Skaeli

Skaeli
twenty-eight


__ADS_3

...•••...


Genggaman tangan Aeli makin keras setelah melihat pesan yang dikirim oleh Mbak Nana. Sebuah rekaman CCTV yang menampakkan pemandangan paling anjing untuk Aeli. Darahnya langsung mendidih, amarahnya tentu melambung seketika ke ubun-ubun.


“Manusia gak tau diri. Mati lo habis ini.” Aeli menutup ponsel lipatnya dengan kasar. Berdiri dari duduk.


“Eh, eh. Lo mau ke mana lagi? Udah dipesenin makan juga!” celetuk Clara yang baru datang dengan nampan makanan di tangannya.


“Bikin ulah.”


“Hah? Lo mau ngapain njir? Jangan ngadi-ngadi dah.”


Mengabaikan perkataan Clara, Aeli langsung mematri langkah menuju sebuah meja kantin yang berada cukup jauh darinya. Mata tajam Aeli berubah nyalang melihat target yang dicarinya ada di depan mata. Aeli mempercepat langkah hingga sampai di sana.


Perhatian seisi kantin mulai teralihkan pada Aeli melihat di mana gadis itu berlabuh. Pekikan tertahan langsung terdengar saat Aeli dengan tiba-tiba mencekal leher Claudia hingga sang empunya berdiri.


Kaget? Tentu saja. Tidak ada yang tidak kaget jika Aeli sudah berulah.


“Aw, Kak! S-sakit!” rintih Claudia susah payah. Aeli benar-benar mencekiknya dan itu membuatnya sulit untuk bernafas.


“Kak Aeli lepasin!” bentak Inessa tanpa sadar.


Aeli membalasnya dengan senyum miring, semakin mengeratkan cengkeramannya di leher Claudia tanpa beban.


“Ini kan yang lo mau, Clau? Kan gue udah bilang, cari masalah sama gue berarti siap nanggung konsekuensi. Lo sih, bandel.”


“A-aku ngapain, Kak?” Claudia terbatuk. Mukanya mulai merah tetapi Aeli sama sekali tidak terusik untuk melepasnya cekikannya.


“Nggak ngapa-ngapain kok. Lo kan diem aja. Ya kan?”


“K-Kak ....” Claudia mulai kehabisan nafas sekarang.


“Kak Aeli!” Suara Inessa kembali mendominasi. Aeli menoleh ke arahnya dengan raut datar, menaikkan satu alis.


“Lepasin Claudia atau aku laporin kelakuan Kakak ke kepala sekolah!”


Aeli mengernyit heran, mendecih. “Takut banget deh gue dengernya.” Gadis itu terkekeh sinis kemudian. “Laporin aja. Lakuin apapun yang lo mau.”


“Aku nggak main-main, Kak!”


Aeli tertawa lagi. Tikus-tikus licik ini benar-benar menghibur ternyata. Namun, raut Aeli langsung berubah kala dia menoleh ke arah Claudia. Senyumnya musnah tanpa sisa. Aeli menarik wajah gadis itu mendekat, mengintimidasi Claudia dengan tatapannya.


“Kalau mau ribut bilang. Jangan ngusik kepunyaan gue,” bisik Aeli penuh penekanan.


Claudia menengguk ludah susah payah. Lagi-lagi gagal mengenyahkan tangan Aeli dari lehernya.


“Maksud lo masukin sesuatu ke makanan Gita apaan? Mau bikin dia mati?”


Keterkejutan menghiasi wajah merah Claudia. Jantungnya berdebar cukup kencang mendengar rentetan kalimat yang Aeli lontar.


“K-kakak ngomong apa? A-aku nggak pernah—” Ucapan Claudia terhenti karena Aeli mendorongnya dengan keras hingga pinggangnya menabrak ujung meja. Claudia terjatuh ke lantai, rasa sakit di pinggangnya benar-benar mendominasi.


“Clau!” Inessa buru-buru menghampiri Gita. Berjongkok dan segera membantu sahabatnya itu berdiri.


Aeli bersedekap di tempat, memasang tatapan remeh tanpa belas kasihan sama sekali. Banyak yang mengira ratu bully Flourst sudah berubah. Ternyata, hanya vakum sebentar.


“Li,” panggil seseorang tepat di belakang Aeli.


Gadis itu menoleh, sedikit terkejut melihat keberadaan Sky di sana. Menatap dirinya lamat dengan ekspresi yang tak bisa dia artikan.


