
...•••...
Setelah beberapa menit dihabiskan di perjalanan, akhirnya tiga manusia tadi sampai di rumah besar milik keluarga Dipta. Sky segera mencari tempat parkir dan memarkirkan mobilnya di sana. Ketiganya kemudian turun, lalu berjalan beriringan memasuki pekarangan rumah tersebut.
Ini kali pertama Aeli menginjakkan kaki di kediaman Dipta, dan itu sama sekali tidak pernah ada dalam bayangannya. Dia juga tidak menyangka jika ternyata Dipta seberada itu.
Keramaian para tamu seketika menyapa indera mereka. Mayoritasnya tentu saja diisi dengan bocil-bocil seumuran Mey. Sedangkan orang dewasa alias pendamping para bocil berkumpul di tempat yang berbeda.
Melihat keramaian dan kebisingan di depannya, kepala Aeli langsung migrain. Gadis itu memejamkan mata sesaat, sekuat tenaga mengusir sesak yang tiba-tiba menyusup ke rongga dadanya.
“Mey udah dateng! Hai, Mey!” sapa si main character acara tersebut.
Gadis kecil bernama Valitha itu tampak cantik dengan balutan dress berwarna peach di tubuhnya. Ditambah sebuah mutiara yang bertengger indah di kepalanya.
“Selamat ulang tahun, Tha. Kamu cantik banget loh hari ini,” ucap Mey semringah.
Valitha menampilkan senyum yang memperlihatkan lesung kecil di kedua pipinya. “Makasih, ya.”
“Sama-sama. Ini kado dari aku, semoga kamu suka.” Mey menyerahkan kado yang dibawanya tadi.
“Wah, makasih lagi, Mey. Ngomong-ngomong kamu dateng bareng siapa?” tanya Valitha, menatap lamat Aeli yang berada di belakang Mey.
Kalau Sky sih Valitha sudah hafal ya, tapi Aeli ... Gadis itu terlihat sangat asing di matanya.
“Nih sama kak Sky sama kak Aeli,” balas Mey memegang tangan Aeli dan Sky. Aeli? Ya jangan ditanya, dia agak terkejut juga mendapat sentuhan tiba-tiba.
Semoga saja fobia sialan Aeli tidak kumat di saat seperti ini. Lantas, dia berusaha mengembangkan senyum manis untuk keponakan Dipta tersebut.
“Kak Aeli siapa?” Valitha mengedip bingung. Tetapi tatapannya tidak beralih sedikitpun dari Aeli.
“Pacar kak Sky. Cantik kan, Tha?”
Mata Valitha langsung berbinar mendengarnya. “Wah. Cantik banget.”
Aeli tersipu. Pipinya memerah dan itu berhasil membuat kekehan kecil lolos dari bibir Sky. Cu banget sih pacarnya di saat blushing seperti itu.
“Makasih ya. Kamu juga cantik banget,"” puji Aeli balik. “Ngomong-ngomong nama kamu siapa?”
“Aku Valitha, Kak.”
“Aku Aeli. Salam kenal dan selamat ulang tahun ya, Valitha.”
“Salam kenal juga Kak Aeli, makasih.” Valitha tersenyum lebar.
“Tapi aku kok nggak asing ya sama nama kak Aeli. Kayak sering denger.” Valitha mencoba mengingat.
“Oh iya. Yang sering disebut sama temen-temen om Dipta kan? Iya nggak sih, Om Sky?”
Demi Tuhan, Aeli hampir ngakak mendengar panggilan yang Valitha lontar untuk Sky. Apa katanya? Om? Seimut ini dipanggil Om? Ampun deh.
Sky mengedikkan bahu, pura-pura tak tahu. Ya daripada kena soal habis-habisan oleh Aeli mending Sky cari aman saja.
“Oh udah dateng?”
Mereka mendongak serempak mendengar suara tersebut. Figur Dipta mengisi bingkai pandangan mereka. Cowok itu tampil dengan kaos putih yang dibalut kemeja kotak-kotak, serta dilengkapi celana hitam panjang. Rambut lurusnya tampak lebih rapi dari biasanya.
Rautnya terlihat datar-datar saja, ya seperti biasa sih.
“Udah. Baru aja.” Sky menjawab.
Dipta menatap Aeli, cukup lama dan Sky menyadari hal tersebut. Sky tahu arti tatapan Dipta untuk Aeli, tetapi dia memilih diam.
“Litha udah kenalan sama kak Aeli?” tanya Dipta pada sang keponakan.
Valitha mengangguk antusias. “Udah dong, Om. Ternyata kak Aeli ini pacar om Sky loh. Litha baru tau.”
