
...•••...
Akhir-akhir ini Claudia sering gagal mengendalikan diri. Emosi mulai berhasil menguasainya dan perlahan membawa jiwa aslinya ke permukaan. Jangan tanya apa pemicu Claudia menjadi seperti itu, tentu saja karena Aeli jawabannya.
"Ma! Masa kata Inessa cewek itu kemarin diundang ke acara ulang tahun keponakan kak Dipta? Lah aku dikasih tau aja enggak!” omel Claudia meledak-ledak.
Dia kini berada di dalam kamar bersama Ashila. Saling mencurahkan segala isi hati dan otak tentu saja.
“Aeli diundang?” ulang Ashila heran.
“Iya! Nyebelin banget kan? Emang mereka sedeket apa sih sampai acara kaya gitu aja Aeli harus tau!” Claudia menekuk wajah dalam-dalam. Rasa gondoknya yang sudah mendarah daging kini makin terbakar menerima fakta sialan dari teman sekelasnya.
“Kak Aeli itu emang bangsat banget, ya! Dia gak cuma jadi benalu di rumah ini, tapi di hidup aku juga! Dia sengaja pengen rebut kak Dipta dari aku, Ma!”
Ashila membuang nafas. Wanita dengan riasan natural itu berjalan mendekati anaknya yang tengah badmood mampus di bibir kasur. Dia duduk, lalu meletakkan tangan di punggung sang empu, mengusapnya pelan.
“Terus kamu maunya gimana?” Ashila bertanya.
“Aku mau cewek itu dibenci semua orang, dijauhin semua orang, dipandang hina, kalau bisa ditinggalin sekalian sama kak Sky! Aku nggak suka liat dia bahagia, Ma! Apalagi sekarang dia udah berani ngusik punyaku! Aku gak terima!” teriak Claudia menggelegar.
Beruntung kamar ini kedap suara hingga ucapannya barusan tidak terdengar hingga ke mana-mana.
“Mama tau? Kak Dipta tuh sekarang jadi cuek banget ke aku! Setiap aku telfon gak pernah diangkat, aku chat juga gak pernah dibales. Ini semua pasti karena cewek sialan itu, Ma! Dia yang udah bikin kak Dipta jauhin aku! Ini pasti rencana dia!”
Claudia masih terus mengutarakan isi hatinya yang terbakar. Melampiaskan semuanya selagi dia bisa dan ada kesempatan seperti sekarang. Ashila sebenarnya malas menanggapi hal tersebut karena otaknya juga kusut memikirkan banyak hal saat ini.
“Ma! Mama dengerin Clau nggak sih?!” pekik Claudia karena curhatannya tak kunjung mendapat tanggapan dari sang mama.
“Kamu bisa diem dulu nggak? Mama lagi mikir.”
“Ck, mikirin apa lagi sih?!”
“Banyak yang Mama pikirin, Claudia! Kamu tau? Papamu tiba-tiba ngebatalin acara pertemuan yang udah Mama atur! Nggak ngerti lagi deh Mama!” bentak Ashila membungkam mulut Claudia.
Gadis itu berdecak keras. Menghela nafas kasar. Niatnya ingin curhat, eh dirinya malah kena semprot.
“Padahal kalau dia mau nemuin om Haidar dan setuju buat dirawat, semuanya bakal selesai. Mama udah gak perlu capek-capek akting dan diinjak-injak terus sama kakak tirimu itu.”
“Selesai? Mati maksud Mama? Terus kita gimana kalau papa mati? Emang papa udah atur wasiat? Jangan-jangan kita nggak dapet apa-apa lagi. Aku nggak mau ya hidup susah kaya dulu.”
Senyum miring Ashila terukir. “Itu urusan gampang, Clau. Lagian ... Mama yakin Papa bakal warisin semuanya ke kamu. Kamu kan anak kesayangannya.”
“Iya sih ... Tapi kalau si Aeli dapet bagian juga gimana? Aku nggak mau ya berbagi harta sama cewek sialan itu.”
“Tenang aja. Mama udah atur semuanya. Tugas kamu sekarang cuma sabar dan gausah banyak ngerengek. Pasang topeng kamu baik-baik dan buat Aeli dibenci sama semua orang. Kalau bisa ... rebut orang yang dia sayang.”
“Kak Sky maksud Mama?” Claudia terkekeh. “Itu mah kecil, Ma. Karena dia udah ngerebut perhatian kak Dipta dari aku, jadi sekarang waktunya aku buat rebut kak Sky dari dia. Masa cuma aku yang sakit hati sih?”
Ashila tersenyum bangga. Mengusap rambut Claudia. “Ini baru anak Mama.”
•••
...“Morning, Mas pacar.”...
