
...•••...
Begitu mendengar kalimat yang Sky lontar, Aeli menegang. Jantungnya berpacu sangat cepat dan suara detaknya mendengung sampai telinga.
“Bunda ... kamu, mau ketemu aku? K-kenapa?” tanyanya gamang.
“Pengen kenalan sama kamu.”
“Sekarang banget?”
“Setelah dari sini kalau kamu bisa.”
Baiklah, Aeli benar-benar deg-deg-an sekarang. “Gimana ya, Sky? A-aku ....” Dia bahkan sampai gagal melanjutkan kalimat.
Sky mendekat, mengusap belakang kepala Aeli pelan lalu menuntun gadis itu ke pelukannya. “Kalau kamu nggak siap ketemu bunda sekarang gapapa. Bunda juga nggak buru-buru kok, cuma pengen kenal sebenarnya.”
Aeli masih diam, otaknya berusaha mempertimbangkan segala hal dengan matang. Banyak yang Aeli takutkan. Dia takut jika dirinya ternyata jauh dari ekspektasi, takut jika bunda Sky tidak menyukainya, dan yang paling dia takutkan jika bunda Sky menyuruh mereka ... putus.
Otak Aeli tak berhenti memutar kenungkinan-kemungkinan buruk seperti itu. Tetapi, di satu sisi dia juga memikirkan beberapa hal baik. Mungkin ini bisa jadi kesempatan untuknya agar bisa dikenal oleh orang-orang paling berpengaruh dalam hidup Sky, atau mungkin bisa menjadi bagian itu.
“Li,” panggil Sky lembut.
“Hm?”
“Gapapa kalau kamu nggak siap. Jangan dipaksa, ya.”
Aeli menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan. Berusaha memantapkan hati serta mengambil keputusan. Lantas Aeli berusaha menarik sudut bibir dan membentuk lekukan.
“Aku siap.” Dia mendongak menatap rahang Sky dari bawah. “Aku mau ketemu bunda kamu setelah ini.”
Tentu saja pernyataan Aeli yang terdengar yakin membuat Sky terkejut. Dia menyorot mata gadis itu. Ada sebuah tekad sekaligus sedikit keraguan di sana.
“Aku mau kenalan sama bunda kamu.” Aeli meyakinkan.
Akhirnya Sky mengangguk. Mengusap bahu gadisnya pelan. “Kamu jangan khawatir. Bunda pasti suka sama kamu.”
“Aku nggak khawatir kok, Sky.” Itu adalah kebohongan pertama yang Aeli buat pada Sky.
“Berarti setelah ini langsung ke sana, kan?”
“Iya. Tapi jangan kaget ya kalau Rey tiba-tiba kaget pas liat kamu.”
“Emangnya aku alien apa?” Aeli mendusel di dada cowok itu. Menghirup aroma parfum Sky dalam-dalam.
Sky terkekeh. “Kamu kan Nyai Ratu.”
Aeli melonggarkan pelukan mereka dengan raut bingung. Alisnya bertautan satu sama lain. “Nyai Ratu? Apa itu?”
“Panggilan dari Rey buat kamu.”
...•••...
Awalnya Aeli masih baik-baik saja, bahkan sempat-sempatnya menggoda Sky. Tetapi setelah motor Sky melewati gerbang rumah, Aeli langsung diam tanpa suara. Benar-benar diam.
Aeli mengamati bangunan rumah berwarna putih di depannya. Meneguk ludah susah payah. Saking gugupnya Aeli sampai tidak sadar jika mesin motor Sky sudah mati.
“Li?” Sky memanggil. Tapi tidak ada jawaban. Dia menoleh menatap wajah Aeli yang kini berubah pucat.
Sky panik. “Li? Kamu baik-baik aja?”
“Ha?” Aeli tersadar. “Eh, iya. Udah sampai ya?” Gadis itu turun dari motor. Mencopot helm lalu merapikan rambut panjangnya yang sedikit awut-awutan.