“Mateng gue.”


Aeli berusaha memasang senyum saat Sky mendekat. Cowok itu tampak meneliti apa yang sedang terjadi di sini.


“Liat, Kak! Kelakuan pacar Kakak! Lama-lama kayak setan tau nggak!” cecar Inessa. Nafasnya memburu cepat.


Aeli mendelik tajam. Seolah siap menghabisi Inessa jika berani berujar lagi.


“Temen lo yang kaya setan,” balas Aeli sarkas.


“Dih, jelas-jelas Kakak yang cari masalah duluan! Dasar nggak tau diri!”


Aeli tersenyum miring. “Apa? Gue nggak tau diri?”


“Iya! Budek?”


Sebelum Aeli sempat menghajar Inessa, Sky lebih dulu mencekal pergelangan tangannya. Cowok itu tak menampilkan ekspresi berarti, hanya tatapan yang seolah melarang Aeli melakukan hal tersebut.


“Kita pergi.” Dan tanpa menunggu persetujuan Aeli, Sky sudah membawanya menjauh dari area kantin.


Aeli mendengkus dalam diam. Dia tidak suka Sky yang seperti ini. Beberapa detik kemudian, keduanya sampai di atap. Hembusan angin dan sinar matahari menyapa dalam sekejap.


“Salahku. Aku yang cari masalah duluan,” kata Aeli setelah mereka berhenti. Lebih baik dia menyalahkan diri sendiri sebelum disalahkan duluan.


Sky menoleh, rautnya sudah tidak sedatar tadi. Tatapannya pun berubah jadi lebih lembut. Senyum tipis Sky mengisi bingkai pandangan Aeli. Sejurus kemudian dirinya sudah berada dalam dekapan cowok itu.


“Mau cerita?” tanya Sky. Aeli terenyuh tidak karuan mendengar nada bicara Sky. Tangannya terangkat membalas pelukan cowok itu, menduselkan kepala ke dada milik sang empu.


“Gita diracunin sama dia. Tadi Mbak Nana ngirimin rekaman CCTV di kandang Gita kemarin. Ternyata cewek itu yang masukin sesuatu di makanan Gita sampai Gita-nya pingsan. Makanya aku marah banget.” Aeli bercerita.


“Maaf, ya. Aku gagal lagi ngendaliin emosiku.” Gadis itu cemberut. Takut jika Sky memarahinya.


Sky menghela nafas, mengusap punggung Aeli dengan pelan.


“Nggak papa. Tapi jangan diulangin lagi, ya. Saya nggak mau kamu kenapa-napa.”


Aeli mendongak menatap Sky dari bawah. “Kamu nggak marah?”


Sky menggeleng. Membuat Aeli menghela nafas dalam. “Kenapa sih kamu nggak pernah marah tiap aku bikin salah? Kenapa kamu cuma bilang gapapa-gapapa doang? Kamu nggak kesel gitu?”


“Nggak ada gunanya saya marah, Li. Tugas saya cuma ngingetin kamu. Bukan ngatur-ngatur kamu.”


Aeli malah ingin menangis rasanya. “Aku beruntung kenal kamu. Nggak ada orang sebaik kamu di hidup aku.”


Sky melonggarkan pelukan mereka tetapi tetap menahan tubuh Aeli. “Saya seneng bisa jadi salah satu orang istimewa buat kamu, Li.”

__ADS_1


“Makasih ya, Sky. Aku usahain mulai hari ini buat nggak ngulah lagi. Aku bakal nahan diri semarah apapun aku.”


Sky mengelus pipi Aeli. “Boleh saya pegang kata-kata kamu?”


Aeli mengangguk cepat, mengembangkan senyum senang. “Makasih karena udah sabar ngadepin sikapku. Kamu ... jangan berubah, ya?”


Sky diam sejenak sembari menatap lamat iris coklat Aeli yang terkena paparan sinar matahari siang.


“Saya nggak janji. Bukan karena saya nggak mau, tapi karena saya takut bakal ngecewain kamu.”


Kini giliran Aeli yang diam. Meski kalimat Sky tidak berniat menyakitkan, tetapi entah mengapa dadanya terasa sedikit sesak. Tebakan buruk tentu langsung berseliweran tanpa dosa. Apa mungkin Sky akan berubah suatu saat nanti? Apa mungkin Sky akan bosan menghadapi sikapnya yang seperti ini?


