Story Of Gienka Gea: Cinta Si Penyihir

Story Of Gienka Gea: Cinta Si Penyihir
#17


__ADS_3

Altair terkekeh mendengar celetukan Fanni. "Oke, oke, nanti gue sesuaiin, tenang aja. Eh, tunjukin ruang pianonya dong." Pinta Altair.


"Gak sabaran amat! Ini kita lagi menuju ke sana kok." Cetus Fanni.


Semakin mereka dekat dengan ruang kelas siawa, Altair semakin bertambah bersemangat.


Dia bersemangat karena suasaan yang mendadak ramai. Siswa-siswa berseragam melintas sambil menenteng tas dan perlengkapan masing-masing. Pasti sedang pergantian kelas. Tak lama Fanni berhenti di depan pintu kaca.


Altair pun ikut berhenti.


"Ini ruang pianonya?" tanya Altair.


"Yap, salah satunya."


"Oh, ada lebih dari satu toh?"


Fanni membukakan pintu dan mempersilakan pemuda itu masuk. Ketika pintu terbuka, mata Altair melebar. Tiga perempat ruangan itu tersekat-sekat oleh sebidang kaca transparan dan terbagi lagi menjadi enam bagian yang sama besar. Pada masing-masing ruang kecil terdapat satu grand piano putih, dua kursi kayu kecil dan papan tulis


Di sini Altair ditugaskan untuk mengajar kelas tingkat dua. Siswa-siswa S.A Music Institute bukanlah orang-orang yang baru akan belajar music dari nol.


Mereka sudah terlatih sejak kecil dan selalu dipersiapkan untuk kompetisi nasional maupun internasional, lalu masuk ke sekolah ini agar semakin terasah lagi.


Ia sudah membaca buku panduan mengajar guru, dan tahu bahwa menjadi guru di sekolah ini sama sekali tidak merepotkan.


Siswa-siswa akan berlatih sendiri, sementara ia hanya perlu mengawasi dan memberikan poin-poin perbaikan permainan mereka melalui monitor dan perlengkapan canggih yang sudah disediakan di meja kerja.


Altair melangkah masuk ke salah satu ruang bersekat dan duduk di depan piano. Ia menyentuh sebuah piano dan reflek memainkan sebuah lagu yang melintas di kepal nya.

__ADS_1


Fanni terkesima melihat pemandangan di hadapannya. Jemari panjang Altair begitu luwes, menari indah di atas barisan balok kayu hitam dan putih itu.


"Permainan lo makin keren," ujarnya setelah Altair selesai.


"Thanks, Fan." Ia menatap tepat ke mata Fanni sambil menyunggingkan senyum.


Melihat senyum itu, Fanni tiba-tiba berubah canggung lagi. Setelah sekian lama senyum itu ternyata masih sanggup membuatnya panas-dingin.


***


Aroma brownies bluberry buatan Gienka yang baru keluar dari oven menyebar memenuhi ruangan. Mudah-mudahan rasanya seenak baunya, pikirnya. Ia meletakkan loyang kue itu di atas meja.


Bibi Lia melangkah mendekat lebih cepat daripada Bibi Dora dan Moon, kucing peliharaan mereka.


Sepertinya mereka sudah tidak sabar ingin mencicipi kue tersebut. Selama ini dia hanya mendengar lewat telepon ketika kakak nya dan kucing peliharaan mereka bercerita bertapa enak nya kue-kue buatan Gea.


Dalam sekejap, sepotong besar brownies berpindah ke mulut Moon. Kucing itu mengunyah penuh semangat. "Wah, enak banget! Serius, sumpah aku gak bohong! Pantes Tere rajin ke sini."


Gea tergelak. "Sejak kapan kucing hitam ini pandai memuji????." seru nya sambil tersenyum manis. Dia senang melihat kucing hitam itu telah kembali sehat.


Tak terasa sudah hampir dua minggu sejak Moon keluar dari rumah sakit. Kondisinya yang sudah hampir pulih total, membuat Gea sangat bahagia. Ia tak peduli bahwa untuk melihat itu dia harus bolak balik rumah sakit, cafe dan rumah nya pasti nya.


Untung nya dia tidak harus sampai menggunakan sihir terlarang itu lagi. kalau tidak bisa- bisa kejadian yang sama kembali terulang.


Gea menggeleng pelan, dia tidak aku bermain dengan hal itu lagi.


Biarlah hidup dan mati itu menjadi rahasia Sang Pencipta. Dan dia pun idak tidak ingin mencampuri hal itu.

__ADS_1


Yang terpenting sekarang, dia bisa hidup normal seperti ratusan tahun yang telah dia lalui.


Dan dia pun bisa kembali membawa Moon kembali.


Kucing dari dunia sihir itu adalah satu- satu nya teman sekaligus sahabat Gea saat ini.


Moon dan Tere harus kembali ke negeri sihir beberapa hari lagi untuk mengurus izin tinggal Moon di dunia manusia yang sebentar lagi akan expired.


Maka nya mereka sempatkan untuk berkumpul dulu di rumah Gea. Karena kan Tere tidak bisa sesering Moon ke rumah Gea. Dia tidak punya izin tinggal. Hanya punya izin mengunjungi saja.


Peraturan negeri penyihir memang kian ketat dari waktu ke waktu.


"Aku yakin kau akan bakal jadi chef andal, Gea!" seru Tere sambil sibuk mengunyah. "Dan bisa bikin bisnis Tante Lia dan Dora akan berkembang pesat." Sambung kucing gembul berwarna oren itu.


"Aminnn..." sahut Gea.


"Eh, teman-teman, aku ada kabar penting, lusa akan pesta danse di negri sihir. Dan Gea di undang oleh Raja penyihir!!" sela Moon tiba- tiba.


"Apa?" seru Gea. "Beneran??" tanya antusias lalu sesaat kemudian ekspresi nya berubah.


“Kalian saja yang pergi.” Ucap nya, dia malas bertemu Sach.


Setiap kali bertemu Sach, Gea melihat tatapan Sach berbeda pada nya. Gea takut jangan- jangan waktu Sach tidak ikut ter – reset waktu Sky mereset semua waktu ke lima tahun yang lalu.


Itu lah mengapa Gea memilih mengurangi kunjungan nya ke negeri penyihir.


🐞🐞🐞

__ADS_1


Ingat! sajen di perkuat ya bestie🥳


__ADS_2