
...•••...
“Ma, liat deh lukisan Eli. Bagus nggak?” tanya seorang gadis kecil berkuncir satu pada wanita cantik di depannya.
Wanita itu tersenyum, mendekati sang anak kemudian. “Wah, bagus banget. Ini siapa aja, Sayang?”
Dengan semangat dia menjelaskan. “Ini Eli, ini mama, terus ini papa. Kita ada di taman bunga. Mama dan papa gandeng Eli terus karena kata Mama Eli suka kabur-kaburan.”
Wanita tadi terkekeh pelan. Senyumnya tampak sangat manis dan meneduhkan. “Bukan. Mama gandeng Eli karena Mama nggak mau kehilangan Eli.”
“Karena Mama sayang Eli?” Gadis kecil itu bertanya dengan raut polos yang tampak menggemaskan.
“Karena Mama sayang banget sama Eli.” Wanita itu memeluk anak gadisnya erat-erat. Mengecup pipi gembul milik sang anak beberapa kali dan membuatnya tertawa karena geli.
“Papa sayang Eli nggak ya, Ma?” Pertanyaan itu tiba-tiba meluncur keluar begitu saja. Menciptakan kerutan di kening sang mama.
“Kenapa nanya kaya gitu, Nak? Udah pastilah papa sayang Eli.”
“Tapi papa sekarang jarang pulang, Ma. Apa jangan-jangan papa beneran udah nggak sayang Eli, ya? Eli dilupain?”
Senyum lembut penuh kasih sayang yang terpatri berhasil menghangatkan hati gadis kecil tadi.
“Papa nggak lupain Eli, nggak akan pernah. Papa bakal terus sayang sama Eli sampai kapan pun.”
“Tapi kenapa papa udah jarang perhatiin Eli, Ma?”
“Karena papa kerja, buat Eli, buat mama, buat kita semua.”
Gadis itu mengambil nafas dalam, menghembuskannya pelan lalu memaksakan senyum. Berusaha membuang jauh-jauh perasaan tidak mengenakkan yang hinggap.
“Papa bakal selalu sayang sama Eli. Selamanya.”
“Pintarnya Mama.” Kepalanya dielus dengan lembut.
Bahkan saat Aeli mulai membuka mata, sentuhan lembut itu masih terasa nyata. Yang tanpa sadar kembali mengalirkan cairan bening dari sudut matanya. Sekaligus membuka kembali luka paling dalam yang selalu dia sembunyikan. Mimpi itu, selalu saja menghantuinya tiap malam dan menyesakkan rongga dadanya.
Perlahan Aeli bangkit dari posisi telentang, menyandarkan diri di headboard ranjang sambil mengusap air matanya yang masih mengalir. Tangannya kemudian bergerak meraih tumbler di nakas, membuka tutupnya kemudian menenggak isinya sedikit.
Aeli menatap jam beker yang berada di samping lampu tidur. Baru pukul dua pagi dan Aeli sudah terbangun. Helaan nafas panjang lagi-lagi berhembus. Sepagi ini dirinya harus dihantam rasa rindu yang tak mampu dia bendung hanya karena sebuah mimpi.
Merasa tidak mungkin ada harapan untuk kembali tidur, Aeli memutuskan keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Dia butuh camilan untuk memulihkan perasaannya yang sedikit berantakan. Persetan, Aeli tidak punya waktu untuk memikirkan berat badan.
“Iya kamu tenang aja. Serahin semuanya sama saya.”
Tetapi langkah Aeli terpaksa berhenti di anak tangga terakhir saat mendengar suara seseorang dari arah kolam renang. Saat Aeli menatap, figur Ashila mengisi bingkai matanya.
“Kamu sabar sebentar dong. Saya juga lagi berusaha.”
Biasanya Aeli tidak pernah penasaran dengan apa yang wanita sialan itu lakukan. Tetapi kali ini entah mengapa rasa ingin tahunya menjadi lebih besar. Lantas Aeli membelokkan arah dan mendekat ke arah kolam, menajamkan pendengaran.