“Karena saya nggak pengen sedikit pun nyakitin kamu, Aeliya.”


...•••...


“Si Aeli apaan sih?! Dateng-dateng langsung nyakitin lo kaya gini! Mentang-mentang dia ditakutin jadi makin seenaknya!” omel Inessa yang kini berada di UKS sekolah bersama Claudia. Amarahnya meningkat saat mengingat kelakuan Aeli tadi.


Claudia yang masih lemas mengusap lengan sahabatnya, tersenyum menenangkan. “Udah, Nes. Lagian aku juga udah nggak papa kok.”


“Nggak papa apanya, Claudia?! Dia hampir bikin lo mati di tempat loh!”


“Yang penting kan aku nggak mati. Aku juga udah biasa kok dapet perlakuan kaya gitu. Jadi nggak masalah.”


Inessa geleng-geleng. “Gue gak habis pikir sama lo. Bisa-bisanya lo terima-terima aja digituin sama kakak tiri lo. Hati lo tuh terbuat dari apa sih, Clau? Heran gue.”


“Kamu berlebihan.”


“Aeli tuh sekali-kali harus dikasih pelajaran biar nggak kurang ajar! Lo sekali-kali tegas dikit dong! Kalau dia cari masalah sama lo lawan aja! Manusia kaya Aeli makin songong kalau didiemin!”


Claudia menghela nafas panjang, menunduk lemah. “Aku nggak berani, Nes. Lagipula kak Aeli itu kan kakak aku. Gak mungkin aku ngelawan dia.”


“Gak mungkin lo kata? Terus lo mau diinjak-injak terus sama dia? Disakitin terus?” Claudia diam tak membalas.


“Clau, hear me. Derajat lo sama Aeli itu sama. Kalian sama-sama anaknya om Mahesa. Lagian kalau lo ngelawan pun, nggak akan ada yang nyalahin lo. Om Mahesa pasti bakal lebih bela lo dari si Aeli.”


“Aku nggak berani, Nes.”


“Apa yang lo takutin? Anak manja kaya kakak tiri lo itu beraninya cuma sama anak-anak lemah. Coba lo lawan, mana bakal berani dia cari masalah lagi sama lo.”


Claudia meremas tangannya yang bertautan, menggigit bibir dalamnya pelan. “Tapi ... apa aku bisa?”


“Lo bisa. Lo harus bisa lebih berani dari kakak tiri sialan lo itu.”


Akhirnya Claudia mengangguk. Tetapi siapa yang sadar jika Claudia diam-diam menyunggingkan senyum sinis. Ternyata mengelabui orang-orang cukup mudah, ya? Hanya perlu berakting lemah tak berdaya dan berlagak menjadi korban. Maka semua akan memihak meski karena kasihan.


“Wait for the play date, Aeliya.”


...•••...


“Gue masih nggak habis pikir tujuan si Claudia masukin racun di makanan si monyet. Kan musuhannya sama lo, kok nggak dimasukin ke makanan lo aja, ya?”


Celetukan bangsat Clara menyita perhatian Aeli yang sejak tadi fokus membaca buku novel. Mata tajamnya melirik sinis seolah siap menampol kepala Clara jika ngawur lagi.


“Ya maksud gue, maksudnya si Claudia apaan gitu loh? Rese banget perasaan.”


“Tapi keadaan si monyet jelek baik-baik aja, kan? Nggak sekarat kan?”


“Hem,” balas Aeli seadanya.


“Hem apa? Hem sekarat apa gak sekarat?” cecar Clara lagi.


“Nggak sekarat, Banci. Banyak tanya banget. Lo kalau kangen sama Gita bilang, gak usah bikin gue kesel.” Aeli emosi.


“Kangen pala bapak lo lah! Monyet burik dikangenin ngapain anjir?”


“Gita sama lo aja burikan elo,” ceplos Aeli enteng.


“Sekelas Ariana Grande gini lo bandingin sama monyet? Yang bener aja, Mbak!”


“Lo tuh sekelas dakinya Ariana aja gak masuk. Minimal sadar diri.”


Clara mengelus dada. Sabar. Tapi ini pembahasannya makin lama kok makin ngawur ya? Perasaan awalnya bahas Claudia deh, terus merambat ke monyet, eh sekarang malah gibahin dakinya Ariana. Dasar galon bocor.