Dipta tersenyum tipis mendengar ucapan Valitha. Cowok itu lantas mengusap rambut sang empu dengan lembut lalu menatap Sky dan Aeli secara bergantian.
“Makasih karena udah mau dateng di acara ulang tahun Valitha,” tuturnya pada keduanya.
“Sama-sama.” Sky membalas.
“Bang Sky, Kak Aeli, Mey main ke sana dulu ya sama Litha,” izin Mey.
Lelaki ber-hoodie putih itu mengangguk, mengusap kepala Mey pelan. “Jangan jauh-jauh, ya.”
“Siap, Bang!” seru Mey semangat 45 sambil hormat. “Yuk, Tha,” ajak Mey yang langsung diangguki oleh Valitha.
Setelah kepergian dua bocil tadi, suasana diantara ketiganya menjadi hening. Entah mengapa mereka malah awkward satu sama lain.
Dipta masih setia menatap Aeli dan itu terus berlanjut sampai deheman Sky menyadarkan Dipta. Aeli pun langsung menoleh mendengar suara kekasihnya. Dia terdiam melihat raut datar yang Sky pasang. Bukan hanya terkejut, dia juga terpesona karena Sky jadi keliatan ganteng banget. Ampun deh, udah tau jantung Aeli sensitif malah disuguhin beginian.
“Kalau gitu kalian seneng-seneng dulu aja. Gue mau nyapa tamu-tamu yang lain,” kata Dipta.
__ADS_1
“Nggak mau join sama kita aja, Dip?" Pertanyaan itu terlontar keluar dari bibir mungil Aeli. Mata tatapan matanya sok polos lagi.
Dipta menggeleng. “Nggak usah.”
“Yakin? Kemarin aja lo ngebet banget nyuruh gue dateng, pas gue udah dateng lo-nya malah cabut. Attitude tuan rumahnya gimana sih ini?”
“Tuan rumahnya bukan gue btw.”
“Lah terus?”
“Ini rumah kakak gue. Orang tua Valitha.”
Etdah. Ternyata Aeli salah kaprah.
“Oh sorry. Kirain rumah lo.” Aeli hanya berharap semoga sang pemilik rumah yang asli tidak mendengar ocehannya barusan. Bisa-bisa Aeli kena depak tanpa kasihan.
Dipta menyunggingkan senyum tipis, menatap Aeli dan Sky secara bergantian lalu pamit pergi. Aeli menoleh ke Sky setelah kepergian Dipta. Gadis itu mengernyit mengetahui Sky lebih banyak diam sejak tadi.
Lantas, Aeli menyentuh telapak tangan Sky dengan tangannya, membuat sang empu menatap ke arahnya. Hanya tatapan tanpa kata yang Aeli dapat.
“Kamu kenapa kok diem aja?” Aeli bertanya bingung.
Sky tersenyum, menggeleng. “Nggak papa. Kamu mau muter-muter dulu? Saya tungguin di sini.”
“Kamu nggak ikut? Masa aku sendirian?” Aeli cemberut.
“Kenapa?” Sky malah balik bertanya.
“Harus berdua dong. Kan kita pacaran. Kalau aku sendirian ntar dikira jomblo lagi. Ntar kalau ada yang godain aku gimana? Kamu terima emangnya?”
“Kenapa saya harus nggak terima?” canda Sky membuat mood baik Aeli anjlok tanpa aba-aba.
“Oh gituuu ....” Aeli manggut-manggut. Jelas sekali dia sedang menahan kesal. “Yaudah aku mau nyusulin Dipta aja. Kali aja dia mau nemenin aku,” tekan Aeli di akhir.
Dan perkataannya sukses membuat raut Sky datar kembali. Kan, sekarang malah jadi Aeli yang ketar-ketir. Niatnya balas dendam tapi kok Sky lebih menyeramkan ya? Anjirlah, jangan bilang Sky beneran marah.
“Yaudah gapapa. Saya tungguin di sini.”
Mati gue.
“Sky aku bercanda.” Aeli berujar cepat. Sepertinya Aeli salah jokes deh. Mana Sky lagi sensitif banget kayanya.
“Gak beneran.”
“Saya nggak marah.”
“Apa jangan-jangan gini ya bentukan pacar gue kalau cemburu? Lucu sih, tapi gue takuuuut.”
Menenggak ludah susah payah, Aeli mepet ke Sky. Semakin mengeratkan genggaman tangan mereka. Aeli tidak berani menatap mata Sky untuk saat ini, terlalu mengintimidasi.
“Aku mau di sini aja sama kamu. Nggak mau ke mana-mana apalagi nyusulin Dipta. Pokoknya aku mau sama kamu aja.”