Sapaan tersebut terlontar dari bibir mungil seorang gadis cantik berambut panjang yang sudah siap dengan seragam sekolah. Menghampiri sang pujaan hati yang menunggu di depan gerbang rumah.
“Morning juga, Mbak Pacar,” balas cowok imut yang kini duduk di atas motor. Dia juga sudah siap dengan seragam yang sama, dan tentunya dengan suasana hati yang sama pula.
“Beruntungnya aku dipanggil mbak pacar oleh seorang Sky Lazaro,” kata Aeli sok dramatis. Dia berlagak seperti itu untuk menutupi kerusuhan hatinya saja sih sebenarnya.
“Kamu suka?”
“Banget lah. Gila aja kalau enggak.”
Sky terkekeh pelan. Melihat wajah Aeli saja bisa membuatnya berbunga-bunga. Pelet Aeli memang ampuh banget sih serius.
“Udah siap berangkat?” tanya Sky.
“Kalau aku bilang belum kamu mau gendong aku naik ke atas motor nggak?”
Kumat deh kumat.
“Kalau kamu belum siap ya saya tinggal.”
Aeli otomatis cemberut tentu saja. “Gitu banget sih responnya! Katanya sayang.”
“Kapan saya bilang sayang?”
Mulut Aeli ternganga lebar. Tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Ini beneran Sky kan? Sky yang imut, lucu dan menggemaskan? Pacarnya Faye Aeliya yang paling cantik sejagat monyet. Kenapa jadi nyebelin gini ya?
“Kan hari ini saya belum bilang, Sayang,” lanjut Sky, tentu berhasil menguapkan emosi Aeli yang tadinya hampir meletup.
“Lo bikin gue salting, Sky.” Aeli malu-malu monyet. Ini kalau si Gita liat bisa dipastikan ngakak brutal tujuh turunan sih.
“Lo?” tanya Sky.
“Oops.” Aeli mendapatkan kembali kewarasannya. “Maksudnya aku. Maklum, aku tremor digombalin kamu.”
__ADS_1
Sky geleng-geleng melihat tingkah kekasihnya itu. Mimpi apa deh Sky bisa jatuh hati dengan gadis sableng seperti Aeli. Udah sableng, kadang error, horor pula.
Btw, ini yang menghina Aeli bukan Sky ya. Tapi manusia yang menciptakan dua insan tersebut. Ya kali sih Sky menghina pujaan hatinya.
“Berangkat sekarang?” tanya Sky memastikan.
“Ke pelaminan ya? Ayok.”
“Li ....” Emang cuma Aeli deh yang bisa bikin Sky memasang raut datar padahal kuping merah kaya kepiting rebus.
“Canda, Sayang,” kata Aeli, mencubit gemas pipi gembul Sky. “Ayo. Mana helmnya. Pakein.”
Dengan senyum manis di bibirnya, Sky mengambilkan helm untuk Aeli. Memasangkannya di kepala gadis itu dengan penuh kehati-hatian.
“Udah. Cantik,” kata Sky refleks.
“Aku dibilang cantik nih? Makasih ....” Mata Aeli menyipit saat dia tersenyum. Dan itu tampak menggemaskan di mata Sky.
“Kak! Tunggu!”
Pergerakan Aeli saat akan naik ke atas motor terhenti kala suara tadi menghantam gendang telinganya tiba-tiba. Dia maupun Sky otomatis menoleh, mendapati Claudia muncul dibalik gerbang. Menghampiri keduanya kemudian.
“Nih bocah ngapain sih?” cibir Aeli judes. Menyorot Claudia sinis.
“Mau apa lo?” tanya Aeli garang.
“Em, maaf, Kak. Aku lagi buru-buru, harus ke ruangan wali kelasku sebelum bel. Aku ... boleh berangkat bareng kak Sky?” tanya Claudia takut-takut.
“Kagak! Enak aja! Emang lo pikir pacar gue ojol?”
“Kak ... kali ini aja. Aku takut dimarahin, Kak.” Claudia memasang wajah melas. Berharap Sky simpati dan menyetujui permintaannya.
“Enggak. Lo gausah recokin gue sama Sky. Gue juga buru-buru.”
Claudia belum menyerah. Dia harus bisa menarik perhatian Sky. Harus bisa.
“Kamu nggak pesen ojol aja?” Sky bertanya. Otomatis membuat Claudia menatapnya.
“Udah, Kak. Tapi dari tadi nggak dapet-dapet. Aku bingung banget harus gimana.”
“Dih.” Bola mata Aeli berotasi. Aeli tidak bodoh, dia tahu Claudia sedang bersandiwara.
“Mau saya pesenin? Jam segini biasanya gampang dapat ojol.”
“Eh?” Claudia kebingungan. Tidak, bukan ini yang dia inginkan. “N-nanti kalau ojolnya lama gimana, Kak?”
