Skaeli

Skaeli
eighteen


__ADS_3

...•••...


Sudah hampir satu jam Aeli mengurung diri di dalam toilet. Duduk di atas kloset sembari menundukkan kepala. Air mata masih terus bercucuran tanpa henti. Dada kirinya sampai ikutan sesak karena terlalu banyak menangis.


Gadis itu membuang nafas panjang, tangannya bergerak menepuk dada dengan pelan seraya memejamkan mata. Berusaha menormalkan rasa perih yang menyiksa di dalam sana.


Gue cuma berusaha bersikap baik.


Kalimat itu, entah mengapa terus mendengung di telinganya, bermain di kepalanya dan tak henti menusuk-nusuk hatinya bagai ujung tombak yang tajam.


“Kenapa sakit banget sial?” Aeli meneguk ludah, dan rasanya pahit. Tenggorokannya pun terasa sakit hingga membuatnya terbatuk beberapa kali.


Beruntung toilet sedang sepi sehingga tidak ada yang menyadari keberadaannya di sini. Setidaknya tidak menyadari kekacauannya sekarang. Apa kata mereka jika manusia yang mereka anggap sangar dan kejam tiba-tiba terciduk menangis bombay di dalam toilet.


Aeli sama sekali tidak memiliki persiapan untuk merasakan sakit hati seperti ini. Dia hanya memikirkan hal bahagia sampai tidak ingat bahwa hal menyakitkan juga bisa terjadi. Sky terlalu manis dan Aeli tidak berharap ada luka yang lelaki itu gores di hatinya.


Aeli mengaku, dia sudah jatuh sedalam-dalamnya pada Sky. Yang dia rasakan sudah bukan sekedar rasa suka, melainkan cinta yang dia harapkan adanya balasan yang sama.


“Bego banget lo, Li.” Aeli terkekeh miris, menertawakan kebodohannya.


Seharusnya dia ingat jika dirinya bisa kelewat bahagia di satu waktu, maka akan ada luka di waktu selanjutnya. Aeli terlalu senang sampai lupa belajar dari pengalaman. Dan akhirnya, dia ceroboh lagi membiarkan hatinya disakiti begitu saja.


...•••...


“Lo dari mana aja anjir?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Clara ketika Aeli kembali ke dalam kelas setelah jam istirahat kedua. Yang artinya dia mengurung diri hampir dua jam di dalam toilet.


Aeli mendudukkan diri di kursinya, mengabaikan pertanyaan Clara dan memilih menjatuhkan kepala di atas meja. Dia lelah, hati dan fisiknya butuh istirahat.


“Gue nanya woi. Malah dikacangin.”


“Diem, Clar. Gue males ngomong.”


Clara mengernyit mendengar suara serak Aeli. Dengan kasar dia memaksa Aeli kembali mengangkat kepala, meneliti wajah sendu gadis itu.


“Lo habis nangis, ya?”


Aeli menepis kasar tangan Clara, kembali ke posisi semula tanpa menjawab.


“Heh! Lo denger gue nggak sih? Lo habis nangis, Aeliya?” Clara mengulang pertanyaan.


“Enggak.”


“Enggak apanya jelas banget lo habis nangis.”


“Enggak, Clar!”


Kembali ke kelas setelah menangis sepertinya adalah pilihan terbodoh yang pernah Aeli ambil.


“Lo kenapaaa? Ada masalah? Cerita sini sama gue, jangan dipendem sendiri ah, Li.”


Aeli membuang nafas kasar. Bangkit dari kursi lalu menyambar kasar ranselnya. Menciptakan kerutan dalam di kening Clara.


“Lah lo mau ke mana lagi?”


“Pulang.” Aeli langsung berlalu keluar ruangan tanpa mengacuhkan kebingungan Clara.


“Kenapa sih itu anak? Tiba-tiba hilang, tiba-tiba muncul, tiba-tiba kabur.”


Bolos, satu-satunya cara agar Aeli bisa pergi dari sekolah ini sekarang juga. Persetan lah dengan pelajaran, kondisi hati Aeli jauh lebih penting dari apapun.


“Aeli?”


Langkah Aeli berhenti begitu mendengar namanya di sebut. Dia menoleh, figur Sky mengisi bingkai matanya dengan lancang. Membuat kinerja jantungnya menjadi sangat cepat tak beraturan. Kenapa juga sih dia harus bertemu cowok ini sekarang? Sungguh kebetulan yang sangat klise.


