Skaeli

Skaeli
six


__ADS_3

...•••...


Aeli berbaring di atas kasur dengan posisi telungkup. Dia tampak sibuk memperhatikan laptop yang menampilkan sebuah drama bergenre action. Matanya memang mengarah ke sana, namun siapa sangka jika pikirannya malah berkelana ke mana-mana.


Aeli gagal menepis bayangan tentang perlakuan Sky padanya siang tadi. Tiap mengingat itu, jantung Aeli spontan berdetak cepat. Aeli menutup wajah dengan bantal lalu berteriak sekencang-kencangnya. Untung saja kamar Aeli kedap suara.


Pipinya kini benar-benar merona. Aeli kemudian menyentuh dada, merasakan debaran hebat jantungnya yang menggila. Aeli masih tidak menyangka jika Sky bisa bersikap semanis itu.


“Sky Lazaro! Lo harus tanggung jawab! Gue hampir gila gara-gara lo!” teriak Aeli.


Tadi kala Sky melihat Aeli berbuat ulah di kantin sekolah, dia langsung membawa gadis itu ke taman belakang. Sky mendudukkan Aeli di bangku panjang, sedang dirinya berjongkok di depan Aeli, menatapnya dalam-dalam.


Aeli bahkan tidak berontak kala Sky menggandengnya, padahal sebelumnya Aeli benar-benar anti bersentuhan dengan orang lain, siapapun itu. Namun saat Sky yang melakukan, tidak ada rasa marah atau kesal yang bersarang dalam hatinya.


“Sky, kenapa kita ke sini?” tanya Aeli siang itu. Seolah melupakan bahwa tadinya dia sedang berada di puncak emosi.


Sky terdiam sebentar, menyahut lembut kemudian. “Biar kamu bisa nenangin diri.”


“Seharusnya lo gak bawa gue ke sini, gue belum kasih pelajaran sama cewek sialan itu,” balas Aeli. Cemberut.


“Dia tadi tiba-tiba dorong gue, bikin pinggang gue nyenggol ujung meja. Sakit tau. Gimana gue nggak emosi coba,” jelas Aeli. Sudah menjadi kebiasaannya menjelaskan sesuatu tanpa ditanya.


“Harusnya lo nggak halangin gue, Sky. Cewek kampret kaya dia harus dikasih pelajaran biar kapok.”


“Saya nggak pengen liat kamu pakai kekerasan, Li.”


“Kekerasan apanya? Gue bahkan belum nyentuh dia sama sekali,” bantah Aeli. “Lagian kalau gue pakai kekerasan emangnya kenapa? Dia pantes dapetin itu. Salah sendiri berani cari masalah sama gue.”


Aeli mengatakannya tanpa beban, seolah hal yang hampir dia lakukan tadi bukan sebuah kesalahan. Salah satu sikap buruk Aeli adalah tidak bisa membedakan baik buruk yang dia lakukan. Bagi Aeli, jika ada seseorang yang berani menyenggolnya, entah sengaja atau tidak. Maka orang itu harus dihukum.


“Mungkin dia nggak sengaja nyenggol kamu?” kata Sky. Sebisa mungkin menelaah kata agar tidak kembali memancing emosi Aeli.


“Gak sengaja?” Aeli berdecih, bola matanya berotasi. “Itu alasan paling basi yang pernah gue dengar.”


Gadis itu membalas tatapan lekat Sky untuknya. “Lo tau, Sky? Di Flourst ini banyak banget manusia yang benci sama gue. Karena apa coba? Ya karena manusia sampah yang sengaja bikin gue keliatan buruk.”


“Mereka pura-pura nggak sengaja nabrak gue, dorong gue, bikin gue kesandung sampai emosi gue naik. Mereka sengaja cari masalah karena tau gue mudah banget buat dipancing. Terus pas gue bales, mereka berlagak lemah dan bertingkah layaknya korban.”


Aeli merapikan rambut depannya yang menjuntai. Penuturannya begitu datar tanpa ekspresi, seperti tidak ada kebaikan dalam hatinya walau setitik.


“Gue gak ngerti ya, kenapa mereka seniat itu buat jatuhin gue sampai ngerubah penampilan jadi anak nerd. Niat banget bikin gue keliatan kaya tukang bully. Ya sekalian aja gue bully biar tau rasa.”


