Story Of Gienka Gea: Cinta Si Penyihir

Story Of Gienka Gea: Cinta Si Penyihir
#22


__ADS_3

TIGA minggu ini Altair begitu sibuk mengajar hingga lupa dengan niatnya mencari tahu tentang Gea Alnof serta rumah misterius yang selalu hadir dalam mimpi nya hampir setiap malam.


Seusai jam pelajaran hari itu, di ruang kelas yang kini sepi, Altair mengambil hape dan menghubungi nomor telepon agen rumah yang ia catat dari pintu rumah yang dia datangi kemarin.


" Apa aku sewa rumah itu saja?" Batin nya, menimbang- nimabang. Kebetulan ia tidak terlalu suka dengan kamar kost yang ditinggalinya sekarang.


Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kamar kos itu. Cukup bersih hanya saja terlalu kecil untuknya.


Jadi ia pikir, jika memang cocok di saku dia ingin menyewa rumah itu saja. kalau harganya cocok.


Altair berpikir mungkin dengan tinggal di sana, dia akan lebih mudah mengetahui ada hubungan aap rumah itu dengan diri nya.


Altair menelepon beberapa kali ke nomor yang kemarin itu, namun tak ada yang menjawab,


Akhirnya ia menghubungi adalah nomor kantor. sambil berharap semoga nomor satunya ini , kali lebih cepat menjawab.


Dan syukur nya, harapan nya terkabul.


"Selamat siang, kantor pemasaran agen perumahan CR Rose, dengan Lidya ada yang bisa di bantu?." Sapa staf kantor itu.

__ADS_1


"Selamat siang. Maaf, bisa saya bicara dengan Ibu Darmi?" sahut Altair.


“Boleh tahu dari siapa, Bapak?”


"Saya Altair. Saya mendapat nama Ibu Darmi dan nomor handphonenya dari flyer di sebuah rumah yang akan dikontrakkan di jalan X. Tadi saya mencoba menghubungi hape nya, tapi tidak aktif." Jelas Altair.


"Boleh saya tahu nomor hape Ibu Darmi yang Bapak Altair hubungi tadi????" pinta si staff untuk memastikan nomor itu benar atau tidak.


Altair pun menyebutkan nomor yang dicatatnya.


"Iya betul itu nomor milik Darmi Lukmana. Saat ini beliau sedang tidak ada di kantor, sedang meeting dengan klien di lapangan. Bapak bisa menghubunginya lagi nanti, atau Bapak bisa titipkan pesan, nanti akan saya sampaikan kepada Ibu Darmi?" ujar si staff.


"Oh, bisa Bapak sebutkan alamat lengkapnya? Saya bisa bantu cek di sini untuk status rumah tersebut."


"Sebentar... Kompleks perumahan Kembangan Estate,


Altair pun menyebutkan alamat rumah yang dia maksud dengan lengkap.


Terdengar bunyi keyboard komputer diketik beberapa saat.

__ADS_1


"Mohon maaf, Bapak Altair. Rumah yang Bapak maksud kan, sudah ditempati." jawab si staff setelah mengecek status rumah tersebut.


"benar kah? ?" Altair mendesah kecewa. "Kapan?"


"Menurut catatan di komputer kami, hari ini, Pak. Tepat tanggal hari ini. Mungkin surat-suratnya ditanda- tangani tadi pagi."


Altair membuang napas kasar. "Sial, gue kalah cepat. " Gumam nya dalam hati.


"Boleh saya tahu siapa pemilik rumah itu dan dimana dia tinggal sekarang?" Tanya Altair setelah memutar otak nya dengan cepat setelah ia tahu ia tidak bisa tinggal di rumah itu.


"Maaf, Pak, nama, alamat, dan nomor telepon pemilik rumah bersifat confidential. Jika Bapak memang masih sangat berminat dengan rumah itu, silakan menghubungi agen yang bersangkutan." jawab si staff profesional.


"Begitu, ya?" Altair kembali mendesah kecewa.


"Betul, Bapak. Kami mohon maaf sekali lagi. Mungkin Bapak bisa meninggalkan nomor telepon Bapak. Akan saya sampaikan kepada Bu Darmi nanti."


Altair pun meninggalkan nomor teleponnya sebelum memutuskan sambungan.


Setelah ini dia hanya perlu mencoba menelepon Bu Darmi lagi, pikir nya.

__ADS_1


Altair membereskan barang-barangnya, lalu keluar dari kelas.


__ADS_2