“Ya?” sahutnya datar. Sebisa mungkin mengontrol ekspresi wajahnya agar tidak terlihat menyedihkan di depan Sky.


“Kamu mau ke mana? Kok bawa tas?” tanya Sky heran.


“Pulang.”


“Kenapa? Kamu sakit, Li?” Tersirat nada khawatir di kalimat Sky, dan itu berhasil menggetarkan hati Aeli.


Tidak! Berhenti baper sekarang juga!


“Ada urusan.”


Sky menangkap hal yang berbeda dari cara bicara dan raut wajah Aeli. Gadis itu terlihat cuek dan tampak tidak ceria seperti biasa. Aeli bahkan tidak balas bertanya seperti yang dia lakukan biasanya. Tetapi ada satu yang masih sama, cara dia menatap Sky.


“Oh yaudah. Kamu hati-hati, ya.” Sky tersenyum lembut.


Sialan, kenapa juga tuh muka harus imut banget?


“Hm,” balasnya dan langsung melenggang pergi begitu saja.


Sikap Aeli barusan tentu menimbulkan tanda tanya yang besar dalam diri Sky. Apa dia sudah melakukan kesalahan sampai-sampai Aeli bersikap sedingin salju? Padahal tadi malam mereka masih sangat amat baik-baik saja. Malahan sempat bertukar pesan juga.


“Lo nggak perlu berusaha bersikap baik ke gue kalau cuma pengen ladenin gue Sky. Lo jutekin juga gue nggak masalah asal lo ikhlas lakuinnya.”


Sekali lagi, air mata itu jatuh namun langsung diseka oleh sang pemilik. Aeli tidak akan membiarkan orang lain melihat kesedihannya, tidak akan.


...•••...


Aeli melangkah masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya di garasi. Perasaan Aeli benar-benar buruk dan dia ingin segera menumpahkan semuanya di dalam kamar.


Begitu menginjak lantai dua, langkah Aeli mendadak berhenti karena mendengar suara benda jatuh dari kamar orang tuanya. Gadis itu menoleh, perlahan mendekat ke arah pintu yang tidak tertutup rapat. Mengintip ke dalam.


Matanya membola begitu melihat Mahesa terbaring di atas lantai. Dengan cepat Aeli masuk dan berjongkok di sebelah papanya yang kini tidak sadarkan diri.


“Pa! Papa kenapa? Bangun, Pa!” Aeli berusaha menyadarkan pria itu namun nihil. Matanya tetap tertutup rapat dengan wajah pucat.


“Tante Ashila! Tan! Tolongin papa!” teriak Aeli memanggil ibu tirinya yang entah di mana saat ini.


“Tante! Tolong, Tan!” Aeli terus memanggil. Sejurus kemudian Ashila muncul di depan pintu dengan raut panik. Matanya membelalak kaget melihat keadaan suaminya.


“Aeli, papamu kenapa?” tanyanya setelah berjongkok di dekat Aeli.


“Aku nggak tau! Aku dateng papa udah kaya gini! Tante cepet panggil ambulans!”


“I-iya sebentar.” Buru-buru Ashila mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Karena panik tangannya pun ikut gemetar.


“Papa kenapa bisa kaya gini sih, Pa?” Air mata yang Aeli tahan-tahan akhirnya tumpah. Dia paling tidak bisa melihat Mahesa jatuh sakit, seburuk apapun perlakuan pria itu padanya.


“Tuhan, tolong jangan pisahkan aku dari papa. Aku mohon jangan.”


...•••...


Aeli tidak berhenti mondar-mandir di depan ruang UGD. Dia benar-benar tidak bisa tenang sebelum mengetahui kondisi Mahesa. Sudah berulang kali Ashila membujuknya untuk duduk, tetapi Aeli terus menolak. Tidak ada yang bisa Ashila lakukan selain membiarkan anak tirinya itu dengan pilihannya.


Begitu pintu ruangan terbuka, Aeli langsung menghampiri dokter lelaki tersebut. Disusul Ashila.


“Keadaan papa gimana, Dok? Papa nggak kenapa-napa, kan?” tanya Aeli cepat.


“Kondisi pak Mahesa semakin memburuk, Nona. Detak jantungnya melemah dan harus segera di pindahkan ke ruang ICU sekarang juga. Saya permisi.”


Tubuh Aeli langsung melemah mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi Mahesa. Tidak lama kemudian beberapa orang perawat keluar dari ruangan sambil mendorong brankar pria itu untuk dipindahkan ke ruang ICU.


