
^^^•••^^^
Setelah kepergian Aeli, suasana ruangan menjadi senyap. Rasa tidak nyaman menghantam karena kalimat terakhir yang gadis itu lontar. Mereka semua terkejut, tidak menyangka Aeli akan meloloskan kalimat tersebut.
Ashila yang melihat suaminya melamun dengan wajah pias pun mendekat, mengusap bahu pria paruh baya itu penuh kelembutan.
“Mas, kamu baik-baik aja?”
Mahesa tersadar, menyorot Ashila sebentar tanpa menjawab.
“Omongan Aeli tadi jangan terlalu dipikirin, ya. Kamu harus mikirin kondisi kamu dulu.”
Claudia ikut mendekat. “Iya, Pa. Mungkin kak Aeli lagi kesel aja tadi. Nanti pasti kak Aeli ke sini lagi buat jenguk Papa.”
“Bener yang Claudia bilang, Mas. Aeli kan anak baik, dia nggak mungkin marah terlalu lama sama Mas. Apalagi kondisi Mas kaya gini sekarang.”
Dua perempuan itu kompak menenangkan Mahesa. “Dia nggak pernah nggak marah sama saya.” Mahesa menutur.
“Nggak, Mas. Aeli nggak pernah marah sama Mas. Malahan sebenarnya Aeli itu sayang banget sama Mas.”
“Bener, Pa. Kak Aeli nggak mungkin bela-belain ke sini buat jenguk Papa kalau kak Aeli nggak peduli.”
Mahesa menatap Claudia serius. “Tapi apa benar, Aeli yang selalu jagain Papa selama ini?”
Claudia dan Ashila saling pandang. Setelahnya Claudia mengembuskan nafas panjang, menggeleng pelan.
“Aku dan Mama yang jagain Papa. Kak Aeli cuma ke sini sesekali, itu pun cuma sebentar habis itu pulang lagi, Pa.”
Raut Mahesa berubah, rahangnya tampak mengeras. Dia kecewa karena Aeli sudah berbohong. Mahesa pikir apa yang Aeli katakan tadi benar adanya. Ternyata dia salah.
“Udah Pa jangan dipikirin terus. Papa istirahat ya, Clau bakal di sini terus jagain Papa.”
“Kalian pulang aja. Papa nggak apa-apa,” tolak Mahesa.
“Tapi—”
“Kalian pasti lelah. Papa juga udah baik-baik aja, nggak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Ashila mengembuskan nafas berat. “Yaudah, kalau gitu aku sama Clau pulang dulu ya, Mas. Kalau ada apa-apa langsung panggil dokter atau perawat,” pesan Ashila.
Mahesa mengangguk. Setelahnya dua perempuan itu meninggalkan ruang rawat Mahesa, membiarkan pria itu beristirahat. Sesampainya di depan ruangan, Claudia memasang wajah sebal.
“Kak Aeli ngeselin banget sih, Ma. Kenapa harus ngomong gitu ke papa? Bikin kerjaan aja. Kak Sky juga ngapain sih jadi ikut-ikutan?”
Ashila tersenyum hangat, mengusap punggung Claudia. “Udah. Yang penting papa nggak percaya sama mereka.”
“Ish! Tapi tetep nyebelin, Ma. Aku nggak suka kak Aeli ada yang bela. Mama tau kan?”
“Iya Sayang, iya. Udah dong. Mukanya jangan ditekuk gitu ah. Kalau ada yang liat gimana?”
“Biarin aja. Emang aku pikirin?”
“Eh, itu Dipta kan?” tanya Ashila.
“Mama gausah bawa-bawa nama kak Dipta biar aku seneng deh. Aku lagi kesel.”
Ashila menepuk bahu Claudia pelan. “Mama serius! Itu liat!”
Claudia menoleh. Matanya membulat melihat figur seseorang yang mamanya maksud tengah berjalan mendekat. Buru-buru gadis itu memasang wajah polos dan lugu yang selalu dia tampakkan, tersenyum tipis kala Dipta sampai di depannya.
