
...•••...
Siapa sangka jika hari ini akan menjadi salah satu hari paling bahagia dalam hidup Aeli karena kehadiran Sky? Bahkan Aeli sendiri pun tidak menyangka akan merasa sebahagia ini sekarang.
Sayangnya, kebahagiaan Aeli hanya bertahan sampai di depan rumah. Karena setelah Sky melesat pergi dan dia masuk ke dalam rumah, wajah-wajah manusia yang paling dibencinya lagi-lagi merusak perasaan bahagia yang hadir.
Melihat tingkah sok baik hati mereka, Aeli benar-benar ingin muntah.
“Sayang, kamu sudah pulang?” sapa Ashila. Tersenyum hangat.
“Menurut Tante?” Aeli membalas datar.
“Kamu tadi dianterin siapa, Sayang? Pacar kamu ya? Kok nggak diajak mampir?”
Aeli berdecih. Sekuat tenaga menahan rasa mual yang kini menyerbu organ tubuhnya. Lantas, tanpa berniat membalas pertanyaan Ashila, Aeli berjalan melewati wanita itu. Tetapi suara Ashila kembali menahan derap langkahnya.
“Mama sama Clau habis ini mau jemput papa. Aeli nggak ikut? Papa hari ini udah dibolehin pulang loh.”
Tangan Aeli terkepal tanpa sadar, hembusan nafasnya pun menjadi lebih berat. Mendengar kata 'papa' yang Ashila lontar membuat amarah Aeli tersulut.
“Papa pasti bakal seneng banget kalau Aeli ikut—”
Aeli langsung mempercepat langkah menuju kamar. Mengabaikan semua hal tentang Mahesa tanpa berniat ambil tahu apalagi ikut campur. Persetan. Meskipun pria itu adalah ayah kandung Aeli, bukan berarti Aeli tidak bisa benar-benar membencinya.
Salahkan Mahesa yang sudah menorehkan luka baru di atas luka yang berusaha Aeli sembuhkan selama ini.
“Ma, ayo,” ajak Claudia yang kini sampai di sebelah Ashila.
“Iya.”
“Cewek itu beneran nggak ikut, Ma?” tanya Claudia penasaran.
Ashila menggeleng datar. “Udah biarin aja. Makin bagus kalau nggak ada dia.”
“Iya ya, daripada bikin repot. Yang ada papa luluh beneran lagi kalau dia ikut.”
“Sayang, sekalipun dia ikut, papa nggak mungkin nganggep dia ada. Yang ada di mata papa kan cuma kamu sama Mama.”
Claudia tersenyum miring. “Kasian banget ya, Ma. Anak terbuang.” Gadis itu terkikik geli.
“Udah ayo berangkat. Katanya habis ini kamu mau ajak Dipta jalan.”
“Oh iya. Untung Mama ingetin.”
Dua perempuan itu keluar dari rumah sembari bercanda ringan. Sayangnya mereka tidak sadar jika sejak tadi percakapan mereka berhasil menembus gendang telinga seseorang. Seorang gadis yang masih bertahan di anak tangga dan memperhatikan interaksi mereka dari awal.
Tidak ada ekspresi berarti di wajah Aeli, hanya raut datar dan tampak meremehkan yang dia pasang. Setelah itu Aeli kembali melanjutkan langkah yang tertunda seolah tidak pernah mendengar apapun.
Lagipula tidak ada yang mengejutkan. Percakapan seperti itu sudah sangat sering Aeli dengar. Jelas saja itu bukan hal baru yang harus dihebohkan.
...•••...
Aeli menutup pintu kamar, melempar ranselnya ke kasur dengan asal lalu melepas sepatu. Baru Aeli akan melepas kancing teratas seragamnya, mendadak ponselnya mengeluarkan bunyi. Gadis itu mengambil benda persegi tersebut lalu mendudukkan diri di kursi rias.