“Papa.” Aeli terisak melihat alat medis yang menempel di tubuh Mahesa. Ada Ashila di sebelahnya, mengusap pelan bahunya untuk menyalurkan ketenangan.


“Aeli harus yakin papa bakal baik-baik aja. Jangan berpikiran yang buruk-buruk, ya,” tutur Ashila lembut.


Aeli mengangguk lemah. Menyeka air matanya yang terus bercucuran dengan punggung tangan dan segera menyusul Mahesa menuju ruang ICU. Aeli tidak ingin meninggalkan Mahesa sedetik pun, dia ingin selalu ada untuk papanya.


...•••...


Dipta melihatnya.


Saat dia berlari untuk menyembunyikan sedihnya, saat dia sekuat tenaga menahan air mata yang hampir tumpah di depan banyak orang, dan saat dia dengan cepat menghapus setitik air mata yang memaksa lolos dari persembunyian.

__ADS_1


Semuanya berhasil terangkum dalam memori Dipta. Bahkan tanpa dia tahu apa penyebabnya, dia mengerti jika gadis itu sangat terluka. Maka di sinilah dia sekarang, mempertanyakan perasaannya di bawah hamparan langit biru berhias awan putih. Puncak gedung Flourst yang sering menjadi tempat pelariannya di kala bingung.


“Kenapa gue harus peduli sama dia? Kenapa gue nggak bisa berhenti mikirin dia?” tanya Dipta pada apapun yang bisa menjawab pertanyaannya.


Memori lain silih berganti berebut ingin diingat. Wajah cantik malam tadi kembali menguasai pikirannya. Semalaman suntuk Dipta gagal mengenyahkan wajah itu dan kini, wajah itu muncul lagi tanpa dosa.


“Gue gak mungkin beneran jatuh cinta sama dia, kan?”


Jujur, Dipta sendiri heran mengapa tadi malam dia tiba-tiba menarik Aeli menjadi pasangan dansanya. Lalu dengan percaya diri menyebut dirinya calon pacar Aeli. Dipta tidak tahu mengapa tetapi dia yakin dirinya memang sudah tidak waras. Bahkan sekarang dia makin yakin karena hanya ada wajah Aeli yang memenuhi otak kepalanya.


“Gila beneran gue,” gumam Dipta.


Ponselnya yang tiba-tiba bergetar di saku celana membuat cowok itu berdecak. Dia langsung mengangkat panggilan tanpa melihat nama yang tertera.


“Halo.”


“Halo, Kak. Kak Dipta di mana?” Itu suara Claudia.


“Atap,” balas Dipta seadanya.


“Tolong anterin aku ke rumah sakit, Kak. Papaku masuk ICU.”


Mendengar itu, Dipta langsung mengingat Aeli. Apa karena hal ini Aeli menangis dan buru-buru pulang?


“Tolong banget, Kak. Aku bingung mau minta tolong siapa lagi selain Kakak.”


“Tunggu gue di parkiran.” Dipta kemudian langsung memutus sambungan. Berjalan cepat meninggalkan rooftop sekolah.


Dipta benar-benar khawatir dengan Aeli. Dia yakin gadis itu sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja sekarang.


Setelah izin ke guru BP yang bertugas, Dipta segera berjalan menuju parkiran. Seperti dugaan, sudah ada Claudia yang menunggunya di sana.


“Rumah sakit mana?” tanya Dipta cepat.


“RS. Kusumajaya, Kak,” balas Claudia.


Dipta membuka kunci mobil dan menyuruh Claudia segera masuk. Dia melajukan mobil meninggalkan area sekolah dengan sedikit terburu-buru.


Melihat itu, Claudia jadi bingung. Mengapa Dipta tampak lebih panik darinya? Apa mungkin Dipta mengenal Mahesa?


Karena sungkan untuk bertanya, Claudia memilih diam. Sampai hari ini jantungnya masih sering berdetak kencang jika berada di dekat Dipta. Claudia takut jika yang dia rasakan lebih dari sekedar rasa kagum. Lalu akan menjadi alasan sakit hatinya di kemudian hari.


Claudia tidak ingin itu terjadi. Tetapi dia juga tidak menyangkal jika perasaan sukanya semakin hari semakin besar untuk Dipta.


...•••...


“Mama,” panggil Claudia begitu dirinya sampai di depan ruang rawat Mahesa.


Ashila yang tadinya duduk di sebelah Aeli kontan berdiri, memeluk anaknya itu lembut.


“Kenapa nggak nunggu pulang sekolah aja baru ke sini, Sayang?” tanya Ashila.