Sebisa mungkin Aeli tidak menimbulkan suara. Dia hanya ingin tahu apa yang tengah Ashila bicarakan pagi buta begini dan dengan siapa wanita itu berbicara.
“Ya nggak bisa buru-buru lah. Yakinin mas Mahes itu nggak segampang yang kamu pikir. Semuanya butuh proses.”
Aeli mengerut dalam. Makin dia dengarkan membuatnya makin tidak mengerti apa yang tengah Ashila bicarakan.
Sayangnya saat Aeli ingin kembali memfokuskan pendengaran, dirinya tidak sengaja menggeser vas yang ada hingga menimbulkan bunyi yang lumayan terdengar di tempat sunyi ini.
Ashila spontan menoleh, kala itulah dirinya langsung bersitatap dengan Aeli. Rautnya berubah terkejut dan tampak panik. Tentu saja Aeli dengan mudah menyadari ekspresi tersebut.
“A-aeli? Ngapain di sini, Sayang?” tanya Ashila yang sebelumnya buru-buru mematikan ponsel.
Aeli menyorot wanita itu penuh selidik, seolah meneliti apa yang mungkin dia lewatkan selama ini.
“Tante yang ngapain telponan jam segini?” Aeli balik bertanya.
“Oh itu ... em, temen Mama emang suka nelpon tengah malem. Biasa, butuh temen curhat katanya.” Ashila menjelaskan sambil tersenyum. Sayang sekali senyum manis itu jelas tampak dipaksakan.
“Penting banget ya?”
“Nggak penting-penting banget kok, Sayang. Aeli sendiri kok di sini? Cari apa?”
Tatapan Aeli masih belum berubah. Wanita itu terlalu mencurigakan untuk dilepaskan begitu saja.
“Makan.”
“Mau Mama masakin sesuatu?”
Aeli menimang sejenak. Sekali-kali mengerjai Ashila tidak salah sepertinya. Bisa sekalian menyelidiki juga. Dia masih benar-benar penasaran setelah mendengar beberapa kalimat yang wanita itu lontar.
“Spaghetti bolonese sama caramel machiato hangat dong. Gak pakai lama.”
Aeli berjalan ke ruang makan dan langsung duduk di kursi bar sambil memainkan ponsel dan mencomot se-toples camilan. Sedang Ashila masih terpaku dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Melihatnya, Aeli memutar bola mata muak. “Tante nunggu apa lagi? Nunggu aku mati kelaparan? Lelet banget heran,” sinisnya.
“Iya, Mama buatin,” sahut wanita itu pelan seraya melangkah menuju dapur. Apes banget sih jam segini disuruh bertempur dengan alat masak.
Ya salah sendiri nawarin. Sok baik juga kasih batasan kek biar nggak kampret-kampret banget jadinya. Susah sendiri rasain.
“Jangan sampai gak enak atau sampai bikin aku diare. Jangan Tante campurin sianida juga.”
Jujurly Aeli berkata demikian sebenarnya cuma iseng. Menyuruh Ashila membuatkan makanan juga iseng sih. Ya kali Aeli makan masakannya nenek lampir. Yang ada Aeli langsung pindah alam. Taulah manusia itu liciknya kaya apa.
“Pastry sama saosnya banyakin. Saosnya juga jangan terlalu encer. Oh ya, mie-nya harus kenyal ya, Tan. Jangan terlalu keras atau lembek. Direbusnya juga jangan terlalu lama tapi.” Aeli menarik sudut bibir setelah berkata demikian.
Sedang Ashila mendengkus dalam diam tanpa membalas perkataan Aeli. Menyebalkan? Memang. Aeli sedang berusaha menjadi menyebalkan sekuat tenaga.
“Kalau nggak ikhlas sih mending gak usah dipaksain ya daripada jadi kutil.” Aeli menyeplos lempeng. Mulutnya masih anteng mengunyah kacang polong.