Senyum di bibir Aeli terbit begitu mendapati pesan dari Sky. Lagi-lagi kekesalannya menguap dalam sekejap. Jemari lentik Aeli bergerak lincah membuka pesan yang Sky kirim untuknya.
Punya gue
Saya udah sampai rumah Li. Dengan selamat seperti pesan kamu tadi
Aeli terkekeh. Sky memang jago deh bikin Aeli seneng lagi.
Aeliya
Nggak ada yang lecet kan? Tadi bawa motornya ngebut nggak?
Punya gue
Aman kok.
60km/j
Aeliya
Good, gitu dong pacarnya Aeli🫰🏻
Mandi gih, habis itu langsung istirahat.
Punya gue
Kamu?
Aeliya
Aku bentar lagi. Mau kipasin hati bentar biar adem.
Punya gue
Kenapa? Ada yang gangguin kamu?
Aeliya
Nggak ada hari tanpa gangguan selama aku masih di rumah ini Sky. Tapi kamu gausah khawatir, aku selalu baik-baik aja.
Aeli menunggu balasan Sky, tetapi tiba-tiba cowok itu meneleponnya. Tanpa menunggu lagi Aeli langsung menerima panggilan tersebut dan menempelkan layar ponsel ke daun telinga.
“Ya, Sky?” ucap Aeli.
“Kamu nggak mau cerita ke saya?” tanya Sky di seberang sana. Entah mengapa nadanya malah terdengar menggemaskan di telinga Aeli.
“Cerita apa? Aku nggak punya cerita menarik.”
__ADS_1
“Mereka gangguin kamu lagi?” Intonasi Sky terdengar khawatir, dan itu berhasil menyentuh hati kecil Aeli.
“Enggak kok, tadi mereka cuma ngajak aku buat ikut jemput papa di rumah sakit. Aku-nya nggak mau. Mereka nggak maksa sih, cuma aku agak kesel aja denger omongan mereka di belakangku,” jelas Aeli.
Selain Clara, akhirnya Aeli bisa menceritakan kesehariannya pada orang lain dengan terbuka dan tanpa canggung. Aeli senang saat dirinya merasa nyaman kala berbagi cerita. Aeli senang saat lawan bicaranya benar-benar peduli, bukan hanya sekedar menyuruhnya membuka diri.
“Omongan mereka keterlaluan?”
“Menurutku biasa aja. Soalnya udah sering denger juga. Tapi kalau kamu yang denger mungkin bakalan syok.”
“Li, jangan terlalu dipikirin apapun yang mereka bilang ya. Kalau itu nyakitin, mending dilupain aja daripada bikin kamu makin sakit. Kamu tau kan, saya nggak suka liat kamu sedih?”
“Tau kok. Aku juga nggak sekurang kerjaan itu mikirin omongan mereka. Kalau aku beneran sakit, aku bakal langsung bilang ke kamu kok. Makasih ya udah perhatiin aku.” Aeli mengembangkan senyum lembut.
“Kalau hati kamu panas lagi bilang, ya. Biar saya bantu dinginin.”
Aeli tertawa. Pacar imutnya ini ada-ada saja.
“Aku janji bakal bilang semuanya ke kamu. Asal kamu nggak keberatan aja denger ceritaku.”
“Saya selalu suka tiap dengar kamu cerita, saya juga nggak pernah ngerasa keberatan sama sekali.”
“Bosan kan nggak ada yang tau kapan datengnya, Sky. Bisa aja hari ini kamu suka denger aku cerita, siapa tau besoknya kamu malah muak karena aku kebanyakan cerita.” Aeli cemberut.
“Sky, kalau kamu bosan bilang, ya? Jangan maksain buat terus ladenin aku apalagi maksain diri buat dengerin ceritaku. Bisa kan?”
Terjadi jeda selama beberapa detik karena Sky tak kunjung membalas. Aeli juga diam, membiarkan lelaki itu mencerna apa yang barusan berusaha dia sampaikan.