“Ini kalau bapak lo tau, kelar lo, Li.” Clara berdecak tiga kali. Membayangkan kemarahan Mahesa saja sudah membuat kepala Clara pusing sendiri.


“Bodo.” Yang punya bapak malah cuek bebek kaya tokek.


Baru saja Aeli ingin meneruskan bacaan, mendadak terdengar suara yang berasal dari speaker sekolah. Suara yang lagi-lagi membuat Aeli mendengkus kasar.


“Mohon perhatian. Panggilan untuk Faye Aeliya kelas 11-1, silakan menghadap ruang konseling sekarang juga. Sekali lagi, panggilan untuk Faye Aeliya dari kelas 11-1. Silakan menghadap ruang konseling sekarang juga. Terima kasih.”


Clara menyorot lempeng. “Gue bawa pods, lo butuh?”


“Nggak. Gue udah punya di saku.” Aeli berdiri dari duduk. Berjalan meninggalkan area kantin tanpa mempedulikan tatapan murid-murid lain. Lagipula, tidak ada yang perlu dipikirkan.


“Ternyata udah lama banget ya nggak denger nama Aeli di pengeras suara? Berasa lagi nostalgia gue,” celetuk Fabian yang langsung disetujui oleh Dylan.


“Kira-kira semenjak dia kenal sama si adek lah, ya.” Dylan mengerling ke arah Sky. Sayangnya tidak ada balasan berarti selain tatapan yang benar-benar biasa saja.


“Gue pikir pacar lo beneran udah tobat, Sky. Eh udah sih kayanya, tapi belum full aja,” ceplos Tirta.


“Kalemnya pas sama Sky doang. Kayanya Aeli harus lo pepetin 24 jam deh, Bang. Biar anteng terus anaknya.” Rey menyahut.


“Anak siapa?” Tirta bertanya sok polos.


“Anak lo sama kambing noh.”


“Eh tadi Aeli lo ajak ke mana, Njir? Muka lo serius banget kaya bapak-bapak mau marahin anak.” Fabian kembali bersuara.


“Emangnya muka gue kaya gitu?” tanya Sky.


“Eee, sebelas dua belas kaya gitu lah. Eh jawab dulu pertanyaan gue.”


“Gue ajak ke atap.”

__ADS_1


“Ngapain ke atap? Mau lo suruh terjun bebas?” ceplos Dylan.


“Sky nggak sedeng kaya lo,” sahut Tirta.


“Eh, kurang ajar ni badak.”


“Repot banget lo pada. Suka-suka Sky lah mau ngajak Aeli ke mana. Pacar pacar dia.” Fabian menyetus dongkol.


“Kalau Aeli pacar gue lo langsung jatuh miskin,” kata Tirta.


“Muka lo butek.”


“Jauh lebih butek muka jodoh lo.”


“Diem.”


Perdebatan pun akhirnya berakhir setelah suara Dipta menginterupsi. Iya. Cowok itu sejak tadi di sana menyimak pembicaraan mereka. Karena kupingnya sudah panas, maka Dipta memutuskan untuk membuka mulut.


“Cemburu, Bang?” celetuk Dylan cekikikan.


“Gue denger-denger ada yang udah akur sama Aeli nih. Diem-diem bae, nggak mau cerita-cerita gitu?” Perkataan Fabian menyita perhatian mereka.


“Maksud lo si bos? Akur sama Aeli? Demi nenek lo?” Dylan terkaget-kaget.


“Tanya orangnya langsung noh. Ngapain tanya gue?”


“Seriusan, Dip? Gimana ceritanya lo berdua bisa akur? Terakhir kali masih kaya kucing sama babi gitu gue liat-liat.”


“Lo tau dari mana emang?” heran Rey.


Fabian mengangkat satu sudut bibir, songong. “Apa sih yang Fabian nggak tau?”


“Dih.” Teman-temannya langsung julid.


“Eh Sky, lo kan cowoknya Aeli. Pasti lo tau dong kebenaran kabar burung yang beredar. Soalnya percuma banget nanya sama nih manusia, kagak bakal dijawab.” Tirta berkata panjang lebar. “Jadi mereka beneran udah akur?”


Sky menyorot teman-temannya sejenak. Mengangguk. “Kata Clara sih udah.”


“Kalau Clara yang bilang biasanya akurat sih. Tapi kalau beneran bahaya sih ini, fix.”


“Bahayanya?” Sky bertanya.