Sky masih setia menyorot Aeli. Dia menemukan sesuatu yang berbeda dalam diri Aeli. Entah apa, tetapi mata Aeli seperti tengah berbicara tentang luka.


“Lo pasti mikirnya gue buruk banget kan? Nuduh orang seenaknya, sama ratain semua hal. Padahal belum tentu kenyataannya kaya gitu.” Aeli tersenyum tipis.


“It's okay. Gue gak batasin pandangan lo tentang gue. Gue yang asli ya ini, emang buruk.”


Aeli ingin Sky mengetahui semua tentang dirinya secepat mungkin. Sebelum rasa sukanya berubah menjadi cinta yang tidak bisa dia kendalikan. Aeli tidak ingin terlalu sakit jika nantinya Sky tiba-tiba menjauh. Setidaknya, Aeli sudah tahu alasannya.


“Kamu nggak buruk, Aeli. Kamu beda.” Penjelasan Aeli meyakinkan pandangan awal Sky tentangnya.


“Secepat itu lo nyimpulin semuanya? Lo bahkan baru tau sebagian kecil dari diri gue.”


Sky mengukir senyum.


“Karena saya percaya, sesuatu yang besar tercipta dari hal-hal kecil. Saya juga percaya kamu itu nggak seburuk pandangan mereka.”


Bolehkah Aeli terbang sekarang?


Oke, cukup. Aeli tidak ingin disangka gila jika terus membayangkan kejadian itu. Dia benar-benar tidak menyangka seorang Sky Lazaro yang imut nan menggemaskan bisa mengucapkan kalimat tersebut.


Jujur saja, saat pertama kali melihat Sky, Aeli pikir Sky adalah cowok polos yang tidak mengerti apa-apa. Wajah Sky mengecoh pandangan Aeli tentangnya.


Semoga saja perkataan Sky tadi siang bukan hanya sekedar perkataan, melainkan kenyataan bahwa pandangannya tentang Aeli selama ini memang begitu. Ya, semoga.


...•••...


Rencananya sore ini Aeli akan pergi nongkrong bersama Clara di cafe Q'time. Bukan sekedar nongkrong sih, tapi sekalian mengerjakan tugas kelompok pelajaran sejarah. Kebetulan kelompok dibagi berdasarkan teman sebangku. Maka endingnya, Aeli bersama Clara.


Aeli bersyukur tidak sekelompok dengan orang lain, karena dia memang tidak akrab dengan semua teman sekelasnya. Tapi di sisi lain Aeli juga ingin mengumpat. Sudah bisa dipastikan hanya dirinya yang bekerja, dan Clara, hanya numpang nama. Gadis itu terlalu bodoh untuk diajak diskusi. Dijelaskan ratusan kali pun belum tentu mengerti.


Kini, Aeli masih sibuk memberi makan monyet kesayangannya. Mengelus kepala dengan bulu halus itu penuh kasih sayang kala Gita sibuk mencomot makanan.


“Makan yang banyak, Git. Biar melar kaya gentong,” tutur Aeli. Sesekali terkekeh melihat wajah Gita yang tampak lucu saat makan.


Satu-satunya teman curhat Aeli di rumah ini adalah Gita. Hanya monyet itu yang tidak bikin emosi saat diajak bicara.


“Gita baik-baik ya di rumah, nanti ditemenin suster. Eli mau keluar bentar.”


Mengerti ucapan Aeli, Gita mendongak dengan mulut yang masih mengunyah cepat. Rautnya bertanya-tanya.


“Ngerjain tugas kelompok bareng Clara. Nggak lama kok.”


Gita langsung mengerti kala mendengar nama Clara. Maka dia kembali melanjutkan makan. Aeli tersenyum, membelai kepala Gita lagi lalu berdiri. Sebelum pergi, Aeli menitipkan Gita pada pengasuh monyet itu. Memastikan Gita baik-baik saja dan tidak ada yang boleh mengusiknya selama Aeli tinggal.


Setelah membersihkan diri dan berdandan tipis, Aeli keluar dari dalam kamar. Baru saja dirinya menginjak ruang tamu, dirinya dihentikan oleh Mahesa—sang ayah. Dari tatapannya, Aeli tahu bahwa pria ini sedang dalam suasana hati yang buruk.


