
...•••...
Jantung Aeli akan meledak, sebentar lagi. Jika Sky tidak segera melepaskan pelukannya sekarang juga, bisa-bisa Aeli beneran mati berdiri di tempat. Eh, ini tadi kupingnya tidak salah dengar kan, ya?
“S-sky,” panggil Aeli. Memberanikan diri menepuk pelan punggung lelaki itu.
“Saya nggak tau sejak kapan ngerasain ini, Li.”
Sky melonggarkan pelukan mereka, menyorot lekat mata beriris cokelat gelap milik Aeli.
“Mungkin setelah ini kamu bakal bilang kalau saya modus. Tapi kenyataannya memang cuma sama kamu saya sering ngerasa aneh. Jantung saya kaya mau meletup, telinga saya juga panas tiap liat kamu. Apapun yang kamu lakuin selalu bikin saya tertarik.”
Aeli diam. Diam-diam menahan gemas karena raut Sky tampak begitu polos dan lugu saat menjelaskan. Sky itu terlalu imut untuk Aeli yang gemesan.
“Kehadiran kamu bikin hidup saya terasa nggak monoton lagi. Saya seneng tiap kamu sama saya, saya seneng waktu kamu milih saya, saya juga seneng saat tau kamu cuma bersikap manis ke saya.”
Sudut bibir Aeli terangkat sedikit, matanya berkaca-kaca.
“Saya selalu menyangkal kalau sebenarnya saya udah jatuh cinta sama kamu cuma karena saya selalu ngerasa nggak pantes ada di samping kamu.” Sky membuang nafas pelan.
“Maaf, Aeli,” kata Sky selanjutnya.
“M-maaf untuk apa?” Aeli bertanya gamang.
“Maaf karena saya udah lancang menyukai kamu.”
Mata Aeli benar-benar siap menumpahkan cairan bening. Dia tidak menyangka lelaki yang selama ini berhasil menempati ruang kosong di hatinya ternyata memiliki rasa yang sama.
Gadis itu menunduk, menyembunyikan rona merah di sekitar pipi sekaligus air matanya yang sudah jatuh. Aeli bingung harus membalas apa. Seumur hidup, baru kali ini Aeli dihadapkan dengan pengakuan cinta yang sangat manis.
Btw, ini sudah bisa disebut pengakuan cinta, kan?
“Makasih,” balas Aeli.
Dirinya kembali mendongak hingga matanya bertabrakan dengan mata imut milik Sky. Debur ombak, angin pantai, sinar hangat matahari menjadi objek pendukung momen yang paling Aeli tunggu-tunggu selama ini. Dia tersenyum, membiarkan air matanya luruh membasahi pipi.
“Makasih udah bales perasaan gue, Sky. I'm happy, too much.”
Kali ini giliran Sky yang membeku, daun telinganya makin-makin merah. Apa mungkin Aeli juga menyukainya selama ini?
“Maksud kamu, Li?” tanyanya meragu.
“Love you too, Sky Lazaro.”
Aeli menghambur ke pelukan cowok itu tanpa diminta. Pelukan hangat Sky seolah menjadi candu untuknya. Dia menyukai saat bisa dengan bebas menghirup wangi parfum milik cowok itu.
“Gue juga mau bilang kalau gue udah suka banget sama lo dari awal pertemuan kita. Makanya selama ini gue beraniin diri deketin lo. Gue gak pernah ngeraguin perasaan gue sama sekali, Sky. Karena cuma lo yang bisa bikin gue ngerasain ini.”
Gadis itu mendongak, menatap Sky dari bawah. “Gue bersyukur karena ternyata cinta gue gak bertepuk sebelah tangan.”
Sky sudah tidak bisa menahan senyum. Dia membalas pelukan Aeli, menatap gadis yang masih mendongak menatapnya.
“Kamu mau izinin saya buat terus jagain kamu? Nemuin kamu tanpa alasan dan jadi pendengar cerita kamu?”
