Story Of Gienka Gea: Cinta Si Penyihir

Story Of Gienka Gea: Cinta Si Penyihir
#6: Aku tidak akan membiarkan dia mati


__ADS_3

Hari telah menunjukan pukul tujuh malam, tapi tidak ada tanda – tanda dari kedua tante nya akan kembali.


Baik itu tante Lia yang pergi ke dunia sihir. Atau pun tante Dora yang kata nya pergi berbelanja demi berkamuflase sebagai manusia normal.


Karena bosan dan sedang tidak berselera melakukan apa pun, Gea pun memutuskan untuk janjian bertemu dengan Mia di cafe dekat simpang rumah nya yang dapat dia tempuh dengan jalan kaki. Tapi kalau Mia sudah pasti harus pakai mobil untuk pergi ke sana karena memang rumah nya jauh dari rumah Mia.


Sambil menunggu kedatangan Mia di cafe tersebut, Gea pun bermain tiktok dan tanpa sengaja dia melihat salah satu akun yang memposting sebuah kecelakaan yang baru saja terjadi.


Gea tersentak saat melihat plat mobil yang mengalami kecelakaan itu. Dan reflek menjentikan jari nya lalu menghilang tiba – tiba dari depan cafe itu. Listrik dan CCTV cafe itu pun mati mendadak saat Gea menghilang.


Gea sungguh tidak percaya, baru kemarin dia bermain dan bersenang-senang, melepas rindu dengan Mia, namun kini sahabatnya itu terbaring di ICU rumah sakit. Kritis dan tak sadarkan diri.


*****


"Mia gimana kabar nya?" tanya tante Lia dengan suara pelan. Dia langsung datang setelah Gea mengirimkan pesan pada nya melalui telepati.


“Mia kecelakaan karena aku mengajak nya bertemu tante! Ini semua salah aku!” Tangis Gea pun pecah saat tante nya datang.


“ Tante! Tolong selamat kan Mia! Pakai sihir tante untuk menyembuhkan Mia. Aku mohon tante!” ujar nya dengan suara yang sangat pelan dan terisak.


“Maafkan tante Mia. Tante tidak bisa. Tante Dora pun tidak bisa. Karena penyihir dengan kekuatan itu hanya lah penyihir terpilih sayang. Tidak sembarangan penyihir.” Terang tante nya tapi penjelasan ini tante nya sampaikan dengan telepati.


Gea yang mendengar hal ini pun langsung merasa kehilangan harapan nya untuk membantu sahabat nya.


Dia benar- benar menyesal telah meminta Mia untuk datang ngobrol dengan nya.


Gea mengalihkan pandangan nya ke ruangan Mia di rawat. Di pandanginya tubuh Mia yang terhubung dengan banyak peralatan rumit rumah sakit yang sangat di mengerti kegunaannya karena dia memang pernah kuliah kedokteran dan pernah juga menjadi seorang dokter walaupun tidak lama.


Gea melihat mata sahabatnya itu terpejam yang tampak jatuh terlalu jauh dalam tidur. Gea takut kalau sahabat nya terlalu lelap dalam tidur dan tidak akan pernah kembali.

__ADS_1


Setelah dua ratus sembilan belas tahun, ini baru lah pertama kali nya Gea memberani kan diri untuk berteman dengan manusia. Namun siapa sangka, rasa sakit akan kehilangan seseorang malah turut datang menghampiri nya.


Kini dia paham mengapa para penyihir tidak boleh berteman dengan manusia, itu semua karena umur para penyihir unlimited sedangkan manusia memiliki batasan usia.


Bila penyihir berteman dengan manusia, akan ada berapa banyak duka yang harus mereka rasakan karena kehilangan teman dan juga sahabat.


Gea pun kembali menangis dalam pelukan tante nya. Gea merasa percuma saja di lahirkan dengan darah penyihir bila sahabat nya saja tidak dapat dia tolong.


"Permisi, Anda berdua keluarga pasien Mia?" Salah seorang perawat menghampiri mereka.


