
...•••...
Tatapan Aeli yang datar-datar saja sejak tadi langsung menajam begitu melihat kemunculan sosok Claudia dari arah berlawanan. Kasa putih tampak menutup luka di dahi yang Aeli berikan tiga hari lalu. Melihatnya, Aeli menyeringai. Seharusnya dia bisa melakukan lebih.
“K-kak ....” panggil Claudia tepat saat dirinya sampai di depan Aeli. Wajah polos itu terlihat takut, bahkan tidak terlalu berani menatap mata Aeli yang seperti akan menghancurkannya saat ini juga.
“Mau apa?” Aeli berujar ketus. Tidak ada kelembutan di nada bicaranya.
Lihatlah, baru di tanya seperti itu saja Claudia sudah gemetaran. Lemah sekali.
“Aku ... aku pengen tau keadaan Kakak. Aku khawatir Kakak kenapa-napa,” tutur Claudia, memainkan jemarinya yang bertautan. “Papa di rumah nyariin Kakak, nyuruh Kakak pulang.”
Aeli berdecih, melipat tangan di depan dada lalu memajukan wajahnya tepat di depan wajah Claudia. “Bilangin sama papa lo, kalau nyuruh gue pulang cuma buat disiksa lagi, gue ogah.”
“Papa nggak nyiksa Kakak, papa cuma—”
“Lo tau apa sih? Lo nggak akan ngerti gimana rasanya jadi gue karena lo nggak pernah ada di posisi gue,” tekan Aeli sebisa mungkin tidak membentak dan membuat mereka kembali menjadi pusat perhatian.
“Aku tau. Papa juga nggak akan hukum Kakak kalau Kakak nggak nyakitin aku. Seharusnya—”
“Wow. Jadi lo ke sini cuma mau pamerin sesayang apa papa sama lo, ya? Sengaja banget bikin gue keliatan terhina?”
Claudia menggeleng cepat. “Nggak gitu, Kak. Maaf aku salah bicara.”
Aeli memejamkan mata seraya menghembuskan nafas panjang, berusaha mengatur nafas dan mempertahankan ketenangannya. Lantas, dia tersenyum manis kemudian.
“Udah ya, Clau. Jangan ganggu gue. Jalanin aja hidup lo sendiri, nikmatin hidup lo tanpa gue. Setelah ini gue gak bakal ganggu lo lagi.” Aeli akan pergi, namun Claudia segera mencekal tangannya.
“Don't touch me, *****!” umpat Aeli emosi setelah menepis kasar cekalan Claudia. Matanya seketika memancarkan kilatan amarah.
“Lo tuh definisi manusia kaya apa sih? Dijahatin nangis, dibaikin ngelunjak. Kebelet mati lo, ya?”
Claudia mundur selangkah, tersentak kaget. “M-maaf. Aku cuma pengen bujuk Kakak biar balik lagi ke rumah. Mama juga nyariin Kakak dari kemarin. Kata Pak Pardi, Kakak dijemput temen Kakak, ya?”
“Bukan urusan lo!”
“Mama sama papa pengen Kakak pulang. Mereka khawatir.”
“Bodo amat, Bangsat!” Aeli kelepasan membentak. Nafasnya naik turun dengan cepat. “Mau mereka mampus karena khawatir pun gue gak peduli! Karena yang lo bacotin dari tadi cuma omong kosong! Gak bisa dipercaya sama sekali!”
Claudia gemetar mendengar bentakan Aeli yang sangat keras, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
“Please, stop. Gue udah muak sama drama kalian.”
“Kak, sebentar.”
Karena kesal Claudia terus menghalangi langkahnya, Aeli mendorong gadis itu hingga menyingkir. Namun Aeli tidak tahu jika dorongannya terlalu keras hingga membuat Claudia membentur dinding dan jatuh ke lantai. Kontan gadis itu lemah meringis sakit.
“Clau, lo—”
“Claudia!”