...•••...
“Aku nggak tega liat kamu kaya gini terus, Mas.”
Kalimat tersebut diucapkan oleh Ashila. Saat ini dirinya tengah berada di taman belakang rumah bersama Mahesa. Menemani pria dengan wajah pucat itu menikmati hembusan angin sore yang menenangkan.
Mahesa tidak menjawab, dia hanya memandang kosong ke depan. Dari wajahnya saja bisa ditebak jika kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Bahkan sangat jauh dari kata baik.
“Kamu nggak mau nemuin temenku dulu, dia dokter spesialis jantung. Mungkin aja dia bisa ngobatin kamu.” Ashila memasang wajah sendu seraya mengusap punggung tangan Mahesa yang tergeletak di atas meja.
Pria itu memandang Ashila kemudian, menghela nafas panjang. “Saya nggak yakin.”
Ada banyak hal yang Mahesa pikirkan dan itu membuatnya merasa bingung. Apalagi dengan keadaannya sekarang yang semakin memperburuk semuanya.
“Kamu kok ngomong gitu sih, Mas? Kamu pasti sembuh. Jangan ngomong gitu ya. Aku bakal berusaha cari cara sebisaku supaya kamu bisa sembuh.”
“Saya takut nggak bisa bertahan lebih lama, Shila. Saya nggak bisa bayangin gimana nasib anak-anak tanpa saya.”
Kepala Mahesa dipenuhi dengan kekhawatiran, hal-hal buruk berseliweran.
Ashila menatap lekat suaminya, menggenggam tangan Mahesa seolah memberikan semangat. “Kamu pasti sembuh, Mas. Percaya sama aku.”
Dengan berat hati Mahesa mengangguk. Senyum tipis di bibir pucatnya terukir. Jujur saja yang paling dia khawatirkan di sini adalah Aeli. Dia takut jika anaknya itu akan semakin terluka jika dirinya benar-benar pergi.
Mahesa tahu, selama ini Aeli sudah cukup terluka karena dirinya. Dia juga sadar sudah terlalu sering menyakiti putri cantiknya itu. Tetapi Mahesa terlalu munafik untuk mengakui kesalahannya. Namun dia juga tahu, Aeli sangat menyayangi dirinya seburuk apapun perlakuannya tersebut.
“Mau ya, Mas? Besok kita temuin temenku.” Ucapan Ashila menyadarkan Mahesa yang melamun. Sebenarnya Mahesa tidak yakin dirinya akan baik-baik saja setelah ini. Tetapi, tidak ada salahnya mencoba.
“Iya,” balas Mahesa membuat Ashila mengembangkan senyum. Sepertinya rencana Ashila akan berhasil kali ini.
...•••...
__ADS_1
Aeli memainkan jemari tangan yang saling bertautan sambil sesekali melirik Sky yang duduk di kursi kemudi di sebelahnya. Berulang kali Aeli berniat membuka bicara, tetapi urung karena Sky tampak datar-datar saja sedari tadi.
Padahal Sky tidak menunjukkan ekspresi bahwa sedang marah atau sejenisnya. Tapi Aeli tetap takut karena cowok itu tampak tidak ada niat mengajaknya bicara.
“Ini Sky beneran marah nggak sih? Atau cuma perasaan gue aja. Tapi kok dia nggak ngajakin ngomong ya dari tadi? Apa dia ngambek karena gue bilang mau nyusulin Dipta. Masa sih? Dia cemburu?”
Aeli hanya bisa bertanya-tanya sendiri. Karena Sky juga tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas tentang bagaimana perasaannya saat ini. Cowok itu terlihat biasa saja tetapi berhasil membuat orang lain overthinking.
Aeli mengerti sekarang mengapa banyak yang bilang Sky itu sulit ditebak. Karena ternyata memang begitu kenyataannya.
“Sky,” panggil Aeli pelan setelah mengumpulkan keberanian selama berabad-abad.
“Iya kenapa, Li?”
Tuh kan, orangnya loh biasa-biasa ajaaaa.
“Kamu marah, ya?” tanya Aeli memelas.
“Marah kenapa?”
Aeli makin cemberut. “Jawab dulu, jangan balik nanya.”
Sky menoleh sesaat lalu kembali memusatkan pandangannya pada jalanan. Tepat, mereka terjebak lampu merah. Mobil tersebut sudah berhenti tetapi Sky belum memberi jawaban akan pertanyaan Aeli tadi.
“Aku tadi cuma bercanda doang kok, Sky. Nggak beneran. Kamu jangan marah ya. Aku jangan didiemin,” kata Aeli dengan nada bersalah.