“Li,” panggil Sky. Memperingati kekasihnya itu dengan gelengan pelan. Sedang Aeli berdecak keras di tempat. Mood baiknya hancur karena kemunculan Claudia.
“J-jadi gimana, Kak? Kakak mau nganterin aku, kan? Aku janji cuman kali ini aja.” Claudia menangkup tangan. Memasang raut penuh harap.
“Kamu buru-buru banget?”
Gadis itu mengangguk cepat. Mengiakan pertanyaan Sky barusan. Aeli siaga satu, menyorot tajam dan siap-siap dengan kuku panjangnya jika Sky menyetujui permintaan adik tiri sialannya itu.
“Sky berani bilang iya, gue pastiin lo mati, Clau.”
“Yaudah saya pesenin ojol sekarang. Biar gak makin lama.”
Baru Claudia akan membuka mulut, Sky sudah mengeluarkan ponselnya dari saku. Mengotak-atik benda tersebut beberapa saat.
“Udah dapet. Semenit lagi nyampe.” Sky menunjukkan layar ponselnya pada Claudia yang kini diam tak berkutik.
Aeli mengembangkan senyum puas di tempat sambil membatin. “That's my boy.”
“Kamu nunggu bentar nggak papa, kan? Saya sama Aeli mau berangkat dulu. Oh ya, tadi ojolnya juga udah saya bayar kok. Maaf ya nggak bisa nganter.”
Aeli mati-matian menahan tawa melihat Claudia mati kutu karena ucapan Sky. Dia yakin deh cewek itu pasti malu banget, mana ojolnya dibayarin pula.
“Udah kan, Sky? Kita bisa berangkat sekarang?”
Sky mengembangkan senyum manis, mengangguk sambil mengusap pelan pipi mulus Aeli. “Iya udah. Naik.”
Aeli bersorak senang dalam hati. Tidak lupa melempar tatap remeh dan senyum miring ke arah Claudia sebelum naik ke atas motor.
“I'll always be the winner, Clau,” kata Aeli tanpa suara. Hanya gerakan bibir saja.
Claudia mengepalkan tangannya kuat, menatap geram kepergian Aeli dan Sky. Wajahnya memerah karena amarah yang ditahannya sejak tadi belum terluapkan.
“Sialan. Gue pikir kak Sky bakal bilang iya.”
Hanya selang beberapa detik, ojek online yang dipesan Sky tadi datang dan berhenti di depan Claudia.
“Mbak Claudia, ya?” tanya mas-mas ojek sambil memantengi roomchat dengan orang yang memesannya. Ternyata sebelumnya Sky sudah memberitahu nama Claudia kepada ojol tersebut.
“Bukan! Gue Jennifer Lawrence!” kesal Claudia lalu menghentakkan kaki dan pergi.
“Loh? Mbak? Kok malah pergi?” tanya mas ojek kebingungan.
__ADS_1
“Bodo! Lo angkut angin aja sana!”
“Lah?”
•••
...Dipta dilema....
Sejak beberapa hari lalu pikirannya terus menerus dipenuhi oleh Aeli. Gadis itu sukses mengacak-acak perasaannya tanpa tanggung jawab sama sekali.
Setiap Dipta melihat Aeli, detak jantungnya menjadi dua kali lipat lebih cepat. Ada rasa aneh yang menjalar di dadanya dan Dipta tahu apa yang sedang dia rasakan.
Padahal dia sudah membuat komitmen untuk berhenti jatuh cinta pada manusia itu. Karena dia tahu Aeli kini sudah berpacaran dengan sahabatnya sendiri. Tetapi tanpa disadari dirinya ingkar, lagi. Untuk kesekian kali.
“Kak Dipta ....” Suara seseorang mengeluarkan Dipta dari dunia lamunannya. Dia menoleh dan figur Claudia langsung memenuhi bingkai pandangannya.
Dipta hanya menatap gadis itu tanpa memberikan respon apapun. Membiarkan Claudia mendekat hingga berhenti di sebelahnya.
Angin kencang langsung menghantam rambut panjang Claudia yang tergerai. Dia ikut menatap pemandangan bangunan-bangunan dari tempatnya berdiri sekarang. Ya, dia dan Dipta kini berada di rooftop sekolah.
“Kakak apa kabar?” tanya Claudia setelah beberapa saat membisu.
“Baik,” jawab Dipta seadanya.
Senyum miris Claudia terukir. Bahkan respon Dipta yang bisa dibilang biasa saja berhasil menghadirkan rasa sesak di dadanya.
“Kita udah gak pernah berhubungan lagi ya Kak semenjak kontrak kita selesai.” Claudia berujar rendah. Memfokuskan mata pada pemandangan di depan sana.