Omelan Aeli terputus kala mendengar suara berat yang menyerukan nama adik tirinya. Dia maupun Claudia langsung menoleh ke sumber suara. Mendapati seorang lelaki berdiri tidak jauh dari sana. Aeli berdecak malas, menyiapkan segala jenis kalimat umpatan untuk dia tujukan jika lelaki ini berani menuduhnya mencelakai Claudia.
“Dia, lo gapapa?” tanya Dipta, khawatir sepertinya.
Claudia meringis pelan, menggeleng lemah. Tatapan tajam Dipta jatuh ke Aeli. Sedang yang ditatap hanya menunjukkan raut tak acuh, seolah sudah menebak bagaimana alur yang dia hadapi setelahnya.
“Kerjaan lo?”
Kan, easy banget, Dek.
“Apa? Mau marah-marah sama gue? Mau nampar gue kaya waktu itu? Silakan, Tuan Muda Dipta Prahardja,” tantang Aeli tanpa takut.
“Lo gak capek cari masalah mulu sama Dia? Kenapa sih lo suka banget gangguin hidup orang?”
Dih.
“Nuduh-nuduh. Lo pikir gue segabut itu cari masalah sama cewek lo?”
“Memang iya, kan?”
Aeli berdecak keras, menyorot sinis Claudia yang kembali bertingkah sok lemah. Aeli tidak mengerti sekeras apa dorongannya sampai bikin gadis itu lumpuh sebadan-badan. Semulut-mulut pula.
“Terserah! Di mata lo gue emang gak pernah bener, kan? Sekalipun gue gak ngelakuin apa-apa pasti selalu salah.”
“Dan lo, Clau. Sampai kapan sih lo mau sandiwara mulu? Gak capek? Mending lo casting aja dah sumpah. Kalau ketrima kan lumayan bisa menghasilkan cuan buat biayain hidup. Daripada drama-drama murahan gini. Dibayar kagak, apes iya,” ceramah Aeli kemudian menghentakkan langkah pergi dari sana.
Dipta masih memandanginya punggung mungilnya yang terlihat lucu saat berjalan. Rasa aneh menyusup, Dipta kembali merasakan ada sesuatu yang menggerogoti relung hatinya. Dan ... seharusnya dia tidak begini.
“Kak ....” Suara lirih yang berasal dari Claudia menyadarkan Dipta. Segera cowok itu menoleh, melihat Claudia masih terduduk lemah di lantai. Tanpa mengucap apapun, Dipta membantu gadis itu untuk berdiri.
“Makasih, Kak,” balas Claudia, memasang senyum canggung.
Dipta hanya berdehem menanggapi. Bola matanya kembali menyorot tempat terakhir Aeli berpijak, ternyata gadis itu sudah menghilang. Tiba-tiba saja Dipta merasa sesuatu muncul dalam dirinya. Em, sejenis rasa bersalah, mungkin?
...•••...
Istirahat kali ini Aeli gunakan untuk menghabiskan waktu di perpustakaan. Aeli sedang tidak ingin bertemu siapapun dan ditemui oleh siapapun. Dirinya butuh ketenangan untuk meredam emosinya yang sempat tersulut. Tentunya karena ulah duo kampret yang selalu membuat amarahnya melambung akhir-akhir ini.
Maka untuk mengalihkan perhatiannya dari kekesalan yang dia rasakan, Aeli memilih membaca novel yang tersedia di perpustakaan. Dia sengaja memilih tema yang ringan dengan banyak bumbu-bumbu manis, romantis, serta humor di dalamnya. Dengan begitu mungkin bisa memperbaiki suasana hatinya yang kacau.
Perpustakaan saat ini tidak cukup sepi tetapi juga tidak terlalu ramai. Mengingat jam istirahat sedang berlangsung, pasti banyak murid yang terpecah memilih tujuan. Salah satunya adalah ke sini. Meski hanya sebagian kecil. Kebanyakan pun anak ambis yang tengah mencari bahan untuk mengasah otak.