“Kamu beneran baik-baik aja? Mukamu pucat banget.”
“Pucat?” beo Aeli. Segera mendekat ke kaca spion Sky untuk bercermin.
“Oh, iya udah gapapa. Aku baik-baik aja kok.”
“Li, serius kalau kamu nggak siap nggak papa. Lain kali aja, ya?”
“Kamu apaan sih? Udah sampai sini juga. Ayo ajak aku masuk. Masa tamu istimewa dianggurin begini? Mana attitude kamu sebagai tuan rumah?”
“Iya Bun, iya! Ini Abang udah otw tempat sampah loh!”
Suara Rey menyita perhatian Aeli dan Sky. Keduanya kompak menatap cowok tampan dengan setelan kaos jersey dan celana bahan selutut itu tengah menenteng keresek hitam yang lumayan besar ke luar rumah.
Pandangan mereka akhirnya berserobok. Bayangkan betapa terkejutnya Rey kala melihat Aeli ada di depan rumahnya. Bahkan mulut yang tadinya sibuk menggerutu kini terbuka lebar-lebar.
Aeli yang ditatap begitu oleh Rey mengedip dua kali, beralih menatap Sky di sampingnya.
“Ebuset. Mata gue nggak salah kan yak?” Rey kaget. “Ini serius nih Nyai Ratu ada di rumah gue?”
Rey mendekat kemudian. Menyorot Aeli lekat-lekat seolah gadis itu adalah makhluk luar nurul.
“Buang sampah dulu sana,” celetuk Sky. Bisa-bisanya loh Rey mendekat sedang tangannya tengah menenteng sampah.
“Lo yang bawa Aeli? Ke sini? Anjay.”
“Kenapa emangnya?” Aeli kemudian membuka mulut.
“Eh?” Rey menyengir. “Enggak kok, Li. Nggak percaya aja lo ada di rumah gue.”
Rey beralih menatap Sky. “Udah sana ajak pacar lo masuk. Bunda ada di dalam. Bakal heboh banget sih kayanya. Jangan kaget ya, Li.” Cowok itu mengerling ke arah Aeli yang hanya dibalas dengan raut datar.
Datar-datar begitu jantungnya sedang uji nyali loh. Serius.
“Gue buang sampah bentar.” Rey akhirnya ngacir ke tempat sampah.
“Iya. Ayo masuk, Li.”
Aeli menganggukkan kepala pelan penuh keraguan. Bahkan saat Sky menggandeng tangannya, suhunya terasa benar-benar dingin. Baru kali ini Sky melihat Aeli gugup hingga seperti itu. Sepertinya dia sudah salah karena terlalu cepat membawa Aeli ke rumah ini.
“Li, kalau kamu gak bisa gak apa-apa.” Sky berkata lagi. Agak tidak tega melihat Aeli terus memaksakan diri.
“Aku bisa. Ayo ketemu bunda kamu.”
Sky tersenyum hangat, mengangguk. Keduanya berjalan ke dalam rumah. Bola mata Aeli bergulir memperhatikan setiap interior yang dia lewati. Guna mengalihkan perhatian sekaligus mengusir gugup.
“Bunda.” Kalimat Sky seketika membekukan Aeli.
Terlalu sibuk memperhatikan apapun yang dia lewati, Aeli sampai tidak sadar kini sudah menemukan Aiyana. Figur wanita cantik dengan celemek itu mengisi bingkai pandangannya.
“Eh, Sky udah pulang ternyata.” Aiyana mematikan kompor tepat setelah makanan yang dimasaknya matang.
Kerutan tipis muncul di kening wanita itu begitu menyadari ada orang lain di sebelah Sky. Aiyana melepas celemek dan mendekat, tersenyum ke arah Aeli yang kini memasang senyum canggung.
“Siapa ini?” tanyanya ramah.
“Aeli, Tante,” jawab Aeli menyalami tangan Aiyana.