“Mau ke mana kamu?” tanya Mahesa, dingin. Seperti tengah menahan sesuatu yang hampir meledak.


Meski malas, Aeli tetap membuka mulut untuk menjawab. “Keluar, Pa.”


Seharusnya Mahesa tidak perlu basa-basi. Langsung saja ke intinya. Aeli sudah sangat siap untuk dihajar. Dia yakin Mahesa pulang cepat dari kantor karena sudah mendengar kelakuan Aeli pada Claudia beberapa hari lalu. Kali ini, entah siapa yang memberitahu.


“Apa yang sudah kamu lakukan pada adikmu, Aeli? Kenapa kamu gak pernah dengerin omongan Papa?”


Sudah Aeli duga. Pembahasannya pasti seputar itu-itu saja. Lantas, Aeli melipat kedua tangannya di depan dada. Rautnya sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah atau penyesalan.


“Aku dorong, aku tampar, aku bentak, aku suruh sujud di kakiku,” jelas Aeli gamblang.


“Kenapa kamu ngelakuin itu? Mau jadi jagoan kamu?” Mata Mahesa menyorot tajam, pertanda dia sangat kecewa dengan tingkah putri sulungnya.


“Jagoan?” Aeli mengulang ucapan Mahesa dengan nada meremehkan. “Bukannya jagoan itu yang suka nolongin orang? Aku kan suka jahatin orang. Berarti bukan jagoan dong, Pa.”


Mahesa mengepalkan tangan. Dia sudah mati-matian menahan emosi begitu mendapat info tentang perlakuan kasar Aeli pada Claudia. Kini malah ditambah ucapan Aeli yang benar-benar memancing emosi.


“Papa udah pusing sama urusan kantor! Bisa nggak sehari aja kamu nggak bikin Papa darah tinggi karena ulah kamu? Jangan bikin Papa nyesel udah ngerawat kamu, Aeliya!”


Aeli berdecak tidak sopan. Matanya bergerak malas. Jujur saja, Aeli sedang tidak minat meladeni drama dadakan ini. Aeli muak dengan apapun yang berhubungan dengan Claudia. Termasuk pria paruh baya yang berdiri di depannya kini.


“Papa juga bisa nggak jangan marah-marah mulu sama aku sehari aja? Aku pusing denger suara Papa.”


Penuturan Aeli kembali menyulut emosi Mahesa. “Kamu makin lama makin kurang ajar, Aeli! Makin gak punya sopan santun! Apa ini hasil didikanmu di sekolah?”


“Aku nggak pernah di didik, makanya kurang ajar. Papaku aja nggak punya sopan santun kok ngapain aku harus punya?” balas Aeli sengit. Tatapan tajamnya menghunus manik mata Mahesa.


“Aeli!” Mahesa membentak keras. Tidak terima.


Keributan yang terjadi mengundang perhatian Ashila—ibu tiri Aeli sekaligus ibu kandung Claudia. Wanita itu mendekat, menatap bingung dua manusia yang tengah bersitegang.


“Mas, ada apa kok ribut-ribut?” tanya Ashila.


“Anak ini makin tidak punya etika, Shila! Saya baru dapat kabar kalau dia berulah lagi dan menyakiti Claudia!” tegas Mahesa. Ashila tampak terkejut mendengar pernyataan suaminya. Lantas dia menatap Aeli.


“Benar begitu, Aeli?”


“Kenapa? Tante gak terima anak Tante aku sakitin? Mau marah?”


“Enggak, Sayang. Mama cuma pengen tau kenapa Aeli ngelakuin itu. Bisa tolong Aeli jelasin biar Mama sama papa nggak salah paham?”


Aeli ingin tertawa kencang mendengar penuturan Ashila. Rasa bencinya makin-makin besar.


“Karena anak Tante udah bikin aku di skors dan adu domba aku sama papa.”

__ADS_1


Mata Ashila membola mendengar jawaban Aeli. “Dia nggak mungkin ngelakuin itu, Aeli. Aeli tau kan Dia sayang banget sama Aeli dan papa.”


