
...•••...
Antara deg-deg-an sama seneng sih sebenarnya. Tapi pas diteliti lagi kok nyaris mirip orang kagok ya. Kaku banget soalnya.
"Kamu pasti kaget ya pas Bunda muncul? Nggak jantungan kan tapi?" Suara lembut Aiyana memenuhi kamar Aeli.
Keduanya kini tengah berkomunikasi lewat panggilan video. Tadinya sih Aeli video call-an sama Sky. Lagi enak-enaknya bahas Gita sama Ocean, tiba-tiba calon mama mertua Aeli muncul. Posisi Sky diganti karena katanya Aiyana kangen berat sama calon menantu.
"Kaget sih, Bun. Tapi nggak sempet jantungan kok." Aeli mengembangkan senyum manis. Menatap wajah Aiyana yang kini memenuhi layar ponsel.
"Syukur deh kalau gitu. Sky panik loh ini, takut Aeli pingsan katanya." Aiyana terkikik geli.
"Bilangin sama Sky, Bun. Kesayangannya nggak kenapa-napa kok." Kini giliran Aeli yang terkikik. Geli juga ya dengar dirinya ngomong begitu.
"Ini udah Bunda bilangin nih."
Tidak lama kemudian seseorang muncul menggantikan wajah Aiyana. Mata bulat, hidung mungil dan bibir kecil itu mengusik rasa gemas dalam diri Aeli. Lucu banget, plis deh.
"Kak Aeli ... kapan ke sini lagi, Kak?" Baru saja muncul, Mey langsung mengajukan pertanyaan. Raut polos anak itu membuat Aeli gregetan ingin mencubit pipi gembulnya.
"Kapan-kapan Kak Ae ke sana. Mey udah kangen Kakak, ya?" balas Aeli seraya tersenyum.
"Kangen banget. Makanya Kakak ke sini dong temuin Mey."
"Kakak usahain bisa ke sana secepatnya. Mey tenang aja."
Mata Mey otomatis menampakkan binar. "Serius, Kak? Janji ya?"
"Iya."
"Meylin tuh paling gak bisa dijanjiin loh, Li. Kalau nagih beneran gak kira-kira kaya debkolektor." Rey muncul tiba-tiba
Bikin Aeli hampir jantungan saja.
"Gausah jelek-jelekin Mey di depan Kak Aeli deh, Bang. Mey marah nih." Suara Mey terdengar lagi.
"Siapa yang jelek-jelekin lo, Cil? Orang lu-nya emang gitu." Rey memutar bola mata tak minat.
"Kapan Mey begitu? Abang janji mau beliin Mey koleksi Lion King aja Mey nggak nagih sampai sekarang! Abang pikir Mey nggak inget?"
"Kapan gue janjiin lo beli itu? Buang-buang uang."
"Tuh kan, sok bijak deh Abang tuh. Dasar nyebelin."
"Muka lo nyebelin kaya si benjol."
"Muka Abang tuh yang benjol!"
Perdebatan terjeda karena interupsi dari Aiyana. Rey dan Mey kontan diomeli karena berdebat di saat yang sangat amat tidak tepat.
"Maaf ya, Li. Anak-anak Bunda emang gak punya malu kecuali Sky. Udah ini kamu ngomong sama Sky lagi. Maaf ya Bunda ganggu."
"Gapapa kok, Bun."
Setelah percakapan antara Aeli dan ibu Sky, Rey, serta adik bungsu Sky, akhirnya Sky kembali mengambil alih panggilan video tersebut. Cowok itu memasang senyum setelah bersabar selama beberapa lama karena hampir seluruh penghuni rumah ingin berbicara dengan Aeli.
"Saya langsung ditinggalin sendirian di ruang makan," kata Sky bikin Aeli terkekeh.
"Kamu nggak sendiri, kan masih ada aku."
"Buat yang tadi maaf, ya. Rey sama Mey emang suka gitu. Berantemnya nggak tau waktu."
"Sans aja. Oh ya, nanti mau nemenin aku belajar lagi nggak? Seru tau belajar bareng kamu."
"Em, boleh. Tapi saya nemenin aja ya, soalnya saya nggak belajar."