Aeli memang pintar, tapi dia tidak terlalu ambis seperti beberapa murid pintar lainnya. Karena tidak ada yang menuntut Aeli untuk terus mendapat nilai bagus dan tidak ada yang menghargainya juga, maka Aeli santai-santai saja. Dapat nilai bagus syukur, tidak dapat ya sudah. Sesimpel itu aturan hidup Aeli.
Aeli adalah tipe orang yang senang melakukan sesuatu sesuai kata hati. Dia tidak akan pernah memaksa diri untuk melakukan hal yang pada dasarnya tidak dia sukai. Karena itu, Aeli tidak memilih mengikuti ekstra apapun di sekolahnya. Meski sudah didesak berkali-kali oleh wali kelas, Aeli tetap tidak mau. Karena tidak ada satu kegiatan pun yang berhasil menarik perhatiannya. Hm, ada sih. Tapi Aeli terlalu malas untuk mengenal lingkungan baru.
__ADS_1
“Permisi ....”
Suara lembut yang terdengar mengalihkan perhatian Aeli dari novel yang dibacanya. Kerutan tipis muncul begitu dirinya menangkap sesosok perempuan asing—yang mungkin belum pernah dilihatnya sebelumnya.
“Ya?” sahut Aeli datar.
Gadis berkaca mata yang kini berdiri di sebelah Aeli menggigit bibirnya kuat, tubuhnya langsung panas dingin ditatap se-intens itu oleh sosok Aeli yang selama ini dia takuti.
“K-kak Aeli, aku s-sepupunya kak Clara,” ujar sang empu, terbata.
Aeli meneliti tampilannya dari atas sampai bawah sambil mengingat-ingat sesuatu yang dia lupakan.
“Yang mau minta salinan prediksi UTS MTK?” tebak Aeli kemudian.
Gadis berkaca mata itu mengangguk pelan. “Iya, Kak.”
“Duduk dulu,” suruh Aeli mengarahkan bola mata ke kursi kosong sebelahnya. Dengan sopan sang empunya memenuhi perintah Aeli, menjauhkan rasa takut dalam dirinya sambil terus mengingat-ingat perkataan Clara yang dia jadikan sebagai patokan.
“Sans aja, Tif. Aeli gak seserem keliatannya kok. Kalau lo datengnya baik-baik masa dia tiba-tiba mau nelen lo? Gak mungkin. Bawa santai aja pokoknya. Tapi jangan ajak dia jabat tangan atau sentuh-sentuh dia, bisa-bisa lo digeprek beneran.”
“Nama lo siapa?” Pertanyaan Aeli mengejutkan sang empu. Dengan sopan dia menjawab.
“Tiffany, Kak. Kelas 10-4.”
“10-4?” Alis Aeli bertautan.
Mengerti apa yang Aeli pikirkan, Tiffany segera mengimbuhi. “Aku sekelas sama Claudia, Kak. Tapi cuma sekedar kenal, nggak seberapa akrab.”
“Sering liat gue ke sana berarti?”
Tiffany menganggukkan kepala. “Sering banget, Kak.”
“Gak takut sama gue?” Lagi-lagi pertanyaan itu yang keluar saat Aeli bertemu dengan orang baru yang memang sudah mengenalnya. Entahlah, Aeli hanya penasaran.
Tiffany tersenyum canggung. “Takut sih, Kak. Tapi aku udah konsultasi duluan sama kak Clara sebelum ke sini.”
“Clara bilang apa?”
“Katanya Kakak nggak semenakutkan itu kok. Aku disuruh santai aja.”
“Tapi dari tadi lo gak santai.”
“Hehe tremor, Kak.” Tiffany cengengesan.
Aeli tertular menampilkan senyum tipis, menggeleng pelan. Ternyata benar apa yang Clara katakan, Aeli tidak seperti yang dibicarakan orang-orang. Bahkan jauh dari perkiraan Tiffany bahwa Aeli akan mengusirnya dengan kejam.
“Jadi, lo butuhnya kapan? Biar langsung gue siapin.”
“Sebenarnya masih dua minggu lagi sih, Kak. Tapi kalau aku mintanya besok atau lusa boleh nggak? Soalnya mau langsung aku pelajarin.” Tiffany menjelaskan.
