
...•••...
Aeli senang bisa menghabiskan waktu bersama keluarga Sky. Dia masih di sini, dan kini tengah berada diantara mereka untuk makan malam bersama. Kehadirannya benar-benar disambut dengan baik.
“Aeli ini, satu sekolah sama Sky, ya? Satu kelas?” tanya Gilvan. Di meja makan hanya ada dia, Aeli dan Rey. Sky masih mandi, Mey ada di depan televisi, sedangkan Aiyana masih menyiapkan makan malam.
“Enggak. Kita nggak satu kelas, Om.”
“Loh, kirain kalian sekelas. Terus kalian kok bisa kenal ceritanya gimana?” Gilvan gencar bertanya.
“Em ... Kapan hari kita nggak sengaja ketemu di koridor, Om. Waktu itu Aeli baru dari kelas, eh terus tabrakan sama Sky yang tiba-tiba muncul.” Cerita Aeli mengalir.
“Tabrakan terus fall in love gitu? Cinta pandangan pertama nih ceritanya?”
Muka Aeli berubah merah seperti tomat. Kalimat Gilvan, rada-rada emang. Tapi nggak salah juga sih.
“Ayah lama-lama kaya wartawan nanya mulu. Perasaan kalau Rey yang punya pacar nggak pernah deh sampai segitunya,” celetuk Rey yang sejak tadi menyimak percakapan mereka.
“Sewot banget. Iri ya?”
“Nggak juga sih.” Rey menatap Aeli. “Li, kuat-kuatin mental ya. Ayah kalau nanya emang suka aneh-aneh. Cuekin aja udah.”
Aeli terkekeh pelan. Dia baru tahu ternyata Rey anaknya cukup asik dan terbuka. Ke mana saja Aeli selama ini?
“Gapapa kok. Santai aja,” balas Aeli kemudian.
“Tuh. Aeli-nya aja santai gitu kok kamu yang repot,” cibir Gilvan bikin Rey menggerutu.
“Ada apa sih ini bapak sama anak kok adu argumen terus. Yang anteng gitu loh sekali-kali,” tutur Aiyana yang sudah menghidangkan makanan terakhirnya.
Tadinya Aeli ingin membantu tetapi Aiyana menolak dengan alasan Aeli adalah tamu istimewa. Ada-ada saja memang.
“Salahin ayah nih, Bun. Liat tuh Aeli-nya udah blushing banget.”
Nah kan malah jadi tambah blushing.
Aiyana terkekeh. Tidak lama Sky turun dan sampai di ruang makan.
“Buset dah seger banget tuh muka. Baunya juga rada beda ya? Parfum sebotol lo pakai mandi ya jangan-jangan?” ceplos Rey.
“Biasa aja. Hidung lo kali yang bermasalah.”
Aeli mengedip-ngedip. Demi apasih baru kali ini dia mendengar Sky berbicara dengan gaya gaul seperti itu. Damagenya, tolonglah ....
“Hidung gue masih normal, oke. Oh iya, kan di sini ada Aeli, ya? Pantes.” Rey mengerling genit.
“Gak usah di dengerin ya, Li. Rey emang agak sableng anaknya,” kata Sky pada Aeli setelah mengambil posisi duduk di sebelah gadis itu.
“Iya, ngerti kok.”
“Eh, ngerti kalau gue sableng maksudnya?” Mata Rey melotot. Patut diacungkan jempol sih dia berani sama Ratu Bully. Belum aja di smackdown tuh orang.
“Kayanya lo nggak terima, ya?”
Oke. Rey mulai ketar-ketir sekarang. Gilvan dan Aiyana terkekeh melihat raut Rey yang langsung berubah. Takut sekali tampaknya.
“Enggak. Gue terima kok, kan gue yang bilang.”
Aeli mengangguk. “Bener. Soalnya gue juga gak bilang kalau lo emang sableng.”
Penghinaan.
“Eh, Bunda, Om. Maaf ya, Aeli kelepasan ngehina Rey. Sky, jangan marah ya kembaranmu aku hina,” tutur Aeli selanjutnya.
“Gapapa hina aja, Li. Om ikhlas.” Gilvan menyeplos.
“Udah-udah. Makan dulu. Ngobrolnya dilanjut nanti. Li, di sini gausah sungkan-sungkan, ya. Anggap aja kaya rumah sendiri.” Aiyana tersenyum manis.