“Gue izinin.”
Sky semakin mengeratkan pelukannya. “Be mine?”
Tanpa ragu Aeli membalas, “I'm yours.”
•••
Dipta menutup pintu setelah keluar dari ruang rawat Mahesa. Claudia yang tadinya duduk di kursi tunggu langsung berdiri melihat figur cowok itu. Senyum manisnya terukir, matanya ikut berbinar-binar. Claudia hanya sendiri karena Ashila sudah pulang duluan.
“Kak Dipta, Kakak mau langsung pulang, ya?” tanya Claudia.
“Kenapa?”
“Eum, boleh tolong anterin aku pulang nggak, Kak? Mamaku udah pulang duluan soalnya.”
“Kenapa nggak bareng mama lo aja?”
“Mama ada urusan, katanya aku disuruh balik sama Kakak aja. Lagipula rumah kita kan searah.” Gadis itu tersenyum.
“Aeli mana?” Dipta tiba-tiba mengganti topik bahasan.
Raut Claudia sedikit berubah mendengar nama Aeli, namun dengan cepat gadis itu mengubahnya. “Kak Aeli keluar, Kak. Aku juga nggak tau kak Aeli ke mana. Kenapa ya, Kak?”
“Biasanya dia selalu di sini jagain om Mahesa.”
“Mungkin sebentar lagi kak Aeli ke sini.”
“Lo punya kontak dia?”
Claudia mengenyit. Mengapa pula tiba-tiba Dipta menanyakan kontak kakak tirinya itu. “Ada, t-tapi buat apa, Kak?”
“Gue minta.”
“Buat ... apa?”
“Gue makan. Gausah banyak nanya.” Dipta gondok.
Claudia mendengkus dalam diam, mengeluarkan ponselnya dari saku dan langsung mengirimkan kontak Aeli pada Dipta.
“Udah, Kak.”
“Thanks.” Dipta akan pergi, tetapi Claudia menahan.
“Kak, anterin aku pulang ya, Kak?” Claudia memasang wajah penuh harap.
“Gue baru inget ada urusan. Lo pesen taksi aja. Duluan.”
Setelahnya, Dipta benar-benar pergi meninggalkan Claudia.
“What? Kenapa dia jadi gini sih? Bukannya akhir-akhir udah mulai luluh, ya?” Claudia bermonolog. Tidak habis pikir.
“Gue yakin. Ini semua pasti gara-gara cewek brengsek itu. Dia pasti mau ngerebut Dipta dari gue. Bangsat emang.”
Inilah Claudia Ardani yang asli, tanpa topeng emas andalannya. Gadis tempramen, keras, dan gampang terpancing emosi. Bukan gadis polos lemah lembut nan rapuh seperti yang diketahui banyak orang.
Claudia Ardani, tidak lebih dari sekedar tokoh antagonis yang sering memporak-porandakan sebuah cerita.
•••
Setelah melewati hari yang melelahkan, Sky dan Aeli memutuskan untuk beristirahat di salah satu restoran seafood yang berada tidak jauh dari wilayah pantai. Mengisi perut sekaligus mengisi energi.
Mereka memilih duduk di lesehan. Membiarkan hembusan angin pantai menerpa, menciptakan suasana tenang nan menyejukkan.
“Sore-sore gini hawanya enak ya, Sky. Pengen deh gue tiap hari bisa ke sini.” Aeli menutur yang tengah menikmati pemandangan laut.
Sky yang duduk di sebelahnya menyunggingkan senyum, meletakkan daging lobster yang sudah di kupasnya ke piring Aeli. “Mau saya bawa ke sini tiap hari?”
Aeli menoleh. “Janganlah. Kalau samping rumah mah gapapa. Lah ini jauh banget buset.”
__ADS_1
Sky terkekeh.
“Ntar aja kapan-kapan. Tapi gue pengen perginya naik motor. Kayanya seru.”