Claudia menggeleng. “Enggak, Ma. Clau pengen tau perkembangan papa. Keadaan papa gimana sekarang?”


“Papa masih ditangani dokter. Detak jantungnya melemah,” jelas Ashila. Claudia menghela nafas pelan, tidak menyangka jika kondisi papanya akan separah itu.


Beda halnya dengan Claudia, sejak awal menginjakkan kaki ke tempat ini perhatian Dipta langsung jatuh ke Aeli yang duduk di kursi tunggu. Penampilan gadis itu tampak kacau, wajahnya kusut bukan main.


“Clau, ini siapa?” Ashila menatap Dipta. Cowok itu tersenyum tipis dan langsung menyalami tangan Ashila.


“Saya Dipta, Tan.” Cowok itu menjawab.


“Dipta? Cowok yang sering kamu ceri—”


“Ma, Mama udah makan belum? Clau cariin makanan, ya?” sela Claudia cepat sebelum Ashila membocorkan rahasia besarnya.


Ashila yang mengerti langsung tersenyum. Memilih tidak melanjutkan kalimatnya dan mengganti topik. “Kamu sendiri udah makan?”


“Em, belum sih, Ma.”


“Yaudah kita ke bawah, ya,” ajak Ashila yang langsung diangguki Claudia. Ashila beralih menatap Aeli yang masih diam di tempat sambil menyandarkan kepala ke tembok dengan mata tertutup.


Aeli menghela nafas pelan sebelum membalas. “Pergi aja.”


Ashila mengerti Aeli sedang tidak ingin diganggu. Maka dia langsung pamit bersama Claudia.


“Kak, tolong temenin kak Aeli sebentar, ya. Kakak mau titip apa-apa nggak biar aku beliin sekalian?” tanya Claudia.


“Nggak usah.”


“Oh oke. Ayo, Ma.”


Setelah kepergian Ashila dan Claudia, tempat itu menjadi sunyi. Aeli sama sekali tidak peduli dengan keberadaan Dipta dan tidak ingin ambil tahu. Hingga dia merasakan pergerakan di sebelahnya, tetapi dia memilih untuk tetap menutup mata. Aeli terlalu malas untuk emosi melihat wajah cowok itu.


Selama bermenit-menit terlewat, belum ada yang membuka suara. Mereka masih bertahan pada posisi masing-masing. Seolah tidak ada yang lebih menarik dari tetap mengatupkan bibir. Namun di menit berikutnya, kesunyian terpecah akibat suara Dipta.


“Lo baik-baik aja?” tanya cowok itu setelah memilah kalimat di dalam otak.


“Ketawa aja kalau lo nggak kuat.”


Kalimat bernada datar yang Aeli lontar membuat Dipta mendengkus pelan. Dia tidak habis pikir mengapa Aeli bisa berkata demikian di saat seperti ini.


“Gue nggak niat nyiduk lo,” ceplos Dipta.


Maksudnya menyiduk Aeli dalam keadaan kacau. Mata sembab, wajah kusut, rambut berantakan. Karena dia tahu, selama ini Aeli selalu berusaha tampil sempurna di depan banyak orang.


“Cabut lo sana.” Aeli masih tidak berniat membuka mata.


“Lo lagi nggak baik-baik aja.”


“Terus? Keadaan gue ngrepotin lo gitu?”


Ngrepotin banget tai!


“Nggak.”


Aeli kembali menghela nafas panjang. Memilih membuka mata namun sama sekali tak mengubah posisinya. Langit-langit lobi menjadi objek pengamatannya.


“Sial banget gue hari ini. Andai gue punya kekuatan, gue pengen lewatin hari ini gitu aja atau gue hilangin sekalian biar kesialan gue juga ikut hilang,” cerocos Aeli tanpa sadar.


Dipta mendengarkan, ikut menyandarkan kepala ke permukaan tembok sambil menatap atas. “Lo nggak sial. Cuma lagi dikasih cobaan,” balas Dipta.


“Tapi kenapa banyak banget?”


“Ya karena kalau sedikit namanya cobain.”


Aeli diam lagi, tatapannya berubah kosong. Terjadi jeda cukup lama diantara mereka sebelum Dipta kembali menutur.


“Tuhan tau lo kuat, makanya lo dikasih cobaan kaya gini.”


“Gue gak mungkin nangis kalau kuat.”


“Lo tau? Nangis itu sebenarnya obat. Kalau lo pendem semuanya sendiri dan terus maksa diri lo untuk kuat, yang ada inner lo terluka. Efeknya tambah bahaya.”