“Nggak kok. Mama malah seneng Aeli mau Mama masakin. Kan selama ini Aeli nggak pernah mau makan masakan Mama,” sahut Ashila lembut. Lembut-lembut gitu hatinya udah kebakar loh, serius. Untung aja asapnya gak keluar lewat ventilasi kepala.
“Oh ya? Kalau gitu tambah kentang goreng sama nugget dong. Em, sama thai tea hangat juga ya. Eh nggak jadi deh. Aku mau coklat hangat aja.”
Kan, ngelunjak banget anaknya Mahesa. Masalahnya orang seperti Ashila itu memang pantas diinjak-injak.
“Kentangnya digoreng sampai krispi ya, Tan. Jangan pas udah mateng malah letoy kaya anak Tante.”
Aeli tersenyum manis setelahnya. “Canda.”
Ashila tidak menanggapi melainkan menyiapkan bahan-bahan untuk membuat pesanan Aeli. Hingga tiba-tiba pertanyaan Aeli menghentikan kegiatannya kemudian.
“Anak Tante nggak ngadu tadi siang habis aku labrak?”
“Kalian berantem?” tanggap Ashila. Tampak terkejut. Entah sandiwara atau bukan karena terlalu sulit untuk dibedakan.
“Oh enggak. Anak Tante kan anak baik-baik, gak mungkin berantem sama aku,” balas Aeli dengan nada menyindir.
“Aku yang cari masalah sih, Tan. Anak kesayangan Tante aku cekik sama aku dorong. Kayanya kesakitan banget tuh tadi. Dia nggak ngadu ya? Hm, tumben.”
Ashila mengepalkan tangan. Ucapan Aeli sukses menyulut emosinya. Menyadari perubahan raut wajah Ashila, Aeli tersenyum penuh kemenangan.
“Claudia adik kamu, Aeli. Kenapa kamu sering banget nyakitin dia?” Ashila akhirnya membalas setelah beberapa saat.
“Maaf aku anak tunggal. Aku gak punya adik tuh di keluargaku. Apalagi adik yang gak tau diri dan munafik kaya anak Tante.”
“Aeliya.” Ashila memanggil dengan tegas. Rahangnya mengeras pertanda dia tengah menahan amarah yang berkobar.
__ADS_1
“Claudia kan memang munafik, persis mamanya.”
Aeli membuang nafas panjang sambil memutar bola mata. “Makanya jangan pernah ganggu kepunyaanku kalau pengen hidup tenang.”
“Maksud kamu?”
“Gak usah pura-pura bodoh. Tante pikir aku nggak tau gimana kelakuan Tante dan anak Tante di rumahku?” Aeli berdecih. “Aku tau semuanya. Sekecil apapun pergerakan kalian, aku tau, Tante Ashila.” Senyum miring Aeli terukir kala melihat Ashila hanya diam tak berkutik.
“Pesananku jangan lupa, kalau udah langsung bawa ke kamar. Harus Tante yang bawa, gausah nyuruh-nyuruh bibi. Orang pada capek, istirahat.”
Ashila mengeratkan genggamannya pada botol saos yang dia genggam. “Iya,” balasnya berusaha setenang mungkin.
Dan Aeli berlalu begitu saja tanpa merapikan kekacauan yang dia buat. Kacang polong yang sebelumnya dia tumpahkan ke atas meja benar-benar terlihat berantakan. Ditambah Aeli sengaja tidak menutup wadah kacang polong tersebut.
Sialan sih memang.
...•••...
Aeli tidak pernah sejahat itu sebelumnya. Sedari kecil dia dididik dengan sangat baik dan tumbuh menjadi gadis yang lemah lembut nan sopan. Aeli selalu mengingat apa yang selalu ibunya katakan agar memperlakukan orang lain dengan baik bagaimana pun sikap orang tersebut.
Banyak orang menyukai Aeli karena sikap hangat gadis itu. Dia di kelilingi banyak teman dan keluarga yang menyayanginya. Aeli kecil hidup di lautan kasih sayang dan kebahagiaan.