Seru di Aeli encok di Sky. Tiga jam perjalanan menggunakan motor? Hm, sepertinya harus dilakukan banyak pertimbangan dan persiapan.
“Canda, Sky. Mana tega gue biarin lo nyetir motor se-lama itu sedangkan gue enak-enakan nemplok di badan lo.”
“Bisa sih sebenarnya. Kapan-kapan kalau kita ke sini lagi saya bawa kamu pakai motor.”
Mata Aeli berbinar. “Serius, ya.”
“Tapi kamu-nya kuat nggak naik motor se-lama itu?”
Aeli berpikir sejenak. “Nggak tau sih, nggak pernah nyoba juga soalnya. Kalau sama lo kayanya sih kuat-kuat aja.”
Sky menyipitkan mata. “Ini kamu lagi gombal?”
Aeli tertawa. “Iya, gombal dikit.”
Sky mengacak pelan rambut Aeli tapi langsung dirapikan kembali. “Makan dulu, Li.”
“Suapin boleh?”
Sky menyorot lekat Aeli yang tengah menyengir lucu. Menggemaskan sekali. Cowok itu mengambil sesendok nasi dan lauk, mendekatkannya ke mulut Aeli dan langsung diterima oleh sang empu.
Sampai sekarang Sky masih tidak percaya bahwa Aeli benar-benar sudah menjadi kekasihnya. Dia juga tidak menyangka bisa memiliki rasa sayang sebesar ini pada perempuan selain ibu dan adik kecilnya.
Sky berharap, kisahnya dan Aeli yang resmi dimulai hari ini bisa terus berlanjut. Tanpa ada kata lelah maupun keinginan untuk sekedar beristirahat.
“Sky, kita pacaran, kan?” tanya Aeli tiba-tiba setelah makanannya tertelan.
Sky mengedip dua kali. Bingung. “Iya ....”
“Berarti?” Aeli bertanya.
“Kamu pacar saya,” ceplos Sky. Tidak salah sih.
“Harusnya lo jawab gini, Sky, 'berarti saya boleh dong manggil kamu sayang?'”
Sky tersenyum geli. “Jadi ceritanya kamu lagi ngode mau dipanggil sayang?”
“Iya dong.”
Sky meletakkan sendoknya, memiringkan kepala menatap Aeli yang masih menunggu. Cowok itu mengamati paras indah Aeli mulai dari mata, hidung, bibir, lalu naik lagi ke mata. Setelahnya, dia berucap pelan.
“Sayang ....”
Sesuatu dalam diri Aeli langsung bergejolak. Gila saja, hanya karena satu kata dengan nada lembut yang Sky ucapkan, dia langsung membatu seperti patung.
Sepertinya Aeli salah besar sudah menyuruh Sky memanggilnya dengan sebutan itu. Lihatlah, sekarang dia sendiri yang kerepotan menetralkan detak jantungnya.
“Sayang?” panggil Sky lagi.
Aeli langsung menutup wajah dengan telapak tangan, menyembunyikan rona merah di area pipinya. Malu anjir.
“Kenapa mukanya ditutup?” tanya Sky. Cowok itu masih setia memandangi Aeli.
“Udah Sky, udah. Jangan panggil gue kaya gitu lagi.”
Sky tertawa. Aeli ini, dia yang minta dia juga yang salting. Pacar Sky memang paling unik deh.
Perlahan Sky menurunkan tangan Aeli yang menutup muka agar bisa melihat se-merah apa wajah itu sekarang. Ternyata sudah macam lobster rebus di depan mereka.
Aeli berdeham pelan, menormalkan semuanya kembali. “Nunggu setelah matahari terbenam, ya. Gue pengen banget liat sunset.”
“Oke. Saya juga udah lama banget nggak liat sunset.”
“Sky juga suka sunset, ya?”
“Suka. Awalnya sih nggak terlalu, tapi karena bunda suka banget jadi saya ikutan suka.”