Cih, sayang apanya.


“Kamu gak usah fitnah Claudia. Dia nggak pernah adu domba kamu sama Papa. Apalagi bikin kamu di skors. Kamu dihukum karena ulahmu sendiri!” sahut Mahesa geram.


“Cerita sama kalian itu emang nggak guna. Pasti ujung-ujungnya nyalahin aku. Kalau gitu mending gausah nanya sekalian. Dasar sampah!”


Aeli berlalu keluar tanpa mempedulikan suara Mahesa yang menyerukan namanya diselingi kalimat umpatan. Aeli sudah muak menghadapi kelakuan mereka. Ucapannya pasti hanya dianggap angin lalu. Sekuat apapun dirinya menjelaskan, tidak mungkin ada yang percaya.


“Kak Aeli. Kakak mau ke mana?” sapa Claudia kala berpas-pasan dengan Aeli di garasi.


“Gali kuburan,” cetusnya sinis.


“Buat siapa, Kak?”


“Buat bapak lo!”


Aeli kemudian segera masuk ke dalam mobil. Membawa mobil jazz merah terang itu menjauh dari rumah. Dia bisa meledak jika tidak langsung pergi. Aeli bukan tipe orang yang mudah mengendalikan emosi. Selalu emosi yang mengendalikan dirinya.


...•••...


Aeli sudah sampai di cafe Q'time lima belas menit lalu. Mengerjakan tugas sebagai pengalihan pikirannya yang keruh karena kejadian sialan tadi. Aeli sudah memesan dua gelas minuman untuknya dan Clara. Namun sampai saat ini Clara masih belum menunjukkan tanda-tanda akan muncul. Entah ke mana perginya gadis berisik itu.


“Tiga puluh detik lo gak muncul, lo kelar.”


Aeli mengirimkan voice note pada Clara. Dalam sekejap centang dua abu-abu itu berubah biru, pertanda Clara sudah melihat pesan yang Aeli kirim. Di detik yang sama, Aeli mulai menghitung mundur.


Mata Aeli masih tertuju pada laptop di depannya. Kala hitungan sudah memasuki sepuluh detik terakhir, dia mengarahkan bola mata ke pintu masuk Q'time. Jika Clara tak kunjung muncul setelah Aeli menyelesaikan hitungan, bisa dipastikan namanya tidak akan dicatat sebagai anggota kelompok. Bonusnya, Aeli akan cepu ke guru bahwa Clara sama sekali tidak ikut bekerja.


“Lima.”


“Empat.”


“Tiga.”


“Dua.”


“Sa ... tu.” Aeli menyelesaikan hitungan tanpa munculnya Clara.


Senyum miring terukir, tangannya meraih bolpoin dan bersiap mencoret habis nama Clara yang tercetak di kertas putih. Belum sempat ujung benda itu menyentuh permukaan kertas, suara nyaring Clara menggema menyerukan namanya.


Saking kerasnya teriakan Clara, dia berhasil menjadi pusat perhatian seisi cafe. Persetan, Clara tidak peduli. Nasibnya di tangan Aeli jauh lebih penting dari apapun.


“Aeli, Aeli, Aeli! Jangan coret nama gue please! Iya gue ngaku salah, gue telat, gak dateng tepat waktu! Tapi gue punya alasan! Tadi jalanan macet banget sumpah, terus ada ....”


Clara masih menyerocos panjang, menjelaskan penyebab dirinya bisa telat. Aeli sudah bersandar di sofa sambil bersedekap dada. Manggut-manggut mendengar penjelasan panjang Clara tanpa raut peduli.


“Udah ngomongnya?” balas Aeli tepat setelah Clara menyelesaikan kalimatnya dengan nafas ngos-ngosan.


“Sumpah, Li! Gue serius!” Clara mengangkat tangan kanan, berusaha meyakinkan Aeli bahwa yang diucapkannya barusan bukan sekedar alasan.


“Gimana pun, lo tetep telat. Gue ogah toleransi lagi.” Aeli kembali mengarahkan bolpoinnya ke nama Clara. Dengan cepat ditahan oleh sang empu.


“Telat dua detik doang, Li!”


“Tetep gak ada kompensasi.”