Pernah ada seorang gadis kecil yang iri dengan Aeli karena dia disenangi banyak orang. Hingga suatu hari dia mengajak anak-anak lain untuk membenci Aeli. Dia juga menyebarkan gosip buruk tentang Aeli dan membuat Aeli dicela satu sekolah.
Tetapi apa kalian tahu apa balasan Aeli? Dia sama sekali tidak membalas dan tetap memperlakukan gadis yang sudah menjelek-jelekkannya dengan baik. Bahkan Aeli tak segan mengulurkan tangan saat sang empu membutuhkan bantuan.
Aeli pernah sebaik itu, sebelum dua manusia asing tiba-tiba hadir mengacaukan segalanya. Termasuk mengubur dalam-dalam pribadi asli Aeli dan melahirkan pribadi baru yang benar-benar bukan dirinya.
Aeli yang kejam, mengerikan, dan tidak segan menghancurkan orang lain bukanlah Aeli. Melainkan karakter asing yang tak sengaja diciptakan oleh luka lebar di hatinya.
“Woi.”
Dug!
Aeli meringis kala kepalanya tak sengaja menghantuk bagian bagasi mobil. Dia yang awalnya asik memasukkan barang belanjaan kini menegakkan tubuh sembari mengusap kepala yang terasa sakit. Tatapannya menajam mengetahui siapa yang mengagetkannya barusan.
“Bangke lo emang! Manggilnya gak bisa santai apa?” Aeli ngegas.
“Kaget?”
“Nenek lo gak kaget! Pakai nanya!” Aeli meringis lagi. Sedang Dipta terkekeh melihat raut sebal gadis itu.
“Orang gue juga gak niat ngagetin.”
Aeli berdecak kesal. Kepalanya benjol deh kayanya. Diam-diam Dipta memperhatikan pergerakan Aeli. Sebenarnya pengen bantu ngusapin tapi takut di smackdown. Mana Aeli galaknya kaya singa.
“Ngapain lo di sini? Tiba-tiba nongol kaya setan,” tanya Aeli sekaligus menghina.
“Belanja lah. Masa jadi babi ngepet.”
“Badan lo bongsor gitu kaya titan mana cocok jadi babi.”
Bentar deh. Dipta kok jadi bingung ya harus tersanjung atau terhina?
“Lo ngintilin gue kan?” Aeli menyipit curiga kemudian.
“Kepedean banget sih, Mbak. Tuh liat barang belanjaan gue satu troli belum dimasukin mobil.” Dipta menunjuk tepat di sebelah mobil Aeli. Terdapat sebuah mobil hitam dan troli yang penuh dengan belanjaan di belakangnya.
“Lo belanja? Cowok kaya lo belanja? Kebutuhan dapur?” Muka Aeli benar-benar minta ditampol deh. Meremehkan banget anjir.
Dipta memutar bola mata malas. “Lo pikir?”
“Gak mikir sih gue.”
“Cewek kaya lo belanja?” cibir Dipta seraya melirik barang-barang Aeli. Kebutuhan dapur juga loh, tumben banget.
“Gue lebih gak mikir.”
Aeli geleng-geleng. Dia kira setelah berteman dengan Dipta cowok itu akan berhenti menjadi menyebalkan. Ternyata, tetap tidak berubah ya?
“Kebetulan banget ketemu lo di sini.”
Aeli mengernyit. “Kenapa emang?”
“Lo lagi buru-buru?” tanya Dipta.
“Buru-buru banget,” sahut Aeli sesukanya.
Dipta menatap datar. “Serius.”
“Kenapa nanya?”
“Gue kan pernah bilang mau ajak lo pergi temenin gue beli sesuatu.”
“Ya, terus?” Aeli membalas datar sambil memasukkan barang-barangnya ke bagasi mobil.
“Sekalian sekarang.”
Aeli menghentikan kegiatannya, menyorot Dipta lempeng. “Sekarang baru hari rabu, Bapak Dipta Prahardja yang terhormat. Lo kan ngajaknya kamis, gimana sih?”
“Masalahnya apa?”