“Bunda lo orangnya pasti cantik banget kan, Sky? Anaknya aja bisa seganteng dan selucu ini,” puji Aeli kemudian.
“Kamu mau liat bunda secara langsung?”
“B-boleh?”
“Boleh. Kapan-kapan saya bawa kamu ke rumah supaya bisa kenalan sama bunda.”
Aeli mengangguk cepat diiringi senyuman. Mereka berdua melanjutkan makan dan setelah itu duduk santai di pinggir pantai kala matahari sudah akan terbenam. Cahaya jingga yang memancar tampak begitu memanjakan mata. Aeli senang hari ini bisa menikmati sesuatu yang dia suka bersama seseorang yang cukup berarti dalam hidupnya.
Aeli berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah tuhan beri. Kehadiran Sky di hidupnya adalah salah satu anugerah terindah yang Aeli punya. Dia bersyukur bisa memiliki lelaki itu.
Namun, Aeli tiba-tiba kepikiran sesuatu. Lantas dia memanggil Sky yang bahunya dia gunakan untuk menyandarkan kepala. Pandangan keduanya masih tertuju pada matahari terbenam di depan sana.
“Sky, gue boleh tanya?”
Sky menyorot Aeli lembut. “Boleh. Mau tanya apa?”
“Gimana ya kalau seandainya bunda lo tau kita pacaran? Beliau bakal marah nggak ya kalau tau pacar lo sejenis gue?”
Kening Sky mengerut, bibirnya berkedut kecil menahan senyum. “Sejenis kamu maksudnya?”
“Ya sejenis gue. Lo tau kan gue kaya apa?”
“Tau. Kamu baik, kuat, cantik, lucu, gemesin. Mana mungkin bunda nggak suka.”
Anjrit bat dah.
“Bukan itu, Sky. Gue kan orangnya kampret banget. Suka bikin ulah, suka nyiksa orang, suka bully orang. Gue takut kalau bunda lo tau terus nyuruh kita putus.”
Sky terkekeh, ternyata sejauh itu Aeli memikirkan semuanya. “Kamu tenang aja. Bunda itu nggak kaya ibu-ibu di sinetron yang kamu tonton. Beliau nggak bakal nge-blacklist kamu gitu aja cuma karena kelakuan kamu.”
“Tapi kan seorang ibu pasti pengen yang terbaik buat anaknya, Sky. Tapi gue? Terburuk.” Wajah Aeli makin melas.
“Li, jangan terlalu mikirin sesuatu yang belum tentu bakal kejadian. Berhenti merasa rendah, ya. Karena di mata saya kamu itu sempurna. Bunda juga pasti seneng kalau tau pacar anaknya sebaik dan secantik kamu.”
“Baik di mata lo doang, Sky. Di mata orang mah gue kaya setan.”
“Yang terpenting kan di mata saya, Li.”
Iya juga sih.
“Kembaran lo, dia kan tau kelakuan gue selama ini.”
“Rey itu anaknya memang sableng dikit. Tapi orangnya gak suka jelek-jelekin orang kok. Apalagi orangnya kamu. Mana berani dia.”
Aeli terkekeh. Dia sendiri tahu bagaimana takutnya kembaran dan teman-teman Sky padanya. Semoga saja mereka memang sebaik seperti yang Sky katakan.
“Makasih karena udah nerima gue apa adanya, Sky. Makasih juga udah bawa ke sini. Demi tuhan, gue seneng banget hari ini. Apalagi bisa habisin waktu gue bareng lo.”
Sky tersenyum tulus. “Saya bersyukur bisa jadi alasan bahagia kamu, Li.”
__ADS_1
“Jangan pernah tinggalin gue, ya?”
“Saya nggak bakal pernah ninggalin kamu, sekalipun kamu sendiri yang meminta saya untuk pergi.” Sky menjawab yakin.