“Kak Dipta? Kok ke sini, Kak?” tanya Claudia ramah. Matanya tidak bisa menyembunyikan binar kekaguman kala menatap Dipta.
“Mau jenguk om Mahesa. Lo bilang beliau udah sadar makanya gue langsung ke sini. Boleh gue masuk?” izinnya.
“Boleh Kak, boleh. Masuk aja.”
Dipta mengangguk, dia tersenyum tipis ke arah Ashila seraya membungkuk sopan sebelum benar-benar masuk ke dalam ruangan. Setelah Dipta menghilang di balik pintu, Claudia menyentuh wajahnya yang terasa panas. Jantungnya pun ikut berdegup cepat.
“Ma, kenapa kak Dipta sekarang jadi perhatian banget ya sama keluarga kita? Aku gak nyangka kak Dipta bela-belain ke sini buat jenguk papa.”
“Suka kamu kali dia.”
“Ih masa sih, Ma?”
“Buktinya tuh. Udah, Claudia. Jaga sikap. Jangan sampai ada yang liat kamu kaya gini selain Mama. Inget kamu harus tetep jadi anak polos seperti yang mereka kenal.” Ashila berbicara panjang, mengingatkan agar anaknya itu tidak lupa diri.
“Iya, Ma. Balik bentar gapapa kali. Capek tau main peran mulu.”
“Gak boleh. Bahaya kalau sampai rahasia kamu terbongkar. Bisa-bisa hidup kita yang hancur.”
“Ck, iya-iya! Mama bawel banget sih!” kesal Claudia.
•••
Sudah hampir tiga jam mobil Aeli berada di jalanan. Perjalanan yang ditempuh pun sudah cukup jauh dan sebentar lagi akan sampai ke lokasi tujuan. Sky dengan tenang mengemudikan mobil tersebut sedangkan sang pemilik sudah memejamkan mata sejak sembilan puluh lima menit lalu.
Beberapa kali Sky menoleh ke arah Aeli yang tertidur pulas. Senyumnya lagi-lagi terbit, hatinya juga menjadi lebih tenang setiap memandangi wajah damai gadis itu. Dengkuran halus Aeli menandakan dia nyaman, nafasnya pun berhembus beraturan.
Mobil Aeli akhirnya memasuki jalanan panjang yang berada di dekat tebing-tebing besar, berhadapan langsung dengan laut lepas yang begitu indah. Di sinilah Sky membawa Aeli, sesuai permintaan Aeli agar Sky membawanya ke tempat yang jauh.
__ADS_1
Jika Aeli tidak bisa menyembuhkan luka di hatinya dalam waktu singkat, setidaknya dia bisa melupakan luka itu untuk sejenak. Dengan begitu mungkin bisa membuatnya merasa lebih baik walau sesaat.
Pantai Trinity menjadi sasaran Sky. Cowok itu juga sudah sempat mengabari keluarganya bahwa dia pergi ke sana setelah Aeli berhasil terlelap. Aiyana sempat terkejut mengapa sang anak mendadak memutuskan untuk ke sana sore-sore begini. Tetapi Sky langsung menjelaskan alasannya agar tidak membuat Aiyana makin kebingungan dengan tetap menutup kerapuhan Aeli.
Begini respon wanita itu setelahnya.
“Aeli? Cewek yang sering disebutin adik kamu, Bang? Yang katanya calon pacar kamu?”
Sky sempat mendesis panjang mendengar kalimat yang dituturkan bundanya. Area kupingnya langsung memanas di detik yang sama.
“Iya, Aeli yang itu, Bun.”
“Wah, jadi ini ceritanya kamu mau bawa dia ke sana? Mau kamu tembak ya, Sayang?” Suara bundanya menjadi lebih semringah. Wanita itu memang paling jago deh bikin anaknya salah tingkah.
Kan, Sky malah jadi bingung harus menjawab apa.