“Ya nggak bisa lah orang harinya nggak pas.”
“Berarti kalau besok lo mau? Harus mau.”
“Maksa banget gentong air.” Aeli merotasikan bola mata.
“Kalau besok berarti pulang sekolah langsung jalan. Gak pakai pulang ke rumah,” kata Dipta membuat Aeli mendengkus kasar.
“Yaudah-yaudah sekarang aja. Mau beli apaan emang?” putus Aeli akhirnya.
Dipta menyunggingkan senyum tipis, berdeham singkat. “Ada pokoknya. Lo ikut aja, bantu pilih.”
“Awas kalau nggak ada royalti.”
“Gampang. Ortu gue kaya, gue kaya monyet.”
“Haha. Sorry kalau ketawanya rada maksa. Jokes es batu nggak masuk di gue soalnya.”
Menghadapi Aeli loh butuh kesabaran penuh. Pasalnya kalimat gadis itu cukup menguras amarah dan emosi.
“Gue bantuin masukin barang-barang lo, habis itu gantian lo bantuin masukin barang-barang gue baru kita masuk lagi ke dalam.”
“Males banget woi. Masukin sendiri-sendiri aja biar cepet. Sepet juga gue lama-lama liat muka lo.”
“Sok iye,” cibir Dipta seraya menoyor pelan dahi Aeli. Setelahnya cowok itu berlalu ke mobilnya yang parkir di sebelah mobil Aeli.
“Ish ngerepotin.” Aeli melanjutkan kegiatannya sambil cemberut.
...•••...
Sudah lima belas menit Aeli dan Dipta berputar-putar di mall ini, tetapi belum mendapatkan satu barang pun sejak tadi. Aeli yang pada dasarnya sudah lelah pun kini makin lelah. Bodoh banget sih pakai setujuin ajakan Dipta. Mau aja dikampretin.
“Lo tuh sebenernya mau nyari apa sih, Dip? Gak jelas banget dari tadi muter-muter doang kaya bianglala,” gerutu Aeli emosi.
“Sesuatu.”
__ADS_1
“Sesuatu itu ada namanya!” Siapapun tolong bawa Aeli minggat deh. Ngadepin Dipta musingin banget serius.
“Gue juga sebenarnya belum tau mau nyari apa,” sahut Dipta enteng.
“Demi apa?!” Aeli memekik. Membuat beberapa pengunjung menoleh ke arahnya.
“Dari tadi lo cuma ngajak gue muter-muter tanpa tau lo mau cari apa? Yang bener aja!” Aeli memejamkan mata sesaat. Mengambil nafas dalam-dalam lalu dihembuskan pelan-pelan.
Setelahnya, senyum manis Aeli terpatri indah menghiasi wajah cantik gadis itu. “Lo buang-buang waktu gue sumpah.”
“Denger dulu,” tahan Dipta saat Aeli ingin ngacir. “Gue punya keponakan, cewek. Hari jum'at ulang tahun dan gue bingung mau ngasih kado apa. Makanya gue ngajak lo buat pilihin.” Dipta menjelaskan.
“Seriously? Lo baru ngasih tau tujuan lo setelah kita muter-muter tanpa arah selama 48 jam?”
“Baru seperempat jam. Gak usah lebay.”
“Udahlah buruan gue pilihin. Waktu gue buat lo terbatas banget.”
“Lo udah tau mau beli apa?” Dipta menatap curiga.
“Nggak tau. Tapi gue tau tempat buat kado-kado bocil. Ntar lo cari aja yang cocok terus konsultasi ke gue.”
Dipta berdecih. “Bahasa lo konsultasi.”
“Napa? Gak seneng?”
Perdebatan pasti masih akan terus berlanjut jika Dipta tidak berinisiatif menyudahi. Aeli itu ngomongnya aja pengen pergi pengen pergi, kenyataannya malah ngajak adu bacot.
“Nah ini nih tempatnya. Absolutely kiyowo kan?”
Cowok jangkung itu mengedarkan pandangan menyapu apapun yang terlihat di bingkai matanya. Mengangguk-angguk kemudian.
