Story Of Gienka Gea: Cinta Si Penyihir

Story Of Gienka Gea: Cinta Si Penyihir
#25


__ADS_3

Sebelum pergi ke negeri sihir, Gea menyempatkan diri untuk mampir ke sekolah tempat Fanni bekerja.


Gea memasuki lobi gedung S.A Music Institute sambil mengedarkan pandang dengan antusias. Sekolah itu memang keren.


Interiornya berdesain klasik. Lobinya mewah. "Bagus juga!!" Gumam nya yang sebenarnya sudah terbiasa melihat hal- hal seperti ini. Maklum dia sudah hidup lintas generasi.


la tiba di meja resepsionis, tempat seorang gadis berseragam hijau tampak sibuk dengan komputer dan telepon.


Wanita itu mendongak dan tersenyum ramah pada Gea.


"Selamat siang. Ada yang bisa dibantu?"


"Siang, Mbak. Saya mau bertemu Ibu Fanni. "


"Maaf, Ibu, dari mana?"


Gea belum sempat menjawab ketika dari arah lain terdengar seruan keras menggema. "Gea!"


la menoleh. Fanni bergegas mendekat sambil membawa setumpuk dokumen.


"Gue baru mau telepon. Gue pikir lo nyasar." Fanni permisi pada resepsionis lalu mereka pergi ke area dalam, melintasi koridor lebar tengah gedung.


"Nyasar dikit tadi. Keren lho ini tempatnya." ucap nya berbasa basi.


Fanni tertawa. "bener kan yang gue bilang!!! gue yakin lo pasti betah kalau kerja disini!!"


"Semoga ya!!" jawab Gea.

__ADS_1


"Aminnn," sahut Fanni.


"By the way, gue mau rapat sama wakil kepala sekolah, termasuk ngomongin soal rekrutmen guru. " Ujar Fanni.


"Lama?"


"Paling lama setengah jam. Lo tunggu di cafe sekolah aja. Hmm...atau di perpustakaan aja." tawar Fanni.


"Di perpus deh. Gue baru makan tadi sebelum ke sini."


"Oke. Perpus di lantai tiga. nah ini kartu akses gue!! tungguin gue bentar ya!! Gak lama! 30 menit doang!!"


"Oke"


"Oke, sampai jumpa!"


Suara itu berasal dari sebuah ruangan yang letak nya tidak jauh dari perpustakaan.


Biasanya Gea tak akan mau mampir melihat sesuatu yang asing. Namun, kali ini hal itu membuatnya masuk ke dalam perpustakaan.


Dia melangkah kan kaki nya menuju ke ruangan sumber suara.


Terlihat sebuah pintu auditorium yang sedikit terbuka. Gea berhenti di ambang pintu, lalu melongok ke dalam sambil sedikit mendorong daun pintu hingga ia bisa memandang lebih leluasa.


Auditorium tampak sepi. Penerangannya remang remang. Deretan tempat duduk yang berjumlah ratusan hanya terlihat samar-samar.


Satu-satunya cahaya hanya muncul di sekitar panggung, menyorot seorang cowok yang sedang bermain piano. Sendirian.

__ADS_1


Cowok itu sepertinya seumuran dengannya.


Namun karena terlalu jauh dan agak gelap, Gea tak bisa me lihat wajah cowok itu dengan jelas.


Lagu yang kannya bertempo pelan dan terdengar sendu.


Gea tahu itu lagu apa. kalau tidak salah itu adalah salah satu komposisi klasik karya Beethoven atau Mozart.


Dia masih ingat, sekitar tujuh puluh tahun lalu dia pernah mencoba profesi sebagai pianis. Dan bahkan memainkan banyak lagu di cafe- cafe dengan nama Gea Alnoff.


Tidak menyangka kalau hari ini dia kembali mendengar alunan suara merdu dari sebuah piano setelah hampir sepuluh tahun dia tidak mendengar piano sama sekali.


Gea terhanyut dalam alunan permainan piano yang begitu menyentuh hatinya itu yang tiba-tiba saja membuat matanya menghangat. Lagu itu terasa begitu sepi, membuat Gea merasa begitu sendirian di dunia ini.


Saat tersadar, ia buru-buru menyeka air matanya yang hampir jatuh.


"Maaf..."


Gea terlonjak. Seorang wanita bertubuh gemuk hendak masuk ke auditorium sambil membawa ember dan tongkat pel.


"Permisi, Miss," kata wanita itu sopan.


Gea buru-buru menepi. "Oh, maaf."


Petugas kebersihan itu lewat, untungnya tidak bertanya lebih jauh kenapa Gea berdiri di sana.


Sebelum pergi, Gea sekali lagi melongok ke dalam. Cowok itu sudah tidak ada di sana. Entah kapan, tapi lagu itu sudah selesai.

__ADS_1


Gea buru-buru beranjak dari ambang pintu auditorium dan menuju perpustakaan.


__ADS_2