“Ntar kalau udah jadian kabarin bunda ya, Bang. Oh ya, langsung bawa ke rumah juga dong. Bunda pengen kenalan sama pujaan hati anak Bunda.”
“Bun ...,” tutur Sky pelan. Melirik Aeli takutnya tiba-tiba terbangun.
“Eh? Kamu salting, ya? Haha anak Bunda gemesin banget sih. Kalau kamu di sini udah Bunda cubit deh itu pipinya.”
“Bun, udah dong jangan godain Sky terus.” Kini pipi Sky pun ikut memerah.
Aiyana tertawa. “Iya-iya nggak digodain terus deh. Hati-hati ya bawa Aeli-nya, calon mantu Bunda gak boleh lecet pokoknya.” Kan, bisaan aja memang.
“Bunda izinin Sky ke sana, nanti Bunda sampaiin juga ke ayah. Tapi pulangnya kalau bisa sebelum atau setelah matahari terbenam aja ya, biar sampai rumah nggak terlalu larut. Take your time, Sayang. Have fun!”
Sky benar-benar lega setelah mendapat izin dari Aiyana. Dia beruntung memiliki ibu yang pengertian dan percaya padanya dalam segala hal. Maka dari itu Sky harus bisa menjaga kepercayaan penuh yang sudah orang tuanya berikan.
Akhirnya mereka benar-benar sampai di tempat tujuan. Sky kemudian mematikan mesin mobil, menoleh ke arah Aeli yang masih terlelap. Sepertinya gadis itu benar-benar kelelahan hingga masih tetap setia menutup mata.
Sky sedikit mencondongkan tubuhnya ke sisi kiri agar bisa lebih leluasa memandangi Aeli. Sudut bibir Sky terangkat sedikit, tangannya bergerak pelan menyingkirkan rambut Aeli yang sedikit menutup wajah cantik gadis itu. Setelahnya, Sky kembali memandangi Aeli.
Sebenarnya sampai sekarang Sky masih bingung kesalahan apa yang sudah dia lakukan hingga membuat Aeli tampak sangat kecewa. Jujur, Sky merasakan dadanya benar-benar sesak saat melihat sikap Aeli tadi. Apalagi dia sama sekali tidak tahu penyebab Aeli bersikap demikian.
Mungkin Sky akan menanyakan hal itu, nanti, setelah Aeli merasa jauh lebih baik. Sky berjanji tidak akan merusak momen indah yang mungkin tercipta nantinya.
“Li, bangun. Kita udah sampai,” ucap Sky pelan. Tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
Tangannya bergerak mengusap lembut pipi mulus gadis itu. “Bangun, Li.”
Aeli yang merasa tidurnya diusik menggeliat kecil. Keningnya mengerut dalam dan perlahan mata indah itu mengerjap beberapa kali sebelum benar-benar terbuka.
Masih dengan kerutan dalam, Aeli menatap Sky. Nyawanya yang belum terkumpul seratus persen membuat Sky terkekeh. Dia baru tahu jika wujud Aeli saat bangun tidur ternyata akan se-menggemaskan ini. Hilang sudah jiwa baddas yang sejak dulu tertanam dalam diri gadis itu.
Sky membelai pucuk kepala Aeli sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. “Udah, baru aja.”
“Gue tidurnya kelamaan, ya? Maaf, Sky. Lo pasti bosen banget tadi,” kata Aeli bersalah.
Sky tersenyum hangat. “Nggak papa.”
Aeli baru sadar wilayah tempatnya berada setelah beberapa saat. Dia kembali mengerjap, kali ini karena terkejut. Gadis itu mendekatkan wajah ke jendela depan mobil agar bisa memastikan matanya tidak salah.
“Ini pantai?! Seriusan?! Lo bawa gue ke pantai, Sky?!” Dia membulatkan mata menatap Sky.
“Iya. Kamu suka?”
“Gila! Suka banget lah!” balas Aeli. Nyawanya langsung terkumpul.