“Apa iya?”


“Pakai nanya.”


Aeli menoleh. “Kejedot apa lo tiba-tiba jadi sok bijak?”


Dipta mengedikkan bahu. “Gue juga bingung.”


Cowok itu ikut menoleh ke arah Aeli, tersenyum tipis melihat Aeli mau menatapnya. Meski hanya tatapan datar yang gadis itu lempar.


“Li,” panggil Dipta pelan.


“Hm.”

__ADS_1


“Mau baikan nggak?”


“Nggak mau,” jawab Aeli langsung tanpa mikir.


“Gue serius. Gue udah capek lo musuhin.”


“Atas dasar apa?” kita harus baikan?


Dipta berpikir sejenak. Sejujurnya, dia juga tidak tahu.


“Atas dasar gue udah capek lo musuhin,” ceplosnya asal.


“Lo juga musuhin gue.” Aeli kembali menatap langit-langit.


“Udah enggak. Gue udah tobat.” Dipta menegakkan tubuhnya. “Sekalian gue juga mau minta maaf karena selama ini sering bikin lo kesel.”


Aeli tak membalas. Menghilangkan rasa gondoknya pada cowok itu tentu tidak semudah mendekati Sky. Sialan kenapa jadi Sky?!


“Sama soal yang semalem, gue juga nggak tau kenapa gue kayak gitu. Kayanya gue beneran punya alter ego.”


Aeli berdecih. Cowok ini ... mau minta dimaafkan pun sempat-sempatnya menjadikan alter ego sebagai alasan.


“Kita baikan, ya? Gue janji deh nggak rese lagi.”


“Satu.” Aeli menutur tiba-tiba. “Gue nggak suka dipegang-pegang. Mau itu tangan, kaki, badan, muka. Nggak suka.”


Dipta anteng mendengarkan.


“Dua. Gue nggak suka dikasihanin.”


“Tiga. Gue nggak suka manusia bermuka dua.”


“Lo sanggup penuhin syarat gue, kita baikan.”


Perkataan Aeli mengejutkan Dipta. “Serius?”


“Kalau nggak sanggup silakan pergi,” putus Aeli mutlak.


Dipta tidak bisa untuk tidak tersenyum. Katakanlah ini kali pertama dia tersenyum secerah itu di depan orang selain ibunya. Aeli bahkan sempat terkesiap melihat senyum manis itu.


“Gue sanggup,” jawabnya yakin. “Berarti sekarang kita temen?”


“Siapa juga yang mau temenan sama lo.”


“Dih, songong,” kekeh Dipta.


Aeli tersenyum tipis. Sangat tipis. Dan untuk pertama kalinya, dia merasa tenang berada di samping Dipta. Rasa kesal, gondok, dongkol yang disimpannya berangsur menghilang. Ya, semoga saja Dipta serius ingin baikan. Aeli juga sudah lelah berdebat dengan cowok itu tiap kali bertemu.


...•••...


Sky menghembuskan nafas panjang menatap roomchat yang menampilkan pesannya dengan Aeli. Sudah tiga kali Sky membaca ulang chat mereka dari awal hingga akhir, namun pesan terakhirnya masih tak kunjung mendapatkan balasan. Bahkan dibaca pun tidak.


Sky merasa ada yang berbeda dari Aeli hari ini. Apa dia telah melakukan kesalahan hingga membuat Aeli marah? Namun, apa yang sudah dia lakukan?


“Saya kangen, Li,” gumam cowok itu.


Sehari tanpa Aeli ternyata cukup berpengaruh buruk untuk hati dan perasaan Sky. Bisa-bisanya dia berpikiran untuk menjauhi gadis itu hanya karena merasa tidak pantas. Seharusnya Sky tidak pernah dan tidak boleh berpikiran sejauh itu.


“Sky! Woiii! Turun makan!” teriak Rey setelah menggedor pintu kamar Sky beberapa kali. Sudah suaranya segede toa, pakai teriak-teriak segala.


Dengan berat hati Sky bangkit dari posisi telentang. Beranjak dari atas kasur dan berjalan menuju lantai bawah untuk makan malam. Orang tua serta kembarannya dan adik kecilnya sudah menunggu di sana. Sky hanya memasang senyum tipis untuk menyapa.


“Tumben baru turun, Sayang? Lagi ngapain?” tanya Aiyana—ibunda Sky dan Rey.


“Nggak ngapa-ngapain, Bunda,” balasnya pelan.