"Loh kenapa?" bingung Aeli.
"Lagi males buka buku."
"Cowok kaya kamu bisa males buka buku juga? Yakin?"
"Kamu nggak yakin?" Sky balik bertanya.
"Ya enggaklah. Image kamu tuh kaya murid teladan loh. Denger kamu bilang kata males aja aku langsung ragu."
Satu sudut bibir Sky tertarik membentuk senyum. "Kamu salah besar kalau cuma nilai saya dari image. Soalnya saya nggak sesempurna yang kamu kira. Saya juga sering malas, sering lalai, sering ngelanggar aturan, sering dihukum."
"Kamu tau kalau nilaimu di mataku sesempurna itu?"
"Saya tau dari tatapan kamu."
Aeli merona seketika. Sialan. "Se-keliatan itu ya emang?"
"Secara nggak langsung kamu ngaku dong?"
Aish. Kena mulu deh.
"Udah gausah dijawab." Sky langsung mengganti topik. "Kamu udah makan malam?"
Aeli menggeleng.
"Kenapa belum? Udah mau jam delapan loh."
Aeli mengembuskan nafas panjang. "Mbak di rumahku bilang yang masak makan malam tante Ashila. Makanya aku nggak makan."
Sky langsung mengerti tanpa perlu dijelaskan. "Kamu lagi pengen makan apa sekarang?"
"Pengen makan yang nggak terlalu berat sih sebenarnya. Crepes gitu, atau toast. Kalau nggak ya kebab. Nggak tau deh, bingung."
"Oke."
Aeli mengerutkan kening, makin bingung. "Oke?"
"Kamu katanya mau belajar. Ayo saya temenin." Sky lagi-lagi mengganti topik.
"Eh iya. Bentar aku ngambil thai tea dulu di kulkas."
Sky mengangguk. Setelahnya Aeli meninggalkan ponsel di atas kasur begitu saja. Sky pun mematri langkah menuju kamar dari ruang makan. Aeli kembali setelah mendapat apa yang dia butuhkan. Gadis itu mengambil benda persegi tersebut dan membawanya menuju meja belajar.
"Tadi dibikinin thai tea sama Mbak Nana. Sayang kalau nggak diminum." Aeli memberitahu. "Jadi kamu beneran nggak belajar nih?"
"Kapan-kapan aja kalau ada ulangan," sahut Sky enteng.
"Kalau nggak jadi pacarmu kayanya aku nggak bakal tau deh kamu tuh aslinya kaya gini."
Sky tertawa pelan.
"Saya emang udah gini dari dulu, Li. Coba kamu tanya Rey kalau penasaran saya se-melencong apa dari perkiraan kamu."
Kini giliran Aeli yang tertawa. "Sumpah deh aku gak bakal nyesel jadi pacar kamu mau kamu se-melencong apa dari perkiraanku."
"Kata-katamu saya pegang, ya."
"Mau kamu peluk juga silakan." Sky geleng-geleng tidak habis pikir.
"Oh ya, aku baru inget belum ngasih tau kamu." Aeli berujar. Menciptakan kerutan tipis di kening Sky.
"Soal apa?"
"Aku diundang Dipta ke ulang tahun ponakannya. Hari jum'at. Aku ... boleh dateng?" Aeli berkedip-kedip menunggu jawaban.
"Kamu diundang?" Sky mengajukan tanya. Mengulang lebih tepatnya.
"Iya. Tadi kan aku nggak sengaja ketemu dia di mall. Eh aku malah disuruh pilihin kado buat ponakannya. Terus aku disuruh dateng," jelas Aeli. "Maaf ya aku baru bilang. Baru inget soalnya."
Sky manggut-manggut sambil membentuk huruf O di bibirnya. "Ya gapapa kamu dateng aja."
"Eh boleh?" tanya Aeli terkejut.
"Boleh."
"Kamu izinin aku pergi?"
"Iya."
"Yakin?"
__ADS_1
Sky terkekeh. "Yakin."
"Tapi aku dijemput Dipta."
Kali ini Sky diam. Informasi yang Aeli berikan barusan sedikit mengganggunya.