“Aku pikir kita bakal temenan atau minimal nggak seasing ini. Ternyata aku salah. Cuma aku yang berharap bisa temenan sama Kakak.”
Jujur saja, Dipta tidak seberapa mendengarkan ucapan Claudia. Pikirannya terus saja dipenuhi sosok Aeli yang bahkan tidak memikirkannya sama sekali.
“Kak Dipta beneran nganggep semuanya udah selesai?” Tatapan mata Claudia terlihat sayu dan penuh harap.
“Kesepakatannya emang gitu, kan? Lo bikin masalah sama gue, lo tanggungjawab sampai batas waktu yang gue tentuin, selesai.” Dengan mudahnya Dipta mengatakan hal itu.
“Kakak sama sekali nggak nganggep pertemuan kita sesuatu?”
“Gue minta maaf. Mungkin lo marah karena gue babuin sebulan.”
Benar-benar tidak peka deh Dipta ini.
“Aku nggak mempermasalahin itu, Kak.” Claudia menghela nafas panjang, mengarahkan tubuhnya ke Dipta. Menyorot cowok itu lekat-lekat seraya memperhatikan setiap inci pahatan wajah Dipta dari samping.
“Aku cuma pengen tau kenapa setelah kesepakatan kita selesai, hubungan kita juga selesai? Kenapa Kakak langsung ngejauh dari aku?”
“Terus lo mau gimana, Dia? Perpanjang kontrak? Lo suka gue babuin?”
“Aku pengen Kakak nggak ngejauh dari aku. Aku pengen ....” Claudia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. “Aku pengen Kakak selalu ada buat aku kaya sebelum-sebelumnya.”
“Kakak bisa kan? Aku nggak suka Kakak ngejauh kaya gini. Apalagi sekarang Kakak kayanya deket ya sama kak Aeli? Kakak suka sama kak Aeli?”
Pertanyaan beruntun Claudia membuat Dipta merasa sedikit tidak nyaman. Dia tidak suka saat ada orang asing mencampuri urusannya. Apalagi urusan perasaan. Menurut Dipta itu sudah tergolong tidak sopan dan melewati batas.
“Bukan urusan lo.”
“Ternyata bener kecurigaan aku selama ini.” Cairan bening mulai menggenang di pelupuk mata Claudia. Dadanya sesak dan wajahnya terasa panas.
“Kenapa sih Kakak nyimpen perasaan buat orang yang udah jadi pacar sahabat Kakak? Kenapa Kakak nggak pernah ngelirik orang yang selalu ada di samping Kakak? Kenapa harus kak Aeli yang Kakak suka?” kenapa bukan aku?
“Diem, Claudia.” Dipta menutur rendah. Dia benci saat Claudia semakin memperjelas kesalahannya telah jatuh cinta pada Aeli.
“Lo masih inget kesepakatan kita, kan? Gue sama lo dari awal berhubungan karena kesalahan yang lo perbuat. Ya gue ngaku salah karena gue udah manfaatin lo saat itu. Jujur aja, gue ngebabuin lo karena pengen ngasih lo pelajaran. Dan seharusnya lo seneng udah bisa bebas dari gue sekarang.”
Dada Claudia bergemuruh hebat. Sekuat tenaga dia berusaha menahan apapun yang ingin dia tumpahkan jika tidak ingin Dipta makin menjauh.
“Kakak bener-bener nggak punya alasan lain ngelakuin itu ke aku?” Claudia berharap jawaban Dipta bisa menghempas perasaan buruk yang dia rasakan. Bukan semakin memperburuk semuanya.
“Nggak ada.”
Ternyata kenyataan yang dia dapat berbanding terbalik dengan harapannya. Lantas Claudia menengadah menatap langit, menahan air mata yang hampir jatuh membasahi pipi mulusnya.
“Apa karena kak Aeli Kakak mutusin hubungan kita gitu aja?”
Dipta sendiri bingung mengapa Claudia harus menyeret Aeli dalam pembahasan ini. Bukankah ini masalah personal mereka berdua yang tidak ada sangkut pautnya dengan Aeli.
“Jawab aku, Kak.” Claudia mendesak.
“Kenapa dari tadi lo nyeret-nyeret Aeli terus, ya?” Kini Dipta menyorot Claudia sepenuhnya. Kesal juga lama-lama.
“Karena kak Aeli penyebab Kakak jauhin aku. Iya, kan?”
“Urusan kita udah selesai, Di. Perjanjian kita berakhir tepat waktu dan kita emang udah nggak ada urusan. Bukannya emang harus gitu? Kenapa lo nggak terima?”
“Karena aku suka sama Kakak! Aku nggak mau Kakak ngejauh apalagi deket-deket sama kak Aeli! Kakak ngerti sekarang?”
...•••...
__ADS_1