
GRAND LAUNCHING Gigi Cake berlangsung meriah. Meja-meja dipenuhi tamu undangan dan para pelanggan yang tergiur promo makanan dan minuman gratis.
Sementara mereka yang tidak mendapatkan tempat duduk, berkerumun di area parkir depan bakery tempat terdapat panggung kecil acara.
Tante Lia mengundang semua kenalan dan rekan bisnisnya. Sebagian besar adalah pengusaha kelas menengah ke atas.
Kenalan di sekitar rumah mereka pun juga datang. Fanni yang di undang khusus pun sudah pasti datang.
Bahkan Icarus pun diam - diam datang melihat acara spesial putri nya itu.
Sewaktu Gea datang ke perpustakaan beberapa waktu lalu, Icarus sempat di beritahu oleh Gea kalau dia akan ada grand opening brand baru toko nya di dunia manusia.
Tidak mengundang sih.. hanya mengatakan saja. Tapi bagi Icarus tentu nya itu bahkan lebih dari sekedar undangan.
Acara berlangsung apik. Serentetan acara formal mengawali acara grand opening launching brand baru itu.
Dan setelah acara formal, baru lah acara anak muda yang santai di mulai. Alunan musik terdengar sangat merdu di telinga.
Seperti yang Gea rencanakan, ada beberapa penampilan dari musisi terkenal saat ini.
Gea sangat senang karena acara itu berlangsung lancar.
Apalagi saat melihat semua orang yang datang mencicipi semua hidangan ala Gigi Cake yang disediakan.
Orang-orang terlihat sangat menikmati hidangan serta pertunjukkan di panggung. Ia berharap mereka semua orang yang datang akan menjadi pelanggan toko.
Waktu su dah menunjukkan pukul 23.30. para pengunjung berangsur pulang sejak pukul sepuluh. Mereka dan para kru EO juga sudah selesai membereskan semua perlengkapan acara.
"Sisanya biar mereka yang beresin. Tinggal dikit kok itu." ucap tante Lia.
Gea membuang napas panjang. "hufff.. akhir nya bisa juga istirahat sekarang!!!" Ia memandang sekeliling sekali ya lagi sebelum masuk ke bakery bersama Fanni sudah yang banyak membantunya seharian ini.
Tante Lia sudah naik ke kantornya di lantai tiga, mengurusi pembayaran akhir dengan EO dan mengevaluasi acara hari itu.
Para pelayan sibuk membersihkan meja- meja dan penjuru ruang bakery.
Gea dan Fanni memilih meja di dekat pintu masuk setelah mengambil air mineral botol yang disediakan untuk para petugas.
Gea mengedarkan pandang sekali lagi ke sekeliling bakery, lalu tersenyum puas.
__ADS_1
Warna coklat susu yang lembut mendominasi ruangan.
Beberapa set sofa dengan coffee table berada di satu sisi. Sedangkan beberapa meja untuk ma- kan besar memenuhi sudut yang lain.
Ada juga meja-meja untuk couples dengan desain unik terbuat dari kayu recycle.
Pengunjung jadi punya banyak pilihan akan duduk di mana, disesuaikan pada apa yang akan mereka santap.
Lantai tiga dijadikan kantor sekaligus tempat beristirahat.
Di sana disediakan dua tempat tidur dan beberapa sofa serta TV sebagai hiburan. Lengkap dengan pantri dan kamar mandi, jadi jika dirinya atau kedua tante nya atau pelayan lain jika ingin beristirahat sejenak. Jadi mereka bisa memakai tempat itu.
Tanpa diminta, pelayan nya menyajikan dua potong kue di meja mereka. "Buat penghabisan, Mbak," kata pelayan itu ramah.
Gea dan Fanni tersenyum, di depan mereka disajikan kue berbentuk mirip buah nenas warna kuning. Selain itu ada juga kue yang mirip strawberry.
"Thank you, ya. Kalau udah capek, pulang aja. Kita bisa lanjut bersih-bersih besok pagi." ucap Gea pada pelayan nya.
"Siap, Mbak." dia pun kembali ke dapur.
"Lucu ya Gea, kuenya," ujar Fanni, sebelum memasukkan sesuap kue ke mulut.
Gea tertawa. "Khusus buat lo, kue-kue toko ini gratis, sampai kapan pun." ujar Gea.