“Aeli? Oh ini yang yang namanya Aeli?”
Aeli mengedip bingung. Sejak kapan pula loh bunda Sky mengenalnya.
“Iya, Bunda. Ini Aeli.” Sky menjawab.
“Cantik banget. Pantes anak bunda suka sama kamu,” pujinya.
__ADS_1
“Ha? I-iya, Tan. Makasih.” Demi tuhan deh. Aeli beneran canggung mampus.
“Kok Tan? Memangnya saya titan? Panggil bunda aja.”
“Bunda?” beo Aeli terkejut.
“Iya.”
“Boleh, Bunda?”
“Boleh dong, Sayang. Temen-temen Sky aja manggilnya bunda, masa kamu yang pacarnya nggak boleh sih?”
“Roman-romannya udah akrab nih. Tinggal halalin aja gak sih?” ceplos Rey yang sudah sampai di dalam ruangan.
“Bunda mimiknya Mey mana ya, Bun?” Si bungsu juga ikut hadir. Melihat banyak orang di dalam ruangan, mata bulatnya menampilkan kebingungan.
Mey mendekat ke Aiyana, menarik-narik ujung baju sang bunda dengan pelan.
“Bunda, kakak itu siapa, Bun?”
Aiyana tersenyum. “Kakak itu namanya kak Aeli, Sayang.”
“Oh, kak Aeli? Yang sering disebut-sebut bang Rey itu? Yang katanya pacar Bang Kay?”
“Bang Sky, Meylin. Bukan bangkai.” Aiyana menegur.
“Oh ya Mey salah lagi, Bunda. Maaf ya, Bun.”
“Minta maaf sama bang Sky dong, Cantik. Bukan sama Bunda.”
Mey menatap Sky. “Bang Sky maaf Mey salah terus. Bang Sky jangan marah, ya?”
Sky mengembangkan senyum hangat. Berjongkok guna mensejajarkan tingginya dengan Mey. Mengacak pucuk kepala adik bungsunya itu dengan sayang.
“Gapapa, Mey. Abang nggak marah sama Mey.”
Aeli terdiam melihat sikap Sky menghadapi bocah itu. Jika selama ini Sky selalu terlihat imut, lucu, dan menggemaskan di mata Aeli, kini Sky terlihat cukup dewasa. Vibes anak sulungnya kerasa loh.
“Li, itu adik bungsunya Sky sama Rey. Namanya Mey.” Aiyana mengenalkan.
Aeli mengangguk-angguk, tersenyum ke arah Mey. “Hai, Mey.”
“Hai juga, Kak Aeli.”
“Aeli, sini ikut Bunda. Kita ngobrol-ngobrol dulu sambil ngeteh,” ajak Aiyana memecahkan fokus Aeli.
Aeli menatap Sky sebentar. Mendapati anggukan Sky dengan raut menenangkan, Aeli segera mengangguk.
“Iya, Bunda.”
“Kalian bertiga kerjasama, ya. Rey bikin teh, Sky nyiapin camilan, Mey nyiapin nampan. Oke?” titah Aiyana.
“Siap, Bunda!” Suara Rey lah yang paling besar.
Segera Aiyana mengajak Aeli menuju taman belakang dan mempersilakan Aeli duduk di kursi yang tersedia. Aeli? Tentu saja gadis itu canggung setengah mati. Bingung harus bersikap seperti apa di depan ibu kekasihnya. Jujurly, ini benar-benar pertama kalinya untuk Aeli.
“Kamu pasti bingung ya kenapa orang serumah pada kenal kamu semua? Itu gara-gara Rey, Li. Anaknya sering banget nyebut-nyebut nama kamu sampai orang serumah jadi penasaran.” Aiyana mulai bercerita.
“Rey, Bunda? Kenapa sering nyebut-nyebut Aeli?”
