
...•••...
Untungnya Gita cepat di bawa ke dokter hewan sehingga kondisinya bisa ditangani lebih cepat. Sekarang Gita sudah sadarkan diri, tapi monyet itu masih terlihat lemah tanpa daya. Kata Dokter Hernita tadi, Gita mendadak drop karena sempat mengkonsumsi sesuatu yang salah. Entah apa yang sudah Gita makan sampai bisa jadi seperti itu.
“Mbak Nana tadi emang baru dari rumah, Non. Terus ke dapur sebentar buat naruh barang bawaannya Mbak Nana. Pas Mbak ke kandang Gita-nya udah pingsan. Panik lah Mbak Nana, nggak kepikiran ngecek apa aja yang dia makan. Mbak juga kan memang belum ngasih dia makanan soalnya tadi siang udah ngemil banyak itu monyetnya.” Mbak Nana menjelaskan panjang lebar.
“Gapapa Mbak Na. Yang penting si gembul udah sadar,” balas Aeli sembari mengelus punggung mungil Gita. Rautnya melas banget loh, sebelas dua belas sama Gita yang kini di gendongannya.
“Kamu makan apa loh, Git? Bisa sampe drop gini? Makan kapur barus, hm?” tanya Aeli retoris.
“Untuk sekarang kondisi Gita sudah baik-baik aja, Mbak Aeliya. Tekanan darahnya juga sudah normal semua. Tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan.” Dokter Hernita memberitahu.
“Iya, Dok. Saya kaget aja soalnya selama ini Gita nggak pernah pingsan tiba-tiba. Makannya juga yang biasa dia makan.”
“Coba nanti Mbak Aeli sama Mbak Nana cek lagi apa aja yang udah Gita makan. Kalau ada yang mencurigakan tolong dibawa ke sini saja.”
Aeli manggut. “Iya, Dok. Ini Gita-nya udah boleh pulang, kan?”
“Boleh. Sudah boleh pulang kok. Yang penting nanti sampai rumah siapin yang saya saranin ya Mbak Ae. Biar istirahatnya Gita bisa lebih maksimal. Sering-sering diawasin juga takut kalau tiba-tiba muntah atau apa.”
Kali ini Mbak Nana yang menjawab. “Nanti saya awasin terus, Dok.”
Dokter Hernita mengembangkan senyum, mengangguk mengiakan. Setelahnya, Aeli, Mbak Nana beserta Gita pamit undur diri. Gita tidak pamit sih sebenarnya. Monyet itu masih setia nemplok di tubuh Aeli, meletakkan dagunya di bahu Aeli sambil memeluk babunya itu erat-erat.
Karena Gita maunya sama Aeli, maka Mbak Nana yang harus nyetir mobil. Aeli duduk di jok penumpang bagian depan, dengan Gita di gendongannya. Mobil merah cerah milik Aeli akhirnya melaju meninggalkan area klinik.
“Lain kali Gita jangan makan sembarangan, ya. Debu kandang gausah dicemilin, cemilin pisang aja sama roti.” Aeli memberitahu. Gita anteng saja tanpa menjawab. Padahal biasanya itu mulut berisik banget kalau udah diajak ngomong.
“Tapi masa' gara-gara nyemilin debu, Non Ae? Padahal biasanya gak pernah kenapa-napa juga habis nyemilin debu sekarung,” ceplos Mbak Nana.
“Nggak tau juga ini anak. Gara-gara nyemilin debu, Git?”
Gita merengek, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aeli dan mengeratkan pelukannya.
“Oh bukan,” balas Aeli peka. “Tapi lo nggak dikasih makan sama mak lampir kan? Eh, jangan-jangan iya?”
“Ah masa sih, Non? Mana berani mereka ngusik Gita. Ya ... nggak tau juga sih.” Mbak Nana meragu.
Aeli mengerutkan kening dalam. Memikirkan tebakannya barusan.