Aeli dibuat terenyuh mendengar tidak ada keraguan sama sekali di nada bicara Sky. How lucky she is. Bisa dicintai oleh manusia selembut dan sebaik Sky Lazaro. Pilihan Aeli menjatuhkan hati pada cowok itu dari awal pertemuan mereka memang tidak salah.
“Makasih, Sayang.”
•••
Hari ini Aeli kembali ke sekolah setelah beberapa hari mengambil cuti. Gadis itu datang dengan perasaan berbunga-bunga, senyumnya tak luntur sepanjang jalan dan sukses membuat beberapa orang yang dia lewati menatap heran.
Jika orang lain yang memasang senyum cerah seperti itu mungkin tidak mengejutkan. Masalahnya ini seorang Faye Aeliya, gadis yang terkenal dengan wajah datar dan dingin serta tatapan tajam menakutkan. Mana pernah dia tersenyum secerah itu sebelumnya.
Mood Aeli memang seratus persen baik setelah kemarin menghabiskan waktu bersama Sky. Saat dia pulang ke rumah dan saat berangkat sekolah pun dia tidak bertemu dengan setan-setan di rumahnya. Apalagi sempat bertukar pesan dengan kekasihnya pagi tadi, Aeli jadi makin bahagia dong.
“Itu ... Aeli? Ratu bully yang ditakutin anak-anak?” tanya salah satu siswi yang berada di koridor.
“Kalau mata kita nggak salah, emang dia,” sahut temannya.
“Dia kesambet, ya?”
“Biasanya orang yang bisa senyum secerah itu alasannya cuma dua. Pertama karena lagi bahagia. Kedua karena gila.”
Kepalanya ditoyor oleh temannya. “Mulut lo, nyet.”
“Tapi kan nggak salah!”
“Emang nggak sih.”
“Aeli punya pacar kali, makanya cerah banget hari ini.”
Kalimat yang terdengar membuat mereka menoleh. Mengangguk kecil. “Iya kali, ya? Bisa jadi bisa jadi.”
Aeli yang tengah asik-asik berjalan tak sengaja berpas-pasan dengan Tiffany yang entah muncul dari mana. Gadis itu mencegat Aeli hingga membuat langkahnya berhenti.
“Kak Aeli, kan?” tanyanya konyol.
“Bukan. Gue Ariana Grande,” ceplos Aeli malas.
“Ye ini mah Ariana Grande versi gagal total.”
“Heh apa lo bilang?!”
Tiffany tertawa, langsung menangkup tangan sebelum digeprek oleh kakak kelasnya itu.
“Kita damai, oke?”
“Damai sama lo tuh bencana besar buat gue. Sana minggir!”
“Eit, bentar. Mau nanya dong. Keadaan papa Kakak gimana? Kata kak Clara papa Kakak masuk rumah sakit makanya Kakak nggak masuk beberapa hari ini. Beliau udah baik-baik aja, Kak?”
Aeli mendengkus pelan. “Nggak tau. Tanya anaknya gausah tanya gue.”
Tiffany dibuat bingung dengan balasan Aeli. “Lah kan Kak Aeli juga anaknya gimana sih?”
“Tanya temen sekelas lo!” damprat Aeli sebelum benar-benar berlalu dari hadapan Tiffany.
“Idih sensi banget tuh orang. Untung Kak Aeli, kalau orang lain udah gue pites lu.”
Aeli sampai di dalam kelas dan di sebelah tempat duduknya sudah ada Clara. Begitu melihat kedatangan Aeli gadis itu langsung memasang tatapan tajam, menyuruh Aeli untuk segera duduk.
“Jelasin,” suruhnya jutek.
“Monyet gue tadi bangunnya pagi banget. Habis bangun langsung work out. Habis itu luluran, mandi, terus pakai skincare. Sekarang mukanya jadi mirip elu.”
“Eh iblis, sempet-sempetnya lo hina gue.” Clara mencetus tidak terima.