“Awalnya cuma buat godain Sky gitu. Terus Bunda tanya, Aeli itu siapa? Katanya Aeli pacar Sky. Bunda agak gak percaya juga Sky punya pacar karena Sky itu susah banget loh dideketin. Anaknya emang ramah, baik sama semua orang, tapi kalau soal cinta-cinta gitu Sky nggak pernah, Li. Kamu yang pertama makanya Bunda excited banget pas tau anak Bunda punya pacar.”
Aeli manggut-manggut. Bibirnya berkedut menahan senyum mengetahui memang dirinya lah yang pertama berhasil meluluhkan hati Sky. Aeli pastikan juga dirinya akan jadi yang terakhir.
“Sebenarnya Bunda juga sih yang ngebet banget pengen ketemu kamu. Maaf ya, pasti kamu nggak nyaman ketemu sama Bunda secepat ini.”
“Bersikap kaya diri kamu yang biasanya aja, Li. Bunda lebih suka kamu yang apa adanya daripada kamu yang repot-repot jadi orang lain di depan Bunda.”
Aeli meringis pelan mendengar penuturan Aiyana. Dirinya yang biasa? Tukang bully maksudnya?
“Bunda nggak benci Aeli?” Pertanyaan itu lolos begitu saja tanpa direncanakan.
“Hm? Kenapa Bunda harus benci sama kamu?”
“Aeli itu ... Nggak sebaik yang Bunda pikirkan. Aeli ... banyak minusnya, Bunda,” aku Aeli begitu saja. Melihat sikap Aiyana yang sebaik itu, Aeli jadi takut mengecewakannya.
Senyum lembut Aiyana terukir. Wanita cantik itu menyentuh punggung tangan Aeli. Mengusapnya pelan.
“Bunda nggak masalah. Seburuk apapun perilaku kamu, selama kamu mau berubah menjadi lebih baik, Bunda nggak akan pernah menghakimi kamu.”
Aeli mendongak. Kalimat Aiyana sukses membuatnya tersentuh. Tapi yang jadi masalah, tangan Aiyana. Aeli mulai panas dingin sekarang.
“B-bunda maaf.” Aeli menarik tangannya dari sentuhan Aiyana. Menghadirkan kernyitan di kening wanita itu.
“Kenapa, Li?”
“Aeli ... Aeli gak bisa bersentuhan lama-lama, Bunda. Aeli ngerasa nggak nyaman. Maaf ya, Bunda.”
“Oh iya, Sayang. Bunda lupa. Sky udah sempet ngasih tau sebenarnya. Maafin Bunda juga, ya?”
Hati Aeli menghangat melihat respon wanita itu. Aiyana, persis seperti ibu kandungnya. Senyum wanita itu, tutur katanya, kehangatannya. Aeli dibuat terenyuh.
“Sky yang ngasih tau Bunda, ya?” Aeli mengulang. Matanya berkaca-kaca.
“Iya. Katanya kamu gak bisa bersentuhan lama-lama sama orang, soalnya respon tubuh kamu berlebihan katanya. Tapi kalau sama Sky enggak, kan?”
Aeli mengulum senyum. Menggeleng.
“Kira-kira kenapa bisa gitu?”
“Nggak tau, Bunda. Tapi tiap Aeli sentuhan sama Sky, Aeli nggak pernah ngerasain hal yang gak enak. Nyaman aja gitu.”
“Berarti kalian sering sentuhan dong?”
Etdah. Skakmat.
“Se ... ring. Tapi Bunda jangan marah ya. Anak Bunda nggak pernah Aeli *****-***** kok. Palingan cuma Aeli peluk, Aeli sayang-sayang. Gitu doang kok, Bun.”
“Bunda nggak marah, Sayang. Asalkan kalian tau batasan.”
“Aeli usahain buat jaga kepercayaan Bunda.”