"Bukan, Gea ini sahabatnya," jawab Tante Lia. "Keluarganya masih dalam perjalanan ke sini dari luar kota."


"Sebenarnya ada hal mendesak yang perlu segera kami sampaikan pada keluarganya."


"Dengan saya dulu tidak apa-apa. Saya dan anak ini sudah kenal sejak lama Nanti biar saya yang menyampaikan pada keluarganya begitu mereka tiba di sini."


Setengah jam kemudian Lia kembali. Langkahnya terburu-buru dengan raut wajah keruh.


"Kok lama banget? Apa kata perawat tadi, Tante?" Gea bangkit berdiri dari duduk nya.


“Terjadi penyumbatan di pembuluh darah otak nya. Dan kepala bagian belakang nya juga terbentur keras.” Ujar Tante Lia ke Gea.


"A-aapa?!!" Seru Gea yang sangat tahu kondisi yang di sampaikan oleh tante nya tadi.


“ITU ARTI NYA HARAPAN MIA BISA SELAMAT TIPIS SEKALI TANTE!!” Seru nya lalu menutup mulut nya saking tidak percaya kalau kecelakaan yang di alami Mia separah itu.


"Kamu benar Gea! Kondisi Mia saat ini sangat berbahaya? Dokter tadi mengatakan hal ini bisa menyebabkan kematian." Tambah tante Lia.


Walau pun sudah mengetahui apa yang akan terjadi jika Mia tidak segera di selamatkan, tapi mendengarkan kata Kematian itu keluar dari mulut tante nya, kaki Gea tetap saja melemas.

__ADS_1


"Mia harus dioperasi sekarang. Tidak bisa menunggu lagi. Tante sudah urus administrasinya tadi."


Gea gemetar di tempatnya saat melihat pintu ruang rawat ICU terbuka. Dan dari dalam keluar dua perawat mendorong tempat tidur beroda tempat Mia terbaring.


Operasi itu yang sangat impossible itu pun di mulai. Operasi yang awal nya di perkira kan akan menghabiskan waktu selama tujuh jam sudah mulai membuat orang – orang yang menunggu hasil nya risau.


Gea, tante Lia serta orang tua Mia yang sudah sampai dari luar kota pun tidak henti- henti nya melihat lampu tanda operasi sedang berlangsung, untuk beralih ke lampu hijau.


Karena kalau lampu itu sudah bertukar hijau arti nya operasi Mia telah selesai.


Tapi bahkan setelah sebelas jam, belum ada tanda- tanda operasi itu akan berakhir. Hanya dokter dan perawat saja yang keluar masuk tempat itu tanpa memberikan kabar apapun mengenai kondisi Mia di dalam sana pada mereka yang sedang menunggu dengan penuh harap.


Dan tepat setelah lima belas jam akhir nya lampu yang berwarna merah tadi beralih ke hijau. Namun sayang nya, para dokter yang keluar dari ruangan itu semua nya berwajah kecewa.


"Apa yang terjadi dok?” tanya ibu nya Mia pada salah seorang dokter.


“Apa ibu adalah keluarga pasien Mia?” si dokter bukan nya menjawab, eh malah balik bertanya.


"Iya! benar! Saya adalah keluarga nya! Saya ini ibunya! Bagaimana kondisi anak saya dokter?" Tanya nya lagi dengan air mata yang hampir berlinang di kedua ujung mata nya.


“Kami mohon maaf bu, kami sudah berusaha sebaik yang kami bisa. Tapi pasien Mia tidak dapat kami selamatkan.” Ucap si dokter yang langsung membuat ibu nya Mia pingsan.


Ayah Mia yang sedari tadi khusuk mendengarkan apa yang akan si dokter katakan, auto kaget saat melihat tubuh istri nya yang kehilangan keseimbangan itu.


Suasana di luar ruang operasi pun menjadi keos.


Gea berlari ke dalam ruang operasi. Air mata terus berlinang di pipi nya. Dia tidak bisa kehilangan sahabatnya. Tidak sekarang.


"Tidak! Aku tidak boleh membiarkan Mia mati!!"

__ADS_1


__ADS_2