
Waktu menunjukkan puluk 18.25. Gea bersiap-siap karena setiap jam setengah 7 malam semua rotinya akan didiskon sebesar tiga puluh persen selama satu jam.
Para pelanggan tetap biasanya akan membanjir, memanfaatkan diskon untuk membeli roti sebanyak mungkin.
Gea mengambil alih tempat kasir. Beginilah setiap hari ia bekerja. Asisten manajer merangkap kasir.
Baru lima menit berlalu, para pembeli mulai mengantre. Dan dia mulai sibuk menerima pembayaran, memberikan kembalian, juga memasukkan roti-roti ke kotak-kotak berlogo Gienka Cakes.
Tak terasa, hari pun sudah pukul sembilan lewat dan akhirnya Gea bisa sedikit bersantai.
Para karyawan toko nya sedang membersihkan meja- meja ketika seorang gadis manis masuk ke toko.
"Selamat datang di Gienka Cakes." Mereka menyambut berbarengan.
Gadis itu tersenyum lalu menuju rak roti dan mulai memilih.
Tak lama kemudian, gadis itu datang ke meja kasir sambil menenteng nampan berisi empat potong kue berukuran sedang.
Gea menerima nampan dan memasukkannya ke kotak menghitung di mesin kasir.
"Semuanya jadi Rp.120.000." kata Gea kemudian.
Gadis itu menarik selembar uang seratus ribu dua helai dari dompet dan menyodorkannya pada Gea.
Gadis itu manis sekali. Rambutnya ikal, kulit putih bersih, dengan setelan kantoran blazer dan rok selutut warna biru span tua.
"Ini kembalian nya. " kata Gea sambil menyodorkan sejumlah uang.
"Terima kasih sudah berbelanja di Gienka Cakes."
__ADS_1
Gadis itu tersenyum menerima tas belanjanya.
Namun bukannya beranjak, dia malah tetap berdiri di depan meja kasir dan mengamati wajah Gea lekat-lekat.
"Hmm.. sorry? Gea bukan sih?" ujarnya kemudian. Gea kaget. Dia enggan menjawab.
"Gea, kan?" ulang gadis itu tak sabar.
"SMA dwi unggulan???? ulang nya dengan tatapan antara yakin dan tidak yakin. "
Gea melongo. "I-iya. Kamu siapa ya?" tanya karena memang dia tidak ingat.
"Ini gue, Fanni!" Gadis itu memekik.
"Fanni!!! Teman sekelas dulu yang suka main pianika, sama harmonika, sama gitar kecil."
"Kamu dulu yang kayak anak laki-laki, dan hobi main sepak bola bukan sih?" tanya Gea antuasia.
"Nah itu lo ingat!!," seru Fannim
"Ya ampun!!! sekarang sudah cantik sekali. Gak ada bekas- bekas tomboinya sama sekali." ujar Gea seperti orang-orang tuan. Hm.. sebenarnya Gea kan emang udah tua ya... hehehe.
Tapi Fanni memang cantik dan sangat feminin sekarang. Tak heran jika Gea sempat tak mengenalinya tadi.
" Lo dulu bukan nya pindah ke luar negri ya? Kapan balik ke Indo?" tanya Gea kemudian.
"Kira-kira dua tahun lalu," Fanni mengedarkan pandang ke sekeliling toko.
"Ini toko roti lo?"
__ADS_1
"Toko roti tante- tante gue, lebih tepatnya. Tapi gue bantu kelola." jawab Gea apa ada nta.. P
"Wah, keren lho. Tadi tuh gue habis mampir rumah teman di deket sini. Gue mau beli kue buat sarapan besok, terus dia nyuruh gue ke sini. Untung gue nurut ya. Gila, udah lama banget kita gak ketemu!" sorak nya gembira.
"Banget! Dan lebih gila lihat perubahan lo sih, Dan!!Eh, duduk dulu deh. Lo gak buru-buru mau pulang, kan?" Gea yang saking senang sampai menahan Fanni di sana.
"Gak kok." Fanni mengikuti Gea ke salah satu meja.
"Say!! minta kopi dua ya," seru Gea pada salah satu pekerja nya.
. "Eh, lo mau kopi atau apa nih?" Dia beralih pada Fanni.
"Serah lo deh! "
" Oke, kalau gitu kopi coklat racikan spesial bakery iini aja. " Ujar Gea.
"Chocolate coffee dua. " Sebut nya pada pekerja nya.
"Siap, Bos,"
"Jadi, cerita-cerita dong sekarang kabar lo?" Fanni melanjutkan dengan riang. "Rumah lo deket sini juga?"
"Iya, gak jauh dari sini kok!!."
Mereka berdua pun ngobrol panjang lebar soal kehidupan Gea. Setelah bosan bicara hidup Gea yang memang sangat monoton itu, topik pembicaraan pun beralih ke hidup nya Fanni.
"Terus, terus, lo sendiri gimana?" gantian Gea bertanya.
"Gue, ............ "
__ADS_1