Aiyana mengangguk. Senyumnya menular ke Aeli. Tepat setelahnya, tiga serangkai yang ditugaskan Aiyana tiba di lokasi. Melihat pemandangan itu, Aeli hampir menyemburkan tawa. Kocak juga ya melihat ketiganya datang sambil berbaris seperti pasukan paskibra. Mana yang paling depan pendek banget kaya kurcaci.
“Nih, Li. Cobain teh buatan gue, dijamin ketagihan deh lo.” Rey menuangkan teh dari teko ke dalam gelas.
“Makasih,” kata Aeli membuat kegiatan Rey macet total. Cowok itu menatap Aeli dengan mata yang terbuka lebar-lebar.
“Lo bilang apa, Li?”
“Makasih,” ulang Aeli.
“Lo bilang makasih? Ke gue? Yang bener aja? Lo—”
“Loh kenapa, Bang? Orang bilang makasih kok kamu yang heboh?” heran Aiyana.
“Loh Bunda belum tau aja kalau—” Segera Rey merapatkan bibir begitu menyadari perkataannya mengarah ke mana.
__ADS_1
“Kalimat terima kasih itu balasnya sama-sama. Bukannya ngomel.” Sky berkata sambil tersenyum.
“Kaget, Bor. Maaf ya, Li. Gue emang rada-rada.”
Aeli menggumam saja. Dia tidak tersinggung. Lagipula, dirinya memang seperti itu kan?
“Kak Aeli. Kakak cantik banget.” Mey berujar tiba-tiba. Mata bulatnya tampak berbinar saat menatap Aeli.
Aeli mengembangkan senyum manis untuk anak itu. “Makasih ya, Mey. Kamu juga cantik banget.”
“Kak Aeli, Kak Aeli. Mau ikut Mey ke kolam nggak liat ikan-ikan? Ikan Mey buanyak loh.”
“Boleh?”
“Boleh, Kak. Ayo. Nanti Mey tunjukin ikannya ayah yang kepalanya benjol. Kasian banget loh, Kak.”
Mereka kompak menahan tawa mendengar penuturan Mey yang terdengar lugu dan polos. Mey itu punya kemampuan bikin orang lain tersenyum hanya dengan mendengar ocehannya.
“Sky, temenin Aeli main sama Mey sana. Bunda mau mandi dulu,” titah Aiyana.
“Oh iya, Bun.” Tatapan Sky beralih ke Aeli. “Ayo, Li. Tempatnya ada di samping.”
Aeli mengangguk antusias, berpamitan dengan Aiyana kemudian berjalan bersama Sky dan Mey menuju tempat yang Mey maksud.
Aiyana dan Rey menatap kepergian mereka. Jika Aiyana tersenyum hangat, Rey malah terkikik geli.
“Aeli lucu banget, Bun. Beda banget loh.”
Aiyana menengok. “Awas, kamu jangan ikutan naksir ya.”
“Kalau aku ikutan naksir gimana, Bun?” Rey menaik-naikkan alisnya tengil.
“Langsung Bunda nikahin sama waria.”
...•••...
Sky, Aeli dan Mey kini sampai di kolam ikan yang berada tepat di samping rumah. Mey mengoceh apapun yang ada di kepalanya, sedangkan Aeli mendengarkan dengan seksama. Melihat pemandangan itu, senyum Sky terukir. Dia senang Aeli terlihat nyaman bersama keluarganya, rautnya pun sudah kembali cerah dan tidak setegang tadi.
Lantas, cowok itu beralih melihat-lihat ikan lain, membiarkan Aeli bermain dengan adik perempuannya.
“Nah ini nih Kak yang kepalanya benjol. Mana mukanya nyebelin gitu. Mey kasian sih, tapi greget juga liat mukanya.”
Kini Aeli sudah berjongkok di sebelah Mey. Memperhatikan ikan louhan yang Mey maksud. Gadis itu terkekeh. Mey tidak salah ngomong sih sebenarnya. Tapi tidak benar juga.
“Tapi lucu ya, Mey. Imut.”