Rumah sendiri? Entah mengapa Aeli agak miris mendengar kalimat itu. Tetapi dia tetap memaksakan senyum.
“Saya seneng liat kamu nyaman ada di sini,” bisik Sky pada Aeli.
Gadis itu menoleh, mengulum senyum. “Aku nyaman banget. Keluargamu hangat. Makasih ya udah bawa aku ke sini.”
“Saya yang makasih karena kamu setuju saya ajak ke sini.”
“Tapi nanti pulangnya dianterin kamu, kan?”
Sky mengangguk. “Iya dianterin saya. Kenapa?”
“Enggak. Takut aja kalau tiba-tiba aku kamu oper ke dia.” Aeli menunjuk Rey dengan matanya. Membuat kekehan pelan lolos dari bibir Sky.
Lantas, cowok itu mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Aeli. “Saya nggak mungkin oper pacar saya ke mana-mana.”
“Kenapa coba?”
“Nggak ikhlas.”
Rasanya ingin sekali Aeli menceburkan diri ke dalam laut. Sky itu, argh! Sulit ditebak deh beneran.
“Berasa dunia milik berdua, ya. Yang lain ngekos.” Rey kembali mencibir. Ngomong-ngomong, seharusnya manusia itu dikirim saja jadi presenter acara gosip. Berbakat banget soalnya.
“Liat nih, Bun. Anak Bunda pacaran teros! Mentang-mentang udah punya pacar,” adu Rey.
“Bunda tau kamu pengen, Rey. Yang sabar, ya.”
Sejak saat itu, senyum Rey berubah menjadi pulsa.
...•••...
“Kak Aeli, kapan-kapan main ke sini lagi ya, Kak,” ujar Mey semringah.
Mendengarnya, Aeli kemudian berjongkok guna mensejajarkan tinggi mereka yang lumayan timpang. Senyum manis di bibir mungilnya terukir.
“Iya. Kapan-kapan pasti Kak Aeli main ke sini lagi.”
“Janji ya, Kak?” Mey mengacungkan jari kelingking yang langsung ditautkan oleh Aeli.
“Janji.”
“Yey! Kak Aeli baik deh!”
Beberapa orang yang sejak tadi menyaksikan interaksi dua manusia itu ikut mengembangkan senyum. Senang sekali rasanya melihat pemandangan tersebut.
“Bang, ingat pesan Bunda ya. Nganterin Aeli-nya hati-hati. Jangan ngebut, jangan sampai lecet. Pastiin Aeli selamat sampai rumah. Oke?” peringat Aiyana.
“Iya, Bunda. Sky inget terus kok pesan Bunda,” balas Sky meyakinkan.
“Bunda percaya sama Abang.” Aiyana kemudian menatap Aeli yang kini sudah berdiri.
“Li, kapan-kapan main ke sini lagi loh. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untuk kamu.”
“Aeli usahain bakal sering-sering ke sini Bunda. Makasih ya karena Bunda dan om mau nerima kedatangan Aeli dengan baik.” Aeli menutur tulus.
“Sama-sama, Sayang. Bunda seneng bisa kenal kamu. Jaga baik-baik hubungan kalian, ya. Bunda dukung. Tapi kalian harus selalu ingat batasan ya. Jangan kecewain Bunda.”
“Sky usahain, Bunda,” sahut Sky. “Kalau gitu Sky anterin Aeli pulang dulu ya.”
“Hati-hati. Kamu boncengin berlian soalnya.”
Si bunda bisa aja memang.
“Pamit dulu, Bunda, Om.” Aeli menyalami keduanya dengan sopan.
“Gue gak dipamitin nih?” celetuk Rey yang sejak tadi bersandar di sisi pintu. Masih mengunyah keripik singkong dengan santainya.
Aeli berdecak pelan. Makin ke sini Rey jadi makin ke sana ya kalau diliat-liat. Untung dia kembaran Sky.
“Pamit dulu, Rey,” ucap Aeli seadanya.
“Lemes banget, Sis. Keliatan banget kalau gak ikhlas pamitan sama gue. Awas, gak gue restuin loh.” Cowok itu memainkan satu alisnya. Minta ditampol deh kayanya.
“Restu lo gak dibutuhin juga sebenarnya.” Sky menyeplos. Aeli tersenyum bangga sambil membatin,
“That's ma boy.”
“Bun, liat tuh anak Bunda mulai songong.” Rey mengadu, sok memelas.
“Gapapa kalau songongnya sama kamu.”