"Sebenarnya aku bisa pergi sendiri loh. Tapi nggak tau kenapa temen kamu itu maksa banget pengen jemput." Aeli cemberut.
"Dipta maksa kamu?" tanya Sky.
"Ya ... agak maksa sih. Tapi kalau kamu nggak bolehin aku bakal ngotot biar dia nggak jadi jemput."
"Mau pergi bareng saya?"
Aeli mengerjap. "Kamu pergi juga?"
"Iya. Kebetulan keponakan Dipta temen sekelas Mey. Jadi aku pergi buat nganterin Mey." Sky menjelaskan.
"Astaga, Sayangku! Kenapa nggak bilang dari tadi sih?!" Aeli yang gregetan hampir saja mencakar layar ponselnya. "Yaudah. Kita ke sananya bareng aja. Biar aku kasih tau Dipta habis ini."
"Biar saya aja yang ngasih tau. Dia pasti ngerti."
"Iyalah harus. Dia harus ngerti kalau aku itu pacar kamu. Pacarnya Sky Lazaro yang paling lucu."
"Kenapa kamu sering bilang saya lucu?" Sky melempar tanya lagi.
"Kamu kan emang lucu, Sky. Liat tuh mukamu aja imut banget. Gemes tau," ceplos Aeli.
"Saya nggak suka dibilang imut, apalagi lucu."
Aeli mengerut bingung. "Kenapa? Kan kenyataannya emang gitu."
"Karena saya pacar kamu."
"Hubungannya?"
"Kamu nggak jadi belajar?"
Eh si kampret. Untung Aeli punya stok kesabaran di luar batas manusia normal.
"Ini mau belajar. Temenin ya," pinta Aeli.
"Iya, saya temenin."
Setelahnya, Aeli memulai kegiatan rutinnya itu dengan adanya figur Sky di layar ponsel. Tidak hanya menjadikan Sky sebagai teman belajar, Aeli juga sesekali meminta pendapat cowok itu jika ada hal yang dia ragukan dalam pelajaran.
Hingga beberapa saat setelahnya pintu kamar Aeli diketuk oleh seseorang. Alhasil Aeli pamit sebentar pada Sky untuk melihat siapa yang mengetuk pintunya malam-malam begini.
"Mbak, kenapa?" tanya Aeli begitu melihat figur asisten rumah tangganya di depan pintu.
"Ini Non Aeli, barusan ada yang kirim makanan buat Non," katanya seraya menyerahkan goodie bag berwarna krem pada Aeli.
"Siapa?"
"Grab food."
Eh asem. "Maksudnya dari siapa?"
"Nggak tau ya, Non. Akang Grab-nya nggak bilang. Cuma bilang buat Faye Aeliya gitu aja."
"Oh ...." Aeli manggut-manggut. Menerima benda tersebut. "Makasih ya."
Mbak Fina mengerjap kebingungan. "M-makasih?"
"Iya. Kenapa?"
Buru-buru Mbak Fina menggeleng. Demi apasih dengar Aeli bilang makasih aja bikin dia hampir jantungan. Langka banget soalnya.
"Kalau gitu pamit dulu ya, Non."
Setelah Mbak Fina berlalu pergi, Aeli kembali ke kamar sambil menatap bingung goodie bag yang kini ditentengnya.
Aeli kemudian melihat isinya. Ada toast sama kebab dan ternyata ada crepes juga.
Eh ... bentar deh. Kok bisa sama dengan apa yang lagi dia inginkan ya? Kayak ada yang nggak beres.
Sky di seberang masih menatapnya lekat. Hanya tersenyum tanpa membalas.
"Padahal aku nggak pesen loh. Jangan-jangan ada yang dengerin omonganku ke kamu tadi?" Aeli membulatkan mata. Rautnya itu loh hampir aja bikin Sky ngakak.
"Kan emang ada," balas Sky.
"Hah? Siapa?"
"Saya."
Aeli kedip-kedip. Otaknya yang tadi sempat lemot karena terkuras oleh pelajaran kini mencoba mencerna ucapan Sky.
"Maksudnya, ini dari kamu? Serius kamu yang pesen buat aku?"