Aeli langsung membuka pintu mobil dan keluar. Angin pantai menyapa dirinya hingga membuat rambut panjangnya yang tergerai berkibas. Matanya menatap takjub pemandangan indah yang tersaji.
“Anjir ... Gue nggak expect bakal dibawa ke sini. Kirain Sky mau bawa gue ke KUA njir. Gila gila gila! Keren banget!”
Sky menyusul keluar kemudian, menghampiri Aeli yang masih sibuk berbicara sendiri. Dia tertawa gemas melihat wajah penuh binar gadis itu. Tampaknya pilihan Sky membawa Aeli ke sini bukanlah pilihan yang salah.
“Sky! Ayo ke sana! Buruan, Sky!” ajak Aeli tidak sabaran. Menggoyangkan lengan Sky.
Segera cowok itu menggenggam tangannya kemudian. “Ayo.”
Mereka berjalan beriringan menuju bibir pantai. Mata Aeli tak henti-hentinya menunjukkan binar yang membuktikan bahwa dia takjub bukan main. Pantai adalah salah satu tempat kesukaan Aeli. Sejak kecil dia sering diajak main ke pantai oleh Mahesa dan ibunya. Karena terlalu banyak kenangan manis, makanya pantai selalu jadi tempat kesukaan Aeli.
“Wah ... Lautnya cantik banget, ya?” gumam Aeli menatap ke tengah lautan.
Sky menoleh. Cowok itu sempat terpaku melihat senyum tulus yang tersemat di wajah Aeli. Dimple kecil di bawah sudut bibirnya membuatnya terlihat manis.
“Iya. Cantik,” balas Sky yang sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari sosok Aeli.
“Sky kenapa bisa kepikiran bawa gue ke sini?”
Sky berpikir sebentar. “Kenapa ya? Pas kamu bilang minta dibawa ke tempat yang jauh, saya langsung kepikiran tempat ini. Saya pikir mungkin kamu juga bakal suka makanya saya bawa ke sini aja.”
“Gue suka banget tau, Sky. Pantai tuh tempat kesukaan gue dari kecil. Dulu mama sama papa sering banget ngajak gue ke pantai tiap ada waktu. Kita sering ngabisin waktu seharian penuh sambil nungguin sunset. Soalnya mama papa tau gue suka banget sama sunset.” Cerita Aeli akhirnya mengalir begitu saja tanpa direncanakan.
Mengingat kenangan indah yang pernah terjadi dalam hidupnya, mata Aeli berkaca-kaca. Dia merindukan masa-masa itu dan ingin sekali mengulang semuanya kembali. Sayang, rasanya itu terlalu mustahil. Hidupnya sudah terlalu berantakan, bahkan yang coba dia pertahankan mati-matian pun tetap memilih pergi.
“Gue seneng. Seenggaknya gue tau gue pernah ngerasain bahagia bareng mereka.” Setetes air mata yang berusaha Aeli tahan luruh juga. Rasa sedih itu muncul lagi.
Sky menatap Aeli lamat, mengusap air mata yang dengan lancang membasahi pipi gadis kesayangannya. Lagi-lagi Aeli dibuat tertegun karena perlakuan lembut Sky. Kini, dia benar-benar meragukan apa yang di dengarnya tempo hari.
__ADS_1
“Jangan inget-inget sesuatu yang bikin kamu sedih. Saya nggak suka liat kamu nangis kaya gini,” lirih Sky. Aeli menatap mata teduh yang tengah menatapnya lamat. Rasanya menenangkan.
“Sky.”
“Hm?”
Aeli meneguk ludah. Berada di jarak sedekat ini dengan Sky bikin Aeli gugup. Seharusnya, mereka berpelukan saja sekalian.
“Gue mau mastiin sesuatu boleh?” izinnya terdengar ragu.
Sky mengangguk. Menunggu apa yang akan Aeli katakan selanjutnya. Jangan pikir Sky tidak gugup, dia juga sama gugupnya seperti Aeli. Tetapi Sky lebih pintar mengontrol mimik wajah.