Rey menyentuh dada dramatis. Bertingkah layaknya manusia paling memprihatinkan di dunia. Mey menyorot lempeng, geleng-geleng tak habis pikir. Entah mengapa abangnya yang satu ini agak-agak konslet sedikit.
Sesaat kemudian, Sky dan Aeli berjalan meninggalkan teras menuju garasi. Setelah menekan klakson motor, motor Sky benar-benar meninggalkan pekarangan dengan Aeli yang sudah duduk manis di jok belakang.
Angin jalanan menerpa keduanya. Merasa kedinginan, Aeli mencari saku jaket Sky dan memasukkan tangannya di sana. Sky menunduk sebentar, menatap tangan lentik yang kini melingkar sempurna di perutnya. Tersenyum simpul.
“Begini sebentar gapapa, ya? Dingin banget,” ujar Aeli. Dagunya bersandar di bahu Sky.
“Iya.”
“Cuma iya? Kamu nggak mau nawarin sesuatu buat aku?” Aeli menyorot wajah Sky dari samping. Demi tuhan deh, gantengnya kelewatan.
“Kalau saya nawarin sesuatu, nanti kamu nggak begini lagi,” ceplos Sky membuat senyum Aeli makin mengembang.
“Ternyata kamu lebih cerdas dari aku ya.”
Menyandarkan pipi di bahu Sky, Aeli memilih memejamkan mata. Menikmati hembusan angin malam yang dingin serta suara-suara kendaraan. Perasaan nyaman itu selalu saja muncul setiap Aeli bersentuhan dengan cowok ini.
“Kamu udah ngantuk?” tanya Sky. Meski suaranya tidak terlalu keras, Aeli tetap bisa menangkap kalimat yang dia lontar.
__ADS_1
“Biasanya jam segini aku masih seger, tapi sekarang gak tau kenapa mataku rasanya udah berat banget.”
“Maaf ya saya udah bikin kamu kecapek-an.”
“Kamu nggak bikin aku kecapek-an, Sky. Jangan minta maaf.”
Meski pembahasan mereka cukup ringan, Aeli tetap bisa merasakan kebahagiaan. Selama ada Sky, selama itu pula ada bahagia Aeli.
“Besok ke sekolah jangan bawa mobil, ya. Saya jemput.”
“Kamu jadi mau antar jemput aku?”
“Jadi. Kenapa?”
Aeli membuka mata, kembali menyorot kekasihnya itu pada posisi semula. “Kamu-nya nggak ribet? Aku berangkatnya agak siang, biasanya sepuluh menit sebelum bel baru jalan. Sedangkan kamu, pagi banget.”
“Nggak masalah.”
“Yakin? Kamu kan murid teladan.”
“Kata siapa?”
“Loh emangnya enggak?”
Sky menoleh sekilas. Tersenyum. “Bagi saya sih enggak. Soalnya saya juga sering dihukum kalau di kelas.”
“Kamu sering dihukum karena apa?” tanya Aeli penasaran.
“Kadang karena ketiduran di kelas, nggak ngerjain PR, telat masuk.”
Aeli membulatkan matanya. “Demi apa? Kamu pernah kaya gitu?”
“Sering, Li. Tanya Rey aja kalau nggak percaya.”
“Beneran deh aku pikir kamu nggak pernah dihukum loh. Image-mu kan kaya anak baik-baik gitu, beda sama aku.”
Sky kembali mengembangkan senyum. Menyentuh punggung tangan Aeli dengan tangan kirinya. “Kalau ujung-ujungnya kamu bakal ngerendahin diri sendiri, jangan diterusin.”
“Aku cuma bicara fakta padahal. Kamu itu image-nya anak baik, murid teladan, gak neko-neko. Sedangkan aku, kebalikannya kamu,” tutur Aeli.
“Sebenarnya gak masalah sih. Cuma aku agak greget aja sering dibilang gak pantes sama kamu. Apa jangan-jangan emang iya, ya? Apa mukaku ketuaan buat kamu yang imutnya kaya bayi?”
“Mana ada kaya bayi,” sanggah Sky.
“Eh. Kamu nggak pernah ngaca apa?”
“Kamu juga nggak pernah ngaca kayanya.”
Baru kali ini loh Aeli di skakmat oleh pacarnya sendiri. Nyebelin juga rupanya.
“Padahal muka kamu itu jauh lebih lucu dari muka saya. Masa gak nyadar?”