“Lebih imutan Bang Sky sama Kak Aeli,” ceplos anak itu.
“Kak Aeli nggak imut, Mey. Yang imut itu abang kamu.”
“Kak Aeli juga imut loh. Muka Kakak itu menggemaskan makanya aku suka sama Kakak.”
“Hm? Kamu suka sama Kakak?”
Bocah itu mengangguk antusias. “Suka banget. Mey jadi nggak heran kenapa Bang Sky suka sama Kakak soalnya Kakak itu cantik campur imut. Ditambah Kakak itu lembut banget kalau bicara. Mey suka.”
Aeli tersenyum lagi, mengusap kepala gadis kecil itu dengan sayang. Lalu kembali memperhatikan ikan-ikan di depannya.
“Ikan ini semuanya punya ayah kamu ya, Mey?” tanya Aeli penasaran.
“Iya, Kak. Semuanya punya ayah. Oh ada juga yang punya Bang Sky. Itu yang di kolam sebelah sana. Namanya Ocean. Sini Mey lihatin.” Mey menarik Aeli menuju kolam tempat Sky berada.
Aeli tersenyum ke arah Sky lalu kembali berjongkok bersama Mey.
“Nah itu yang namanya Ocean. Yang warnanya biru sendiri, Kak,” tunjuk Mey.
“Oh yang dipojokan itu, ya?”
“Iya yang itu. Suka mojok emang dia. Bang Sky, panggilin Ocean dong, Bang. Kenalin ke Kak Aeli.”
“Oke.” Sky berjongkok tepat di samping Aeli setelah mengambil makanan ikan dan menuangkannya ke tangan.
“Kalau mau manggil Ocean itu gampang kok, Li. Tinggal kasih makan aja.” Aeli manggut-manggut dengan bibir yang membentuk huruf O.
Sky mulai menaburkan makanan ikan ke atas kolam. Tak lama kemudian Ocean tergoda dan perlahan mendekat. Aeli menyorot Ocean kagum. Warna birunya ternyata lebih indah jika dilihat dari dekat.
“Ocean cantik banget,” gumam Aeli. “Boleh pegang?”
“Boleh. Jinak kok dia.”
Aeli segera memasukkan tangannya ke dalam kolam, menyentuh permukaan tubuh Ocean yang halus.
“Ternyata kamu punya peliharaan juga, ya? Aku baru tau.”
“Saya juga ternyata lupa mau ngasih tau kamu,” kekeh Sky.
“Gapapa. Kita sama-sama lupa. Kok sama, ya? Jangan-jangan? Kita ... Jo ....”
“Ntor,” sahut Sky asal.
“Eh? Rese ya sekarang.” Aeli menjawil gemas hidung Sky dengan tangan kirinya. Membuat kekehan cowok itu terdengar.
“Saya niru kamu soalnya.”
“Oh berarti maksud kamu aku rese gitu?”
“Em ... little bit.”
“Ish, dasar.” Aeli memonyongkan bibirnya.
Ngomong-ngomong Mey sudah hilang. Nggak tau deh ngacir ke mana itu anak.
“Ocean itu udah tua loh, Li. Umurnya udah hampir empat tahun. Kalau dia manusia, kayanya udah kakek-kakek sih,” beritahu Sky.
“Loh, Ocean itu cowok?”
“Iya cowok.”
“Kirain cewek ... Mana udah ku bilang cantik tadi.”
“Gak masalah. Dia juga gak ngerti kamu ngomong apa.”
Aeli tertawa pelan. Memperhatikan Ocean lagi.
“Ocean itu sebenarnya pemberian dari seseorang,” kata Sky tiba-tiba.
Aeli mengerutkan kening dalam. Penasaran. “Siapa?”
“Temen kecilku.”
“Siapa?” Aeli mengulang pertanyaan yang sama. “Cewek atau cowok?”
“Cewek.”
“Namanya siapa?”
“Calea.”
__ADS_1
...•••...