“Bilang lo butuh apa. Langsung gue penuhin sekarang!” Clara masih gencar berusaha mencairkan Aeli. Dia tidak ingin berakhir dihukum karena namanya tidak tercatat.


“Gue gak butuh apapun, gue udah punya semua.”


“Terus gue harus apa?” tanya Clara, setengah menyerah. Dia tahu sesulit apa membujuk Aeli untuk memberinya toleransi, memang benar-benar sulit.


“Kalau gue nyuruh lo jadi temen main Gita selama seminggu mau nggak?”


Tanpa berpikir Clara langsung memutuskan. “Ogah! Amit-amit gue berurusan sama tuh monyet jelek!”


“Kalau gitu gue juga ogah biarin nama jelek lo nangkring di sini.”


“Three second. Three, two, one, end.” Aeli memutuskan sesukanya. Sengaja bikin Clara sengsara. Salah sendiri sudah bikin Aeli menunggu.


“Lo kejam banget sih sama temen sendiri!” Clara menghempas tubuhnya di sofa. Dia sampai lupa untuk duduk karena terlalu panik menghadapi tingkah Aeli.


“Siapa suruh ngaret.”


“Ngaret bentar doang juga. Lo aja yang kecepetan datengnya.”


“Nyalahin gue?”


“Eh enggak! Gue yang salah, gue yang telat, semuanya salah gue!”


Aeli kalau sudah marah memang tidak pandang bulu. Mau itu sahabat, orang terdekat, keluarga, kalau sudah berbuat salah ya disembur.


“Kasih hukuman lain aja deh, Li. Gue beneran ogah disuruh main sama monyet lo.”


“Kan udah. Nama lo bakal gue hapus. Lagian lo juga gak ikut mikir. Kalau gue tetep nulis nama lo sama aja gue gak jujur.”


“Selain itu! Lo tega banget sih sama gue! Udah tau Bu Binar galaknya kaya apa. Kalau gue dijemur di bawah tiang bendera sambil hormat gimana?”


“Malah bagus,” ceplos Aeli.


“Tugasnya biar gue kerjain aja deh kalau gitu. Asalkan jangan coret nama gue, Li.” Clara memohon.


“Udah kelar.”


“Hah? Cepet banget anjir! Ngedukun lo, ya?” Clara benar-benar tidak habis pikir. Kalau sudah begini, bagaimana dia bisa membujuk Aeli?


Clara memutar otak, memikirkan cara untuk membujuk Aeli. Hingga otaknya berhasil mengingat satu hal yang membuatnya melihat titik terang.


“Gue bakal kasih nomor Sky ke lo, tapi syaratnya lo nggak boleh coret nama gue. Gimana?”


Aeli belum menjawab. Oh ya, dia sampai lupa soal itu.


“Ada bukti, ada toleransi.”


Clara tersenyum senang. Bersyukur usahanya kali ini tidak berakhir sia-sia. “Gue kirimin ke lo sekarang juga.”


Gadis berambut pirang itu mulai mengotak-atik ponsel. Beberapa detik kemudian, notifikasi muncul di ponsel Aeli. Menandakan pesannya sudah terkirim.


“Udah.”


Aeli mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, membuka pesan Clara dan mendapati nomor Sky di sana. Diam-diam Aeli menarik sudut bibir. Ini yang dia butuhkan.


“Lo dapet dari mana?”


“Dari temen Sky pokoknya.”


Aeli manggut saja. Tidak berminat untuk mencari tahu lebih detail.


“Jadi gimana? Lo gak jadi coret nama gue dan suruh gue main sama monyet lo, kan?” tanya Clara. Matanya berkedip-kedip menunggu jawaban.


“Lo mau emang?”


“Dih, enggaklah gila!” Clara bergidik ngeri.


Aeli terkekeh. Menyesap minumannya sedikit kemudian memberi jawaban. “Nama lo bakal tetap gue tulis.”


“Yes!” Clara bersorak senang. Tapi tidak bertahan lama.


“Setelah lo cari kesimpulan semua yang gue tulis.”


“Lah, belum? Lo bilang udah kelar.”

__ADS_1


“Baru inti-intinya doang sih.”


“Kampret lo, Li! Tau gini ngapain gue mohon-mohon sama lo!” pekik Clara gregetan. Aeli tertawa, puas mengerjai Clara.


