
Delapan puluh satu tahun kemudian....
Berpindah dari satu kota ke kota lain nya sudah bagaikan sebuah kegiatan rutin yang Gienka Gea lakukan bersama keluarga. Dan setelah delapan puluh satu tahun berlalu akhir nya Gea kembali lagi ke kota dimana dia untuk pertama kali mengenal apa itu persahabatan dan cinta.
Dua hal yang sangat indah namun sayang nya sangat terlarang bagi nya, makhluk yang tadi nya dia kira adalah makhluk setengah manusia dan setengah penyihir namun ternyata sesuatu yang lebih menakut kan dari itu.
Pergi meninggalkan kota itu demi menghindari petaka yang sama terulang, merupakan luka yang tidak pernah bisa terobati dalam hidup Gienka Gea. Namun apa lah yang bisa dia lakukan? Dia telah menerima tawaran yang malaikat maut pelindung nya berikan. Dan itu memang merupakan tawaran terbaik menurut nya.
Siapa sangka setelah delapan puluh satu tahun berlalu, langkah kaki Gienka Gea kembali menapak di kota penuh sejarah dan kenangan tersebut.
Di saat semua telah menua, Gienka Gea datang dalam wujud yang sama namun dengan kepribadian yang berbeda. Jauh dari kata ceria diri nya yang dahulu nya..
*****
Pintu taksi terbuka. Altair turun di depan rumah bertingkat dua di daerah Jakarta Timur. Tubuh tegapnya berjalan mendekati pagar. Mata cokelatnya mengamati bangunan tua namun kokoh itu dengan saksama.
__ADS_1
la mengambil hape lalu membuka aplikasi memo untuk memeriksa catatan alamat yang dicarinya. Sama. Nama jalan dan nomor rumahnya. Berarti dia tidak salah rumah.
Kegembiraannya semakin menjadi ketika menemukan pagar tidak digembok. Ia masuk ke rumah yang terlihat sepi itu, lalu naik ke beranda, dan melanggar pintu depan.
"Permisi?" serunya.
Tak ada jawaban.
la mengetuk lagi beberapa kali dan lebih kencang. Tapi nihil. Tak ada siapa-siapa di dalam.
"Permisi, Bu," katanya sopan.
"Mau tanya, orang rumah ini ke mana, ya? Dari tadi saya ketuk gak ada yang jawab." Tanya sopan.
"Rumah ini sudah kosong sejak lama , Mas," jawab wanita itu.
__ADS_1
"Sejak lama?” Ulang Altair.
"Iya sejak lama!? Dari zaman ibuk saya dulu kerja di sini. Hmm kira- kira udah delapan puluh tahunan lah. Cuma yang punya rumah minta rumah nya tetap di jaga. Uang nya terus di transferkan ke rekening ibuk saya oleh pengelolah rumah ini. Memang nya ada apa ya mas?" tanya si ibuk pada Altair.
Altair mengernyit, lalu ekspresi wajah nya terlihat bingung. Kemudian dia merogoh saku. "Menurut ibuk, ini rumah yang sama gak??” Altair mengeluarkan sebuah kertas yang berisi gambar sketsa rumah yang dia rancang sendiri.
“Hm- ini sih bukan hanya mirip mas! Tapi mirip banget! Mas udah pernah kemari ya? Atau jangan- jangan mas ada anak pemilik rumah ini?” tanya si ibuk.
“Bukan buk.” Jawab Altair.
“Benar ini adalah rumah yang selalu masuk ke dalam ingatan ku dan mimpi ku! Tapi ini rumah siapa? Kenapa aku sering melihat nya di dalam kepala ku? Dan rumah ini sudah kosong delapan puluh tahun lebih? Umur ku saja baru dua puluh lima tahun? Mengapa aku bisa tahu persis bentuk rumah ini? Apa ini bagian dari kehidupan ku di masa lalu? Apa mungkin aku pernah tinggal di sini?” Altair terus bertanya tanya dalam hati. Semua ini benar- benar seperti kepingan puzzle bagi nya.
“Akan aku cari tahu............!” Tekad nya bulat.
🐞🐞🐞🐞
__ADS_1
Ingat!! baca jangan skip! ini butuh konsentrasi ... 🤣🤣 canda... yuk kak Upe temani baca.. ini kak Upe lagi tempelin stiker ke gayung baru kak Upe😂