“Boleh. Ntar gue cari dulu di rumah, kalau udah ada langsung gue kabarin.”
“Gimana lo mandang gue aja,” jawab Aeli seadanya.
“Tapi serius loh. Aku pikir Kakak itu galak banget. Soalnya, em maaf ya, Kak. Soalnya aku sering banget liat Kakak bentak anak-anak lain. Makanya selama ini aku ngundur-ngundur terus setiap mau nemuin Kakak. Nyiapin nyali. Takutnya aku dibentak-bentak juga hehehe.”
Aeli memandang gadis ini lembut, tidak seperti di awal. “Emang gue seserem itu, ya?”
“Em, gimana ya jelasinnya? Kakak sebenarnya, kalau secara fisik ya, nggak serem sama sekali. Malahan Kakak itu cantik banget. Bawaannya adeeeem gitu kalau diliat.”
Aeli manggut-manggut, menyimak pandangan Tiffany tentangnya.
“Cuma yang bikin anak-anak pada takut ya karena udah pernah ngeliat kelakuan Kakak. Coba aja belum, pasti banyak yang ngira Kakak itu kalem dan lemah lembut. Padahal aslinya ... eh? Maaf, Kak! Aku nggak bermaksud jelek-jelekin Kakak kok. Mulutku emang nyablak banget, Kak. Maaf.”
Aeli terkekeh melihat Tiffany menepuk-nepuk bibirnya sendiri. Ternyata gadis ini juga tidak jauh berbeda dengan Clara. Banyak omong dan suka blak-blakan. Tidak heran sih, masih satu garis keturunan juga.
“Gapapa. Lagian kenyataannya emang gitu.”
Tiffany mengerjap melihat respon Aeli. “Kakak nggak marah? Serius?”
“Enggak. Gue malah suka denger lo ceplas-ceplos gitu. Artinya lo jujur.”
“Aduh, jadi tersanjung deh.” Tiffany tersenyum malu-malu. Ck, anak ini benar-benar persis dengan Clara. Kadang malu-malu, kadang malu-maluin.
“Em, kalau gitu aku pamit dulu ya, Kak. Maaf udah ganggu waktu Kakak. Sekali lagi makasih banyak, Kak Aeli!”
Aeli berdehem. Membiarkan gadis berkaca mata itu berlalu pergi meninggalkan ruangan. Setelahnya Aeli menggeleng pelan, kembali menyorot buku tebal yang sebelumnya dia anggurkan.
Baru ingin melanjutkan bacaan, tiba-tiba terdengar bel tanda berakhirnya jam istirahat dan mulainya jam pelajaran. Aeli berdecak kesal, malas sekali rasanya kembali ke kelas dan berhadapan dengan orang-orang.
Memantapkan hati, Aeli menutup novel setelah menandai bagian terakhir yang dia baca. Gadis itu beranjak dari tempat duduk kemudian segera keluar dari tempat kesukaannya itu setelah UKS.
Aeli baru ingat jika hari ini dia belum bertemu Sky sama sekali. Jangankan bertemu, berpas-pasan pun tidak. Aeli terlalu sibuk menenangkan hatinya yang panas sampai lupa dengan cowok imut kesayangannya itu. Ingin mencarinya sekarang pun percuma, pasti dia sudah berada di dalam kelas untuk belajar.
“Ntar deh, pas istirahat kedua gue samperin. Kok kangen banget, ya?” Aeli malah cemberut sepanjang jalan.
Tiba-tiba seorang lelaki menghentikan langkahnya. Kening Aeli mengerut dalam, memindai manusia yang berdiri di depannya kini.
“Akhirnya ketemu juga,” gumamnya lega. “Aeli, kamu dari tadi dicariin sama Bu Gina. Di suruh ke ruangannya.”
Meski Aeli tidak mengenal siapa manusia yang kini mengajaknya berbicara, dia tahu bahwa sang empu adalah salah satu anggota OSIS.
“Kenapa?”