“Aku? Lucu? Hahaha.” Aeli ngakak. “Lucu kaya joker mah iya.”
“Lucu, Sayang.”
Bibir Aeli terkatup. Tawa yang sempat mengudara menguap seketika.
“Sekarang udah berani ya manggil-manggil sayang tanpa dikode. Habis dikasih siraman rohani sama Rey ya?” Aeli menyelidik.
“Udah sampai,” balas Sky setelah motornya berhenti di depan gerbang rumah Aeli yang menjulang tinggi.
Aeli mendengus geli menyadari Sky sengaja tidak menjawab pertanyaannya tadi dan mengalihkan topik. Tetapi dia juga tidak ngotot. Dengan Sky memanggilnya dengan sebutan sayang saja sudah membuat sukmanya seolah melayang jauh ke awan.
“Makasih udah dianterin pulang,” kata Aeli sembari menyerahkan helm Sky yang sudah dia lepas.
“Makasih juga karena udah mau dianterin pulang.”
“Ih, bisaan banget balesnya.”
Sky terkekeh, menjawil gemas hidung Aeli. “Masuk gih, istirahat.”
“Kamu juga istirahat.”
“Di sini?”
“Di kamarku boleh. Ayo,” ceplos Aeli sesukanya.
“Kapan-kapan.”
Aeli bersedekap dada. Alisnya terangkat satu. “Kapan-kapannya kapan nih?”
“Nanti kalau udah sah.”
Kuatkan Aeli, Tuhan. Tapi ... amin paling kenceng deh.
“Udah deh kamu pulang sana. Makin ke sini bisa-bisa malah bikin aku mati berdiri.”
“Saya nggak nge-baperin. Tapi kalau kamu baper saya bakal tanggung jawab.”
Kaaaan. Mulai kaaaaan.
“Udah ah. Aku mau masuk aja,” kata Aeli dengan pipi yang sudah terasa sangat panas. Perkataan Sky sukses mengalirkan gejolak hebat dalam diri Aeli.
“Selamat malam,” balas Sky.
“Malam juga. Kamu pulangnya hati-hati ya. Nanti kalau udah sampai rumah langsung kabarin aku.”
“Siap, Bu Bos.”
Aeli terkekeh kecil. “Ketemu besok, Sayang.”
Sky mengangguk. “Kamu masuk gih dulu baru saya pergi.”
“Oke, aku masuk sekarang.” Aeli berjalan menjauh mendekati gerbang. Dia kembali tersenyum ke arah Sky yang masih menatapnya dan tentunya dibalas hal serupa.
Tiga detik setelahnya, Aeli benar-benar menjauh dari gerbang. Sky masih menatap punggung gadis itu hingga sang empu hilang dari pandangan. Sky bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Aeli. Dia senang semuanya berjalan lancar seperti yang dia rencanakan.
Lantas setelah memastikan Aeli selamat sampai ke dalam rumah, Sky melajukan motornya meninggalkan area rumah Aeli dan bergabung bersama kendaraan lain di jalan raya.
Hari ini, telah menjadi salah satu hari yang cukup berkesan baik dalam hidup Aeli maupun Sky. Keduanya berhasil merasakan kebahagiaan yang sama.
...•••...
“Hah, seger.”
Aeli menghempas dirinya di ranjang setelah selesai membersihkan diri dan melakukan night routine skin & body care. Aeli menoleh ke nakas tempat ponselnya berada, mengambil benda pipih itu untuk mengecek apakah Sky sudah mengirimkannya pesan atau belum.
Sayangnya, Sky belum kunjung mengabarinya. Aeli tidak terlalu ambil pusing karena mungkin saja Sky belum sampai di rumah. Atau mungkin sudah sampai tetapi memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Tiba-tiba Aeli jadi teringat ucapan Sky tadi sore, tentang gadis bernama Calea yang merupakan sahabat kecil Sky. Aeli kepikiran dan itu membuatnya tidak tenang.
“Calea? Apa dia masih berhubungan sama Sky, ya?” Aeli menggumam. Pikirannya berkelana, membayangkan seakrab apa Sky dengan perempuan bernama Calea tersebut.
Aeli itu orangnya curigaan, cemburuan, suka overthinking tidak jelas. Contohnya seperti sekarang, dia bisa saja terus kepikiran sampai tidak bisa tidur.
Memilih mengusir pikiran buruk tersebut, Aeli kembali menatap layar ponselnya.