Sky mengubah posisinya menjadi telungkup dengan bantal di dada sebagai penyangga. Lantas dia mengembangkan senyum manis.
"Jangan telat makan atau malah nggak makan ya. Jangan sampai sakit."
Aeli langsung terenyuh tentu saja. "Makasih, Sky ... Padahal aku nggak minta loh. Mana banyak banget lagi."
"Pilih yang kamu mau aja. Selamat makan."
Aeli terkekeh pelan. Hal kecil begini saja sukses membuat matanya berkaca-kaca. Perhatian Sky yang seperti inilah yang membuat Aeli jatuh makin dalam pada cowok itu. Meski sekarang jalannya tampak benar-benar mulus, Aeli harap di penghujung jalan tidak ada jurang yang curam.
...•••...
Mendengar fakta bahwa Dipta akan menjemput Aeli tentu agak mengusik ketenangan Sky. Dia merasa sesuatu aneh menghimpit dadanya untuk kali pertama. Dan rasanya benar-benar mengganggu.
"Siaga satu woi! Cewek lo dipepetin pak bos!" Suara menggelegar Rey mengisi kamar Sky dengan sangat tidak sopan.
"Kenapa?" Sky melempar tanya.
"Masa kata si Tirta pak bos ngundang Aeli ke ulang tahun Valitha. Yang bener aja oi! Emang mereka sedeket apa sih?" cerocos Rey sebelum tubuhnya jatuh terlentang di atas spring bed milik Sky.
Mohon maaf tapi ini yang punya hak milik kegusur loh, Bang.
"Udah tau."
Rey membelalak. "Lah udah? Lo tau dari mana?"
"Aeli."
"Oh ...." Rey manggut-manggut. "Terus lo diem aja gitu? Lo biarin Aeli dijemput sama Dipta? Yakin? Dipta nggak pernah bela-belain jemput cewek loh sebelumnya." Cowok kampret itu cosplay jadi kompor.
"Dipta pernah jemput Claudia."
Oh ya. Rey sampai lupa dengan bunglon satu itu.
"Terus rencana lo apa?"
"Rencananya mau gue ambil alih."
"Nah cakep! Perasaan gue gak enak soalnya."
"Lo kenapa dukung gue?" tanya Sky.
"Karena cewek lo Faye Aeliya. Ya kali gue biarin calon kembaran ipar gue yang paling kece disikat ama pak bos. Sayang kali."
Otak Sky loading sebentar. Calon kembaran ipar? Memangnya ada?
"Sumpah Bang kayanya si Dipta beneran suka sama cewek lo deh. Buktinya sampai ngundang Aeli ke acara ulang tahun Valitha. Pakai dijemput segala lagi. Dia nggak konfirmasi ke lo dulu apa?"
Sky membalasnya dengan gelengan.
"Paraaaah." Rey geleng-geleng kemudian. "Mana kejadian yang waktu di acara ulang tahun Rinda belum dikonfirmasi juga."
Sky kembali mengingat hal tersebut. Saat Dipta dengan terang-terangan menarik Aeli sebagai pasangan dansanya. Padahal Dipta tahu bahwa Aeli sudah berpasangan dengan Sky sedang dirinya bersama Claudia.
Sepertinya kejadian itu sudah cukup membuktikan bahwa Dipta tidak sekedar jail melainkan memang memiliki niat tersendiri. Meski terlihat misterius, gerakan cowok itu sebenarnya cukup mudah untuk dibaca.
"Gue sebenarnya nggak mau berat sebelah sih sama temen sendiri. Apalagi soal cewek. Tapi karena lo kembaran gue, jadi ya gue tetep dukung lo," tutur Rey. "Ya ... selagi lo masih di jalan yang lurus sih," sambungnya.
__ADS_1
Eh, eh. Dikiranya Sky bakal belok apa? Ngadi-ngadi banget telur kutu.
"Makasih," balas Sky kemudian.
"Sans, Bro. Pokoknya gue bakal terus dukung hubungan lo sama Aeli. Gue kawal sampai nikah pokoknya."
Walau mikirnya agak kejauhan, tapi ya diaminin aja deh. Hitung-hitung nabung harapan.