“Saya janji,” balas Sky akhirnya. Diam-diam Aeli kembali menarik sudut bibirnya.
“Udah sana mandi. Bau acem kamu.”
Terdengar kekehan Sky di seberang sana. “Ngeledek?”
“Nggak ngeledek kok. Cuma nyuruh kamu mandi biar wanginya balik lagi. Biar ntar bisa peluk aku lagi.” Aeli terkikik geli mendengar kalimat yang barusan dia lontar.
“Berarti kamu lagi ngode minta dipeluk? Eh tapi ini udah bukan ngode lagi sih kayanya.”
“Enggak ya! Pede-nya kurangin deh tolong. Coba inget-inget siapa yang suka meluk duluan, aku apa kamu?” tanya Aeli nyolot.
“Kamu.”
“Dih, kapan?”
“Kapan-kapan.”
Sumpah ya, makin lama telponan sama Sky bisa bikin Aeli makin gila. Ada saja jawaban Sky yang bikin Aeli gemas sampai gigit kuku.
“Udah ah. Bisa gila beneran aku lama-lama. Aku tutup ya. Bye ganteng.”
Setelahnya Aeli meletakkan ponselnya ke sofa dengan asal. Lantas menyentuh dada yang debarannya tidak kira-kira. Baru beberapa menit berbicara dengan Sky saja bisa bikin jantungnya sekacau ini. Ternyata sebelum atau setelah status mereka berubah, perasaan itu tetap sama. Malah kini tambah gila.
“Hih gemes! Kenapa sih gue bisa punya cowok selucu itu?! Kebaikan apa yang udah lo lakuin, Aeliya!”
...•••...
Entah mendapat dorongan dari mana Aeli melangkahkan kaki mendekat. Tangannya bergerak menyentuh handle pintu dan membukanya.
Kosong. Aeli tidak mendapati siapapun di kamar tersebut. Sepertinya Mahesa memang belum sampai di rumah. Lantas Aeli memutuskan untuk masuk, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan hingga tatapannya terpaku pada sebuah vas yang berada di sudut kamar.
Aeli kemudian mendekat, menyorot benda itu lekat-lekat. Rasa rindu tiba-tiba menyeruak di dada Aeli, menjalar ke mata hingga menimbulkan rasa panas. Aeli ingat, vas itu adalah benda kesukaan ibunya. Pemberian Mahesa.
Ternyata, benda tersebut masih di sini. Utuh tanpa cela sama sekali. Aeli sendiri tidak tahu apakah Mahesa masih mengingatnya atau tidak. Atau mungkin pria itu juga sama sepertinya, tidak sadar jika benda kenangan itu masih bertengger indah diantara banyaknya hama.
Menghela nafas panjang, Aeli berniat keluar dari kamar. Dia tidak ingin terus terjebak dalam rasa kehilangan yang lagi-lagi mungkin akan menghancurkan pertahanannya.
Tetapi, Aeli tidak menuntaskan niatnya begitu melihat laci yang berada tepat di bawah vas. Entah mendapat dorongan dari mana, Aeli kembali menghadapkan tubuhnya ke sana. Menyorot lekat laci yang selalu menarik perhatiannya sejak lama.
Tangannya kemudian bergerak menyentuh gagang, sayangnya ... terkunci. Helaan nafas panjang kembali berembus. Rasa penasaran Aeli benar-benar besar dan rasanya cukup menyebalkan karena tidak bisa dia tuntaskan.
Sebenarnya, bukan tanpa alasan Aeli menaruh rasa penasaran pada laci tersebut. Dulu, saat dirinya masih berada di kamar ini, dia sering sekali melihat sang ibu memasukkan kertas di sana. Tidak setiap hari, tetapi cukup sering. Saat Aeli bertanya, ibunya hanya membalas dengan senyuman tanpa jawaban.