Beralih ke aplikasi berwarna hitam dengan sebuah lambang putih di tengahnya untuk mengusir bosan. Melihat beberapa video yang lewat di berandanya mungkin bisa sedikit mengurangi kegabutan Aeli.
Tetapi, sebuah notifikasi pop-up yang baru masuk langsung mengurungkan niat Aeli. Kernyitan tipis muncul dan tanpa menunggu dia langsung membuka chat yang diterimanya tersebut.
+62896xxxxx
Di mana?
Aeli mengedip bingung. Ini orang, nomornya asing, tidak ada tanda-tanda kehidupan, profil kosong, tidak ada angin dan hujan tiba-tiba langsung menanyakan keberadaannya. Minimal basa-basi dulu anjir. Introduce dulu kek. Lantas, jemari lentik Aeli bergerak mengetikkan balasan.
Aeliya
Siapa?
Dua detik berikutnya, sang empu membalas.
+62896xxxxx
Lo
Aeliya
Lo siapa?
+62896xxxxx
Dipta
Aeli berkedip lagi beberapa kali, memastikan dia tidak salah baca. Entah ada angin apa Dipta tiba-tiba mengirimkannya pesan dan menanyakan keberadaannya.
Aeliya
Oh. Gue di rumah, kenapa emang?
+62896xxxxx
Nanya
“Dih. Lagian siapa juga yang bilang lo mulung?” cibir Aeli sebal.
Aeliya
__ADS_1
Ada gerangan apa lo ngechat gue? Dapet nomer gue dari mana lagi?
+62896xxxxx
Kepo
Aeliya
Gue tampol juga lo ntar.
+62896xxxxx
Hari kamis lo sibuk?
Kan. Yang satu belum dijawab udah ganti topik aja nih orang. Dasar Dipta sok kul.
Aeliya
Kenapa? Jawab nanya lagi langsung gue blok nomor lo.
+62896xxxxx
Jalan
“Apaan sih manusia lidi?” Aeli menyeletuk sebal. “Ketikannya gak bisa dipanjangin dikit apa? Keyboard-nya rusak?
Aeliya
Jalan apaan sih? Jalan raya?
+62896xxxxx
Gue mau ajak lo jalan dodol.
“Si ****** pakai ngatain.” Sepertinya Aeli harus membalas Dipta biar ikutan sebal. Enak saja cuma dirinya yang darah tinggi.
Aeliya
Nggak deh. Gue biasanya naik mobil.
+62896xxxxx
Gak ada yang nyuruh lo jalan kaki.
Ternyata oh ternyata, Dipta ini lima kali lipat lebih menyebalkan dari perkiraannya.
Aeliya
Mau ke mana sih? Tumben banget ngajak gue.
+62896xxxxx
Temenin gue beli sesuatu. Wajib. Pulang sekolah.
Delikan tajam Aeli mendominasi. “Dih wajib-wajib. Maksa banget batu bekel.”
Aeliya
Gak janji, soalnya gue pulang sama Sky. Gue juga harus izin sama dia.
+62896xxxxx
Gue izinin.
Aeliya
Lo bukan Sky, Bapak Dipta Prahardja.
+62896xxxxx
Ck, gue yang izinin ke Sky. Lemot banget mesin otak lo
Aeliya
Serah lo deh.
Aeli mematikan ponsel, menghela nafas panjang. Dia sendiri tidak tahu apa tujuan Dipta mengajaknya keluar tiba-tiba. Aeli juga malas ambil pusing.
Hingga, saat ponselnya kemudian berdering dan menampilkan nama kontak Sky di sana, detik itulah senyum lebar Aeli berhasil terbit sepenuhnya.
Buru-buru gadis cantik itu merapikan rambut, lalu mengarahkan layar ponsel ke depan wajah sebelum menerima panggilan video dari pacar kesayangannya.
“Hai,” sapa Aeli. Figur Sky dengan rambut setengah basah yang memenuhi layar ponsel berhasil membuat Aeli meleyot.
Ganteng banget, woi!
“Hai. Maaf ya baru hubungin kamu sekarang. Saya baru selesai bersih-bersih,” kata Sky.
“Nggak papa kok. Kamu aman sampai rumah, kan? Nggak ada yang lecet, kan?”
Perkataan Aeli menciptakan senyum di bibir mungil Sky hingga menampakkan lesung tipis milik cowok itu.
“Aman kok. Nggak ada yang lecet sama sekali.” Aeli lega. “Kamu udah ngantuk belum?” tanya Sky lagi.