...•••...
Entah sudah ke berapa kalinya Dipta berkunjung ke laman profil instagram Aeli yang terkunci. Awalnya dia berniat menekan tombol ikuti tetapi ragu. Dipta sendiri tidak tahu apa yang membuatnya sebingung itu.
Lantas dia kembali ke beranda tanpa menuntaskan niatnya tadi. Beralih melihat-lihat postingan yang tersaji hingga beberapa detik kemudian Dipta tak sengaja menemukan postingan Sky.
Foto seorang gadis berambut panjang yang tengah membelakangi kamera dan berlatar belakang puluhan bunga chamomile. Yang ternyata baru diunggah beberapa jam lalu dengan caption 'my chamomile girl'.
Postingan tersebut mendapat banyak komentar dari para pengikut dan teman-teman Sky. Tentu saja mereka tahu siapa yang ada di foto tersebut. Sangat mudah untuk ditebak meski wajah sang empu sama sekali tidak terlihat.
Dipta dibuat terdiam setelah melihat postingan Sky. Mengingat sebelumnya belum pernah ada gadis yang singgah di postingan lelaki itu. Dipta tahu, Aeli adalah yang pertama. Dan entah mengapa dia malah sedikit terganggu dengan fakta itu.
Dipta
Besok gue jemput
Dipta kembali menggulir layar ponsel setelah mengirimkan Aeli pesan singkat. Beberapa menit berlalu, tak kunjung ada balasan dari Aeli. Hingga bermenit-menit terlewat, hasilnya masih sama.
Padahal Aeli sedang online, tetapi dia mengabaikan pesan Dipta begitu saja. Sangat amat tidak sopan kepada paduka raja. Namun hanya selang beberapa detik setelahnya, ponsel Dipta berbunyi menandakan ada notifikasi.
Awalnya Dipta pikir dari Aeli, ternyata dari pacar Aeli. Etdah. Ngomong begitu sesek juga ternyata. Lantas Dipta langsung membuka pesan yang Sky kirim untuknya.
Sky
Besok lo jadi jemput Aeli?
Tidak menunggu lama, Dipta segera mengetikkan balasan.
Dipta
Jadi. Kenapa?
Sky
Rencananya dia mau berangkat bareng gue sama Mey. Lo nggak usah jemput gapapa.
Kening Dipta mengerut. Cowok dengan rahang tegas itu membetulkan posisi telungkupnya kemudian membalas.
Dipta
Dia gak bilang.
Sky
Gue yang bilang sekarang.
Dipta
Dia udah setuju.
Sky
Dia belum ngasih jawaban.
Dipta
Gue gak butuh jawaban.
Suasananya lumayan panas ya. Padahal malam loh. Di ruangan juga full AC gitu.
Sky
Maaf tapi Aeli bakal tetep berangkat bareng gue.
Dipta mendengkus dan langsung mematikan ponsel tanpa membalas. Jujur saja, Dipta tidak suka dengan perasaan ini. Perasaan aneh yang hinggap dan membuatnya seolah-olah sengaja ingin merusak hubungan orang lain.
Dipta tahu Aeli sekarang adalah pacar Sky, tetapi dia juga tidak bisa menampik fakta yang mengatakan bahwa dirinya mulai tertarik dengan gadis itu. Mungkin ... kini sudah lebih dari sekedar tertarik.
Dipta tidak ingin pertemanannya renggang karena masalah sepele seperti ini. Sayangnya siapa sih yang bisa mengontrol rasa? Bahkan Dipta saja gagal mengendalikan diri untuk berhenti mendekat dan selalu menjaga jarak.
...•••...
"Mau ke mana?"
Suara berat Mahesa menghentikan langkah Aeli yang baru menapak ke ruang tamu. Aeli menoleh, mendapati figur sang papa di ujung tangga. Gadis itu tertegun sejenak. Entah mengapa keadaan Mahesa tampak semakin menyedihkan sejak terakhir kali mereka berpas-pasan.
"Aku mau keluar sebentar. Ponakannya temenku ulang tahun. Kenapa, Pa?" balas Aeli. Sebisa mungkin tidak menggunakan nada yang mungkin memancing emosi Mahesa.