“Cari mati kalau bener. Ntar aku tanyain mbak-mbak yang lain. Siapa tau ada yang liat.”
“Sekalian liat ruang CCTV aja, Non. Mereka kan nggak tau di kandang Gita ada CCTV.” Mbak Nana menyarankan.
“Iya bener, Mbak. Ntar ku liat.”
Amarah Aeli tersendat karena tiba-tiba ponsel di saku celananya berbunyi. Gadis itu menepuk punggung Gita pelan lalu berusaha merogoh saku dengan tangan kiri. Mendapati nama kontak seseorang di layar ponselnya, senyum Aeli mengembang.
Sky menghubunginya dan Aeli segera menjawab panggilan tersebut tanpa mengulur waktu sama sekali.
“Halo, Sky,” sapa Aeli.
“Hai.” Gilasih demi Gita dan teman-teman sehabitatnya, suara Sky benar-benar sukses menggetarkan hati dan segala organ yang ada dalam dada.
“Kenapa? Kangen aku, ya?” goda Aeli. Mbak Nana di sebelahnya mengerutkan kening dalam-dalam. Heran, tentu saja.
“Eh?”
“Loh serius? Ini nelponnya karena kangen nih?” Aeli makin gencar menggoda Sky.
Gadis itu terkekeh mendengar Sky menggumam di seberang sana. Bingung kayaknya. Pasti telinganya merah. Aeli yakin 190%.
“Li?” panggil Sky.
“Ya, Sayang? Kenapa?”
Hampir saja Mbak Nana nge-rem mendadak mendengar tiga kalimat yang Aeli lontar. Gita yang berada di pelukan Aeli bahkan langsung menegakkan tubuh, menyorot babunya penuh kebingungan.
“Kamu kenapa suka bikin saya deg-deg-an?” Sky bertanya.
“Aku bikin kamu deg-deg-an ya, Sayang? Maaf deh soalnya aku suka kalau kamu deg-deg-an karena aku.”
Sudah tidak tertolong. Begitulah arti tatapan Gita dan Mbak Nana.
“Haha, iya-iya nggak aku godain lagi.” Aeli menyorot Gita yang heran, lantas memajukan bibirnya ke arah monyet itu.
“Kamu kenapa nelpon? Ada sesuatu?” tanyanya lagi pada Sky.
“Mau telpon pacar sendiri, nggak boleh, ya?”
Aeli mengulum senyum. Kini giliran dia yang deg-deg-an.
“Boleh banget dong. Aku barusan habis nganterin Gita ke dokter hewan. Ini baru balik.”
“Gita? Siapa?”
“Oh, kamu belum kukasih tau, ya? Gita itu monyet kesayanganku, Sky. Tadi makhluknya tiba-tiba pingsan, nggak tau deh kenapa.”
“Saya baru tau kamu punya monyet. Sekarang keadaannya gimana, Li?”
“Udah baik-baik aja. Tapi masih agak lemes.” Aeli mengusap punggung Gita sayang. Sedang monyet itu masih memperhatikan dirinya lekat.
“Papamu,” kata Aeli tanpa suara. Hanya gerakan bibir saja.
“Berarti kamu masih di jalan?”
“Iya masih. Tapi Mbak Nana yang nyetirin. Aku mangku Gita.” Aeli tersenyum. “Kapan-kapan aku temuin kamu sama Gita, ya? Kamu nggak alergi monyet, kan?”
Sky terkekeh pelan. “Enggak, Li. Saya nggak punya alergi sama monyet.”
“Okey. Aku lupa bilang ke kamu kalau aku punya peliharaan, sorry.”
“Kenapa minta maaf?”
“Ya nggak papa sih. Cuma sebagai pacar yang baik kan harusnya aku kasih tau kamu soal apapun.”
Baiklah. Sekarang pertanyaan Mbak Nana dan Gita sudah terjawab dengan tuntas. Lantas Gita kembali merebahkan diri di tubuh Aeli. Merem lagi.