Aeli ingin sekali mengetahui apa yang ibunya simpan di dalam sana. Mungkin bahagia, atau ... luka? Yang jelas, setelah ibunya meninggal, kunci laci tersebut ikut menghilang. Mungkin masih ada tetapi tidak ada seorang pun yang tahu letaknya di mana.
“Loh, Aeli?”
Suara Ashila menyita perhatian Aeli. Gadis itu menoleh, mendapati Ashila dan Claudia tengah memapah Mahesa. Ketiganya memasang tatapan penuh tanda tanya. Sedang Aeli hanya membalasnya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
“Kakak kok ada di sini?” tanya Claudia bingung.
Aeli tidak membalas, dia hanya fokus menatap wajah sang papa yang masih tampak pucat.
“Aeli lagi nyari sesuatu, ya? Kenapa nggak tanya Mama?” Ashila mengimbuhi.
Sumpah demi tuhan rasanya Aeli ingin meludahi wajah-wajah itu. Semakin mereka berusaha bersikap baik ke Aeli, semakin besar keinginan Aeli untuk melakukan hal tersebut.
“Nggak. Cuma mampir bentar.” Aeli menyahut datar. Berjalan mendekat dan berhenti di depan mereka. Senyum miring terbit di wajah gadis itu.
“Papa kayanya udah sehat, ya? Syukur deh.”
Setelahnya, Aeli benar-benar memilih keluar dari kamar tersebut. Melanjutkan niatnya untuk menghampiri Gita. Dibanding Mahesa, sepertinya monyet itu yang lebih membutuhkan jasa Aeli.
“Non Ae, Non Ae!” panggil Mbak Nana saat Aeli hampir sampai di kandang Gita.
Mendengar nada panik di intonasi perempuan itu, Aeli segera mempercepat langkah.
“Kenapa, Mbak Na?”
“Gita, Non. Barusan Mbak ke sini Gita-nya udah gak sadar,” beritahu Mbak Nana panik.
Aeli menatap Gita yang berada di dekapan perempuan itu, berjongkok untuk mengecek kondisi monyet kesayangannya.
__ADS_1
“Sejak kapan, Mbak? Kok bisa?”
“Nggak tau, Non. Mbak juga baru nyampe. Terakhir pas Mbak tinggal monyetnya masih oke-oke aja.”
“Yaudah buruan bawa ke mobil, Mbak. Kita ke dokter hewan sekarang.” Aeli mengusap lembut kepala Gita yang tak sadarkan diri sebentar sebelum berlalu duluan menuju garasi.
Aeli panik tapi berusaha bersikap setenang mungkin. Dia sangat berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Gita. Tidak ingin lebih tepatnya.
...•••...
“Ciaelah yang udah punya pacar anteng banget liatin HP,” cibir Rey kala menginjakkan kaki di dapur. Sky ada di sana, memakan es krim sambil menyorot layar ponsel di depannya.
“Apa?” balas Sky kemudian.
“Iya-iya ngerti deh yang udah punya pacar.” Cowok itu mengambil sepotong cheese cake dari dalam kulkas. Mendudukkan diri di kursi bar tepat sebelah Sky sambil mencomot kuenya.
“Hem, gue penasaran deh kok lo bisa kecantol ya sama Nyai Ratu? Eh maksud gue Aeli. Padahal sebelum-sebelumnya lo nggak pernah tuh deket sama cewek. Gue sempet ngira lo gay tau, ngab,” ceplos Rey nyablak.
Sky mencerna ucapan Rey dengan benar. Memanggut-manggut seraya memasukkan satu sendok kecil es krim ke dalam mulut.
“Karena gue suka.” Sky menjawab jujur.
“Apa yang lo suka dari seorang Faye Aeliya?”
“Semuanya.”
“Termasuk nge-bully orang?” Rey berkedip-kedip sok polos.
“Nggak lah. Maksud gue, gue suka semua yang ada di dia, kecuali satu itu.”
Rey manggut satu kali. “Kalau itu sih semua orang juga gak suka. Gatau deh ya, gue yakin aja kalau Aeli nggak asal-asalan aja nge-bully orang. Ya i mean, dia bertingkah kalau disenggol doang.”
