kayanya nggak mungkin deh soalnya Aeli tertutup banget.” Friska menjelaskan yang dia rasakan.
“Selain itu, gue juga takut sih sama dia makanya gue milih buat temenan sama curut kaya kalian aja.”
“Eh si anjir. Gak bersyukur banget lo kita temenin!” damprat Jena tidak terima.
“Bersyukur gue, bersyukur banget malah. Tapi kalau bisa temenan sama Aeli bakal lebih bersyukur lagi dah gue.”
“Yang bikin lo suka banget sama dia apa?” Rona bertanya.
Friska berpikir sejenak. “Nggak tau. Di mata gue tuh dia keren banget. Walaupun seantero sekolah bilang dia jahat tapi menurut gue enggak. Lagian semua orang juga tau kalau Aeli bakal berulah kalau ngerasa diganggu. Kecuali sama Claudia sih.”
__ADS_1
“Menurut gue yang bikin dia disebut ratu bully juga karena sering nyiksa Claudia tanpa alasan. Nggak sih, gue yakin Aeli punya alasan.”
“Contohnya?”
“Karena Claudia nggak sebaik yang orang-orang kira dan cuma Aeli yang tau busuknya dia kaya apa.” Friska berkata dengan yakin.
“Sembarangan lo mah. Kalau seandainya emang Aeli-nya yang emang suka cari gara-gara gimana? Si Claudia udah kena bully, kena fitnah pula.” Rona geleng-geleng.
“Lo percaya sama muka polosnya dia? Gue sih enggak. Gue yakin tuh orang aslinya nggak gitu. Karena gue tau Aeli kalau ngelakuin sesuatu pasti punya alasan kuat. Kita aja yang nggak tau.”
“Masuk akal sih. Selama gue perhatiin apa yang Aeli lakuin, entah itu bully orang atau bentak-bentak orang pasti karena orang itu duluan yang cari masalah sama dia. Misalnya dorong dia lah, jatuhin makanan dia lah, numpahin minuman di meja dia lah ....” Suara Jena memelan di akhir.
Rona dan Friska langsung terbahak mengingat jika Jena juga pernah hampir terkena semburan berbisa seorang Aeli beberapa waktu lalu.
“Asli sih! Muka lo pas itu lucu banget anjir!” ceplos Friska.
“Hahaha mana pucet banget kaya mayat!” timpal Rona.
“Udah dong woi! Kenapa malah jadi ngetawain gue sih?” Muka Jena memerah karena malu.
“Siapa suruh ngingetin,” damprat Friska seraya menghapus jejak bening di sudut mata.
“Gak ada yang nyuruh!” Jena langsung cemberut.
...•••...
Aeli yang tengah berjalan menuju kantin bersama Clara kontan menghentikan langkah kala melihat figur seseorang yang menarik perhatiannya di depan sana. Senyum lebar terukir di wajah Aeli. Clara mengernyit kala menyadari Aeli mendadak berhenti, mengikuti arah pandang sahabatnya itu.
“Pantes tuh senyum cerah banget. Ada mood booster rupanya,” celetuk Clara.
“Eh, lo ke kantin sendiri, ya. Pesen aja yang lo mau ntar gue bayarin,” kata Aeli semringah.
“Bilang aja lo mau gue cepet pergi biar lo bisa pacaran, kan?”
“Tau aja si beruk.”
“Kurang ajar lo emang.”
“Udah sana cepetan. Makanan kesukaan lo keburu ludes ntar,” usir Aeli secara halus.
“Ish, iya-iya! Awas aja lo kalau PHP. Gue tikung lo!”
Aeli menatap tajam. Rautnya berubah dalam sekejap seolah siap mengakhiri hidup Clara sekarang juga. Bukannya takut, cewek itu malah terbahak keras kemudian berlalu pergi.
Aeli mencibir sebentar, mengubah rautnya secerah matahari kemudian berlari kecil menghampiri Sky yang semakin jauh di depan.
“Hai,” sapa Aeli kala sampai di sebelah cowok itu.
Sky menoleh, pupilnya otomatis membesar mendapati figur Aeli di dekatnya.
“Hai,” balas Sky. Situasi macam apa ini? Kenapa rasanya canggung banget?
“Eum ... mau ke kantin, ya?” tanya Aeli.
Sky mengangguk. “Iya. Kamu sendiri?”
“Sama, gue juga mau ke sana.”
“Mau bareng?”
Aeli langsung menjawab tanpa berpikir. “Mau!”
Rasanya aneh. Bertemu satu sama lain dengan status yang berbeda cukup aneh rupanya. Apalagi ... ini benar-benar kali pertama untuk mereka.
Ya, katakanlah begitu.
