
********
SUASANA di Gienka Cakes masih sibuk seperti biasanya.
Sementara Gea dan dan kedua tante Lia dan Dora mulai sibuk mempersiapkan re-branding toko itu.
Mereka telah memutuskan untuk mengubah nama Gienka Cakes menjadi Gigi Cake. Biar rejeki nya mama gigi dan gigi hadid ikutan nempel ke mereka.
Ya walaupun uang mereka tak berseri alias tidak terbatas tapi tetap saja mereka harus terlihat tetap bekerja spaya orang- orang di sekitar mereka tidak curiga.
Kan lucu aja kalau sampai mereka di kira nuyul atau ngepet karena uang ada terus! Tapi kerja gak kelihatan.
Jadi mau tidak mau mereka harus tetap bekerja. Dan karena telah terbiasa bekerja sebagai manusia normal selama ratusan tahun, hal ini malah jadi sebuah kebiasaan.
Setiap pindah tempat dan tukar identitas mereka selalu tukar pekerjaan. Dan kali ini mereka mencoba membuka sebuah bakery.
Gea begitu bersemangat mempersiapkan grand launching Gigi Cake. Sejak jauh-jauh hari ia telah membuat akun resmi tokonya itu di berbagai jejaring media sosial untuk kegiatan promosi. Mantan teman- teman kampusnya, juga kawan-kawan dari tempat tinggal nya, semuanya sudah ia beritahu soal bakery barunya ini.
Setiap hari Gea sibuk dengan detail acara grand launching. Rencananya jika memungkinkan ia akan mengundang artis atau band terkenal.
"Tante, apa boleh kalau sekarang aku dapat jabatan asisten manajer?" Sebenarnya Gea ingin menjadi kepala chef, tapi sepertinya sekarang ini Tante Lia lebih membutuhkan bantuan asisten manajer karena tante Dora kali ini mungkin akan tinggal lama di negeri penyihir.
"Bentar ya Gea!" Tiba-tiba telepon Lia berbunyi sehingga dia harus menunda menjawab pertanyaan Gea tadi.
Selama beberapa menit dia tenggelam dalam percakapan di telepon.
"Siapa, tante?" tanya Gea setelah Tante Lia mena- ruh hape nya kembali di meja.
"Bu Darmi."
"Bu Darmi agen perumahan?"Wanita itu mengangguk.
__ADS_1
"Dia bilang ada yang tertarik mengontrak rumah lama kita untuk jangka waktu agak lama. Bu Darmi sudah memeriksa biodatanya dan cocok sama kita. Mungkin dalam minggu ini orangnya akan mulai menempati rumahmu."
"Oh..." Gea tercenung, dia baru sadar kalau dirinya belum pernah mengunjungi rumah itu sejak ia pergi meninggalkan kota ini delapan puluh satu tahun yang lalu.
Gea memang pergi sejauh mungkin agar diri nya tidak bertemu dengan Mia dan Robert lagi.
Begitulah caranya menghapus semua keinginan nya untuk bersama kedua orang itu.
"Tante, aku ke sana gak sebelum rumah itu di tempati orang lain?" tanya Gea tiba- tiba ingin pergi ke rumah itu.
"Ke sana mana?"
"Rumah lama."jawab nya.
"Untuk apa? Mending gak usah. Nanti kalau ada yang ngenalin kamu bagaimana? Wajah kamu itu masih sama Gea!!! Beda dengan wajah tante dan tante Dora yang bisa tukar- tukar!!" tante Lia langsung tidak setuju.
"Hmm... gak untuk apa-apa sih tante. Cuma mau lihat bentar aja. Tante tenang aja! Kalau ada yang tanya kenapa aku mirip dengan Gea yang pernah tinggal di sana, ya aku bilang aja aku cucu nya kah atau keluarga nya kah! Tante tenang aja! Aku bisa mengatasinya." Gea berusaha meyakinkan tante nya.
Gea mengangguk mantap. "Yakin. Sebentar aja kok."
"Ya udah. Hati-hati ya. Kuncinya ada di tempat biasa, di atas nakas di ruang tengah." sebut tante Lia.
"Oke tante!!!."
Gea bangkit dan langsung menuju nakas yang Tante Lia maksudkan.
****
Begitu melangkah ke halaman depan rumah lamanya, benak Gea langsung memutar memori saat dia masih bersama Mia dan Robert.
Gea menarik nafas nya dalam sebab ia merasakan sebuah kekosongan yanga membuat dadanya sesak. Ia menarik napas panjang sebelum memutar kunci pintu depan dan melangkah masuk.
__ADS_1
Ia mengedarkan pandangan ke ruang tamu yang luas. Kursi dan meja-meja ditutup kain putih agar tidak ber debu.
Meski para penghuni datang silih berganti, sebagian besar dari mereka hanya menyewa untuk beberapa bulan, jadi interior dan aroma rumah tidak berubah banyak.
Sekitar sejam lamanya Gea bernostalgia.
Ia menjelajahi tiap ruangan, dan berlama-lama di kamarnya, mengingat kenangan-kenangan yang ada di sana.
Hape nya berbunyi ketika ia mengunci pintu depan. Ia mengambil benda itu di sakunya, mendapati nama Tante Lia di layar.
"Ya, tante?"
"Kamu masih di rumah lama?" tanya Sang tante.
"Gak, ini mau jalan balik ke toko." jawab Gea.
"Oh, tante mau nitip bahan kue bisa gak?"
"Bisa dong! Tante mau nitip apa?"
Tante Lia pun menyebutkan semua titipan nya ke Gea!
"Ya ampun! Ini mah bukan nitip tante!!! masa iy nitip sebanyak ini!!!" protes Gea setelah selesai mencatat liat titipan tante nya di Hape.
"Mumpung kamu di luar!!! " Teriak tante Dora dari belakang.
"Iya!! Iya!!!
Telepon ditutup. Gea menatap rumah lamanya sekali lagi sebelum bergegas melintas keluar pagar.
" Mia... Robert! Aku rindu pada kalian. " Gumam nya dalam hati.
__ADS_1