
Ini adalah hari pertama Altair mengajar.
Saat tiba di sekolah, ia menyapa beberapa guru lain yang sudah dikenalnya.
Sebenarnya ia tak terlalu suka memasuki lingkungan baru sebab dia adalah tipikal orang yang malas harus beradaptasi lagi.
Tapi apa boleh buat? Ini satu-satunya jalan untuk membuktikan ia bisa hidup mandiri pada kedua orang tuanya.
Ia sudah bosan tinggal di Kalimantan. Ia muak pada papanya yang selalu menyulut pertengkaran yang urusan nya itu sebenarnya tidak jauh- jauh dari perusahaan keluarga yang memang ada di Kalimantan.
Bukan nya Altair tidak menyukai ayah nya. Bukan begitu. Tentu saja dia sayang pada ayah nya.
Ayahnya memberikannya pendidikan terbaik, juga selalu menyediakan waktu untuk ada di rumah.
Namun ketika ia beranjak dewasa, ayahnya mulai menunjukkan kecenderungan selalu mengatur. Yang akhirnya membunuh mimpi-mimpi indah milik Altair.
Mengingat hal itu cukup membuat kepala nya sakit! nyut nyut nya hingga mencapai ubun-ubun.
Altair buru-buru menarik napas panjang. Jangan sampai mood nya rusak karena hal ini!
karena bentar lagi dia akan ada kelas.
"Altair?" sebuah suara menyapanya dari belakang. Altair menoleh.
"Oh, Fanni." seru nya tersenyum melihat sahabat nya itu.
Fanni menyejajarkan langkah Altair sambil mengamati wajah cowok itu. "Kenapa lo? Kusut banget. Kayak kain abis di angkat dari jemuran!!" Sindir Fanni.
Altair tertawa kering. "Kepanasan aja tadi di luar," jawab nya asal.
"Oh... Eh, ini hari pertama lo ngajar, ya?" tanya Fanni sambil nyenggol tangan Altair.
__ADS_1
"Deg- deg an gak lo?" sambung nya bertanya.
"sepuluh menit lagi nih!! mau push up or sit up masih sempat!!." ledek Fani.
"Kagak perlu!! Semua masih aman terkendali." Jawab Altair.
Fanni pun tertawa. Lalu pandangan tertuju pada penampilan Altair pagi ini.
"Nah gini kan rapi!" goda Fanni.
"Udah mirip guru beneran." Altair tersenyum sombong.
"Gue bakal jadi guru paling ganteng di sini." ucap nya sombong.
Fanni mencibir. "Kepedean lo. Eh, habis ngajar lo ada acara gak?"
"Gak. Kenapa?"
Mata Altair membulat. "Tapi gue kan juga bukan komposer profesional, Fan."
"Tapi kan lo sering bikin lagu. Gue udah dengerin beberapa komposisi lagu ciptaan lo di YouTube dan tik tok! Dan menurut gue semua nya keren- keren!! itu menurut gue ya!!!! gue suka ama lirik - lirik nya. Nah!!! Gue juga pengen bisa kayak lo gitu. Ya kali aja ada yang lirik dan gue biasa terkenal kayak Mahalini zaman dulu itu!!!"
"Tumben." Altair menyipitkan mata nya.
"Hmm gue curiga! Jangan-jangan lo lagi naksir cowok ya?!!! Trus mau ngasih lagu buatan lo ke dia?" tebak Altair yang membuat Fanni salah tingkah.
"Hah?? Ng...gak kok.!!! Aku cuma mau belajar aja. Lumayan nambahin skill, kan?"ucap nya mencoba berdalih tapi sayang nya itu tidak berhasil.
"Anak mana? gue kenal?" Altair mengedip jahil. "Atau guru di sini juga? atau staf? Hmmm...Atau jangan-jangan... siswa?" sorak nya kaget sendiri.
Fanni memukul lengan Altair pelan. "ck!! apa an sih????!!! Gak ada! tau ?!!! Gue itu Beneran cuma mau belajar. Jadi gimana nih, mau apa gak ngajarin gue!!?"
__ADS_1
Altair melihat arlojinya. "Ya udah, gampanglah. Gue ke kelas dulu ya."
Fanni tersenyum lebar. "Oke. See you!"
Altair mengangguk dan melambaikan tangan. Ia lalu bergegas, dan mereka berpisah di ujung koridor.
"Good afternoon, Sir." Suara kompak siswa-siswi ruang X menyambut hangat saat Altair tiba di kelasnya.
"Good afternoon, everyone." Altair tersenyum sopan. "Let me introduce myself. I'm Altair. Saya guru pengganti Mr. Leo.”
Pak Edgar memang menempatkan nya sebagai pengganti salah satu guru senior yang baru saja berhenti bekerja karena harus menemani istrinya berobat ke luar kota. Para siswa yang dahulu nyan Mr. Leo ajar, menurut Pak Edgar, cukup patuh dan mudah diatur.
"Senang bertemu kalian semua. Sekarang coba kalian perkenalkan diri satu per satu, dari yang paling kiri."
"Saya Lulu," kata siswi berambut cokelat seping gang.
"Saya Tasya, pak" sambung gadis berkacamata tebal di sebelahnya.
" I am Benjamin, sir. " Ucap siswa lain nya.
"Kamu? " Tanya Altair pada siswa di sebelah Benjamin.
"saya Lian Pak. " Jawab nya.
"Kalau kamu?"
"Tasya," kata siswa terakhir yang berkulit sawo matang.
Altair menatap mereka satu demi satu sambil menghafalkan nama-nama mereka.
"Lulu, Tasya, Benjamin, Lian, dan Tasya," katanya.
__ADS_1
"Oke, gak susah menghafalnya. " ucap nya sambil tertawa.