“Galau dia, Bun.” Rey menyahut. Terkikik geli kemudian.


“Anak Bunda kenapa galau? Coba sini cerita sama Bunda.”


“Biasalah cewek, Bun.” Tentu bukan Sky yang menjawab.


“Kamu udah punya cewek, Bang?” Gilvan—ayah si kembar—bertanya.


“Punya, Yah. Cakep abis ceweknya.”


“Ngaco, Rey,” cetus Sky. Masalahnya Aeli memang bukan pacar Sky, gimana dong?


“Bang Kai udah punya cewek, Bang?” Mey—adik perempuan si kembar—ikut menyahut.


“Hust, udah dibilangin Bunda manggilnya jangan Bang Kai kok, kamu ini,” omel Aiyana.


Bocah lima tahun itu nyengir kuda. “Khilap, Bun. Maafin, ya.”


“Hmm. Udah makan dulu, ntar ngobrolnya dilanjut habis makan.”


Empat orang lainnya langsung nurut setelah Aiyana menutur. Bermenit-menit terlewat hanya ada suara dentingan sendok yang mengisi ruang makan. Keluarga Sky memang memiliki aturan yang harus dilaksanakan, yakni tidak boleh mengeluarkan suara saat makan. Semuanya harus tenang dan baru diperbolehkan bicara setelah acara makan mereka tuntas.


“Yah, Bun, Sky ke atas dulu, ya,” izin Sky setelah menyelesaikan makannya.


“Loh kok buru-buru? Nggak ngobrol-ngobrol dulu sini?” tanya Aiyana lagi.


“Iya, Bang Kai nggak mau nemenin Mey belajar, Bang?” Mey refleks membungkam mulut begitu menyadari kesalahannya. “Bang Sky maksud Mey.”


“Besok ya, Dek. Pamit dulu Yah, Bun, Rey. Selamat malam.”


“Malam juga. Mimpi Aeli ya, Sky! Jangan mimpi Indah ntar Indah-nya digebuk Aeli!” ceplos Rey membuat Sky melempar tatapan tajam. Minta ditabok memang mulut anak itu.


Setelah kepergian Sky, Rey langsung ngakak terpingkal-pingkal. Wajah Sky tadi lucu banget loh. Harusnya dia abadikan dan fotonya dikirim ke Aeli. Rey berani taruhan Aeli pasti belum pernah melihat wujud Sky yang seperti itu.


“Aeli itu siapa, Bang? Pacar Sky?” tanya Gilvan.


“Calon, Yah. Belum jadian mereka.”


“Loh tadi katanya Sky udah punya pacar, gimana sih kamu?”


“Haha canda doang itu Yah biar Sky-nya peka.”


“Udah deket banget ya mereka? Bunda pikir Sky nggak berani deket-deket cewek loh.” Aiyana terkekeh.


“Beraninya sama Aeli doang, Bun. Aeli juga lembutnya sama Sky doang.”


“Bisa gitu, ya?”


“Bunda tau? Aeli juga belum pernah deket sama cowok loh sebelumnya. Cuma Sky yang bisa bikin dia buka diri.” Rey malah berantusias menjelaskan.


“Oh ya? Bunda jadi penasaran sama yang namanya Aeli. Orangnya baik nggak, Bang?”


Rey mendesis pelan, menggaruk kuping. Kalau sudah begini, gimana jelasinnya, ya? Sky itu, tidak pernah mau dekat-dekat cewek. Eh sekalinya dekat malah sama ratu bully.


“Bang?” panggil Aiyana.


“Baik kok, Bun. Baik banget malah. Anaknya apa adanya banget nggak neko-neko.” Ini termasuk berbohong tidak, ya?


“Kapan-kapan suruh Sky bawa ke sini ya, Bang. Bunda mau kenalan,” kata Aiyana semringah.


Mey ikut nimbrung. “Mey juga mau kenalan dong, Bun. Kakaknya pasti cantik banget ya Bang sampai Bang Sky suka?”


Rey menjawil hidung mungil Mey. “Cantik banget kaya Mey.”


“Wah kalau kaya Mey berarti cantiknya pakai banget. Bangetnya dua belas kali.”


“Kenapa harus dua belas kali?”


“Karena pacar-pacar Mey ada dua belas.” Anak itu menyengir tanpa dosa.


“Ye bocil lo emang!”

__ADS_1


“Bang,” tegur Aiyana dan Gilvan barengan. Duh kan, dipelototin pawangnya si bocil.


...•••...


__ADS_2