“Pelan-pelan aja. Mengenal lebih jauh kan juga butuh waktu.”
“Puitis banget sih kata-katamu. Nyontek di mana?”
“Kalau itu alami muncul sendiri.”
Aeli tertawa. Karena kelewat gemas Aeli memeluk tubuh Gita makin erat. Hampir saja Gita sesak nafas dibuatnya.
“Sebenarnya, saya nelpon karena pengen ngajak kamu keluar. Tapi kamu lagi sibuk, ya? Em, gapapa lain kali aja kalau gitu.”
“Oh, kamu mau ajak aku kencan? Kenapa nggak bilang dari tadi?”
Mbak Nana otomatis terbatuk. Aeli menengok, terkikik geli kemudian.
“Aku bisa kok. Habis ini aja, aku udah mau masuk halaman rumah.”
“Gita?”
“Mbak Nana yang jagain. Udah baikan juga kok, aman.”
“Serius? Kalau kamu beneran nggak bisa nggak papa, Li. Saya nggak maksa kok.”
__ADS_1
“Aku bisa, Sky.” Tapi masalahnya malah Aeli yang memaksa.
“Yaudah. Sekarang saya langsung ke sana buat jemput kamu. Saya siap-siap dulu sebentar.”
“Iya. Aku tunggu. Bawa motornya hati-hati ya, jangan ngebut. Aku nggak mau kamu kenapa-napa. Oke?”
“Siap laksanakan, Tuan Putri.”
Kampret emang. Sky gitu biasanya nggak sadar sih kalau kalimatnya bisa bikin jantung Aeli terjun ke tumit.
Tepat setelah Aeli mematikan panggilan, dirinya sampai di pekarangan. Segera gadis itu turun dengan Gita di gendongannya. Membawa monyet tersebut berlalu menuju kandang.
“Pacar Non Ae?” Mbak Nana yang membawa perlengkapan Gita bertanya.
“Iya pacarku,” balas Aeli semringah.
“Non mau diajak kencan, ya?”
Aeli mengangguk cepat. “Iya Mbak habis ini. Titip Gita ya?”
“Kalem aja itu mah. Kaget loh Mbak tau Non Ae punya pacar. Kapan jadiannya? Kapan deket?” Mereka berdua akhirnya sampai di kandang Gita.
“Belum lama banget sih. Deketnya, nggak terlalu lama juga. Sekitar dua bulanan lah.” Aeli meletakkan Gita ke dalam kandang dengan hati-hati.
“Ini pacar pertama kan, Non? Beruntung banget dia bisa luluhin hati Non.”
“First and last, Mbak. Semoga. Aku yang beruntung bisa luluhin hatinya. Ya nggak, Git?” Gita mah cuek bebek.
“Mbak jadi penasaran orangnya kaya apa sampai bisa dobrak pertahanan Non.”
“Pernah ke sini kok, sering nganterin aku pulang juga.”
“Oh, yang motornya vespa itu bukan? Yang mukanya ganteng campur gemes?”
“Lah, Mbak tau?” Aeli terbingung-bingung. Dia juga memberi Gita obat sebelum tidur.
“Kalau yang itu tau. Kan sering nganterin Non pulang. Tapi nggak tau namanya.”
“Sky Lazaro. Pacarnya Faye Aeliya yang paling cantik.”
“Aduduh. Iya deh iya. Cuma punya Non itu mah.”
Aeli tertawa renyah. Segera membekap mulut karena sadar Gita menyorotnya horor. Gita kalau lagi sakit memang malas banget dengar suara berisik apalagi suara ketawa. Rasanya pengen nyakar muka manusia yang bikin Gita emosi.
“Kebablasan, Bos. Maaf-maaf.” Aeli menangkup tangan, persis babu.
“Udah Non Ae siap-siap aja, bersih-bersih. Gita biar Mbak yang urus,” kata Mbak Nana.