...•••...


Aeli mengetuk jemari lentiknya di atas meja dengan perasaan dilema. Berulang kali menatap ponsel yang kini menampilkan sebuah roomchat dirinya dan Sky yang masih kosong tanpa riwayat. Sudah hampir sepuluh kali Aeli mengetikkan pesan lalu dihapus lagi. Dia bingung bagaimana memulai semuanya.


Lagipula ini kali pertama Aeli berani mendekati lelaki. Sebelumnya, bertegur sapa dengan lawan jenis pun Aeli malas. Tidak ada yang berhasil menarik perhatian Aeli selain lelaki berwajah imut itu.


Aeli sendiri bingung apa yang membuatnya begitu menyukai sosok Sky. Padahal dia baru saja bertemu dengan cowok itu, tetapi rasa sukanya sudah hampir melebihi batas.


“Chat jangan? Hah! Bingung banget gue!”


Aeli mengacak-acak rambut panjangnya sampai berantakan. Terus menyorot ponselnya yang tergeletak di meja belajar. Rutinitas belajar Aeli sampai harus tertunda karena hal ini. Aeli benar-benar ingin berkomunikasi dengan Sky, sesering mungkin.


“Aeli, sejak kapan lo jadi pengecut? Lo nggak pernah kaya gini sebelumnya.” Aeli menceramahi diri sendiri.


Setelah memantapkan niat, gadis itu akhirnya mengambil kembali ponselnya dan mengetikkan pesan singkat untuk menyapa Sky. Aeli mengatur nafasnya berulang kali lalu memberanikan diri menekan ikon kirim.


Aeli langsung melempar ponselnya ke meja dan dia meloncat ke atas kasur. Menyelimuti seluruh badan sampai kepala karena malu. Jika Clara melihat tingkah konyol Aeli sekarang, mungkin gadis itu akan tertawa sekencang-kencangnya. Ternyata, Aeli bisa bertingkah lebih gila darinya ketika sedang jatuh cinta.


Sekarang Aeli sedikit menyesal pernah mengumpati karakter novel perempuan yang begitu menyukai pasangannya sampai kadang seperti orang tidak waras. Padahal, dirinya malah jauh lebih tidak waras.


“Huhu malu banget!”


Hingga beberapa detik terlewat, sebuah notifikasi terdengar dari ponsel Aeli. Secepat kilat gadis itu bangkit, berlari menuju meja belajar dengan selimut yang masih membalut tubuhnya. Aeli meraih ponsel dan mata Aeli melebar sempurna.


Aeliya


Hai Sky. Ini Aeli. Save nomor gue yaa


Punya gue


Oke


Meski balasannya super duper singkat, Aeli tetap dapat merasakan getaran hebat di hatinya. Dia senang bukan main. Kini Aeli kembali memutar otak mencari bahan bahasan agar chatnya tidak berhenti begitu saja.


Aeliya


Sky lagi sibuk? Gue chat lo jam segini ganggu nggak?


Tidak butuh waktu lama, ponsel Aeli kembali berbunyi. Dengan antusias dia membuka pesan yang Sky kirim.


Punya gue


Nggak kok. Saya baru selesai kasih makan Louis, niatnya mau belajar sebentar.


Aeliya


Louis siapa, Sky?


Punya gue


Kucing saya, Li.


Aeliya


Wah, Sky punya kucing?


Punya gue


Iya. Cuma satu. Soalnya Ibu nggak bolehin ngerawat banyak-banyak.


Hingga bermenit-menit terlewat, chat mereka masih mengalir. Aeli sampai melupakan tujuan awalnya untuk belajar, begitu pula dengan Sky. Mereka larut dalam pembahasan yang sangat amat ringan. Sesekali Aeli tertawa mendapati balasan Sky yang dia anggap menggemaskan.


Mendadak jemari Aeli menekan tombol call. Dia ingin mendengar suara Sky secara langsung. Hanya butuh waktu sebentar, panggilan mereka akhirnya tersambung.


“Halo, Aeli. Ada apa?”