"Karena lo tahu gue gak bakalan ngambil banyak," Cibir Fanni.
" Benar banget!!! Lo kan selalu ngikutin program diet ketat," timpal Gea.
Mereka berdua pun tertawa. Fanni meneguk air mineralnya, menguap lebar, lalu bangkit berdiri.
"By the way..." Fanni mengedarkan pandang.
"Kayak nya ada yang kurang di bakery ini," sambung nya.
"Apa?" Gea ikut memandang sekeliling sambil ikutan berpikir.
"Pot? Akuarium? Atau cowok kece? " sebut nya asal lalu tertawa.
"Ck!! bukan itu!!! gue rasa hmm....ini sesuatu yang berkaitan sama musik, jadi lagu yang muncul gak hanya dari loud speaker bakery. Gimana menurut lo??"
__ADS_1
Apa? Jukebox? Eh, boleh juga tuh, jadi mirip bakery-baker di Amrik"
Gea ingat dulu dia juga pernah ngisi musik di sebuah cafe waktu di Boston.
"Hmm... Kalau menurut gue sih bukan itu!! Giman kayak Sesuatu yang live," gumamnya.
"Gimana kalau piano? Jadi tiap akhir pekan ada yang main piano live di sini."
"Piano? Siapa yang mau mainin? Lo?"
"Kalau gak nemu pemain lain, boleh aja sih," Fanni menimbang-nimbang. "Sekalian ngisi waktu dan dompet. Lumayan buat beli baju."
Gea tertawa. "Jangan mahal-mahal ya."
Fanni mengangguk-angguk. "Ya, bisa dipikirin. Nanti gue sekalian tanya di sekolah deh. Mungkin anak siswa gue ada yang mau main buat penghasilan tambahan."
"Terus pianonya gimana? Kan mahal. Anggaran habis banyak buat toko sama launching tadi." ujar Gea. Dia bisa saja mengeluarkan uang nya yang sebenarnya tidak berseri saking banyak nya itu. Tapi tentu saja orang-orang akan curiga.
"Nanti gue cariin yang second ya. Kayaknya ada beberapa unit piano di sekolah yang mau di jual dan diganti baru. Khusus untuk grand piano, banyak yang mau jual murah asal si piano tetap ada. Karena piano-piano gak terpakai seringnya dihancurin atau diloakin kiloan gitu."
"Oh ya? Sayang banget."
"Yah, sekarang kan orang gak harus beli grand piano kalau pengin dengar suara piano. Pakai piano elektrik atau keyboard atau apalah juga bisa. Pakai software komputer juga bisa. Yang butuh grand piano dalam wujud asli terbatas banget. Paling sekolah-sekolah musik kelas atas atan lembaga konservator musik klasik, gedung opera, atau kolektor superkaya. Gak banyak yang bisa beli grand piano mahal begitu. Jadinya peredaran grand piano di market sekarang juga terbatas. Dan kalau ada satu yang gak terpakai, jarang ada yang mau nampung. Gak kayak mobil, yang biar sudah berumur tiga dekade masih laku aja di pasaran. Makanya kalau ada sekolah musik atau philharmonic orchestra yang mau ganti grand piano, barang yang lama kebanyakan masuk tong sampah. Padahal aslinya masih bagus untuk ukuran orang awam. Sayang, kan?" terang Fanni.
Gea membentuk huruf O dengan bibirnya, "Ya udah, bantu cariin satu buat cafe gue!."
" ya. Nanti gue diskusiin sama kepsek or wakil di sekolah. " ucap Fanni.
"Dan lo jangan lupa!! Senin lo ada wawancara." ingat Fanni.
"Ho oh!! Beres. Lo tenang aja! Gue pasti datang!"
Fanni mengemasi barangnya lalu berdiri. "Gue pulang dulu orang ya. Thanks buat kuenya. Nanti gue promosiin ke kantor juga."
Gea pun ikutan berdiri. "Thanks juga udah bantuin acara hari ini. Hati-hati pulangnya. Kabarin kalau udah sampai rumah."
"Iya, cerewet..." jawab Fanni sambil mengedipkan sebelah mata.
"Bye, Gea! Salam buat tante lo ya." Dia beranjak meninggalkan bakery sambil melambaikan tangan.
__ADS_1