“Sip. Makasih ya, Mbak. Berangkat dulu, Mbul.” Aeli mencubit pipi Gita yang tirus. Otomatis langsung sungkem dengan tulang belulang.
“Mbul dari hongkong,” cibir Mbak Nana.
“Mbul loh. Liat nih pipinya.”
“Tulang doang.”
“Berisik, Mbak.” Aeli langsung cabut. Debat sama Mbak Nana kadang bikin darah tinggi loh.
“Kamu dibilang Mbul, Git. Mbul dosamu doang baru bener.”
Muka Mbak Nana langsung ditendang oleh Gita.
...•••...
Senyum Aeli merekah sempurna kala melihat Sky muncul di hadapannya dengan motor vespa biru metalik milik cowok itu. Sky membalas hal serupa, mematikan mesin motor kemudian.
“Hai,” sapa Sky.
Kerutan tipis muncul di kening Sky. “Hai, Li,” koreksinya.
“Kok Li?”
“Oh salah, ya?” Sky mikir. “Hai, Aeli.” Dia kembali mengoreksi.
Aeli mendengkus pelan dengan raut yang makin cemberut. Tidak sadar saja jika pipi chubbynya terlihat begitu menggemaskan di mata Sky.
“Saya salah ngomong lagi?”
Aeli mengangguk dua kali. Sok innocent sumpah. Untung lumayan imut.
Wkwk.
“Biasanya aku gimana kalau nyapa kamu? Aku mau disapa kaya gitu juga. Feedback dong, Sayang.”
Sky terkekeh. Sekarang dia mengerti apa yang Aeli maksud sejak tadi. Lantas, tatapan teduhnya kembali mengarah ke Aeli. Kali ini cukup lekat nan lamat, juga berhasil mengganggu kinerja jantung Aeli yang memang sudah error.
“Kita berangkat sekarang, Sayang?”
Kan, Aeli yang minta Aeli juga yang nyaris pingsan mendengar sapaan Sky untuknya.
“Hei, kenapa ngelamun?”
Bukan ngelamun, Sky! Tapi syok berat dan hampir sekarat! Ah elah.
“I-iya, berangkat sekarang aja.” Aeli buru-buru naik ke motor Sky, memeluk pinggang cowok itu sambil menggigit bibir bawah dan memejamkan mata. Detak jantungnya yang menggila menyalur ke telinga.
“Kok belum berangkat?” tanya Aeli menyadari Sky tak kunjung menghidupkan mesin motor.
Tetapi cowok itu malah tersenyum, menyorot wajah bingung Aeli dari kaca spion.
“Sky, jawab dong. Motormu jadi gak bisa hidup habis kunaikin, ya?” Aeli mengoceh tak sabaran.
“Gimana mau jalan kalau kepala kamu belum dilindungi?”
Aeli meraba kepalanya. Nge-blank sebentar. Oh ya, Aeli belum mengenakan pelindung kepala. Lantas dia turun lagi, padahal bisa juga sambil duduk di atas motor loh. Ada-ada aja memang.
“Helmnya ... pakein.” Aeli nyengir.
Sky geleng-geleng sebentar melihat tingkah kekasihnya. Lantas mengarahkan helm ke kepala Aeli dan memakaikannya dengan hati-hati.
“Udah.”
“Makasih.” Aeli kembali naik ke atas motor dan Sky melajukan benda itu kemudian.
Angin sore menerpa keduanya, hangatnya suasana membuat perasaan Aeli menjadi jauh lebih baik. Belum ada yang berbicara. Aeli masih sibuk menikmati pemandangan jalan, sedang Sky fokus menyetir.
“Aku suka deh diajak jalan sore-sore gini. Adeeem banget rasanya,” kata Aeli yang kini meletakkan dagunya di bahu lebar Sky. Jangan lupakan tangannya yang melingkar indah di pinggang cowok itu.
“Kamu seneng?”
