
"Apa?" seru Gea. "Beneran??" tanya antusias lalu sesaat kemudian ekspresi nya berubah.
“Kalian saja yang pergi.” Ucap nya, dia malas bertemu Sach. Setiap kali bertemu Sach, Gea melihat tatapan Sach berbeda pada nya.
Gea takut jangan- jangan waktu Sach tidak ikut ter – reset waktu Sky mereset semua waktu ke lima tahun yang lalu.
Itu lah mengapa Gea memilih mengurangi kunjungan nya ke negeri penyihir.
Seketika semua terdiam.
"Ah gak asik!," lanjut Tere.
"kalau hanya aku dan Moon saja yang pergi! Kau kan sudah lama tidak pulang ke negeri penyihir Gea.." muka gembul Tere terlihat lucu kalau dia sedang marah seperti itu.
"Lain kali aku akan ke sana. Tapi untuk saat ini aku masih ingin mencoba lebih banyak resep cookies! Nanti ketika perijinan tinggal Moon selesai, aku bisa memasakan banyak cookies untuk kalian berdua! Kau pasti datang untuk mengantar Moon kembali kan Tere?” tanya Gea.
“tentu saja! Tapi aku pasti akan merindukan mu! Moon bisa bertemu dengan mu sering! Tapi aku tidak!” Mereka mengangguk mengiyakan lalu saling berpelukan.
“Oke cukup! Ini terlalu berlebihan.” Ucap Moon seperti biasan nya, sok cool.
“Heeei! Di luar Hujan!”Gea berlari ke kamar dan membuka jendela. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma hujan.
__ADS_1
Sejak kecil ia sangat menyukai hujan. Dulu bukan hanya memandangi dan menghirup aroma hujan seperti ini, seringnya ia keluar dan membiarkan tubuhnya basah kuyup, tak peduli jika setelah itu masuk angin.
Tak ada yang bisa menghentikannya dari bermain hujan, termasuk kedua tante nya.
Ia merasakan kebebasan saat hujan mengguyur tubuhnya. Semua terasa ringan, seolah ia bisa naik mengikuti siklus hidup air dan menguap ke udara.
Yang jelas, ketika melihat hujan ia seolah menyaksikan sebentuk kebahagiaan tak kasatmata -menenangkan sekaligus menjernihkan suasana hati, membuatnya merasa dunia begitu aman dan damai.
la menadahkan tangan, membiarkan tetesan-tetesan air langit itu membasahi telapak tangannya.
Melihat genangan air di tangannya, tiba-tiba ia teringat pada Mia dan Robert.
“Ayooo Gea!! teruslah berjalan ke depan, tetap lah tenang dan jernih dalam menyikapi setiap masalah. Tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan, apalagi keputusan yang mungkin akan kau sesali selama nya!” Gumam nya dalam hati.
“Mia! Robert! Kalian tetap adalah dua hal terindah dalam hidup ku.” gumamnya dalam hati sambil menengadah ke langit.
Terkadang ia membayangkan diri nya dan Mia yang bermain ice skating bersama.
Atau diri nya yang curi- curi keluar bersama Robert.
Gea pun tersenyum sendiri.
__ADS_1
Tidak masalah kan kalau dia mengingat masa- masa indah itu? Yang Sky larang adalah mengulang masa- masa itu.
"Rintik hujan memang selalu menyimpan kerinduan," kata Tante Lia, entah sejak kapan sudah berdiri di samping Gea.
"Seperti saat ini," sambung Gea, lalu tersenyum.
Mereka berdua berdiri di tepi jendela untuk waktu lama, menyaksikan hujan jatuh dengan deras.
"Tante, sebenarnya ada yang pengin aku sampaikan," kata Gea.
Wanita itu berpaling. "Apa?"
"Boleh gak aku-" Gea menggigit bibir.
"Aku apa? Bilang aja." ujar tante Lia.
“Sudah lupakan saja!”Gea pun berlalu pergi dan menuju ke ruang makan di mana Moon dan Tere masih nyantai sambil makan cookies di sana.
**
Kak Upe kok sedih y! kasihan Gea.. sini Gea temanan sama kak Upe aj🤧
__ADS_1