Aeli menggigiti kuku, suara Sky sukses besar bikin dia melting. Sleep call-able banget woi! Bisa-bisanya suara lembut cowok itu berubah berat kala berbicara lewat panggilan telepon. Aeli mau nangis.


“Pengen denger suara lo,” jawab Aeli dengan suara bergetar. Jantungnya sudah meronta-ronta seperti cacing kepanasan.


“Oh, saya kirain ada apa,” balas Sky. Seolah tidak merasa aneh sama sekali.


Aeli tertawa kecil, otaknya mendadak nge-blank, gagal menemukan balasan yang tepat. Karena bingung harus berbicara apa, Aeli bertanya.


“Sky, lo nggak penasaran gue dapet nomor lo dari siapa? Nggak penasaran kenapa gue tiba-tiba chat lo?”


Sky membalas kemudian. “Karena kita temen?” Dia mengucap ragu-ragu.


“Lo nganggep gue temen?”


“Iya. Tapi saya nggak tau kamu udah anggap saya temen atau belum.”


Ingin sekali Aeli berteriak dan bilang bahwa, gue malah udah anggap lo suami gue! Tapi Aeli masih cukup waras untuk mengatakan hal gila seperti itu.


“Kayanya udah nggak perlu gue jelasin deh kalau soal itu.” Aeli tersenyum meski Sky tidak dapat melihat senyumnya.


“Tapi, Sky. Lo beneran gak penasaran gue dapat nomor lo dari siapa? Nggak pengen tau?” Entah kenapa malah dirinya yang rempong, padahal Sky santai-santai saja.


“Dari temen kamu yang waktu itu?”


Tebakan Sky tepat sasaran. “Kok lo bisa tau gue dapetnya dari Clara?”


“Saya cuma nebak. Karena kata temen saya temen kamu minta nomer saya.”


Aeli manggut. Lantas bertanya lagi. Aeli memang jadi lebih banyak omong dan banyak tanya jika dia merasa nyaman dengan lawan bicaranya.


“Lo gak keberatan gitu nomer lo disebar sembarangan tanpa izin?”


“Enggak. Asal nggak disalahgunakan aja.”


Aeli sedikit cemberut. Pernyataan Sky bikin dia berpikir macam-macam. Sejuta pertanyaan mengendap di kepalanya. Apakah selama ini banyak perempuan yang lebih dulu mendekati Sky selain dirinya? Apakah Sky juga bersikap seramah ini kepada mereka? Apakah Sky meladeni semua makhluk yang mengirimkannya pesan?


Rasanya Aeli ingin memuntahkan semua pertanyaan itu sekarang, namun ditahan sebisanya karena tidak ingin membuat Sky merinding.


“Tapi untungnya gak pernah ada yang chat saya sembarangan. Paling cuma nyuruh saya save nomor mereka.” Sky tiba-tiba menjelaskan.


Raut cemberut yang tadi Aeli pasang berubah penuh binar. Matanya mengerjap berkali-kali. “Serius? Gak ada yang pernah ngechat macem-macem? Nembak lo gitu?”


Aeli menepuk bibirnya sendiri. Entah mengapa bisa mulutnya bertanya se-frontal itu.


“Em, mungkin ada satu atau dua. Tapi saya lupa kapan soalnya udah lumayan lama.”


“Lo ladenin, Sky?!”


“Nggak terlalu. Karena saya juga gak terlalu kenal sama orangnya.”


“Tapi sekarang udah nggak ada, kan?”


“Nggak ada.”


Aeli menghela nafas panjang-panjang. Lega banget pokoknya. Aeli tidak akan terima jika ada perempuan lain yang berani mendekati Sky selain dirinya. Siap-siap saja jadi manusia geprek di tangan Aeli.


“Sky tadi mau belajar, kan? Kalo gitu gue tutup dulu, ya. Selamat malam, Sky.”


“Iya, Aeli. Selamat malam juga.”


Setelahnya, hening. Namun tidak bertahan lama karena Aeli langsung menjerit kegirangan lalu kembali meloncat ke atas kasur. Kakinya menendang-nendang udara saking senangnya. Sky bikin Aeli gila.


“Huaaa! Kenapa suara lo bisa ganteng banget sih, Sky?! Gak sinkron banget tau sama muka imut lo!”

__ADS_1


...•••...


__ADS_2