Aeli sebenarnya tidak tahu bagaimana membujuk orang yang sedang badmood. Karena sebelumnya Aeli tidak pernah sekalipun melakukan hal tersebut pada siapapun. Selain Gita sih. Tapi kan Gita bukan orang.
“Aku nggak tau kalau kamu bakalan sensi banget pas aku sebut nama Dipta. Kalau aku tau juga nggak bakalan lakuin. Didiemin kamu itu nggak enak banget, Sky. Aku pengen diajak ngomong kaya biasanya.”
Selang berdetik-detik setelahnya, Sky tak kunjung memberikan balasan. Bahkan saat lampu merah sudah berubah hijau dan mobil sudah kembali melaju, Sky tetap bungkam.
Aeli akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang seraya menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. Sekarang dia tahu, Sky ternyata memang marah. Dan kini dia juga tahu bagaimana bentukan pacarnya saat marah.
“Saya ngaku.”
Suara Sky berhasil membuat Aeli menegakkan tubuhnya kembali. Secepat kilat menatap Sky yang masih menatap jalanan di depan.
“A-apa?” Aeli menunggu jawaban dengan perasaan campur aduk.
“Saya ngaku cemburu,” balas Sky yang tentu saja mengguncang jantung Aeli yang memang sudah gempa sejak tadi.
“Kamu ... cemburu?”
Terjadi jeda selama beberapa saat sebelum pada akhirnya Sky membalas. “Saya sebenarnya bingung sama perasaan saya, Li. Ada banyak hal yang mengganggu pikiran saya akhir-akhir ini, dan itu bikin saya ngerasa nggak nyaman.”
Percaya tidak percaya Sky itu adalah tipe orang yang mudah bingung menanggapi apa yang dia rasakan. Dia bahkan kadang tidak tahu penyebab perasaan tidak nyaman yang hadir di hatinya.
“Apa yang mengganggu pikiran kamu? Aku?” Aeli bertanya ragu. Sedikit gamang jika jawaban Sky akan menyentil hati mungilnya.
“Saya ngerasa harus mertahanin kamu. Tapi saya nggak tau caranya.”
Kening Aeli berkerut dalam, otaknya mencerna segala hal yang berusaha Sky sampaikan secara tidak langsung. “Kamu cemburu dan pengen mertahanin aku, maksudnya kamu takut aku digondol Dipta?”
“Kalau saya bilang iya respon kamu bakal gimana?”
Responnya pipi Aeli memerah. Ternyata begini ya wujud Sky jika sedang cemburu. Tapi kenapa harus selucu dan segemas itu, Tuhan! Aeli kan meleyoooot.
“Sky, aku izin bilang sesuatu boleh?”
“Kamu mau bilang apa?” Sky menunggu apa yang ingin Aeli katakan.
“Kamu lucu banget pengen aku gigit! Emang boleh selucu ini, Sky? Emang boleh?!”
Sky menatap Aeli, berkedip satu kali. “Saya nggak lagi ngelawak, Li. Saya serius pas bilang cemburu dan pengen mertahanin kamu.”
Kan, kan. Dasarnya emang minta ditelan deh ini anaknya.
“Definisi lucu versi aku tuh nggak gitu, Sky! Maksudnya yang lucu itu reaksi kamu, ekspresi kamu, cara bicara kamu, gimana kamu cemburu dan gimana kamu bingung karena takut kehilangan aku.”
Bilang aja Aeli kepedean. Tapi memang begitu sih seharusnya.
“Sini-sini aku kasih tau.” Aeli mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Sky agar bisa menatap cowok ganteng itu dengan lebih leluasa.
“Kamu nggak perlu bingung mikirin gimana cara mertahanin aku, kamu nggak perlu takut aku bakal pergi. Aku cinta kamu dan aku sendiri yang akan bertahan di samping kamu.” Aeli menutur, tidak ada sebarang keraguan di setiap kalimat yang dia lontar.
“Tapi kalau kamu mau cemburuin aku gak masalah kok, Sky. Aku suka dicemburuin soalnya kamu itu gemesin kalau lagi cemburu.” Aeli menyengir tanpa dosa. Mengundang senyum dari bibir Sky.
“Saya sebenernya nggak suka dibilang gemes. Tapi karena kamu yang bilang, saya terima.”
Tawa Aeli mengudara. “Harus terima dong. Kan pacarku ini emang gemesin banget kalau lagi cembuyu.” Gadis itu menjawil pelan pipi Sky dengan telunjuknya.
“Li ...,” panggil Sky. Telinganya sudah merah menahan malu.
__ADS_1
“Besok kita nikah aja yuk, Sky. Aku nggak tahan pengen makan kamu.”
...•••...