“Belum. Habis ini aku rencananya mau belajar bentar sih. Soalnya besok ada ulangan.”
“Mau saya temenin? Kebetulan saya juga mau belajar bentar lagi.”
“Boleh banget. Tapi kamu bisa konsentrasi emangnya? Mukaku gak bakal ganggu kamu, kan?”
“Harusnya pertanyaan itu buat kamu. Kamu bisa konsentrasi emangnya kalau belajar sama saya?”
“Ngeremehin ya, Pak. Tapi ... nggak tau juga sih. Makanya kamu tuh gantengnya jangan kelewatan dong biar aku bisa fokus dan gak ngelirik kamu terus.” Aeli mengomel.
“Ini udah maksimal.”
“Apanya?”
“Buriknya.”
Aeli tertawa. “Hei. Kalau itu udah maksimal buriknya, maksimal ganteng versi kamu itu gimana, Sky Lazaro?”
“Maaf,” kata Sky tiba-tiba.
“Untuk?”
“Karena udah kelewat ganteng.”
Tuhan. Untung Aeli tabah.
“Karena kamu yang bilang jadi aku gak bakal emosi. Soalnya pacarku ini emang ganteng, gantengnya pakai banget.”
Aeli dapat melihat Sky mengulum senyum. Mata bulatnya menyipit lucu. Sejurus kemudian, cowok itu sudah berpindah dari kasur ke meja belajar. Ponselnya disandarkan di atas meja sedang dia duduk di kursi seraya mengambil beberapa buku yang menumpuk.
“Besok saya juga sebenarnya ada ulangan. Jam pertama.” Sky memberitahu.
“Pelajaran apa?”
“Matematika. Dijamin ngebul deh otak habis ngerjain soal-soal.”
“Kalau kamu bisa mah nggak bakal ngebul, Yang. Apalagi matematika. Seru banget loh.”
“Seru?” Sky mengulang ucapan Aeli. Jelas sekali keningnya berkerut pertanda heran.
“Pasti kamu mau bilang, seru apanya? Ya kan? Hei, bagiku matematika itu pelajaran paling seru tau. Apalagi kalau berhasil mecahin soal-soal. It's another level of happiness,” kata Aeli berseri-seri.
“Kata saya matematika itu seru kalau bisa. Kalau enggak ya musingin banget.”
“Bener. Karena aku bisa ya jadinya seru-seru aja.”
“Kamu kan pinter, Li.”
Aeli terkekeh. Cewek itu bangkit dari kasur dan berjalan menuju meja belajar. “Kamu juga pinter gitu loh. Aku denger-denger, di kelas kamu juga masuk tiga besar. Tingkat paralel juga kamu masih masuk sepuluh besar kan?”
“Kamu tau?”
“Ya tau lah. Apasih yang aku nggak tau soal kamu?”
“Tapi saya nggak bisa matematika kaya kamu. Liat angka aja udah pusing duluan.”
“Ya nggak papa. Tingkat kepintaran orang kan beda-beda. Kaya aku bisa matematika tapi biologiku jeblok. Paling mentok cuma ngerti materi reproduksi. Hehe.”
Sudah tidak usah dijelaskan lagi apa yang berusaha Aeli sampaikan. Lebih baik di skip saja daripada makin ngaco.
“Mulai belajar aja kali ya? Takutnya malah kemaleman.”
“Oke. Tapi vidcall-nya jangan dimatiin, ya?”
Sky mengangguk. Setelahnya mereka berdua mulai berkutat dengan kegiatan masing-masing. Sesekali Aeli melirik Sky yang tampak fokus membaca buku di depannya. Wajah serius Sky ternyata sukses menggoyahkan pertahanan Aeli. Fokusnya langsung buyar.
“Pacar gue emang minta dinikahin. Ganteng banget buset dah.”
Cukup. Aeli menggelengkan kepalanya, menepuk pelan pipinya agar terlepas dari pesona Sky yang memabukkan. Bisa-bisa Aeli benar-benar tidak jadi belajar jika begini terus.
“Fokus, Li. Fokus. Tarik nafas, hembuskan, jangan ditahan, ntar bablas ke kuburan.”
Setelah menenangkan diri sendiri. Akhirnya Aeli berhasil memegang kendali dirinya. Ya ... meski sesekali masih mencuri pandang ke arah Sky sih.
Dasar Aeli.
__ADS_1
...•••...