Story Of Gienka Gea: Cinta Si Penyihir

Story Of Gienka Gea: Cinta Si Penyihir
#15


__ADS_3

"Eh, iya. Terima kasih, Bu, maaf merepotkan."


Wanita itu pun pergi sementara Altair masih tertegun di tempatnya.


Dengan ujung jari nya, Altair lalu mengetuk layar hape kemudian memilih sebuah nomor.


"Halo, Fan... Eh iya, sorry.. sorry! gue ke sana sekarang."


Altair pun meninggalkan rumah itu.


"Wah, gila lo ya! Mau wawancara sama ketua yayasan malah telat!" omel Fanni. "Pak Edgar udah nungguin tau!"


"Sori, sori, gue ada urusan penting tadi," jawab Altair tenang.


"Urusan apa sih yang lebih penting dari inte- sssssssssst!" Altair segera meminta Fami diam.


"Udah, udah," sela Altair sambil tertawa pelan.


"Sekarang Pak Edgar di mana?" tanya nya masih bertingkah tenang.


Fanni menghela napas kesal. Mereka berdua baru bertemu kembali sebulan lalu di salah satu cafe di kota itu.


Dulu mereka sama-sama kuliah musik di Boston, Berklee College of Music.


Altair baru kembali setahun setelah Fanni pulang ke Indonesia, dan sahabatnya itu mem- bantunya mencari pekerjaan.

__ADS_1


Kebetulan sekolah musik tempat Fanni bekerja membutuhkan tenaga pengajar tambahan, jadi dia merekomendasikan Altair, dan lamaran cowok itu ternyata diterima.


Hari itu Altair akan bertemu dengan Ketua Yayasan sebagai prosedur akhir proses rekrutmen.


"Di ruangannya. Buruan sana. Nanti kita ketemu habis lo wawancara. Gue selesaiin kerjaan sebentar."


Altair mengangguk. "Oke."


Altair lalu pergi menuju ruangan Pak Edgar di lantai dua.


"Selamat siang, saya ingin bertemu Pak Edgar Anumerta," katanya sopan pada sekretaris yang sebelumnya tampak sibuk bicara di telepon.


"Maaf, dari mana, Pak?"


"Saya Renof, calon guru baru. Pak Rian memanggil saya untuk bertemu siang ini."


Altair mengangguk sopan. "Terima kasih."


la kemudian menyusuri lorong menuju pintu yang dimaksudkan si sekretaris.


"Pak Renof, kan?" sapa Pak Edgar saat Altair masuk.


"Silakan duduk," katanya sambil menunjuk bangku di hadapannya.


"Terima kasih, Pak. Maaf saya terlambat. Tadi ada urusan mendadak," sahutnya tak enak hati.

__ADS_1


"Oke, tidak apa-apa. Asal saat mengajar nanti kejadian seperti ini tidak terulang ya, Pak Renof."


"Iya, Pak, maaf sekali lagi." Ucap Altair, merasa tidak enak hati karena di hari pertama nya sudah terlambat seperti ini.


"Kita langsung mulai saja kalau begitu. Sebelumnya, panggilan bapak, Renof, atau-"


"Altair, Pak. Dari kecil saya terbiasa dipanggil dengan nama tengah saya." Jawab nya.


Pak Edgar pun memeriksa biodata berkas Altair sambil mengangguk-angguk.


"Oke..." gumamnya, serius memeriksa berkas itu sekali lagi.


"Berdasarkan berkas ini, prestasi Anda baik secara akademis maupun praktik di dunia musik cukup mengesankan. Apa Anda pernah mengajar sebelumnya?" Tanya sebagian bagian dari interview singkat nya.


"Kalau secara resmi, belum, Pak. Tapi kalau memberi les ke beberapa keponakan teman saya selama saya kuliah magister, sudah lumayan sering." Jawab Altair apa ada nya.


"Oke. Di institut seperti ini tidak terlalu berbeda prosesnya. Ada kurikulum, itu saja yang membedakan. Anda sudah menerima e-mail berisi salinan kontraknya?" tanya nya lagi.


"Sudah, Pak. Dan sudah saya baca semuanya." Jawab Altair.


"Apakah ada yang tidak jelas atau tidak sesuai? Kita bisa bicarakan itu di sini sekarang." Tanya pak Edgar.


Altair tertawa pelan. "Tidak, Pak. Baik kewajiban maupun hak saya sebagai tenaga pengajar di sini, semuanya sudah sesuai."


"Oke, kalau begitu silakan ini diperiksa sekali lagi sebelum Anda menandatanganinya." Pak Edgar menyodorkan lembaran kontrak asli pada Altair.

__ADS_1


"Anda dan Bu Fanni adalah guru termuda di sini. Para pengajar lain rata-rata berusia di atas 35 tahun." Pak Edgar mulai bicara informal dengan Altair.


“Apa pak Altair punya hal lain yang di sukai selain musik?”


__ADS_2