Meskipun tidak ada pemandangan layaknya sepasang kekasih, keduanya tetap berhasil menarik perhatian siapapun yang mereka lewati hingga menaruh tatap. Seolah manusia-manusia itu memang menunggu kedatangan mereka.
“Oh ya.” Aeli menghentikan langkah begitu mereka menginjak pintu utama kantin. Menghadapkan tubuhnya ke arah Sky.
“Waktu itu gue pernah bilang mau traktir lo tapi nggak jadi, kan?” tanya Aeli.
Sky mengerutkan kening. “Kapan?”
“Kapan, ya? Oh pas gara-gara ada parasit yang tiba-tiba ganggu gue. Terus lo nyeret gue ke taman belakang.”
Sky mengingatnya. Saat kali pertama pandangannya benar-benar berubah untuk Aeli.
“Iya, saya inget.” Cowok itu menunggu kelanjutan ucapan Aeli.
“Gue traktir lo sekarang aja, ya? Selama kita kenal sampai pacaran gue gak pernah beliin lo apa-apa. Malah lo terus yang sering nraktir gue.”
Tatapan polos Aeli saat berkata membuat Sky tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Lucu sekali.
“Saya nggak minta dibalikin loh,” katanya jenaka.
“Ish, emang enggak! Tapi kan gue juga pengen sekali-kali traktir lo. Mau ya? Jangan nolak dong.” Puppy eyes Aeli berbinar-binar penuh harap.
“Anggap aja ini pajak jadian dari gue.”
“Loh, kan yang jadian kita, Li. Kok saya dipajakin juga?”
“Ah Sky mah, gak asik. Pacarnya mau berbaik hati loh ini.” Aeli cemberut.
Sky kembali terkekeh, mengusap lembut kepala gadis itu dengan sayang. Membuat beberapa orang yang melihat momen perdana itu memekik tertahan.
Intinya, mereka berdua manis banget!
“Traktir saya deh kalau gitu.”
Mata Aeli menunjukkan binar cerah. “Sky mau?”
“Mau.”
“Yes! Ayo, pesen yang banyak ya. Makannya harus sama gue tapi.”
Sky langsung mengiakan. Senang rasanya bisa melihat Aeli bersemangat lagi seperti biasa. Sky baru sadar, ternyata semangat Aeli itu menular ke dirinya, membuatnya ikut merasakan moodnya semakin membaik.
...•••...
Aeli tertegun kala menginjakkan kaki ke luar kelas. Matanya membulat melihat figur Sky tengah bersandar di dinding dengan satu tangan berada di saku celana, sedang satunya memegang ponsel.
Begitu menyadari kehadiran Aeli, Sky menoleh. Senyum manisnya terukir untuk gadis yang kini cengo karena dirinya. Clara yang berada di sebelah Aeli menyenggol lengan sahabatnya, memberi tatapan menggoda.
“Cie cie yang ditungguin mas pacar. Kenapa nggak bilang-bilang lo bakal dijemput? Tau gini ngacir duluan gue.”
Jujur deh, Clara itu malas banget dijadikan obat nyamuk orang pacaran. Karena baginya itu benar-benar memuakkan. Makanya Clara juga tidak pernah mengajak Aeli saat dirinya pacaran.
“Ye, mana gue tau dia bakal ke sini.”
__ADS_1
“Ah tai, mana manis banget itu senyumnya. Melting dah gue.”
Aeli melotot, melayangkan cubitan kecil di pinggang Clara. “Anak anying! SAKIT! Bercanda doang gak boleh.”
“Gak boleh! Awas lo berani lirik-lirik Sky, gue congkel bola mata lo!” peringat Aeli pelan namun penuh penekanan.
Tobat deh, bikin ngeri. Nggak lagi-lagi Clara gunain Sky buat mancing emosi Aeli. Bisa-bisa dia beneran di cincang abis-abisan sama pawang Sky yang galaknya gak ketulungan.
“Iya-iya! Udah samperin tuh pacar lo! Sepet juga mata gue lama-lama.”
“Gue lebih rela mata lo sepet daripada terpesona sama punya gue,” damprat Aeli lalu menjauhi Clara.
“Idiiiih. Punya temen gini amat.”
Raut Aeli yang semula kesal langsung berubah manis begitu sampai di depan Sky. Dua dimple kecil di sudut bibir bagian bawah terlihat tiap Aeli tersenyum, matanya yang bulat ikut menyipit membentuk sabit.
“Lo mau ke sini kok nggak bilang-bilang sih? Tau gitu gue keluar duluan tadi,” oceh Aeli kontan.
“Sengaja, mau surprise-in kamu. Kaget nggak liat saya?”
“Ih ya kaget lah. Kapan lagi seorang Sky mau bela-belain nungguin Aeli di depan kelas?”
“Saya tungguin tiap hari mau?”
“Mau!” sahut Aeli secepat kilat.