“Saya nggak tau. Sebaiknya kamu segera menemui beliau.” Meskipun tampak tenang, lelaki ini tetap sedikit gamang berhadapan langsung dengan Aeli.
“Oke.”
__ADS_1
Aeli berjalan pergi setelahnya. Tidak minat berlama-lama apalagi berbasa-basi. Sejujurnya, Aeli sedikit gugup jika berhadapan dengan orang asing. Maka untuk menutupi kegugupan itu, dia memilih bersikap tak acuh.
“Dia yang dingin gue yang beku.” Anggota OSIS itu geleng-geleng.
...•••...
Decakan pelan berulang kali lolos dari bibir Dipta. Dia dibuat tidak tenang sejak kejadian di koridor sekolah tadi. Bayangan Aeli serta rasa bersalah yang datangnya entah dari mana saling bertabrakan dalam pikiran Dipta. Membuat kepalanya pusing tujuh keliling.
Jarang-jarang cowok itu memikirkan benar salah perbuatan yang dia lakukan. Merasa bersalah pun hanya sesekali jika kelakuannya memang sudah sangat keterlaluan. Namun kini, hanya karena dia belum sempat minta maaf dan malah menambah kesalahannya dengan menuduh Aeli melukai Claudia, dia jadi kacau sendiri.
Dipta tahu Aeli tidak bersalah, Dipta tahu Aeli tidak sengaja mendorong Claudia, Dipta menyaksikan semuanya. Tetapi dia tetap menuduh gadis itu dan menyalahkannya seolah Aeli memang sengaja. Bodoh memang.
“Ck, mau pecah kepala gue,” gerutu Dipta. Bayangan Aeli seolah enggan enyah dari kepala otaknya.
“Siapa suruh lo bego?”
Celetukan itu memperburuk suasana hati Dipta. Dia melirik sinis ke arah Tirta yang tengah selonjoran di sofa sambil bermain ponsel dengan santainya. Di ruang musik ini hanya ada mereka berdua. Rencananya akan berlatih sambil menunggu kedatangan teman-temannya yang lain. Namun Sky, Rey, Fabian dan Dylan belum menunjukkan batang hidung mereka. Entah ke mana perginya manusia-manusia itu.
“Kenapa? Nggak terima gue bilang bego?” Tirta memasang raut menantang. Dibanding teman-temannya yang lain, Dipta memang lebih akrab dengan cowok ini. Dia bisa lebih terbuka.
“Lagian bukannya minta maaf malah nambah masalah. Sekarang migrain kan lo?”
“Terus gue harus gimana?” Dipta buntu.
“Ya minta maaf. Pakai nanya nih orang.”
“Ngomong doang gampang.”
“Gampang lah tinggal ngomong.”
Dipta kembali berdecak. Solusi Tirta sama sekali tidak menyelesaikan masalahnya.
“Kalau lo gak pengen terus-terusan galau kaya gini mending cepet-cepet minta maaf sama dia. Rempong kalau dia udah terlanjur benci sama lo, yang ada—”
“Dia emang udah benci sama gue,” sela Dipta.
“Ya ya ya, i know. Maksud gue kalau bencinya udah melewati batas wajar gituloh, Dip!” Tirta menghela nafas lelah. “Kayanya ada yang aneh sama lo. Jarang-jarang lo pusing karena cewek. Lo suka sama dia?”
Dipta melotot, segera menyanggah tuduhan Tirta. “Ngapain juga gue suka sama cewek kaya dia?”
“Sekarang aja lo ngomongnya gitu. Mending lo gercep deh, kayanya Aeli udah mulai deket tuh sama Sky.”
“Bodo amat.”
“Yeuuu, ditinggal jadian nangis darah lo.”
Dipta malas membalas. Semakin dia meladeni Tirta semakin cowok itu gencar menggodanya. Sepertinya menceritakan semuanya pada Tirta bukan suatu keputusan yang benar.
Tapi, mengapa dia harus kepikiran? Bukan urusannya juga kalau Aeli dan Sky semakin dekat. Toh urusannya hanya sebatas rasa bersalah dan permintaan maaf yang tertunda. Bukannya merambat ke hal lain yang bersifat pribadi.