“Serius dikit napa. Yang lo bilang di chat semalam tuh bener? Lo sama Sky ... jadian?” tanya Clara, suaranya mengecil di akhir.
Aeli mengembangkan senyum, mengibas rambut panjangnya hingga mengenai muka Clara. Membuat sahabatnya itu mengomel penuh umpatan.
“Serius dong. Ya kali gue halu,” balas Aeli akhirnya.
“Anjay, kok bisa? Bukannya kemarin lo masih berantem sama dia? Lah sekarang ngapa udah jadian aja?”
Aeli mengedikkan bahu dengan ekspresi tak acuh. “Mana gue tau. Tanya Sky lah, kan dia yang nembak.”
“HAH?! DIA YANG NEMBAK?!”
Suara menggelegar Clara sukses menjadi perhatian seisi kelas. Apalagi kalimatnya yang cukup menarik untuk didengarkan.
“Teriak lagi, Clar. Biar semuanya tau kalau gue udah sold out,” ceplos Aeli dengan nada menyindir. Jujur saja, kuping Aeli sedikit pengang karena suara melengking sahabat kampretnya itu.
“Etdah. Gue kira lo yang gas pol, nyet.” Clara syok berat. “Wah berarti selama ini dia juga suka sama lo dong? Huhu akhirnya cinta lo nggak bertepuk sebelah tangan, Li.”
Aeli geleng-geleng melihat antusiasme Clara. “Plin-plan lo dasar. Bentar-bentar dukung, bentar-bentar nggak, dukung lagi, enggak lagi. Bingung gue sama kepribadian lo, Clar. Punya alter ego apa gimana sih lo?”
“Gue kan moodyan, sis. Semua yang gue dukung tuh tergantung mood. Bisa aja sekarang gue dukung lo sama Sky, terus besok dukung lo sama Dipta. Terus bisa aja besok-besoknya lagi gue dukung lo sama satpam sekolah. Pokoknya suka-suka gue, lo nggak usah banyak protes!”
Aeli mencibir sinis. “Plin-plan.”
“Daripada gue gak dukung lo sama sekali.” Cewek itu menjulurkan lidah, mengejek.
Aeli memutar bola mata tak minat. Malas meladeni ketidakjelasan Clara.
“Btw, selamat ya, Sayangku. Akhirnya kapal kalian berlayar juga. Gue ikut seneng deh. Gak sia-sia kemarin gue infoin soal lo ke Sky.”
Lahiya. Aeli kenapa baru kepikiran, ya?
“Lo yang bilang ke dia?”
“Ya lah! Kemarin pas habis dari rumah sakit gue langsung nelfon Sky buat temenin lo. Nggak tega gue tinggalin lo sendirian. Kalau ada Sky kan lo ada yang nemenin.”
Aeli jadi terharu, ternyata sahabatnya ini memang sebaik itu. Lantas, Aeli langsung memeluk tubuh Clara hingga membuat sang empunya memekik kaget.
“Eh apaan lo, anjir?”
“Makasih ya, Clar. Lo emang sahabat gue yang paling baik deh. Gue sayaaaang banget sama lo, muach!”
“Dasar jablay lo, Li! Lepasin nggak?!”
Aeli akhirnya melepaskan tubuh Clara yang di dekapnya karena sang pemilik tubuh hampir kehabisan nafas.
“Karena lo sangat berjasa bikin gue jadian sama Sky, nanti pas di kantin gue traktir. Pesen aja apa yang lo mau. Kalau perlu ajak sepupu berisik lo itu sekalian.”
Clara yang tadinya batuk-batuk langsung menatap penuh binar. “Serius lo, ya? Kalau bohong si Gita jadi waria.”
“Dia cewek, geblek. Ngadi-ngadi anaknya Jamal.”
“Heh gak sopan lo manggil papa gue tanpa embel-embel yang mulia baginda raja!”
“Halah cocotmu!”
__ADS_1
...•••...