Tirta mepet sambil berbisik. “Tikungan di depan tajam-tajam, Bre.”


“Muka lo kaya tikungan.” Dipta menyahut. Dikiranya Dipta tuli kali ya.


“Sensi amat, Pak. Tapi sans aja, Sky. Aeli gak mungkin tertarik sama pak bos kok.” Tirta nyengir setelah berkata demikian. Definisi cowok plin-plan yang suka gonta-ganti kubu ya Tirta ini. Oh ya maklum, gonta-ganti pacar aja lancar kok.


...•••...


Karena tadi Aeli sempat membuat keributan di kantin sekolah, maka di sinilah dia sekarang. Membersihkan seluruh bilik toilet putri di lantai tiga. Sudah hampir satu jam, tetapi Aeli baru menyelesaikan dua bilik.


Capek? Jangan ditanya lah!


“Apa liat-liat? Mau mati?”


Anggota OSIS yang bertugas mengawasi Aeli menengguk ludah dalam diam. Apes banget memang jika berurusan dengan Aeli yang sedang mood swing parah.


“N-nggak kok. Lanjutin aja,” katanya gugup. Di sini bukan Aeli yang merasa terancam melainkan gadis cantik itu.


Aeli mendengkus kasar, melempar sikat WC ke pojokan hingga menimbulkan suara yang cukup renyah di ruangan tersebut. Anggota OSIS bernama Rania itu terkejut, tentu saja. Jantungnya langsung olahraga berat di detik yang sama.


“Dikiranya gue babu apa disuruh bersihin ginian segala? Kaya nggak ada hukuman lain yang lebih etis bangsat. Membosankan.”


Meski masih menggerutu sebal Aeli tetap melanjutkan hukumannya. Dia ingin semuanya cepat selesai dan bisa pulang tepat waktu.


Satu jam kemudian, akhirnya gadis itu selesai dengan hukumannya. Persetan dengan peraturan. Asalkan Aeli sudah memasuki seluruh bilik toilet di ruangan ini, maka tugasnya dia anggap selesai. Entah dibersihkan atau tidak, yang penting Aeli sudah memasuki seluruh bilik.


“Kamu belum bersihin wastafel,” kata Rania saat Aeli hendak pergi.


Dengusan kasar lagi-lagi berhembus. Aeli menoleh menatap Rania yang lumayan lebih tinggi darinya. Tatapan tajam yang Aeli lempar berhasil membekukan Rania dalam sekejap.


“Bersihin sendiri. Gausah nyuruh-nyuruh.” Aeli berkata dingin.


“Tapi—”


“Tugas gue udah selesai.”


“Bu Nita bisa marah kalau—”


“Yang dimarahin gue, bukan lo. Posisi lo gak bakal lengser cuma karena gagal ngawasin gue.”


Setelahnya Aeli berlalu pergi tanpa dosa. Terlalu memuakkan untuk menuruti semua peraturan yang berlaku. Dan melanggar peraturan tersebut adalah hal yang wajib Aeli lakukan.


Ternyata saat dirinya sampai di kelas, murid-murid sudah berhamburan. Bel pulang berbunyi sejak lima menit lalu. Aeli masuk melihat Clara masih di sana dan sudah akan menenteng tas. Melihat kedatangan Aeli, gadis itu menaruh tatap.


“Selesai juga lo. Cowok lo barusan nyariin noh. Katanya lo ditunggu di parkiran.” Clara memberitahu.


“Sky?”


“Ya iya, Sat. Emang cowok lo siapa lagi hah?”


“Yoshi.”


“Ngarep bodoh!” Clara memutar bola mata. “Ditelponin gak bisa-bisa kaya orang penting aja.” Gadis itu mencibir kemudian.


“HP gue ketinggalan, Bego. Nih!” Aeli menunjukkan ponsel yang baru dikeluarkan dari laci meja. “Lowbat makanya gue tinggal.”


“Oh,” respon Clara membuat Aeli hampir melemparnya dengan meja.


Btw, Sky menunggunya loh. Anjrit bat dah.


“Duluan. Gue gak mau bikin cowok gue nunggu lama-lama.” Aeli melempar senyum lebar dan berlalu keluar kelas dengan mood yang sudah kembali bagus.


Hanya mendengar nama Sky saja Aeli langsung melupakan rasa lelahnya.

__ADS_1


“Dasar bulol! Makan sekalian tuh Sky!”


...•••...


__ADS_2