"Pulang jam berapa?" Meski menggunakan nada yang terkesan datar dan dingin, Aeli tetap dapat merasakan secercah kehangatan yang bersembunyi.
Tanpa sadar senyum tipisnya terukir. "Mungkin satu setengah jam dari sekarang," jawabnya. "Papa ... butuh sesuatu?"
Untuk sejenak Mahesa terdiam tanpa membalas. Hingga beberapa detik berikutnya, gelengan pelan menjawab pertanyaan Aeli sebelumnya.
"Kalau gitu aku berangkat dulu ya. Papa istirahat lagi aja, jangan ngelakuin aktivitas apa-apa."
Mahesa menggumam. Aeli membalasnya dengan senyuman. "Eli pamit dulu."
Sedetik kemudian Aeli kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Menghampiri Sky yang ternyata sudah menunggunya di depan gerbang. Aeli memasang senyum paling manis untuk pujaan hatinya.
"Tumben kamu bawa mobil. Vespa kesayanganmu ke mana?" kekeh Aeli kala melihat mobil hitam yang berada tepat di belakang Sky.
"Lagi istirahat. Soalnya kecapekan dibawa-bawa terus," tanggap Sky.
"Motor bisa capek juga, ya?"
"Bisa dong."
Detik berikutnya muncul kepala seseorang dari jendela mobil. Hampir bikin Aeli jantungan karena kaget.
"Kak Aeliiii!" Suara nyaring nan menggelegar itu ternyata milik Mey yang kini duduk di jok belakang mobil.
"Eh hai, Mey." Aeli sampai lupa kalau bocil cerewet itu ikut juga.
"Ayo masuk, Kak. Mey udah nungguin Kakak dari tadi loh."
"Maaf ya Kakak kelamaan sampai bikin kamu nunggu," kata Aeli tidak enak.
"Gapapa kok. Bang Sky aja yang datangnya kecepetan. Mana pakai nyuruh Mey cepet-cepet lagi." Mey melirik Sky penuh dendam. Sedang yang dilirik hanya memasang raut tanpa dosa.
"Ngebet banget tuh pengen jemput Kak Aeli. Dasar Bang Sky."
"Kamu juga ngebet gitu pengen ketemu Kak Aeli," balas Sky tidak terima.
"Yang penting kan nggak se-ngebet Bang Sky."
"Coba inget-inget siapa yang semalam maksa-maksa pengen ngomong sama Kak Aeli?"
"Bang Sky," sahut Mey tanpa dosa.
"Kamu."
"Pokoknya Bang Sky. Orang Mey-nya nyantai aja."
"Mohon maaf ini jadi berangkat nggak ya, Pak, Buk?" Aeli menyela di tengah-tengah perdebatan kakak beradik tersebut.
"Bentar dulu, Kak. Mey pengen kalahin Bang Sky. Kalem-kalem gini Bang Sky aslinya rese loh. Gak jauh beda sama Bang Rey." Mey memberitahu.
"Fitnah dosa, Mey. Udah masuk lagi sana. Kita berangkat sekarang. Ayo, Li," ujar Sky.
"Iya." Aeli kemudian berlalu mengitari mobil dan masuk.
Perjalanan menuju tempat tujuan diisi dengan celetukan Mey dan Aeli, juga Sky yang sesekali kena senggol. Meski Aeli terbilang baru mengenal Mey, keduanya tampak cukup akrab. Semudah itu memang Mey menerima Aeli sebagai pacar abangnya.
Padahal sebelumnya, Mey sama sekali tidak pernah terlihat akrab dengan pacar-pacar Rey yang sering dibawa ke rumah. Tetapi begitu mendengar cerita tentang sosok Aeli dan setelah melihatnya pertama kali, Mey langsung tertarik dengan gadis itu.
Menurut Mey, Aeli itu gadis yang cantik, ramah, tulus, dan tidak neko-neko. Ini menurut pandangan Mey ya. Menurut Mey.
Menurut gadis kecil yang tidak tahu bagaimana watak Faye Aeliya di sekolah.
__ADS_1
...•••...