Aeli mengangguk. “Seneng banget dong. Tapi ngomong-ngomong kamu mau bawa aku ke mana? Dari tadi kamu belum bilang.”
“Kamu mau ke mana?”
“Ke mana aja terserah, asal sama kamu.”
“Oke.” Sky kembali fokus ke jalanan tanpa memberitahu Aeli ke mana tujuan mereka.
Setelah lima belas menit, akhirnya motor Sky berhenti di satu tempat. Taman.
__ADS_1
Aeli turun, menatap sekitarnya dengan tatapan kagum. Indah, satu kata yang terlintas di benak Aeli kala melihat taman tersebut.
“Kamu bawa aku ke sini, Sky?” tanya Aeli. Sky mencopot helm di kepala gadis itu sebelum dirinya turun dari motor.
“Do you like it?”
Senyum Aeli merekah sempurna. “I like it damn so much.”
Sky terkekeh pelan. Dengan penuh kehati-hatian tangannya menggandeng tangan mungil Aeli untuk dibawa menuju tempat yang sudah dia siapkan sebelumnya. Aeli nurut saja, tetapi bola matanya tak berhenti bergulir memperhatikan apapun yang tersedia di taman ini.
Bunga. Salah satu yang sejak awal menarik perhatian Aeli. Dia menyukai berbagai jenis bunga, terutama bunga chamomile. Tetapi bunga mawar dan lain-lain juga berhasil membuatnya senang bukan kepalang.
Keduanya berhenti. Mata Aeli kontan berbinar begitu melihat apa yang sudah Sky siapkan untuknya. Kain putih di atas rumput dengan beberapa jenis makanan ringan di atasnya. Juga beberapa jenis bunga indah di dalam bakul rotan.
Demi lesung pipi Aeli deh, dia benar-benar akan menyesal jika hari ini menolak ajakan Sky.
“Kamu ... siapin semua ini buat aku?” tanya Aeli, setengah terkejut.
Sky yang masih menggenggam tangannya mengangguk. “Iya. Khusus buat kamu.”
“Kapan kamu nyiapinnya? Kok aku nggak tau?”
“Tadi. Bukan kejutan dong namanya kalau saya kasih tau kamu duluan.” Sky mengusap pucuk kepala gadis kesayangannya. Gemas.
Aeli tersenyum haru, menghambur memeluk tubuh Sky.
“Makasih, ya. Pasti kamu repot banget ya habis nyiapin ini langsung jemput aku?”
Sky membalas pelukan Aeli lembut, mengecup pelan rambut Aeli kemudian. “Enggak repot.”
“Kenapa bisa kepikiran bikin ginian sih? Ada aja ide kamu tuh. Suka banget bikin jantung aku gedar-gedor.”
Sky terkekeh. Melonggarkan pelukan mereka dan segera membawa Aeli duduk di atas kain putih agar tidak lelah berdiri terus. Suasana sore hari yang hangat disertai angin sepoi menambah kesan romantis piknik pertama mereka hari ini.
“Gilasih kalau aku nolak kamu tadi. Pasti jadinya bakal sia-sia kan effort kamu nyiapin ini.” Aeli menyerocos.
“Saya kan nelpon kamu sebelum nyiapin ini, Li.”
“Oh ya? Duh ge'er banget ya aku?”
“Tapi sama aja kan orang saya udah bawa perlengkapannya, tinggal nata doang. Kalau seandainya kamu nggak bisa ya, emang agak sia-sia sih.”
Aeli menjawil hidung imut Sky. “Terus tadi kenapa nggak maksa aku? Bilangnya gapapa lah kalau aku nggak bisa.”
“Soalnya kan kamu ada urusan. Saya nggak pengen ganggu kegiatan kamu.”
“Lain kali paksa dong, Sky. Aku beneran gapapa kalau kamu yang paksa.”
Sky geleng-geleng. “Ada aja.”
Aeli menyengir lucu. Menyorot makanan yang sudah Sky siapkan hingga matanya terpaku pada sesuatu.