“Kayanya meyakinkan.”
Aeli tersenyum bangga. “Jelas dong. Kan Faye Aeliya yang nunjukin.”
Dipta hanya menggumam singkat dan langsung ngacir untuk melihat-lihat lebih banyak. Aeli menatap kesal cowok yang kini tengah berjalan dengan dua tangan berada dalam saku celana. Meski tampilannya casual abis, Dipta tetap terlihat tampan dan berkelas.
“Mimpi apa gue bisa barengan sama nih orang,” celetuk Aeli tidak habis pikir. Lantas melangkah menyusul cowok itu.
Ngomong-ngomong, kasih tahu Sky tidak ya jika dirinya sedang bersama Dipta? Hm, kayanya nggak perlu sih orang juga cuma sebentar doang.
“Menurut lo bagusnya gue kasih apa?” tanya Dipta yang kini berada di sebelah Aeli.
“Ya ndak tau kok tanya saya,” sahut Aeli songong.
“How about barbie doll?”
“No banget sih kata gue. Mending yang agak berguna.”
“Itu juga berguna.”
“Yang ada fungsinya, Dipta.” Aeli menatap lempeng. “Biar nggak jadi pajangan doang ujung-ujungnya.”
“Ya apa?” Dipta mulai gondok sepertinya.
“Sempak.”
Kan. Nanya Aeli itu kadang bener kadang sableng. Soalnya gak konsisten banget orangnya.
“Muka lo biasa aja,” celetuk Aeli lagi. Nggak takut sih sama poker face-nya Dipta. Agak nyebelin aja kalau diliat lama-lama.
“Eh ini lucu nih. Girly banget.” Aeli mengambil sebuah lampu tidur saat tak sengaja melewatinya.
Dipta menatap. Mulai menaruh perhatian.
“Lampu tidur?” tanya Dipta. Tatapan Aeli mengandung makna, sudah tahu pakai nanya!
“Ya menurut anda?”
“Bak mandi.”
“Mata lo kemasukan badak kali.” Aeli memutar bola mata. Kembali menatap benda imut yang dipegangnya.
“Kalau ini agak berguna sih, daripada barbie doll yang cuma dimainin sebentar habis itu dibuang.”
“Boleh juga,” tanggap Dipta. “Ya udah, itu aja.”
“Eh lo gak mau pilih-pilih dulu?”
“Nggak, ngapain? Kan udah lo pilihin.”
“Woi, gue cuma nunjukin salah satu. Lo kan bisa pilih mana yang cocok buat keponakan lo, Bapak Dipta.”
“Itu cocok.”
“Seriusan.”
“Hm.”
Aeli menyorot lampu tidur yang dipegangnya. Jika diteliti, memang lumayan menggemaskan sih. Bodo lah, terserah Dipta aja.
“Yaudah, nih.” Aeli menyerahkan lampu tersebut pada Dipta.
“Acaranya hari jum'at,” kata Dipta setelahnya.
Aeli menoleh. “Ya kan lo udah bilang tadi,” balas Aeli lempeng.
“Gue mau lo dateng.”
“Eh?” Aeli kedip-kedip bingung. “Gue? Ngapain?”
“Dateng.”
“Lah. Ngapain?”
“Dateng dodol. Gue tampol juga lo lama-lama.” Dipta emosi.
“Lo ngundang gue ceritanya?”
Dipta menggumam malas.
“Eh Bapak. Kalau lo yang ulang tahun mungkin gue bakal dateng ya. Lah ini ponakan lo woi. Gue tau bentuknya aja kagak.”
“Makanya lo dateng biar nanti gue kenalin.”
“Nggak ah, gue nggak suka ngumpul sama bocil-bocil,” tolak Aeli.
“Lo temenin gue.”
Aeli menaikkan satu alis. “Untungnya buat gue?”
“Bisa bareng terus sama gue.”
Tolonglah. Ini yang ditanya untung loh, bukan rugi.
...•••...
__ADS_1