“Memang.”
“Udah tau banyak lo sekarang, ya? Eh lo nggak pengen coba ngerubah dia gitu, Sky? Tuntun dia ke jalan yang benar kek?”
“Lagi nyoba sih sebenarnya. Tapi akhir-akhir ini gue agak lega juga soalnya Aeli udah nggak pernah bully orang.”
“Iya ya?” Rey mengingat-ingat. “Kok gue baru sadar yak?”
“Semenjak bareng mulu sama lo kayanya dia udah ngelupain kebiasaan lamanya, ya? Bahkan sama adeknya sendiri aja kayanya udah gak pernah nyari gara-gara. Lo bawa vibes positif sih, cewek lo ketularan deh.”
Sky terkekeh. “Gue seneng kalau itu bener.”
“Ya bener lah, ******. Lo liat aja sebelum dia kenal sama lo ganasnya kaya apa? Gue aja ngeri.”
“Dulu gue gak terlalu merhatiin dia.”
“Ya iyalah orang kerjaan lo gameeee teros! Sekarang nasib game lo gimana? Ter-museum-kan?”
Kali ini Sky benar-benar tertawa. Celotehan kembarannya itu memang ada-ada saja.
“Masih gue mainin kok, kadang.”
“Haha, orang lo udah punya mainan baru.”
Rey langsung tutup mulut begitu raut Sky berubah datar. Sialan, mulutnya memang kadang minta ditampol sekali-kali.
“Salah njir. Bukan mainan kok, kan dia cewek lo.”
Ditatap begitu oleh Sky bikin ketar ketir loh, serius.
“Ngomong-ngomong lo nembak dia kapan? Pas lo ajak dia ke pantai waktu itu?” tanya Rey. Penasaran sekaligus mengalihkan pembicaraan.
Sky mengangguk. “Iya pas itu.”
Rey mepet. “Lo nembaknya gimana? Ala-ala drakor gitu ya pasti?”
“Kepo.”
“Dih.” Rey julid. Tapi masih penasaran mampus. “Gimana, oi? Ceritain ngapa? Lo kan nggak pernah nembak cewek tuh. Jadi lo pakai taktik apa?”
Kening Sky berkerut. “Emang ada taktiknya?”
“Lah ya ada lah! Orang nembak biar diterima pasti pakai taktik. Lo ujian mau dapet nilai bagus juga pakai taktik, kan? Nyontek misalnya.”
“Gue nggak pernah nyontek.”
Rey menggaruk tengkuk. “Gue, contohnya gue bukan lo.”
“Oh.”
Lantas setelahnya dia menggeleng. “Gue nggak pakai taktik, yaudah gitu aja langsung.”
“Langsung? Li, gue suka sama lo, jadi pacar gue dong, kalau lo nggak mau gue bundir nih. Gitu?”
“Itu sih elo.” Sky berdiri setelah menghabiskan es krimnya. Membuang cup kertas ke dalam tempat sampah lalu membasuh tangan.
“Makanya ceritain dong biar gue gak penasaran!” desak Rey.
“Biar lo nggak penasaran apa biar ada bahan gibahan?”
Eh sianjir. Kalau nebak suka bener emang.
“Itu prioritas nomor dua. Yang pertama dan utama gue penasaran binggo! Bisik-bisik aja gak ngapa yang penting lo bilang.”
Sky menggeleng pelan. “Biar gue, Aeli, tuhan sama pantai Trinity aja yang tau. Lo nggak diajak,” ceplosnya kemudian berlalu dari dapur.
“Si kampret minta ditampol ya lama-lama. Lo masih hutang penjelasan sama gue woi!” gasnya tapi tak digubris. Sky malah ngacir tanpa beban ke lantai atas.
Rey mendengkus kasar di tempat. “Untung kembaran gue lo.”
__ADS_1
...•••...