“Eh? Ada kesukaanku.” Aeli langsung mengambil styrofoam yang masih tertutup. Lantas tutupnya langsung dibuka oleh Aeli.
Udang goreng tepung yang masih lumayan hangat terpampang nyata setelahnya.
“Kamu kok bisa kepikiran nyempilin ini di tengah-tengah gempuran jajanan ringan dan minuman soda sih?”
“Em, kepikiran aja. Kamu suka?”
“Suka lah. Ini makanan kesukaan aku tau.”
“Oh ya?”
Aeli menyipitkan mata curiga. “Yakin kamu nggak tau?”
Sky menggeleng. Mana mukanya lugu banget kaya bocil,
Kematian.
“Kamu nanya Clara nih pasti. Bodo amat bohong dosa.” Aeli mencomot udang tersebut dan memakannya dengan tenang.
Sky tidak tahan untuk tidak tertawa mendengar celetukan Aeli beserta raut tengil cewek itu. Pacarnya ini memang paling unik deh.
“Iya, saya tanya Clara tadi. Bingung soalnya. Mau tanya kamu langsung takutnya kamu curiga kenapa saya nanya-nanya.” Sky memberitahu.
“Feeling aku gak pernah meleset memang.” Aeli tersenyum bangga. “Makasih ya udah repot-repot beliin makanan kesukaanku. Nanya Clara lagi. Untung kamu nggak dikibulin.”
Sky membuka dua minuman kaleng, tersenyum. “Udah sempet. Tadi Clara bilang makanan kesukaan kamu batu bata. Saya hampir percaya juga sih sebenarnya.”
“Eh?” Aeli melotot. “Rese ya. Kamu pikir aku rayap, hm?”
“Rayap makan kayu, Li. Bukan batu bata.”
“Kamu nggak terima?”
“Terima. Udah makan dulu, ngocehnya dilanjut ntar aja.”
Kan, digituin doang melting. Keju kali tuh orang.
“Iya. Tapi kamu juga makan ya. Aku suap.” Aeli menyodorkan satu ekor udang ke arah Sky.
Baru melihat makanan tersebut sedekat itu saja raut Sky sudah langsung berubah tegang.
“Kenapa? Kamu nggak mau aku suap?” Aeli bertanya heran.
“Saya mau ngaku.”
Kernyitan seketika muncul di kening Aeli. “Apa?”
“Saya ... alergi udang.”
“Eh?” Aeli terkesiap dan langsung menarik kembali udang yang tadi dia sodorkan. “Maaf, Sky. Aku nggak tau. Maaf ya,” katanya bersalah.
Sky mengembangkan senyum lembut. “Nggak papa. Saya ngerti.”
“Lain kali gini ya, Sayang. Kasih tau aja apapun yang aku nggak tau. Jangan disembunyiin kalau itu bakal ngerugiin diri kamu cuma karena kamu pengen nyenengin aku.”
Sky mengangguk tanpa ragu. “Iya, saya bakal ingat pesan kamu.”
“Makasih.”
Keduanya kembali menikmati pemandangan taman sambil berbincang-bincang ringan. Hingga Sky teringat satu hal yang sejak tadi dia pertimbangkan.
“Li,” panggil Sky. Aeli yang baru selesai meneguk minuman kaleng menanggapi dengan deheman lembut.
“Kamu lagi buru-buru?”
“Em, enggak sih. Gita di rumah juga udah dijagain Mbak Nana. Jadi aku nggak buru-buru,” jawab Aeli. “Kenapa emang? Masih ada tempat yang mau kita kunjungin?”
Anggukan Sky menjawab pertanyaan Aeli.
“Mau ke mana emangnya?”
“Hmm ....” Sky ragu untuk melanjutkan. Tapi sepertinya ini saat yang tepat deh.
“Ada yang mau ketemu kamu.”
“Siapa, Sky?”
__ADS_1
“Bunda.”
...•••...