...•••...
“Saya nggak mau,” tolak Aeli mutlak.
Saat ini dirinya tengah berada di ruangan Bu Gina. Ternyata tujuan wanita itu memanggil Aeli ke sini untuk mengikutsertakan dirinya ke olimpiade nasional yang akan diselenggarakan bulan depan.
Aeli tentu menolak, bahkan tanpa berpikir. Dirinya paling malas mengikuti kompetisi seperti itu. Selain harus bertemu dengan banyak orang, dia juga membawa nama baik sekolahan. Meski pihak sekolah tidak memaksanya untuk menang, tetap saja itu akan menjadi beban pikiran Aeli ke depannya.
Belajar dengan rajin dan bersungguh-sungguh? Cih, no way. Lebih baik Aeli santai-santai sambil menonton film dan membaca novel. Otaknya sedang menolak untuk diforsir.
“Padahal saya sangat berharap kamu bisa turut serta, Aeli. Hitung-hitung menambah pengalaman.”
Aeli menghela nafas panjang. Bibirnya membentuk garis datar pertanda dia sudah tidak minat dengan pembahasan ini.
“Pokoknya saya nggak mau.” Aeli tetap teguh pendirian.
“Kalau boleh tau kenapa selalu menolak diikutkan olimpiade? Padahal kamu memiliki otak yang cerdas loh, Aeli.”
“Mager, Bu. Pasti nanti sebelum olimpiade disuruh belajar habis-habisan, dikasih les tambahan, pulang terlambat. Aduh, males banget sumpah,” ungkap Aeli.
“Kalau kamu keberatan nanti saya ajukan untuk meniadakan kelas tambahan untuk kamu. Asalkan kamu mau ikut serta.”
“Bu Gina gak capek ya maksa-maksa saya dari dulu? Padahal Ibu tau jawaban saya bakal tetap sama. Lagian, kenapa Ibu semangat banget sih ikutin saya? Anak lain yang lebih pintar dari saya kan numpuk, Bu.”
Bu Gina mengembangkan senyum hangat, mencoba memberi pengertian.
“Saya cuma merasa sudah saatnya untuk kamu berkembang, Aeli. Akan sangat disayangkan jika kepintaranmu dibiarkan begitu saja tanpa diasah. Selain mendapat pengalaman, kamu juga bisa melatih jiwa sosial kamu di sana.”
“Itu masalahnya, Bu.” Aeli menjauhkan punggungnya dari sandaran sofa. “Saya nggak suka bersosialisasi. Bu Gina tau, kan?”
“Saya tau, makanya saya menyuruh kamu mengikuti program ini. Dengan begitu mungkin sedikit bisa menarik minat kamu untuk lebih mengenal dunia luar. Kamu tidak bisa selamanya mengurung diri, Aeliya. Sekali-kali kamu harus mencoba keluar dari zona nyamanmu supaya bisa lebih berkembang.”
Aeli menghela nafas lelah. Memiliki guru yang terlalu peka dan terlalu perhatian mungkin juga tidak selalu baik. Seharusnya, Aeli bisa lebih jago menggunakan topengnya.
“Tidak usah terburu-buru. Saya akan memberimu waktu untuk berpikir.”
Aeli memejamkan mata sesaat, langsung memutuskan. “Nggak deh, Bu. Ngebayanginnya aja udah pusing duluan saya.”
Bukan pusing memikirkan soal-soal, melainkan karena manusia-manusia yang akan ditemuinya nanti.
“Ya sudah. Saya juga tidak bisa memaksa kamu kalau kamu-nya terus menolak,” kata Bu Gina. Pasrah. “Tapi kalau seandainya kamu berubah pikiran, pintu ruangan saya selalu terbuka untuk kamu.”
“Hm. Kalau gitu saya pamit dulu, Bu.”
Bu Gina mengangguk. Setelahnya Aeli langsung mematri langkah meninggalkan ruangan sambil menyeletuk.
“Olympic? No no no.”
__ADS_1
...•••...