“P-perasaan lo ke gue sebenarnya gimana?”
Sky diam. Sedang Aeli tengah mati-matian mengusir gugup dan rasa malu yang menghantam.
Aeli bertanya demikian karena ingin memastikan apakah yang Sky katakan di kantin sekolah waktu itu memang benar, atau mungkin ada sesuatu yang dia lewatkan setelahnya.
“Maksud gue ... lo selama ini baik ke gue karena apa? Apa karena lo emang baik ke semua orang atau karena gue pengecualian?”
Aeli mengambil nafas. “Soalnya, g-gue ngerasa sikap lo ke gue agak berlebihan. Terserah lo mau bilang gue ge'er kek apa kek tapi emang gitu yang gue rasain selama ini.”
Sky tersenyum. Please deh ini Aeli lagi gugup setengah mampus woi!
“Kenapa senyum?” tanya Aeli kebingungan yang langsung dibalas gelengan oleh Sky.
“Nggak papa. Pengen senyum aja.”
“Ih, jawab dulu pertanyaan gue. Jangan digantungin kek.” Aeli cemberut.
“Kan udah kamu jawab sendiri tadi.”
“Hah?” Gadis itu cengo. Pasti wajahnya terlihat bodoh saat ini.
“Coba inget-inget lagi.”
Aeli benar-benar melakukan apa yang Sky suruh. Otaknya bekerja keras mengingat setiap kalimat yang barusan dia ucapkan.
“Gue ge'er?”
Sky refleks tertawa. “Bukan yang itu, Li.”
Aeli kembali mengingat. “Karena lo baik ke semua orang?”
“Bukan juga.”
Aeli berdecak kesal karena jawabannya salah semua. Btw, tadi Aeli ngomong apa saja ya?
“Em ... karena gue pengecualian?” tebaknya benar-benar ragu. Mata bulatnya berkedip-kedip menunggu jawaban.
Sky tiba-tiba menjawil hidung mancung Aeli. Membuat sang empunya makin bingung.
“Itu artinya apa?” Aeli kembali bertanya.
“Bener.”
Gadis itu melongo seketika. Namun dengan cepat menutup kembali mulutnya. Mengatur mimik wajah sebiasa mungkin.
“Tapi ... kenapa gue lo kecualiin? Apa karena gue galak, kejam, gak berperikemanusiaan, terus suka bully orang?”
Demi botak upin ipin, kenapa Aeli malah menyebutkan keburukannya sendiri, ya? Kesannya malah kaya bangga banget gitu jadi orang jahat. Padahal nggak juga sih. Eh? Iya dikit deh.
“Hm, mungkin kali, ya?”
“Kok mungkin?!” Kan jadi ngegas.
Sky yang gemas langsung mengacak-acak rambut Aeli. Makin ke sini kok makin berasa kalau Aeli yang menggemaskan, ya? Mau gimana lagi soalnya Aeli kalau di depan Sky cosplay jadi kucing sih.
Kucing garong.
“Bercanda, Li. Mukanya jangan dilipet gitu.”
“Ini muka Sky, bukan baju.”
“Kan emang muka, saya juga gak bilang baju.”
“Lo kok makin nyebelin ya, Sky? Gue orangnya emosion loh. Jawab sekarang atau gu—”
Kalimat Aeli terhenti saat Sky tiba-tiba memeluknya dan meletakkan dagu di bahunya. Cowok itu agak merunduk karena perbedaan tinggi mereka yang cukup kontras.
Aeli bungkam, debaran hebat jantungnya mendengung sampai telinga. Setelah beberapa saat tidak ada pembicaraan, Aeli menutur pelan.
“K-kalau yang ini artinya apa?”
Terjadi jeda selama beberapa detik karena Sky tak kunjung menjawab. Cowok itu memejamkan mata dan membiarkan angin pantai mengacak rambutnya. Masih dalam posisi yang sama, Sky bergumam rendah.
“I love you.”
...•••...
__ADS_1