“Tapi ada syaratnya.” Sky mengimbuhi.
Aeli mengerutkan kening, jelas sekali loh raut penasaran tampak dibuat-buat. “Apa tuh.”
“Pulangnya harus bareng saya.”
Aeli tertawa gemas. “Kalau itu syaratnya sih langsung gue penuhin, Sky.”
Sky mencubit pelan pipi chubby Aeli. “Ayo, pulang bareng saya.”
“Ini tawaran atau permintaan?”
“Perintah.”
“Berarti lo maksa dong?”
“Nggak dong. Kan kamu udah setuju.”
Aeli tertawa. Setiap bersama Sky sulit sekali untuk tidak berbunga-bunga. Apalagi Sky yang sekarang jadi berlipat-lipat lebih manis. Juga lebih ekspresif dan tidak secanggung beberapa waktu lalu.
“Kayanya gue emang punya firasat bakal lo antar pulang deh, soalnya gue kebetulan lagi gak bawa mobil.”
Tangan Sky meraih tangan mungil Aeli untuk digenggam. Mengabaikan tatapan murid-murid lain yang sejak tadi ternyata memperhatikan interaksi keduanya. Lantas mereka segera berjalan menuju parkiran.
“Besok-besok lagi boleh?” ucap Sky bikin Aeli kebingungan dan menoleh.
“Apa?”
“Jangan bawa mobil ke sekolah.”
Aeli mengerut. “Terus gue berangkatnya gimana dong, Sky? Masa tiap hari harus naik bus?”
“Kan ada saya.”
“Hm? Lo mau nebengin gue tiap hari?”
“Lebih tepatnya jemput dan anterin kamu pulang.”
Aeli melongo sejenak. Ini kupingnya tidak bermasalah, kan?
“Nggak papa emangnya? Lo nggak keberatan?”
“Nggak. Kan kamu ringan.”
Eh si kampret. “Bukan gituuuu! Ish, nyebelin deh lama-lama.”
Sky tidak tahan untuk tidak tertawa. Sepertinya menjahili Aeli akan jadi hobi baru Sky ke depannya.
“Nggak papa, Li. Jangan nolak, ya?”
Pipi Aeli bersemu. Lihatlah, cuma dilembutin begitu dia langsung lumer. Rasa kesalnya ikut menguap pula. Dasar.
“Hmm,” balasnya singkat.
Begitu sampai parkiran, Sky mengambil helm yang sudah dia siapkan dan memakaikannya di kepala Aeli dengan hati-hati. Tidak lupa merapikan rambut Aeli yang menjuntai dengan jemarinya.
“Thank you..” kata Aeli tersenyum.
Setiap perhatian kecil yang Sky berikan selalu sukses menggetarkan hati Aeli. Hal yang sebenarnya biasa-biasa saja pun bisa menjadi sangat indah jika Sky yang melakukan.
Aeli suka saat lelaki itu menyentuhnya, menggenggam tangannya, mengacak pucuk kepalanya, bahkan memeluknya. Tidak ada yang buruk jika orang itu adalah Sky. Dan Aeli hanya bisa merasakan kenyamanan yang benar-benar menenangkan hanya saat bersama Sky.
Katakan Aeli berlebihan. Tetapi memang itu kenyataannya.
“Li,” panggil Sky sebelum naik ke atas motor. Menatap Aeli lamat tanpa niat berpaling sedikit pun.
“Ya, Sky?” tanggap Aeli. Berkedip satu kali menunggu kekasihnya kembali berujar.
“Saya boleh buat satu permintaan?”
Aeli mengangguk tanpa ragu. “Boleh. Permintaan apa?”
Sky kembali menggenggam tangan Aeli. “Aku-kamu?” Cowok itu menjawab, tetapi dengan nada bertanya.
Otak Aeli buffering. Sinyalnya langsung beralih ke 2G sepertinya.
“Aku kamu?”
Sky mengangguk. Kampretnya tidak berniat menjelaskan lebih detail. Butuh waktu cukup lama untuk Aeli benar-benar paham apa yang coba cowok imut ini katakan. Akhirnya setelah puluhan detik terlewat, Aeli berhasil menangkapnya dengan benar.
“Aku-kamu?” tanyanya sekali lagi. Kali ini ekspresinya lebih berseri.
“Boleh. Aku coba biasain pelan-pelan, ya?”
Sky terkekeh. Menggemaskan sekali mendengar Aeli mengganti sebutannya secepat itu.
“Tapi aku juga punya permintaan buat kamu. Kabulin, oke?”
Sky mengangguk lagi. Aeli balas menggenggam tangan Sky dengan tangan satunya.
“Tetap saya-kamu ya, Sayang. Gak boleh ganti-ganti.”
...•••...
__ADS_1